
Adrianne memacu mobilnya ke rumah paman dan bibinya. Hari ini Ia sangat bersemangat. Bagaimana tidak? Beberapa hari yang lalu saat makan malam di rumah keluarga Cakrawangsa, Clayton melamarnya di hadapan keluarganya. Adrianne senyum senyum sendiri mengingat kejadian yang membuatnya melambung sampai langit ketujuh.
Bahkan orang tua Clayton sudah menetapkan tanggal pertunangan mereka dan tidak tanggung tanggung, tinggal sebulan lagi!
Jadi, mau tak mau, Adrianne harus menemui paman dan bibinya untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut sebelum orang tua Clayton datang melamar.
Ketika Adrianne telah tiba, Ia langsung disambut dengan senyuman oleh paman dan bibinya.
"Anne, masuklah nak. Bibi sudah masakin makanan favorite kamu." kata Bibinya.
Pamanya langsung tersenyum mengiyakan.
"Kita makan dulu ya baru setelah itu kamu kasih tau paman dan bibimu ini tentang berita baik yang kamu katakan di telpon kemarin."
Adrianne tersenyum bahagia. Mereka menikmati makan malam dalam candaan yang biasa mereka lakukan sewaktu Adrianne masih tinggal dengan paman dan bibinya.
"Nah sekarang coba kamu ceritakan berita bahagia itu." ucap pamannya sambil meneguk sekaleng soda dingin ditangannya.
Adrianne berdehem kemudian tersenyum penuh arti. Ia kemudian mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan sebuah cincin dijari manisnya.
"Aku dilamar seseorang yang mencintaiku." ucap Adrianne dengan nada suara bahagia.
Paman dan bibinya terdiam sesaat lalu tersenyum lebar.
"Wah, Anne. Bibi sangat bahagia, Nak."
"Paman pikir selama ini kamu cuma suka mempermainkan banyak pria." canda pamannya. "Hebat, sayang....paman sangat bahagia dengan berita ini."
Adrianne kemudian dipeluk oleh paman dan bibinya yang langsung mengucapkan selamat padanya.
"Sejak kapan kamu bertemu dan menjalin hubungan dengan pacarmu?" Tanya bibinya.
"Sejak beberapa bulan yang lalu, Bi. Dia mantan pasienku. Aku dulu yang menangani pengobatannya sebagai dokter pribadi hingga sembuh. Dalam proses tersebut kami saling jatuh cinta. Orang tuanya juga sangat mendukung kami dan mereka sudah menetapkan tanggal pertunangan kami. Itulah sebabnya aku datang selain memberitahukan paman dan bibi, sekaligus untuk meminta restu dari kalian sebelum orang tua pacarku datang melamar dalam minggu ini."
"Selamat ya Nak," ucap pamannya. "Ngomong ngomong, siapa calon menantu kami?"
Adrianne tersenyum. "Clayton Cakrawangsa. Anak tertua dari Tuan dan Nyonya Cakrawangsa.
Seketika wajah paman dan bibinya berubah drastis, dari senyum bahagia menjadi ekspresi terkejut. Adrianne ternyata merasakan perubahan air muka pamannya.
Hening sejenak. Tak satupun dari paman dan bibinya yang bicara, mulut mereka terlihat kelu dimata Adrianne. Mencoba mencari cari jawaban diantara dua pasang mata didepannya, Adrianne merasa ada yang tak beres sejak Ia menyebutkan nama lengkap kekasihnya.
"Apakah kamu benar-benar mencintai pria itu?" Tanya pamannya dengan wajah sangat serius tanpa senyum.
"Sebaiknya kamu tidak pernah mengenal Clayton Cakrawangsa. Kami tidak dapat memberikan restu atas pilihanmu yang satu ini, kecuali jika kamu dilamar pria lain." ucap pamannya terdengar tidak suka.
Adrianne merasa terpukul secara tiba tiba.
"Paman, Bibi....ehmm.....kalau boleh saya tahu mengapa paman dan bibi berkata demikian tentang Clayton?" suara Adrianne bergetar menahan perasaannya yang terasa sesak didada demi mendengar ucapan paman dan bibinya.
Wajah pamannya kelihatan sangat khawatir.
"Anne. kamu tidak bisa bersama dia karena....errg... dia terlalu kaya." walaupun terkesan sangat tidak masuk akal, namun pamannya bersikukuh agar dia tidak mencintai Clayton!
Adrianne mengernyitkan keningnya. "Apakah aku salah mencintai pria kaya? Bukankah alasan paman terlalu berlebihan?" Tanya Adrianne dengan suara sarat kekecewaan.
Paman Adrianne tertunduk sesaat. Bibinya hanya diam memandang lurus kedepan.
"Adrianne, apakah kamu sudah benar-benar mengenal siapa Clayton Cakrawangsa? Bagaimana masa lalunya? Paman tak yakin kamu siap dengan semua itu. Paman mengatakan hal ini karena Paman sedikit banyak tahu tentang keluarga terpandang itu."
Adrianne memandang wajah pamannya dengan sejuta pertanyaan yang tak dapat Ia rangkaikan lagi.
Dengan wajah sedih, Adrianne berusaha menjawab pertanyaan pamannya.
"Keluarganya sangat baik padaku selama ini. Aku juga sudah tahu masa lalu Clayton, bagaimana Ia mengalami kecelakaan yang membuat hidupnya kacau selama beberapa tahun. Aku sudah tahu semua itu. Sekarang Ia sudah sembuh baik fisik maupun mentalnya. Aku yang mendampinginya berobat selama beberapa bulan. Jadi, aku tidak pernah keberatan dengan masa lalunya. Aku sudah menerima dia apa adanya." Adrianne berusaha meyakinkan pilihannya namun kelihatan bahwa paman dan bibinya tak merubah ekspresi mereka. Mereka masih menunjukkan ekspresi tidak setuju.
"Sebaiknya kamu lupakan saja pria itu, Anne. Kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik walaupun mungkin tidak sekaya si Tuan Muda Cakrawangsa. Misalnya si Damian Arkajaya yang sudah lama menyimpan perasaannya padamu. Dia tidak kalah tampan dibanding Tuan Mudamu itu. Lagian dia juga pengusaha muda yang cukup sukses. Umur kalian juga gak jauh jauh amat bedanya, bukan?" kata Paman Adrianne berusaha mengabaikan reaksi anak angkatnya.
"Paman kok tega. Aku itu mau minta restu tapi kok malahan dijodohin sama si Damian? Damian itu teman masa kecil aku. Jadi, Aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri." wajah Adrianne kelihatan ngambek.
"Paman, ....Bibi....perasaanku gak bisa segampang itu dirubah. Aku sangat mencintai Clayton dan begitu pula sebaliknya."
Paman dan bibi Adrianne tetap pada pendirian mereka. "Kami hanya ingin kamu bahagia, Nak. Tapi .... bukan dengan si pewaris Cakrawangsa itu. Apalagi dia sudah sembuh sekarang seperti katamu." ucap bibinya.
"Paman,...Bibi....sebenarnya alasan utama paman dan bibi tidak merestui hubungan kami itu karena apa?" Tanya Anne dengan nada memelas.
Paman dan bibinya kelihatan seperti kehabisan kata kata. Bibinya kemudian berusaha meyakinkan Adrianne walaupun Ia harus mencari alasan yang terlalu dibuat buat.
"Anne, Clayton itu mantan aktor, jadi....banyak sekali tantangannya. Bukan tidak mungkin suatu saat dia akan kembali ke dunia entertainment. Kamu kan tahu sendiri bagaimana rumah tangga para celebriti? Di tambah lagi dia sangat tampan dan berkelas. Yang pasti dia akan menjadi incaran banyak wanita yang jauh lebih cantik dari padamu! Bibi tidak mau melihatmu tertekan dengan kehidupan seperti itu. Kamu tidak sekelas Clayton. Walaupun kamu hidup sangat berkecukupan dengan kami, level kita masih jauh dibawah keluarga Cakrawangsa."
Adrianne tertunduk sedih. Perasaannya sungguh kecewa. Ada sedikit air mata yang jatuh disudut matanya walaupun Ia sudah berusaha menahannya.
"Anne, kami tidak akan memaksamu untuk berubah pikiran. Jadi, jika kamu tetap ingin meneruskan pertunanganmu dengan si pewaris Cakrawangsa itu, kami tidak dapat berbuat apa apa lagi selain merestuinya. Tapi seadainya masih bisa, pertimbangkanlah kembali." Paman Adrianne berucap sambil menarik nafas berat. Sangat jelas terlihat kalau Ia belum rela.
Adrianne hanya mengangguk lemah berusaha tersenyum walau terasa berat. Semua hal hal indah yang sudah Ia bayangkan sepanjang perjalanan menuju ke rumah tersebut tidaklah seindah kenyataan saat itu. Hatinya teramat kecewa tapi disisi lain Ia sangat menghormati dan menyayangi dua orang yang sudah membesarkannya itu. Walaupun batinya meronta, tapi Ia sudah bertekad untuk tetap pada pilihannya, yaitu mencintai Clayton dan meneruskan rencana mereka!