
Pagi itu Adrianne memandang pesan WhatsApp yang masuk. Ada pesan dari Reyhan yang tertulis disana.
"Bu dokter, maafkan pak Clayton. Dia tidak pernah mengkhianati bu dokter. Sungguh! Dia sangat mencintai bu dokter. Aku sendiri yang menyaksikannya selama Pak Clayton disini tanpa bu dokter. Pak Clayton melakukan semua ini hanya untuk melindungi bu dokter. Ia tak mau nyawa bu dokter terancam. Maaf kalau Pak Clayton belum bisa menghubungi bu dokter dan bertemu langsung. Ini semua demi keamanan bu dokter."
Adrianne mengedip-ngedipkan matanya yang masih bengkak karena menangis setiap hari. "Apa maksudnya melindungi nyawaku? Apakah Clayton benar-benar sedang terlibat masalah besar yang mengancam keselamatannya?" gumam Adrianne dengan perasaan tidak menentu.
Rasa khawatir yang sangat besar memenuhi pikiran Adrianne. "Ya, Tuhan. Tolong suamiku, lindungi dia." ucap Adrianne sambil menggingit kukunya. Kecemasan jelas tergambar diwajahnya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Adrianne berpamitan pada kedua pelayannya untuk berangkat kerja. Hari itu Ia harus melayani beberapa pasien stroke. Walaupun ia seorang direktur, namun ada saat-saat dimana ia harus turun tangan menangani pasien jika sewaktu-waktu diperlukan.
Hari menjelang siang ketika Adrianne telah selesai membersihkan dirinya dikantor. Setiap selesai melayani pasien, ia selalu harus segera mandi sebagai salah satu protokol kesehatan.
Setelah rapi kembali dengan pakaian yang baru digantinya, Adrianne menuju kesebuah ruangan tempat istrirahat untuk mengambil hapenya yang disimpan di dalam loker. Suasana agak sepi karena hampir semua karyawan bagian administrasi sedang istirahat makan siang di kantin khusus karyawan.
Disuatu tempat dekat dari situ, terlihat sosok berpakaian tertutup dengan jacket abu-abu, memakai topi, kaca mata hitam dan juga masker. Sosok itu terlihat sedang memperhatikan gerak-gerik Adrianne dari balik sebuah dinding. Ia kelihatan sedang menunggu keadaan benar-benar sepi.
Sewaktu menuju ke ruangan tempat istirahat, Adrianne tidak menyadari jika ternyata pria tersebut sedang mengendap-endap dan mengikutinya diam-diam. Pria itu berjalan sepelan mungkin agar langkah kakinya tidak terdengar oleh sosok yang sedang diikutinya.
Sewaktu Adrianne masuk didalam ruangan tersebut, pria itu mengikutinya masuk dan langsung mengunci pintu tersebut.
Adrianne berpaling demi mendengar suara pintu yang dikunci. Ia terperanjat melihat sosok tinggi bertopi dan berkaca mata hitam dengan masker yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
Melihat sosok mencurigakan tersebut, Adrianne menjadi panik dengan wajah yang tiba-tiba memucat.
Ketika Adrianne hendak berteriak, pria itu langsung membungkam mulutnya dengan erat serta menyeret tubuhnya kearah sebuah tempat tidur yang berada di pojok ruangan.
Adrianne meronta tapi suaranya tak bisa keluar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari dekapan pria itu, namun sayang, pria tersebut terlalu kuat untuk menjadi tandingan tubuh langsingnya itu.
Pria itu memberi isyarat agar Adrianne tenang namun sosok dalam dekapannya tetap saja terus bergerak dengan suara rintihan yang terbungkam.
"Diamlah Anne, atau semua orang akan mendengarkan kita disini!" bisik pria itu ditelinga Adrianne.
Adrianne seketika berhenti meronta. Ia terdiam sesaat. Suara itu sangat dikenalnya.
Setelah melihat sosok dalam dekapannya telah tenang, pria itu melepaskan Adrianne yang telah terduduk diatas tempat tidur dengan wajah ketakutan.
Pria itu membuka topi, masker dan kacamata hitamnya.
Melihat sosok didepannya, Adrianne memekik tertahan.
"Clayton!"
Sosok didepannya tersenyum manis dengan mata yang sarat kerinduan.
"Sayang... aku merindukanmu!"
Adrianne masih mematung. Seakan tak percaya jika suaminya harus menyamar sedemikian hanya untuk menemuinya. Adrianne teringat akan pesan WhatsApp Reyhan tadi pagi.
Clayton menarik nafas panjang kemudian mulai menceritakan pertemuan dengan ayahnya, tentang warisan dan juga hal-hal buruk yang menimpa keluarganya, termasuk tentang pamannya yang dilihat Adrianne dikantornya beberapa hari lalu.
"Maafkan aku, Sayang. Jika pamanku tahu kamu adalah istriku, nyawamu bisa dalam bahaya. Aku dan Reyhan masih mengumpulkan bukti-bukti untuk dapat membuktikan bahwa teror-teror yang sedang terjadi padaku beberapa waktu ini ada hubungannya dengan pamanku yang serakah itu. Dan soal wanita yang kamu lihat itu, dia adalah anak angkat pamanku yang mau dijodohkan denganku. Aku juga baru bertemu dengannya hari itu. Dari gelagatnya dia type wanita penggoda. Aku rasa paman punya tujuan untuk memata-mataiku lewat anak angkatnya itu."
Mendengar penjelasan tersebut, Adrianne langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Sayang, aku takut terjadi sesuatu denganmu."
Clayton lebih mengeratkan dekapan itu. "Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Asal kamu aman, aku sudah bisa bernafas lega.
Clayton menangkupkan kedua telapak tangannya diwajah istrinya, "Aku hampir gila karena merindukanmu." ucap Clayton lembut kemudian mulai menyesap bibir istrinya dengan kelembutan bibirnya. Clayton tak tahan untuk sekedar hanya mencium perlahan. Permainan lidahnya semakin mendalam dan bergerak laju seperti orang kelaparan yang sudah beberapa hari tidak makan.
Adrianne yang telah hanyut dalam buaian bibir suaminya tak sanggup menghentikan kenikmatan permainan Clayton yang kemudian mulai turun kebawah menciumi dadanya dengan penuh gairah. Adrianne berusaha menahan desahan yang tertahan dibibirnya manakala kancing bajunya sudah tak satupun terkunci serta branya yang sudah tidak pada tempatnya.
Entah berapa lama mereka bergulat dalam gairah yang sudah lama tertahan oleh jarak dan waktu. Ketika keduanya hendak melanjutkan permainan mereka ke level yang paling intim, terdengar suara beberapa orang yang sedang berbincang melewati ruangan dimana keduanya sedang menyalurkan hasrat mereka. Jam makan siang hampir berakhir.
Keduanya terhenti dan saling pandang dengan nafas tersengal-tersengal. Sesaat kemudian keduanya saling tersenyum sambil merapikan kembali pakaian mereka yang sudah hampir terlepas semuanya dari tubuh mereka.
"Sayang, aku merasa kita berdua seperti pasangan yang sedang selingkuh harus sembunyi-sembunyi." ucap Adrianne.
Clayton tersenyum geli sambil masih merapikan celananya yang tadinya sudah melorot.
"Temui aku di hotel Z saat sudah agak larut biar tak banyak orang lagi yang melihat kedatanganmu. Aku tinggal dikamar 212 untuk sementara waktu. Aku belum bisa pulang ke rumah demi keselamatanmu."
Adrianne tersenyum kecil sambil terus memperhatikan suaminya yang sedang memakai jacket dan topinya.
"Aku akan menunggumu, sayang. Kita harus menuntaskan permainan kita hari ini. Aku tak sanggup kalau harus menunggu lama." ucap Clayton sambil mengedipkan matanya dengan senyum menggoda. Ia kemudian mengecup bibir Adrianne sekilas dan memasang kaca mata hitamnya beserta masker.
Adrianne hanya bisa tersenyum geli menyaksikan Clayton yang keluar perlahan-lahan dari ruangan itu. Ketika keadaan sudah agak sepi, ia berlari menuju tangga. Ia tak mau menggunakan lift.
Perasaan khawatir masih terus berkecamuk dalam hati Adrianne. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja seperti kata Clayton.
****************************************
Hi, readers kesayangan...gimana ceritanya sejauh ini? semoga kalian menikmatinya ya.
😊😊😊
Bentar lagi tamat kok...soalnya aku type author yang gak bisa nulis yang bertele-tele dan berkepanjangan, takut ceritanya melenceng terlalu jauh dan kehilangan esensinya.
Jangan lupa di like dong 🙏🙏🙏🙏 plus kasi koment yang bisa terus memotivasi aku untuk menulis lebih baik dan menarik lagi.
♥️♥️♥️♥️♥️