
Pagi itu Adrianne terbangun karena alarm hapenya yang bergetar. Ia segera mematikannya dan melirik kearah Clayton yang masih tertidur. Perlahan Adrianne melepaskan tangan kekar Clayton yang semalaman tidak pernah melepaskan dekapannya. Ketika hendak berdiri, tangan Clayton menariknya kembali hingga Adrianne tertidur kembali disamping Clayton.
"Mau kemana, sayang?" bisik Clayton ditelinga Adrianne.
"Kembali ke kamarku, kita harus segera bersiap mandi dan sarapan karena tour dimulai jam 9." ucap Adrianne.
Clayton mengambil jam tangannya dan melihat jam. "Masih jam 6. Aku masih mau bermanja manja dulu." ucap Clayton sambil mendekap Adrianne lebih erat lagi. Ia membenamkan wajahnya di leher Adrianne yang tercium harum beraroma bunga.
Adrianne tersenyum. "Ya ampun Clay, manja manjanya nanti sebentar malam aja. Kita kan mau cepat cepat biar gak ketinggalan tour."
Clayton mengangkat kepalanya dan menatap wajah manis dibawahnya. "Janji sebentar malam kita akan....bermanja manja...?" ucap Clayton dengan wajah tersenyum penuh arti.
Adrianne yang tahu benar arti tatapan itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan.
Clayton tersenyum puas dan langsung berdiri.
"Okelah kalau begitu. Aku akan segera mandi."
Ia mengecup singkat bibir Adrianne dan berlalu kedalam kamar mandi.
Adrianne hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya kemudian keluar dari kamar Clayton dan menuju kamarnya untuk mandi.
Beberapa menit kemudian keduanya sudah kelihatan segar. Mereka menuju ke restoran hotel untuk sarapan.
Tepat pukul 9, mobil tour sudah diparkir dan para tamu hotel yang ikut tour langsung memilih tempat duduk masing masing.
Baik Clayton dan Adrianne sangat menikmati tour tersebut. Mereka banyak mengambil foto berdua dengan tongsis dengan berbagai pose.
"Aku benar benar sangat menikmati bulan madu dadakan ini." bisik Clayton ditelinga Adrianne.
Adrianne melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya sambil manis.
"Aku juga. Sayang waktu kita sangat pendek."
"Tenang aja, aku akan mengatur bulan madu yang lebih panjang nanti." Clayton mengedipkan matanya dan mengecup bibir Adrianne penuh kelembutan. Adrianne membalas kecupan itu tak kalah lembut.
Beberapa turis terlihat senyum senyum menyaksikan kebahagiaan dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Bagaimana kalau malam terakhir kita disini, kita habiskan untuk menginap di rumah mama dan papa? Mereka pasti sangat senang." Usulan Adrianne langsung disambut senyuman hangat oleh Clayton.
"Setuju. Dengan demikian kita bisa menunjukkan pada mereka pernikahan kita yang sesungguhnya." ucap Clayton sambil menarik tangan Adrianne ke dalam sebuah toko suvenir.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore dan acara tour telah selesai. Ketika sampai di hotel, mereka langsung mandi dan bersiap siap untuk check out.
Setibanya di rumah orang tuanya, Clayton langsung disambut oleh ibunya.
"Bagaimana tournya? Menyenangkan?" Tanya Nyonya Dara.
Keduanya mengangguk dan tersenyum puas.
"Pemandangannya keren, Ma. Kami juga naik gondola melewati beberapa canal. Yang paling aku suka adalah kincir angin dan bunga bunga tulip berwarna warni. Sangat mengaggumkan." ucap Adrianne dengan mata berbinar binar.
"Wah mama senang kalau kalian menikmati bulan madunya. Oh, iya. Ayah kalian sudah menunggu di ruang keluarga." ujar Nyonya Dara.
"Ma, kami berdua memutuskan untuk menginap disini malam ini. Besok pagi pagi kami harus segera kembali ke Saint Petersburg. Pesawat kami jam 7 pagi." ujar Clayton.
Nyonya Dara kelihatan bersemangat mendengarnya. "Baguslah kalau begitu. Kamar kalian sudah sejak kemarin disiapkan Bi Lina. Ayo temui ayah kalian sekarang."
Clayton langsung mencium tangan ayahnya ketika memasuki ruang keluarga. Begitupula dengan Adrianne.
Bi Lina langsung menghidangkan teh dan kue kue khas Belanda untuk dinikmati keluarga itu. Setelah itu Ia kembali ke dapur untuk memasak makan malam bagi mereka.
"Clayton..." ucap ayahnya dengan lembut. "Jagalah pernikahan kalian sampai maut memisahkan. Anne sudah sepenuhnya ada dalam tanggung jawabmu sebagai seorang suami. Jangan pernah lagi menyakitinya. Kamu sangat beruntung karena Anne masih mau memaafkanmu dan menikah denganmu."
Ucapan ayahnya disambut Clayton dengan anggukan kepala. Ia kemudian meraih tangan Adrianne, menggenggamnya kemudian menciumnya.
"Aku sudah berkomitmen untuk itu, Pa. Anne adalah satu satunya cinta dalam hidupku."
Mendengar itu, Adrianne sangat terharu dan langsung mengusap punggung suaminya.
Tuan Adhiata dan Nyonya Dara tersenyum bahagia.
"Ayah sudah memaafkanmu dengan tulus sejak kamu menginjakkan kaki di rumah ini. Ayah sangat menyayangi kalian dan memberikan restu ayah dan juga ibumu untuk kelangsungan kebahagiaan rumah tangga kalian. Ayah berharap kalian akan terus saling menyayangi sebesar apapun masalah rumah tangga yang akan kalian lalui kedepan nanti."
Clayton dan Adrianne tersenyum bahagia mendengar ketulusan ayah mereka yang telah memaafkan Clayton sekaligus memberi doa restu bagi rumah tangga mereka.
Keharuan merebak dalam rumah itu manakala Clayton berlutut di kaki ayahnya dan ayahnya kemudian menariknya dalam pelukan hangatnya. Ada kebahagiaan dan juga kelegaan yang mengalir direlung hati ayah dan anak yang sedang berpelukan erat itu.
Baik Adrianne dan juga Nyonya Dara sama sama menghapus air mata keharuan yang turun di pipi mereka.
Tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain menyaksikan hubungan anak dan orang tua yang tadinya retak, kini terjalin kembali.
Sore hingga malam itu, dihabiskan mereka dengan canda tawa sambil menikmati makanan buatan Bu Lina yang sangat lezat.
Energi kebahagiaan terasa menaungi rumah itu dengan kehangatan kasih sayang keluarga.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam ketika akhirnya Clayton dan Adrianne beranjak ke kamar mereka karena besoknya mereka harus bangun pukul 5 subuh untuk mengejar pesawat. Beruntung ada sopir orang tua mereka yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Adrianne mencoba memejamkan matanya. Ia sangat bahagia malam itu, begitu pula dengan Clayton.
Clayton mendekap Adrianne yang belum terlelap. "Terima kasih atas dukunganmu, sayang. Aku sangat bahagia hari ini karena ayah telah memaafkanku dengan tulus."
"Aku juga sangat bahagia. Setidaknya tidak ada lagi kebohongan diantara kita. Ayah juga tidak meminta kita menunjukkan akta nikah itu karena Ia sangat percaya pada kita." ucap Adrianne sambil memiringkan badannya membalas pelukan Clayton.
Clayton menarik lembut wajah Adrianne ke wajahnya. "Dan sekarang....aku mau bermanja manja denganmu." ucap Clayton dengan suara agak serak. Ia menatap mesra mata Adrianne dan mulai mengecup bibir istrinya dengan penuh gairah yang sudah cukup lama ditahannya. Adrianne yang tak bisa menolak hanya bisa menikmatinya dengan membalas ciuman itu dengan penuh kelembutan.
Beberapa detik kemudian ciuman Clayton turun ke bagian leher Adrianne. Ingin sekali Ia meninggalkan beberapa kissmark disitu tapi Ia tak ingin membuat Adrianne kewalahan besok pagi hanya untuk menutupi lehernya.
Satu desahan yang tertahan keluar dari bibir Adrianne. Ia tak kuasa menolak kenikmatan yang sedang disuguhi Clayton padanya manakala Clayton mulai melancarkan ciumannya di beberapa area sensitif Adrianne. Beberapa tanda kissmark ditinggalkan Clayton dibagian dadanya. Clayton menghabiskan waktu cukup lama dibagian itu.
"Sayang, aku tak kuasa lagi menahannya...bolehkah malam ini?" bisik Clayton dengan suara yang semakin serak menahan gairah yang sudah membakarnya.
Adrianne hanya mengangguk dengan mata terpejam. Tanpa berlama lama lagi, Clayton telah melucuti semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya dan juga tubuhnya.
Keduanya terus dibakar gairah hingga keringat membasahi tubuh polos keduanya.
Entah berapa lama kedua insan itu bertarung dalam kenikmatan asmara dan meraih puncak kenikmatan itu berkali kali hingga seprei dan selimut mereka terasa basah dan lengket disana sini. Yang pasti ketika mereka bangun pagi harinya, wajah dan tubuh keduanya terlihat sangat lelah dan lemas.
Walaupun kelelahan masih meliputi keduanya, mereka sangat bahagia ketika bangun pagi pagi untuk bersiap.
Clayton tak sungkan lagi mengajak istrinya untuk mandi bersama dan Adrianne tidak menolaknya. Walaupun masih lelah dengan pertarungan semalam, nyatanya mereka masih bertenaga juga melanjutkan adegan semalam disela sela mandi bersama.
Beberapa menit kemudian, Nyonya Dara dan Tuan Adhiata sudah menyambut keduanya untuk sarapan sepagi itu.
Setelah itu, keduanya memeluk dan mencium orang tua mereka untuk berpamitan. Mereka saling melambaikan tangan di pagi yang dingin itu ketika mobil yang mengantarkan mereka kebandara mulai bergerak meninggalkan kedua orang tua mereka yang terus tersenyum bahagia mengantar kepergian anak anak mereka.
******** to be continued ********