Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Kisah Versi Paman



Ketika tiba di rumah bibinya pukul delapan malam, Adrianne langsung disambut dengan makanan yang enak enak. Keduanya makan bersama sambil menunggu kedatangan paman Adrianne. Pamannya sudah berpesan bahwa Ia tidak akan makan malam di rumah karena Ia harus rapat sekaligus makan malam bersama klien dan beberapa koleganya.


"Anne, sudah sejauh mana persiapan pernikahan mu, Nak? Kamu dan Clayton kelihatan sama sama sibuk. Trus, kapan kalian berdua fitting gaun dan foto pre-wed?


Tanya Bibi disela sela makannya.


Adrianne tersenyum, "Gak usah khawatir, Bi. Kami sudah menyewa orang untuk mengurus semuanya. Orang yang berpengalaman dan profesional tentunya. Dua minggu depan kami akan fitting gaun pengantin sekaligus foto pre-wed. Aku dan Clayton akan mengosongkan waktu khusus untuk hari tersebut."


"Semoga semua berjalan lancar, Nak." ucap bibinya.


"Aku sangat berharap paman bisa hadir dihari pernikahanku, Bi. Aku berdoa agar paman tidak akan sibuk atau ada urusan mendadak dihari bahagiaku." ucap Adrianne pelan.


"Tak usah khawatir, Nak. Bibi akan pastikan pamanmu pasti hadir." ucap bibinya sambil tersenyum meyakinkan.


"Makasih Bi. Biar aku yang mencuci piringnya dan membersihkan dapur bersama Mbok Atun karena setelah itu aku akan mandi."


Adrianne mulai mengatur kembali meja makan dan membantu Mbok Atun membersihkan dapur.


Ketika Adrianne telah selesai mandi dan berganti pakaian, terdengar mobil pamannya memasuki halaman rumah.


Mendengar itu, Adrianne bergegas keluar dari kamar untuk menyambut pamannya.


"Hai, Paman." Sapa Adrianne dengan senyuman.


Paman langsung tersenyum dan mencubit pipi Adrianne dengan gemas.


"Hai Bu Dokter, sudah lama tiba?" Tanya Pamannya.


Adrianne langsung menggandeng tangan Pamannya.


"Lumayan, sudah hampir dua jam. Aku nunggu Paman dari tadi."


Paman mengernyitkan dahinya sambil tersenyum.


"Wajah kamu itu kalau sudah begitu pasti ada maunya tuh."


Adrianne tersenyum dengan memamerkan semua gigi depannya.


"Hehe.... kalau paman udah gak capek, ada hal yang ingin aku bicarakan di ruang kerja Paman."


"Baiklah. Paman mandi dulu ya setelah itu kita bicara." ucap pamannya dan langsung disambut Adrianne dengan sebuah kecupan di pipi pamannya. Pamannya langsung mengacak acak rambut Adrianne kemudian berlalu ke lantai dua untuk mandi.


Beberapa saat kemudian baik Adrianne dan pamannya telah duduk berhadapan di ruang kerja pamannya.


"Nah, sekarang bicaralah. Apa yang hendak kamu bicarakan." ucap pamannya memulai percakapan.


"Paman, mungkin ini adalah kali kedua aku bertanya tentang topik yang sama dengan beberapa tahun yang lalu."


Wajah pamannya menjadi penasaran.


"Maaf, paman sudah hampir lupa. Topik tentang apa ya?'


"Paman, masih ingat kan, kecelakaan beberapa tahun lalu dimana aku menabrak seorang pria?" Tanya Adrianne agak ragu ragu.


Wajah Pamannya berubah. Kelihatan ada beban dimatanya.


"Anne, bukankah paman sudah menceritakan segalanya? Paman rasa tidak ada lagi yang perlu kamu ketahui."


Adrianne menarik nafas berat. "Paman. Maafkan aku. Tapi aku merasa belum mengetahui semuanya dengan detil. Misalnya identitas pria yang sudah meninggal itu, dan apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Aku ingin tahu semuanya sedetil detilnya."


Pria di depannya berdiri dari kursinya dan menatap keluar jendela membelakangi Adrianne.


"Mengapa kamu ingin tahu cerita yang sudah lama berlalu itu? Apa untungnya bagimu?"


Adrianne menatap pamannya dari samping agar dapat melihat wajahnya.


"Mimpi buruk tentang kecelakaan itu masih saja terus menggangguku. Aku merasa belum tenang jika belum mengetahui semuanya."


Paman membalikkan badannya dan memandang Adrianne dengan tatapan iba.


"Paman sangat menyayangimu, Anne. Paman tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu waktu itu. Kamu masih sangat muda ketika semua itu terjadi. Paman tak ingin karir doktermu yang sedang bagus bagusnya harus hancur ditengah jalan. Semuanya paman lakukan hanya untuk melindungimu."


Adrianne tertunduk sedih dan kemudian menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku berhak tahu semuanya, karena akulah pelakunya!"


Paman memandang lagi keluar jendela sambil menarik nafasnya dengan berat.


"Sesudah kecelakaan itu, Paman harus menggantikan posisimu, Anne. Paman terpaksa harus mengakui pada pihak polisi bahwa pamanlah yang menabrak mobil pria itu. Semuanya begitu sulit saat itu karena ternyata paman harus berhadapan dengan keluarga pihak korban yang merupakan salah satu orang terpandang. Yang paman syukuri adalah mereka adalah keluarga baik baik. Paman membayar semua pengobatan putra mereka selama dirumah sakit. Namun suatu hari ketika putra mereka sudah sadar, paman tidak lagi diizinkan untuk menjenguk. Keluarga itu memiliki alasan pribadi untuk tidak lagi mengizinkan paman bertemu dan meminta maaf. Sejak saat itu, tidak lagi pernah terdengar berita tentang putra mereka. Setahun kemudian paman mendengar rumor bahwa..errrg.....pria itu depresi dan kemudian meninggal."


"Paman, terima kasih sudah berkorban untukku. Tapi.....siapa sebenarnya pria itu?"


Tanya Adrianne dengan wajah serius.


Paman menundukkan kepalanya. "Ia seorang anak konglomerat. Paman tidak tidak mengenalnya karena keluarganya selalu merahasiakan identitas putra mereka sejak kecelakaan itu. Jadi.... paman tidak bisa membantumu dalam menjawab pertanyaan itu. Nama keluarganya juga sudah paman lupa karena mereka kebanyakan diluar Negeri."


Adrianne mengangguk pelan tanda mengerti.


Ia kemudian memeluk pamannya sebentar.


.


.


.


.


Keesokan paginya Adrianne sengaja bangun sedikit terlambat karena Ia tak punya jadwal dirumah sakit. Ketika selesai mandi dan akan sarapan, Adrianne masih sempat melihat mobil pamannya yang baru saja meninggalkan halaman rumah.


"Pagi Anne," Sapa Bibinya. "Kamu gak apa apa kan sarapan sendiri? Bibi dan Paman sudah duluan tadi."


Adrianne tersenyum sambil mengangguk. Setelah selesai sarapan, Adrianne bermalas malasan sambil membaca majalah kecantikan dan mode milik bibinya.


Lama lama Ia bosan juga hanya bermalas malasan. Ia kemudian berjalan kesebuah ruangan lain yang masih menyatu dengan ruang utama dan hanya disekat oleh lemari pajangan. Adrianne tersenyum menatap piano berwarna putih yang kelihatan sudah jarang dipakai. Piano itu adalah milik ibunya dulu yang masih dirawat dengan baik oleh bibinya.


Ia kemudian membuka penutup piano itu dan duduk di depannya. Kerinduan pada ibunya kembali menyeruak dalam ingatannya. Ia menyentuh tuts tuts piano tanpa membunyikannya. Sudah lama Ia tidak pernah lagi memainkannya.


"Spring Waltz, lagu kenangan dengan mama sekaligus lagu yang mengingatkan aku akan pertemuan pertama dengan orang yang sangat aku sayangi. Clayton." bisiknya dalam hati.


Jari jarinya mulai memainkan not not lagu tersebut. Ada rasa rileks dan tenang ketika lagu itu mengalun merdu. Berjuta kenangan silih berganti memenuhi pikirannya. Kenangan masa kecilnya dan juga kenangan sewaktu masih mengobati Clayton.


Diakhir permainannya, Adrianne merasa ada sepasang mata yang sedang menyaksikannya. Tiba tiba terdengar tepukan tangan yang cukup keras dibelakangnya. Adrianne langsung berbalik dan senyumnya langsung merekah.


"Damian!" ucapnya tanpa beranjak. Damian tersenyum lembut dan berjalan kearah Adrianne lalu duduk disampingnya.


"Sudah lama aku tidak mendengar permainan pianomu. Sungguh memukau! ujar Damian dengan tatapan kagum pada sosok disampingnya.


"Selamat atas pertunanganmu. Semoga bahagia bersama pria pilihanmu." Damian mencoba tegar ketika mengucapkan kalimat tersebut.


Adrianne tersenyum lega. "Maaf, aku tidak mengundangmu ke acara pertunanganku. Tapi bulan depan kamu harus hadir di acara pernikahanku."


Damian tersenyum lalu menunduk sesaat.


"Kelihatannya kamu benar benar mencintainya. Itu hal yang paling aku inginkan sekaligus paling berat bagiku yaitu kamu bahagia dengan orang yang mencintaimu."


"Terima kasih, cutie. Aku mau minta maaf atas perlakuanku padamu beberapa waktu lalu. Kamu mungkin merasa kalau aku mengabaikanmu." ucap Adrianne dengan senyum ketulusan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Anne. Kamu kan tahu bagaimana aku menyayangimu. Kamu terlalu berharga untuk tidak dimaafkan."


"You always be the best brother of mine." ucap Adrianne.


Damian menepuk nepuk pundak Adrianne sambil tersenyum. Ia berusaha melakukan itu untuk menguatkan hatinya sendiri. Kenyataan berkata bahwa tidak ada lagi harapan untuk memiliki hati gadis didepannya.


Tanpa sepengetahuan keduanya, ternyata Ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka sedari tadi. Sepasang mata yang sedang dibakar rasa kesal karena cemburu.


Seketika keduanya sadar atas kehadiran sosok Clayton yang sedang berdiri memandang mereka.


"Clayton? Kamu kesini?" Tanya Adrianne masih terkejut. Baik Adrianne maupun Damian langsung berdiri. Adrianne mendekati Clayton yang kelihatan tersenyum dipaksa dengan wajah sedingin es.


"Aku datang menjemputmu. Aku tadi menelpon Bibimu dan dia bilang kamu nginap disini semalam. Jadi kebetulan hari ini aku tidak banyak kerjaan dan aku putuskan untuk menjemputmu." ucap Clayton dengan nada tak ramah.


"Makasih Sayang." ucap Adrianne sambil menggenggam salah satu tangan Clayton.


"Clay, kenalkan ini Damian teman masa kecilku sampai sekarang. Ia sudah seperti kakakku sendiri. Rumahnya disebelah.


Damian tersenyum dan maju beberapa langkah dan menyalami tangan Clayton. Clayton balas menyalami tangan Damian dengan sikap yang dingin.


"Selamat ya atas pertunangan kalian. Adrianne adalah sosok yang sangat spesial, jadi aku mohon jagalah dan cintailah dia dengan sepenuh hatimu sampai selamanya."


ucap Damian pada Clayton dengan mantap.


Clayton hanya mengangguk dan masih menatap tajam pada Damian. Pikirnya, siapa dia sehingga layak berkata kata seperti itu? Apakah dia hanya sekedar teman baik bagi Adrianne?


"Baiklah kita pulang sekarang dengan mobilku. Supirmu masih ada? Tanya Adrianne pada Clayton.


"Sudah aku suruh pergi duluan karena aku melihat mobilmu yang terparkir." kata Clayton yang masih terlihat kesal. "Aku yang akan menyetir kali ini!"


Adrianne terpana mendengar kalimat terakhir Clayton. "Sungguh? Kamu yakin?"


Clayton menatap wajah gadisnya dengan ekspresi serius. "Sangat yakin!"


Akhirnya mereka berdua pamit pada Bibi dan juga Damian. Sepanjang perjalanan, Clayton hanya diam. Hatinya masih terasa panas melihat keakraban Adrianne dengan Damian tadi.


"Sayang, kamu marah padaku karena Damian?" Tanya Adrianne penuh selidik ke wajah Clayton.


Clayton menarik nafas panjang. Tiba tiba Ia menghentikan mobilnya disisi jalan yang agak menjorok kedalam sebuah lahan kosong.


"Anne, maafkan aku ya. Tapi aku benar benar cemburu melihatmu dengan Damian. Terus terang aku sedikit kesal mendengar kata katanya padamu saat kalian berbicara. Hatiku serasa terbakar!" ujar Clayton tanpa memandang wajah gadis disampingnya.


"Sayang, Damian itu sudah seperti kakakku sendiri. Kami bersahabat baik sejak kecil. Bagaimana mungkin aku menyukainya lebih dari seorang saudara?" hibur Adrianne sambil menggenggam tangan Clayton.


"Tapi...dari cara dia menatapmu mengisyaratkan bahwa dia menyukaimu! Anne, aku ini laki laki, jadi aku tahu betul gelagat seorang laki laki memperlakukan gadis yang dicintainya. Ia terus menatapmu dengan mesra ...dan... dan... kata katanya padamu memiliki makna bahwa Ia sebenarnya tidak rela kamu bersamaku."


Clayton mengusap dahinya yang mulai terasa berkeringat.


"Hatiku sudah milikmu, sayang. Jangan pernah meragukan hal itu. Aku mencintaimu sekarang dan selamanya." kata Adrianne sambil menarik wajah Clayton, menghadapkan wajah itu padanya dan perlahan mendaratkan sebuah kecupan lembut dibibir pria yang masih merajuk itu. Clayton tak kuasa menahan sentuhan bibir lembut itu. Beberapa detik kemudian, Clayton langsung membalas ciuman itu dengan lumatan lumatan yang mengakibatkan Adrianne harus sesekali mencari oksigen karena ciuman Clayton yang penuh gairah tak memberinya ruang untuk bernafas dengan baik. Clayton semakin memperdalam ciuman itu sehingga tanpa mereka berdua sadari, desahan demi desahan telah menjadi irama yang tercipta diantara bibir mereka yang saling bertautan.