Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Saint Petersburg



Pesawat Adrianne mendarat dengan mulus di Pulkovo Airport, Saint Petersburg, Russia.


Adrianne merasa sangat asing. Mau tak mau kemapuan Bahasa Inggrisnya harus Ia kerahkan semuanya karena tak seorangpun bisa berbahasa Indonesia.


Selesai mengambil bagasinya yang hanya berupa satu buah koper yang lumayan besar, Adrianne mengambil hapenya, menyalakan wifi kemudian mencoba menghubungi nomor Elle.


"Hi Anne, have you arrived?" Tanya suara diseberang.


Adrianne tersenyum mendengar suara Elle.


"Hi Elle. Yes, I already arrived twenty minutes ago."


"Fine. I am at the exit door wearing a red jacket with a white hat and sunglasses.


"Okay, see you there." Adrianne menutup teleponnya.


Beberapa saat kemudian Adrianne dengan senyum merekah melambaikan tangannya pada seorang wanita cantik yang juga sedang tersenyum dan melambai padanya. Mereka saling berpelukan dan bercipika cipiki.


"Hai Anne, maaf tadi aku bicaranya pakai Bahasa Inggris hehe....udah terbiasa sih. Lagian aku lupa kalau kamu orang Indonesia."


Adrianne tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak apa apa kok. Aku memang sudah harus terbiasa ngomong Bahasa Inggris. Bahasa Russia lumayan susah, aku gak pede untuk belajar."


"Lama lama juga kamu bisa kok. Jangan khawatir, teknologi jaman sekarang sangat canggih, kamu tinggal ngomong di aplikasi, terjemahannya langsung keluar." ucap Elle dengan sangat ramah.


Adrianne merasa sangat lega, Elle benar benar wanita yang sangat supel dan ramah.


"Elle, kamu ternyata sangat tinggi, aku sampai gak pede nih jalan sama wanita secantik kamu." kata Adrianne dengan polosnya.


Elle tertawa renyah. "Anne, jangan berlebihan begitu. Justru akunya yang gak pede ketemu kamu, seorang dokter ahli yang cantik. Aku sampai kaget lihat kamu tadi, soalnya difoto profile yang kamu kirimkan wajahmu biasa biasa aja. Tapi...aku sampai gak percaya dengan penglihatanku sendiri. Maaf Anne, aku pikir kalau dokter itu tampangnya pasti serius dan kurang menarik gitu hehe....tapi ternyata aku keliru! Kamu beda banget...terlalu imut untuk jadi seorang dokter."


Mendengar ucapan Elle yang terkesan ceplas ceplos, Adrianne pun langsung tertawa.


"Oh, iya, Anne. Aku antar kamu dulu ke apartemenmu kemudian kita makan siang bersama ya? Apartemenmu hanya sepuluh menit naik bus ke klinik tempat kamu nanti bekerja. Aku memilih apartemen di tempat yang tenang tapi juga tidak jauh dari cafe cafe dan toko dan supermarket. Jadi kamu bisa makan dan juga membeli kebutuhan sehari hari tanpa harus naik kereta atau pindah pindah bus. Semua sudah aku atur dengan baik. Semua fasilitas sudah ada dalam apartemenmu. Apartemenmu tidak begitu besar tapi aku jamin sangat nyaman dan modern tentunya."


Mendengar penjelasan Elle, Adrianne merasa sangat spesial. Ia merasa benar benar beruntung bisa mengenal Elle dari Damian.


"Terima kasih atas semuanya, Elle. Aku sangat menghargai semua yang sudah kamu lakukan padaku. Aku tak bisa membalas semua ini."


"Simpan dulu rasa terima kasihmu, Anne."


Ucap Elle tersenyum sambil membukakan pintu mobilnya untuk Adrianne.


"Ayo, silahkan."


Adrianne tersenyum dan langsung duduk Dan memasang sabuk pengamannya.


Mobil Elle meluncur ke pusat kota. Mata Adrianne tak berhenti mengaggumi arsitektur Kota Saint Petersburg. "Sungguh memukau! Serasa bermimpi." gumam Adrianne tanpa sadar.


Elle yang sampingnya hanya bisa tersenyum.


"Arsitektur di hampir semua Kota di Russia emang keren keren. Gak heran banyak mahasiswa dari Indonesia suka belajar arsitektur disini."


Anne menganggukan kepalanya. Matanya sungguh berbinar menyaksikan keindahan Kota Saint Petersburg. Sejenak Ia dapat melupakan semua bebannya. Ia menarik nafas dalam dalam. Rasa kagumnya pada Kota itu membuatnya seperti terhipnotis sehingga decakan kagum tak henti hentinya keluar dari bibirnya.


Keindahan Arsitektur Kota Saint Petersburg




#Di Apartemen Adrianne yang Baru


Adrianne sangat suka dengan apartemennya yang terletak dilantai lima. Apartemen minimalis spesial dirancang untuk satu orang karena kamar tidurnya memang cuma satu. Ruang tamu sekalian ruang nonton menyatu dengan dapur yang sangat modern dan lengkap. Kamar mandinya juga cuman satu dan terletak didalam kamar tidurnya.


Ada juga ruangan kecil yang berfungsi sebagai gudang. Ruang laundry dan ruang setrika sudah menyatu. Yang uniknya, Ada sebuah tangga kecil menuju sebuah balcony di bagian atas yang dirancang khusus bila ingin bersantai diruang terbuka atau sekedar berjemur matahari pagi dan sore. Sungguh unik! AC yang juga berfungsi sebagai pemanas ruangan bekerja secara otomatis. wifinya kencang banget.


"Disini udaranya lumayan dingin Anne, bahkan pada musim panas sekalipun, kadang masih terasa dingin. Jadi kamu harus siap sedia jacket hangat ya. Aku gak mau kamu mati kedinginan disini." ucap Elle sambil tertawa diikuti juga oleh tawa Adrianne.


"Aku juga baru mau bilang tadi soal cuaca disini. Pas keluar dari bandara tadi, aku sempat merinding karena hawanya yang dingin. Tapi di dalam apartemen ini sungguh hangat dan nyaman. Pokoknya bikin betah deh."


"Yuk, kita makan siang. Jangan lupa bawa jacketmu."


Adrianne langsung menyambar tas dannjuga jacketnya dan mengikuti Elle keluar dari apartemennya.


"Anne, nanti kamu cek di WA, sudah aku kirim nomor password apartemenmu. Kamu bisa menggantinya sewaktu waktu."


Adrianne mengangguk dan merekapun berjalan menuju basement tampat Elle memarkir mobilnya.


.


.


.


.


#Di Sebuah Cafe


Baik Adrianne dan Elle memilih cheese pasta untuk makan siang mereka. Mereka mulai mengobrol tentang banyak hal.


"Aku benar benar berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untukku, Elle. Aku benar benar membutuhkan pekerjaan ini karena tak ada tempat lagi bagiku di Indonesia."


"Anne, sudah kubilang simpan dahulu rasa terima kasihmu itu. Suatu saat aku pasti menagihnya lho..." Elle tersenyum jenaka.


Adrianne tersipu. "Elle, aku pasti akan berusaha membalas kebaikanmu ini dengan apapun selama aku bisa dan mampu. Aku berharap suatu waktu untuk membalasnya padamu."


"Janji?" Tanya Elle masih tersenyum jenaka. Pikirnya, Anne begitu polos dan orangnya kelihatannya tidak suka memanfaatkan kebaikan orang lain dan Elle sangat menghargai sikap Anne itu. Sebenarnya Elle hanya bercanda saja bahwa Adrianne harus membalas kebaikannya suatu hari nanti tapi saking polosnya, Adrianne menganggapnya serius!


"Elle, kalau boleh aku tahu, kok bisa kamu berteman baik dengan Damian?" Tanya Adrianne sedikit berhati hati.


Sontak Elle terbatuk batuk dan Adrianne langsung menyodorkannya segelas air putih.


"Maaf, kamu gak apa apa, Elle? Apakah pertanyaanku mengagetkanmu?"


Elle berusaha mengambil nafas sebentar dan melepaskan tissue yang menutup mulutnya.


"Maaf, Anne... ak..aku..." Elle kembali berusaha mengatur nafasnya.


"Tidak apa apa jika kamu keberatan untuk cerita. Damian sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Aku hanya penasaran saja sebesar apa pertemanan kalian hingga kamu bisa langsung menerimaku bekerja disini?"


Elle membetulkan letak duduknya. Pikirnya, sudah beberapa tahun ini Ia tidak pernah sharing dengan seorang sahabat dari negaranya sendiri. Teman temannya kebanyakan bule atau cina. Jadi, dipikir pikir, Adrianne satu satunya sahabat dimana Ia bisa berbagi dengan nyaman dalam bahasa Indonesia.


"Anne, Damian itu orang paling berjasa dalam hidup aku. Aku memulai karirku sebagai bintang iklan produknya dan langsung sukses! Damian orangnya sangat baik banget. Hampir hampir gak pernah marah. Ia sangat jujur dalam hal apa saja walaupun hal itu mungkin akan menyakitkan bagi orang yang mendengarnya. Tapi....hal itulah yang membuatku ehmm....errg...jatuh cinta padanya. Tapi sayang, cintaku bertepuk sebelah tangan. Damian mencintai orang lain yang menurutnya adalah cinta pertamanya."


Adrianne tersenyum dan menggenggam tangan Elle. "Maaf, Elle. Aku jadi tahu perasaanmu yang mungkin selama ini kamu rahasiakan."


Elle menggeleng. "Damian tahu aku mencintainya. Aku tulus berterus terang padanya walaupun aku harus ditolak secara halus. Ia sangat memujamu, Anne."


Adrianne terperanjat dengan kalimat terakhir Elle. "Damian mengatakannya padamu?"


Elle tersenyum dan kemudian menatap Adrianne. "Kan sudah aku bilang, Damian itu orangnya sangat jujur walaupun kejujuran itu bisa menyakitkan bagi lawan bicaranya."


"Elle. Damian tahu kalau aku tak pernah bisa mencintainya sampai kapanpun. Ia terlalu berharga jika hanya dijadikan kekasih. Ia layak menjadi seorang saudara bagiku. Seperti katamu tadi, Ia terlalu baik." Adrianne menatap Elle dengan penuh ketulusan.


Elle tersenyum kecil mendengar perkataan Adrianne. "Dan aku penasaran kenapa bisa seseorang secantik dan sepintar kamu bisa disakiti seorang pria hingga harus mencari pekerjaan ditempat yang jauh? Maaf, Anne. Damian sekilas menceritakan nasibmu makanya aku langsung setuju menerimamu bekerja disini. Lagian prestasi, nilai, dan pengalamanmu sebagai seorang dokter ahli saraf sungguh mengagumkan! Aku tak bisa menolak."


Adrianne terdiam sejenak. Ia mengatur nafasnya dan mencoba tersenyum.


"Ceritanya panjang. Kapan kapan kalau kita ada waktu ngobrol, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Oh, iya. Aku penasaran kok kamu bisa punya klinik di Kota ini?"


Elle merapikan rambut coklatnya dan menegakkan duduknya.


"Sebenarnya klinik tersebut dimiliki oleh lima orang pemegang saham. Aku memang memiliki saham terbesar. Aku memilih tempat ini karena ibuku meninggal disini sewaktu sedang berobat. Itulah sebabnya aku suka menanam sahamku dibidang kesehatan. Ayahku masih keturunan Russia tapi sudah lama tinggal di Indonesia. Ia sekarang tetap di Indonesia bersama kedua kakakku. Ayahku lebih suka tinggal di negara yang hangat tanpa perlu kedinginan."


Adrianne menatap kagum pada Elle.


"Aku juga mau jadi wanita tangguh sepertimu, Elle. Aku harus banyak belajar darimu." ucap Adrianne memantapkan hatinya!