Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Dari Titik NOL Lagi



Tidak terasa sudah dua minggu Adrianne bersabar menunggu berita dari Damian tentang sahabatnya yang telah menerima dan membaca resumenya untuk bekerja dikliniknya di Russia.


Dan hari itu, adalah hari yang paling Ia tunggu tunggu untuk bertemu Damian.


Adrianne duduk dengan gelisah di ruangan kerja Damian. Ia harus sabar menunggu Damian yang masih sementara rapat dengan karyawannya.


Tiba tiba pintu terbuka. Adrianne langsung berdiri dan menyambut Damian yang tersenyum manis melihatnya.


"Anne, sudah lama menungguku?" Tanya Damian langsung menuju meja kerjanya untuk mengambil sebuah map.


"Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Jangan khawatir, aku inikan pengangguran, jadi aku tidak keberatan menunggumu walaupun seharian. Snack dan kopinya enak semua, jadi aku betah." ujar Adrianne sambil tertawa dan langsung membuat Damian tertawa juga.


Keduanya duduk berdampingan disebuah sofa dan memulai percakapan mereka.


Damian mengambil hapenya dan membuka galeri disana. Terdapat sebuah foto yang langsung disodorkan Damian pada Adrianne.


Adrianne menatap layar di depannya.


"Hmm...cantiknya. Sungguh luar biasa."


Damian mengangguk pelan menyetujui komentar Adrianne.


"Elleora Maheswari. Nama lengkapnya. Nama panggungnya dulu Elle Eswar. Sahabat baikku sejak Ia memulai karirnya sebagai bintang iklan produk perusahaanku."


Adrianne mengernyitkan dahinya. "Iya, Aku seperti kenal wajahnya. Ternyata Ia adalah bintang iklan dan juga bintang film itu. Pantasan wajahnya gak asing."


ELLEORA MAHESWARI



Damian tersenyum. "Dan berita baiknya untukmu adalah Ia menerimamu bekerja di kliniknya!"


"What?? Oh my goodness! Benarkah?" Tanya Adrianne dengan tangan sedikit bergetar saking senangnya.


Damian mengangguk pasti. "Ia sangat senang punya teman dari Indonesia nantinya jika kamu sudah berada disana. Oh iya, Ia ternyata tidak tinggal lagi di kota Moskow. Kliniknya berada di kota Saint Petersburg, jadi Ia sudah menetap disana."


Adrianne mengangguk sambil menerima sebuah map yang disodorkan Damian.


"Ini kontrak kerjanya beserta fasilitas yang akan kamu dapatkan disana. Aku print semuanya biar kamu baca dahulu dan tanda tangani kemudian tinggal di scan dan kirim pada Elle.


"Boleh aku baca sekarang? Maaf, tapi aku gak mau berlama lama mengambil keputusan. Aku sudah despret banget nih untuk bekerja lagi." ucap Adrianne dengan nada tidak sabaran.


"Silahkan. Sambil kamu pelajari kontrak tersebut, aku akan bekerja pada komputerku." Damian tersenyum, menepuk pundak Adrianne dan berjalan menuju meja kerjanya.


Adrianne membuka halaman pertama dari kontrak kerja itu. Semuanya tertulis dalam bahasa Inggris.


Mata Adrianne dengan teliti membaca kata demi kata dengan wajah yang sangat serius. Sesekali tersungging senyum dibibirnya.


Tak dapat Damian sangkali betapa Ia sangat marah pada Clayton yang telah tega menghancurkan masa depan gadis yang sangat Ia sayangi. Ingin sekali Ia mendatangi Clayton dan meninju wajahnya! Tapi, Adrianne sangat memohon pada dirinya untuk tidak bertindak bodoh. Bagaimanapun juga Keluarga Cakrawangsa adalah salah satu yang sangat berpengaruh di kota itu. Mereka bisa berbuat apa saja jika mencari masalah dengan mereka. Jika bukan karena Adrianne yang memohon, mungkin Damian sekarang sudah dipenjara karena melukai Clayton!


Ada perasaan senang sekaligus rasa gugup yang terpancar diwajah Adrianne. Ia senang karena akhirnya memperoleh pekerjaan tapi juga gugup karena harus berkelana sendiri di negeri orang yang benar benar baru baginya.


Namun tak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya untuk menerima pekerjaan itu. Jika memang Ia harus kembali lagi dari titik nol dalam karirnya, maka Ia sudah sangat siap dengan semua itu, karena dengan pergi sejauh jauhnya dari Indonesia, akan membuatnya lupa pada kisah cintanya yang berakhir tragis.


Walaupun Ia belum sepenuhnya dapat menghapuskan rasa cintanya pada Clayton, Ia yakin bahwa waktu akan menghapus nama itu dari hatinya. Dengan pergi sejauh jauhnya, adalah jalan terbaik untuk tidak pernah lagi bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hati dan hidupnya.


Setengah jam kemudian Damian beranjak dari meja kerjanya.


"Gimana Anne? Puas dengan kontrak kerjanya?" Tanya Damian begitu melihat Adrianne sedang membubuhi tanda tangannya.


Adrianne mengangguk mantap.


"Aku dapat apartemen gratis selama disana. Kontraknya selama tiga tahun dan bisa diperpanjang. Setiap tahun, aku juga dapat kesempatan dua minggu untuk liburan plus uang transport pergi pulang dan juga uang saku! Amazing kan? Ditambah lagi visa aku semua mereka yang mengurusnya." mata Adrianne berbinar binar.


Damian tersenyum bahagia. "Wah keren amat fasilitasnya. Yang pasti gajinya juga fantastis!"


Adrianne mengangguk membenarkan ucapan Damian. "Tau gak? Hal yang paling aku idam idamkan yaitu aku bisa punya kesempatan bertemu dengan dokter idolaku. Dia sekarang dianggap sebagai Bapak Senior dokter dokter ahli sedunia. Dia sudah melegenda. Namanya Dokter Mikhail Dmitriy. Usianya sudah 70 tahun saat ini tapi masih aktif memberikan seminar seminar international yang terkenal itu. Tau gak berapa sekali daftar ikut seminarnya? Puluhan juta! Gajiku dua bulan kalau disini. Aku berharap bisa menggapai mimpiku untuk memperoleh kesempatan mengikuti salah satu seminarnya! Kalau aku bisa dapat satu saja sertifikat yang ada tanda tangan aslinya, angka kreditku sebagai seorang dokter profesional bisa mendapat pengakuan dimana mana. Tapi impian utamaku adalah bertemu dan berjabat tangan secara langsung dengan beliau."


"Semoga impianmu tercapai ya Anne. Aku doakan yang terbaik untukmu." kata Damian sambil mengacak sedikit rambut Adrianne.


"Oh ya, aku sudah harus berada disana seminggu dari sekarang karena Elle ingin agar aku punya waktu beradaptasi dulu sebelum memulai masa orientasi dan pelatihan." ucap Adrianne dengan nada sedikit sedih.


Damian memeluk Adrianne dengan hangat.


"Pergilah Anne, raih mimpimu disana dan lupakan Clayton. Ingat, kamu berhak untuk bahagia!"


Adrianne membalas dekapan hangat Damian.


"Terima kasih atas segalanya. Aku tak akan pernah melupakan segala kebaikanmu. Terlalu besar hutang budiku padamu." ucap Anne pelan.


Damian semakin mengeratkan dekapannya. Ia tak dapat mendustai hatinya jika Ia sudah lebih dulu merasa kehilangan sebelum Adrianne benar benar pergi. Tapi kebahagiaan gadis itu adalah juga kebahagiaannya. Tak ada yang boleh menghancurkan masa depan gadis itu, tidak juga seorang Clayton!


Walaupun Ia harus memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan tapi Damian bukanlah pria yang suka memaksakan perasaannya pada seseorang, apalagi terhadap Adrianne yang sudah menganggapnya sebagai seorang kakak sejak mereka masih kecil.


Keduanya melepaskan pelukan. Damian membelai rambut Adrianne dengan tatapan sayang.


"Jagalah dirimu baik baik disana, Anne. Jangan pernah sungkan menghubungiku setiap saat bahkan jika kamu menemui kesulitan disana. Aku janji akan selalu mengunjungi Paman dan Bibimu untuk memastikan bahwa mereka baik baik saja agar perasaanmu tenang selama mengembangkan tugas di negeri orang."


Adrianne tersenyum kecil mendengar ucapan Damian yang terasa sangat tulus dan menenangkannya.


"Kamu juga Damian. Jaga dirimu baik baik ya. Aku pasti akan sangat merindukanmu."


Keduanya tersenyum dan saling menggenggam tangan. Ada harapan baru yang terpancar di wajah Adrianne. Kini Ia harus membenahi hidupnya dari awal. Sebuah awal baru di tempat yang asing!