
Clayton memandangi wajah paruh baya di hadapannya. Kali ini hanya mereka berdua duduk disebuah taman di area kompleks apartemen Clayton.
Clayton merasakan ada sebuah beban diwajah ayahnya yang membuat wajah pria itu kelihatan tegang.
"Clayton. Ada hal yang sangat penting yang selama ini papa rahasiakan semenjak kepergianmu. Papa sebenarnya tidak ingin melibatkanmu dalam persoalan ini. Tapi, pada siapa lagi harus papa bagikan masalah ini kalau bukan denganmu, pewaris tunggal keluarga Cakrawangsa."
Ayah Clayton berhenti sejenak dan menarik nafasnya. Clayton yang merasa bingung mulai memijat rahangnya. Ia tidak mengerti maksud perkataan ayahnya.
"Papa, tolong beritahu aku. Sebenarnya ada masalah apa dengan papa selama aku pergi? Apakah ada hubungannya dengan pekerjaan papa selama masih di Indonesia?" Tanya Clayton dengan wajah serius dan penuh tanda tanya.
Ayah Clayton mengangguk perlahan. Sejenak Ia memandang putranya.
"Clayton, anakku. Sebenarnya sewaktu kepergianmu keadaan papa baik-baik saja. Papa tak dapat memungkiri kalau papa sangat marah sewaktu mengetahui kamu telah memecat Anne dari rumah sakit dan memutuskan pertunangan kalian. Namun hal yang paling membuat papa terguncang adalah adanya aksi sabotase di perusahaan kita oleh pamanmu sendiri, si Ardiansyah!Sudah sekian lama papa sangat mempercayainya karena kepintaran dan keuletannya memegang proyek-proyek strategis di perusahaan papa. Namun, siapa sangka ia menghasut beberapa karyawan untuk bekerjasama dengannya mengambil alih perusahaan."
"Nyawa keluarga kita berada dalam bahaya waktu itu. Beruntung kamu telah pergi sewaktu papa mengusirmu tanpa seorangpun tahu kemana kamu menghilang. Tapi Carlene dan Mamamu saat itu menjadi incaran orang suruhan pamanmu. Papa sangat terpukul dengan keadaan yang tidak kondusif lagi bagi keluarga kita. Maka papa memutuskan untuk segera membekukan semua aset aset kita kecuali beberapa aset yang telah papa relakan diambil alih oleh pamanmu. Papa menganggap itu sebagai pemberian atas jasa-jasa pamanmu selama membantu papa.
Sewaktu kesehatan papa kian menurun, papa sengaja membiarkan wartawan membuat berita rumor tentang kebangkrutan perusahaan papa. Rumor itu berhasil dipercayai masyarakat manakala papa dengan sengaja menjual rumah kita kemudian pindah ke Belanda atas saran keluarga ibumu. Carlene juga ikut bersama kami selama beberapa waktu. Ketika keadaan sudah membaik dan semua orang benar-benar percaya atas kebangkrutan perusahaan kita, barulah Carlene kembali ke Indonesia untuk mengurus restorannya."
Clayton terdiam. Ia tak menyangka Paman Ardiansyah bisa sekejam itu pada keluarganya.
"Aku tak menyangka Paman Ardiansyah bisa sekejam itu, Pa."
Ayah Clyaton tersenyum kecewa.
"Keserakahan bisa mengubah seseorang, Clay. Tak terkecuali pamanmu yang sudah sangat berjasa dan begitu dekat dengan keluarga kita. Semenjak dia tahu kamu telah papa usir dan menghilang, ia berpikir tak ada lagi ahli waris yang bisa papa andalkan. Dia kemudian nekad melakukan penghasutan besar-besaran hanya untuk menyingkirkan papa."
Clayton menarik nafasnya perlahan.
"Lantas, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu papa?"
Ayah Clayton tersenyum. "Sesampainya kamu di Indonesia, papa ingin kamu kembali mengelola perusahaanmu untuk digabungkan atau dijadikan satu dengan perusahaan papa yang sedang vacum selama beberapa tahun ini. Aset-aset yang papa bekukan akan papa urus untuk diaktifkan kembali. Dengan demikian pamanmu tidak akan tahu. Ia akan mengira bahwa itu adalah murni kesuksesan perusahaan pribadimu. Intinya adalah papa mewariskan semua yang pernah papa miliki padamu, Clayton. Kelola semuanya sebaik mungkin dan biarkan semua orang tahu kalau kamu adalah anak dari Tuan Adhiata Cakrawangsa yang pernah bangkrut. Biarkan orang tetap berpikir bahwa papa hidup di Belanda karena telah bangkrut. Itu tidak masalah bagi papa karena yang terpenting adalah ketenangan hidup. Ingat Clay, dalam dunia bisnis akan selalu ada kawan dan lawan. Kamu harus jeli untuk dapat membedakan siapa yang benar-benar tulus denganmu. Terkadang, orang paling dekat dengan kitalah yang suatu waktu menjadi batu sandungan dan semua itu tujuannya hanyalah uang!"
"Maafkan Clayton, Pa, jika selama ini papa harus menanggung semuanya seorang diri. Aku seharusnya berada disisi papa saat semua itu terjadi."
Ayah Clayton tersenyum tulus. "Clayton, kamu adalah satu-satunya yang bisa papa andalkan. Berjanjilah kamu akan mengelola dengan baik semua yang sudah papa wariskan. Jangan khawatir dengan adikmu Carlene. Ia sudah mendapat bagiannya yang sudah papa atur jauh hari sebelum Ia kembali ke Indonesia. Carlene mengaku bahwa Ia tak sanggup mengelola semua yang papa miliki. Ia lebih ingin fokus dengan usaha kulinernya. Papa tidak bisa memaksakannya. Ia punya mimpi sendiri. Jadi, kamulah yang harus mengambil alih semua yang sudah pernah papa rintis dan bangun. Clayton, berjanjilah Nak, karena waktu hidup papa bisa berakhir kapan saja."
Clayton merangkul ayahnya, perasaannya bercampur aduk.
"Papa, jangan bicara tentang akhir hidup. Aku ingin papa dan mama menghabiskan masa tua dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Aku berjanji akan menjalankan amanat papa dengan sebaik-baiknya. Aku akan mengurus semuanya begitu aku kembali ke Indonesia." ucap Clayton dengan mantap sambil tersenyum dan menepuk pundak ayahnya.
"Aku mohon dukungan dari papa untuk terus membimbingku dalam menjalankan kembali perusahaan papa serta menggabungkannya dengan perusahaanku.
Ayah Clayton mengangguk dan kembali mereka saling merangkul.
"Ayah sangat bahagia melihatmu dan Anne bisa bersatu pada akhirnya. Kamu harus bisa melindungi dan membahagiakan Anne. Bagaimanapun, ia sangat berjasa dalam mengembalikan tahun-tahun hidupmu yang papa pikir tak akan pernah berubah sebaik sekarang ini. Papa dan Mamamu akan ke Hongkong menemui sanak saudara disana. Mereka menawarkan pengobatan traditional berbasis medis untuk pemulihan papa. Mungkin kami akan sedikit lama disana. Kamu bisa hubungi papa kapan saja jika ingin bertanya apa saja tentang perusahaan yang telah papa wariskan padamu. Papa dan mama sudah memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup kami di Belanda. Banyak keluarga mama yang mendukung dan selalu menopang kami. Mamamu sudah tidak lagi bekerja sebagai designer. Katanya ia ingin menikmati hidupnya. Sejak saat ini, semua sudah papa serahkan padamu, Clay."
Clayton tersenyum dan mengangguk kembali.
"Jangan khawatir, Pa. Clayton akan ingat semua yang papa katakan."
Ayah Clayton terlihat sangat lega setelah menceritakan semua rahasia yang bertahun-tahun dipendamnya. Tak ada lagi beban dimatanya.
Clayton juga merasa lega dan bahagia melihat ayahnya yang kini bisa tersenyum kembali.
Kini tugas baru yang telah diserahkan ayahnya harus bisa dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tugas tersebut tidaklah mudah. Clayton sadar betul atas semua itu.
Kini babak baru dalam dunia bisnis menantinya sekembali ke Indonesia.
Walaupun ia sangat sedih harus berpisah dengan istrinya untuk sementara waktu, tapi apa yang harus Ia kerjakan adalah juga untuk masa depannya dengan Adrianne.