
Adrianne menatap lemah cahaya dari jendela besar diatasnya. Cahaya yang begitu terang menyilaukan matanya. Kaki dan tangannya semakin membiru. Rasa sakit yang ditinggalkan sudah membuatnya merasa terbiasa. Sepuluh hari sudah ia berada digedung itu dan hanya bisa menatap langit siang dan malam.
Tubuhnya semakin lemah dan terasa lemas. Sudah hampir empat hari ia tidak mendapat makanan. Beruntungnya masih ada air mineral dalam kardus disampingnya yang ia pakai mengganjal perutnya.
Dua orang lelaki yang biasanya bergantian membawakannya makanan tidak pernah terlihat lagi begitu pula dengan Rachella yang sudah cukup lama tidak muncul.
Mulut Adrianne terasa pahit, sudah dua hari terakhir ia mengalami muntah-muntah, walau perutnya hanya berisi air. Pikirnya, berhari-hari tidak makan membuat asam lambungnya berontak dan menimbulkan rasa sakit sehingga ia terkadang mual dan memuntahkan cairan saja karena tak ada lagi makanan dalam lambungnya.
Air mata keluar dikedua sudut matanya. Rasa putus asa disekap hampir sebulan lamanya pada akhirnya membuatnya menyerah. Ia sudah pasrah jika harus mati dan membusuk digedung itu.
Sayup-sayup terdengar langkah-langkah kaki orang berjalan menaiki tangga. Dari suara yang ditimbulkan terdengar seperti ada beberapa orang diluar sana.
Adrianne mencoba duduk dalam kelelahan. Ada sedikit senyum dibibirnya yang kering dan pucat. Pikirnya, itu pasti si dua lelaki muda yang akhirnya muncul juga untuk membawakannya makanan.
Adrianne terlonjak demi mendengar pintu didepannya dibuka secara paksa. Terdengar suara orang mendorongkan sebuah benda berat dipintu itu dan beberapa menit kemudian, dengan susah payah, pintu besi itu terbuka lebar.
Beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup berdiri didepannya dengan senapan ditangan masing-masing.
Sementara Adrianne masih dalam sikap terkejut, seorang yang sangat dikenalinya menerobos barisan berpakaian hitam itu.
"Clayton!" pekiknya lemah.
Clayton memandang sosok yang dicintainya itu dengan pandangan iba. Air matanya tumpah melihat kondisi istrinya yang sangat memprihatinkan.
"Sayang... maafkan aku baru menemukanmu." ucap Clayton menangkupkan kedua belah tangannya diwajah pucat dan kurus itu.
Ia segera membuka tali yang mengikat tangan dan kaki istrinya. Tanda-tanda lebam disekitar daerah yang terikat itu menambah kepedihan hatinya.
Setelah berhasil membebaskan istrinya dari jeratan tali-tali tersebut, Clayton mendekap Adrianne yang kondisi rambutnya sangat acak-acakan dengan pakaian yang sangat lusuh.
# Keadaan Adrianne sewaktu ditemukan
Sewaktu Clayton hendak membopongnya, Adrianne tiba-tiba memuntahkan cairan ke baju Clayton.
"Sayang...kamu kenapa? Apakah mereka meracunimu dengan makanan-makanan itu?" Tanya Clayton memandang sisa-sisa makanan yang telah membusuk disekitarnya.
Adrianne tidak bisa berbicara lagi. Ia kemudian muntah sekali lagi lalu jatuh pingsan dipelukan suaminya yang telah basah dengan muntahan Adrianne.
Clayton panik. Ia segera membopong Adrianne turun ke lantai paling bawah karena lift gedung itu tidak lagi berfungsi.
Terengah-engah, Clayton meletakan Adrianne ke dalam mobil dan memerintahkan salah satu anak buah Banteng Hitam untuk memacu mobil tersebut ke arah sebuah rumah sakit terdekat.
.
.
.
.
.
# Disebuah Rumah Sakit
Clayton terduduk lemas dikoridor rumah sakit bagian emergency. Ia masih menunggu para medis yang sedang menangani istrinya.
Sudah hampir sejam ia menunggu tapi belum ada tanda-tanda dokter atau suster yang memanggilnya.
Reyhan menyodorkan sebuah kaos pada Clayton. "Pak, silahkan ganti dulu kaos dan jacket Bapak yang basah."
Clayton mengambil kaos tersebut dari tangan Reyhan. Ia kemudian langsung melepaskan kaos dan jacketnya yang telah basah dengan muntahan Adrianne dan menggantinya.
Reyhan kemudian mengambil pakaian yang telah basah itu dan membungkusnya dengan tas kresek warna hitam.
Pintu ruang emergency terbuka, seorang suster memanggil. "Kerabat Nyonya Adrianne."
Clayton yang mendengarnya langsung berdiri mendekat.
"Saya suaminya, suster." ucap Clayton cepat.
"Silahkan masuk. Dokter ingin bicara tentang kondisi istri Tuan." ucap suster tersebut sambil membiarkan Clayton masuk untuk melihat kondisi istrinya.
Clayton memandang Adrianne yang masih tertidur. Kondisi lebam-lebam ditangan dan kakinya sangat mengerikan. Warnanya sudah hampir menghitam. Wajah itu sangat kurus dan pucat. Clayton seperti hendak menitikkan lagi air matanya namun suara dokter mengaggetkannya.
"Tuan. Saya dokter yang menangani istri anda." ucap dokter pria tersebut sambil menjabat tangan Clayton.
Clayton mengangguk dan berterima kasih kepada dokter tersebut.
"Bagaiman kondisinya dok? Bagaimana dengan keracunan makanan ditubuhnya yang menyebabkan dia muntah-muntah sampai pingsan?"
Dokter itu tersenyum sambil menggeleng.
"Istri anda mengalami dehidrasi dan juga lemas karena berhari-hari tidak makan. Namun ia tidak keracunan apapun, justru ada berkah dibalik musibah yang dialaminya."
Clayton mengernyitkan dahinya. "Berkah? Maksud dokter?"
Dokter tersebut tersenyum dan mengangguk.
"Iya, istri anda mengalami gejala kehamilan tahap awal. Janin dikandungannya baru genap sebulan. Dia muntah-muntah karena hamil dan bukan karena keracunan makanan. Bersyukur dia cepat ditemukan sehingga kami masih bisa menyelamatkan janinnya."
Clayton terperangah antara sedih tapi juga bahagia.
"Dokter...benarkah? Tapi...kasihan anakku apakah dia cukup gizi mengingat ibunya disekap tanpa makanan berhari-hari." suara Clayton terdengar sangat panik.
"Jangan khawatir. Janinnya cukup sehat. Sudah kami tambahkan vitamin dalam cairan infus istri anda. Kami juga masih harus merawat lebam-lebam ditangan dan kakinya. Istri anda masih harus kami rawat selama kurang lebih tiga hari kedepan untuk memastikan kondisinya sudah cukup kuat dan sehat untuk pulang. Istri anda akan segera kami pindahkan ke kamar VVIP sesuai permintaan Tuan sekarang juga." setelah berucap demikian, dokter tersebut merintahkan para perawat untuk membawa Adrianne ke kamar yang sudah disediakan.
Beberapa saat kemudian di kamar rawat, Clayton terus menerus memandang wajah istrinya. Sesekali Ia mengecup lembut bibir kering itu. Tangannya tak berhenti membelai pergelangan tangan istrinya yang lebam.
Clayton mengalihkan pandangannya kearah perut Adrianne. Ia membelainya lembut dan berusaha meletakan kepalanya disitu. Ia tersenyum sebentar dan kembali membelai bagian itu.
"Yang kuat ya baby, supaya Mommymu juga cepat sehat. Daddy jagain kalian disini dan gak akan pernah pergi sampai kalian sehat kembali." gumamnya pada perut istrinya.
Tubuh Adrianne bergerak dan ada rintihan pelan keluar dari mulutnya. Matanya perlahan terbuka tapi bola matanya belum bergerak. Adrianne masih berusaha mengembalikan kesadarannya.
Clayton mendekatkan wajahnya sehingga Adrianne dapat melihatnya dengan jelas. Wajah suaminya tersenyum sambil mengecupnya perlahan.
"Anne sayang.... aku disini untukmu. Kamu sudah aman bersamaku disini." ucap Clayton sambil membelai wajah istrinya.
Adrianne berusaha tersenyum. Ada kelegaan dibinar matanya.
"Clay...." ucapnya lemah.
"Ya, sayang. Aku disini menjagamu. Tak ada lagi orang jahat. Mereka sudah ditangan yang berwajib menunggu hukuman mereka." ujar Clayton mencoba menghibur istrinya.
Adrianne mencoba menyentuh pipi suaminya. Clayton langsung menahan tangan itu dipipinya dan mengecupnya beberapa kali.
"Clay... aku...aku lapar."
Mendengar itu Clayton langsung tertawa kecil. "Tentu saja kamu lapar, Sayang. Berhari-hari kamu tidak makan. Sebentar, aku menelpon suster jaga dulu untuk membawakanmu bubur karena kata dokter ususmu masih sensitif. Jadi harus makan yang lembut-lembut dulu beberapa hari ini".
Clayton menelpon seseorang dan tak berselang lama, seorang petugas telah mengetuk dan membawakan semangkuk penuh bubur untuk Adrianne. Ada juga segelas susu hangat diatas nampan tersebut.
Clayton perlahan menyuapi istrinya. Tanpa disadari bubur tersebut tidak bersisa.
Clayton sangat puas dan senang karena bagaimanapun juga istrinya harus makan untuk dua orang.
Adrianne mencoba duduk dan Clayton dengan sigap membantunya. Clayton menyodorkan segelas susu tapi Adrianne langsung menolak sambil menutup hidungnya.
"Tolong jauhkan itu dariku. Aku pengen muntah mencium aromanya. Aku hanya mau minum jus limun tanpa gula."
Clayton terbelalak. "Malam-malam begini mau minum jus limun yang asam itu?"
Adrianne mengangguk dengan wajah memelas. "Pokoknya aku mau jus limun!"
Clayton tersenyum geli. "Hmm....mungkin karena bawaan hamil sampai kamu pengen minum yang asam-asam. Aku hubungi Reyhan dulu."
Adrianne mengernyitkan dahinya mendengar respon suaminya yang kini sedang menelpon.
"Sayang, apa maksud ucapanmu tadi?" Tanya Adrianne ketika Clayton selesai berbicara dihapenya.
Clayton mendekatkan wajahnya pada Adrianne. "Iya sayang. Kata dokter kamu sedang hamil sekarang, sudah genap satu bulan. Jadi kamu muntah-muntah itu karena bawaan hamil. Aku sangat bersyukur. Aku akan segera jadi daddy!"
Senyum merekah terpampang diwajah Adrianne. Matanya kini berkaca-kaca.
Clayton mengecup bibir istrinya dengan penuh kehangatan dan dibalas Adrianne dengan kelembutan.
Sedetik kemudian Clayton telah meletakan kepalanya diperut Adrianne sambil membelainya penuh kasih sayang.
"Mulai saat ini daddy pastikan tak akan ada lagi orang-orang jahat yang akan mengganggumu dan juga mommy."
Adrianne tersenyum dalam keharuan. Mimpi buruk yang baru saja dilewatinya seakan telah digantikan dengan kebahagiaan yang nyata!