
Nyonya Dara terdiam di meja kerjanya. Hatinya yang tadi bahagia karena sebentar lagi anak tertuanya akan segera melepas Masa lajangnya, kini hanya bisa tertunduk lemas didepan putranya.
"Clayton, mengapa Nak? Mengapa kamu harus membatalkan pernikahan ini? Bukankah kamu sangat mencintai Anne? Bukankah Ia sangat berjasa padamu?" ucap Nyonya Dara dengan suara bergetar menahan tangis.
Clayton menatap wajah ibunya dengan wajah penuh penyesalan.
"Ma...aku....terlalu tergesa gesa jatuh cinta pada Anne. Aku merasa pernikahan ini terlalu cepat. Aku tak bisa meneruskankannya. Aku sudah membatalkan semua undangan dan lain lainnya. Maafkan aku, Ma"
Nyonya Dara berdiri dari tempat duduknya dan mengedarkan pandangannya keluar jendela.
"Apa kata keluarganya nanti. Kamu sudah bersikap tak adil terhadap perasaan Anne dan keluarganya."
"Jangan pernah bicara keadilan padaku!" bentak Clayton refleks, yang membuat Ibunya terkejut dan langsung menatapnya penuh tanda tanya.
Clayton langsung menyesali sikapnya.
"Maafkan aku Ma. Aku tak bermaksud kasar sama Mama."
Nyonya Dara mendekati putranya.
"Clay, Mama tak percaya jika alasan pembatalan ini hanya karena alasan yang sangat sederhana tersebut. Sebenarnya ada apa diantara kamu dan Anne? Mungkin Mama bisa mengerti jika kamu lebih terbuka pada Mama."
Clayton terdiam sejenak. Ia berdiri dan menatap taman dari pintu kaca didekatnya.
"Mama tidak akan menyangka. Semua yang telah Mama usahakan untuk disembunyikan dariku telah aku tahu semuanya. Seandainya Mama jujur padaku sejak hari aku mengalami kecelakaan, mungkin aku tidak akan pernah bertemu bahkan jatuh cinta pada orang yang telah menabrakku tiga tahun yang lalu."
Nyonya Dara terperanjat. Mulutnya setengah terbuka mendengar pernyataan anaknya.
"Clay.... dari mana kamu .... jadi kamu sudah tahu kalau... Anne adalah...."
"Benar Ma." potong Clay cepat sebelum Ibunya meneruskan ucapannya.
"Aku berusaha mencari tahu semuanya sendiri sesudah aku sembuh karena aku menginginkan keadilan!"
Clayton menelan ludah untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering.
"Mengapa Mama sembunyikan semua ini dariku?
Nyonya Dara menggelengkan kepalanya.
"Clay sayang, Mama tak pernah tahu jika Anne adalah pelaku sesungguhnya. Mama tak pernah bertemu atau mengenal Anne sewaktu kejadian itu."
Clayton menatap wajah Ibunya dengan heran.
"Jika Mama tidak pernah kenal dengan Anne, mengapa Mama biarkan pria itu yang menjadi pelakunya menggantikan anaknya?"
Nyonya Dara berusaha menguatkan dirinya. Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan berat.
"Peter Brahmian, adalah nama pria yang mengaku menabrakmu. Ia hanya berusaha melindungi anak angkatnya. Ia adalah pria yang sangat baik."
Clayton mengernyitkan keningnya.
"Pria yang sangat baik kata Mama? Boleh aku tahu, Ma. Sebenarnya apa alasan Mama berkata demikian?"
"Peter adalah mantan tunangan Mama. Pertunangan kami tidak berjalan mulus hanya karena Peter mengalami kebangkrutan diawal awal dia baru memulai bisnisnya. Dia merasa minder akan keadaannya. Kami saling mencintai tapi kakek dan nenekmu tak dapat menerima kenyataan kalau Mama harus hidup melarat. Suka atau tidak, pertunangan itu dibatalkan dan Peter tidak keberatan melepaskan Mama karena dia tahu keadaan dirinya. Mama kemudian dijodohkan dengan ayahmu. Sulit menerima kenyataan ini. Itulah sebabnya Peter tidak muncul dihari pertunanganmu dan Anne. Semua itu karena Ia tak mau bertemu dengan Mama.
Mama tak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Peter sewaktu kecelakaan yang menimpamu. Dia jujur pada Mama bahwa sebenarnya anaknyalah yang menabrakmu tapi dia memohon agar anaknya dibebaskan dari semua tuduhan itu dan dia bersedia menggantikan anaknya. Mama tak kuasa menolak permintaan Peter. Bagaimanapun dia adalah sosok yang pernah singgah di hati Mama. Dan kami sepakat untuk menyelesaikan semua itu dengan cara baik baik.
Clayton, Mama tak pernah tahu kalau Anne adalah anak angkatnya yang menabrakmu sampai pada hari pertunanganmu ketika Peter menelpon Mama. Mama tak bisa berbuat apa apa karena Mama melihat betapa kamu sangat mencintai Anne dan juga sebaliknya. Apa yang bisa kamu lakukan Nak? Semua itu tinggallah masa lalu."
Clayton terdiam mendengar kisah dari versi ibunya. Kini Ia telah tahu semua alasan dibalik Ibunya yang diam selama ini. Clayton menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maafkan aku Ma. Tapi... jangan pernah minta aku meneruskan pernikahan ini. Anne harus membayar tahun tahun penderitaanku. Bagiku inilah keadilan yang sesungguhnya!"
Nyonya Dara memandang putranya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Clayton, berjanjilah kamu gak akan menyakiti Anne! Bagaimanapun Ia sudah berjasa padamu!"
Clayton tersenyum sinis. "Jangan pernah memintaku untuk berjanji apapun terhadap Anne. Bagiku Ia hanyalah seorang dokter yang sangat menyedihkan!" ucap Clayton dengan nada penuh amarah. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat kuat.
Nyonya Dara menghampiri putranya. "Clayton, anakku. Kamu boleh membatalkan pernikahan ini tapi Mama mohon padamu jangan pernah sakiti Anne. Mama sudah berjanji pada Peter, pamannya."
"Urusan ini adalah antara aku dan Anne dan tidak ada hubungannya dengan Mama atau Pamannya. Anne adalah wanita dewasa yang tidak lagi harus sembunyi dibelakang pamannya. Kalau Ia benar benar seorang wanita baik baik yang berani bertanggung jawab, maka Ia harus menghadapiku tanpa melibatkan siapapun."
Nyonya Dara terduduk lesu. Hatinya menangis demi mendengar perkataan yang keluar dari mulut anaknya. Ia tak dapat menghentikan apa yang ada dibenak anaknya.
"Clayton... anakku. Mama rasa Anne juga sangat menyesali semua itu."
Clayton tersenyum sinis. "Sudah terlambat, Ma. Jika Ia benar benar menyesali semua itu, Ia pasti tidak akan bersembunyi dariku setelah sekian lama.
Ma, maafkan anakmu ini. Kebenaran ini memang sungguh menyakitkan tapi lebih menyakitkan lagi adalah ketika aku harus menghabiskan tahun tahun penderitaanku sedangkan pada saat yang sama Anne menikmati karir dan hidupnya tanpa beban.
Apakah semua ini adil bagiku yang harus melepaskan segala mimpi dan masa depan yang susah payah aku bangun waktu itu? Ini terlalu menyakitkan, Ma! Aku tak mau mati dengan membawa dendam yang belum terbalaskan ini. Betapa aku sangat membencinya! Ma, maafkan anakmu ini."
Clayton berlalu meninggalkan ruang kerja Ibunya yang hanya bisa terisak isak dalam tangisnya.
Nyonya Dara menguatkan dirinya, mengambil hape dan menelpon seseorang.
"Halo, Peter."
Yang diseberang menyahut singkat.
"Halo Dara."
"Peter. Maafkan aku. Clay sudah tahu semuanya. Pernikahan ini dibatalkan. Bicaralah pada Anne. Sampaikan permohonan maaf dari keluarga besar kami."
Setelah itu Nyonya Dara langsung menutup pembicaraan tanpa mau mendengar tanggapan Peter diseberang.
Hari yang sangat melelahkan bagi Nyonya Dara. Hari yang tidak pernah Ia bayangkan akan menjadi hari dimana putranya akan membalaskan dendam masa lalunya.
Nyonya Dara menatap gambar gaun pengantin didepannya yang Ia rancang sendiri untuk dipakai Anne pada hari pernikahannya.
Ada air mata yang menetes perlahan.
"Maafkan dia Anne... semoga kamu kuat menghadapi semua ini." guman Nyonya Dara dengan pelan.