
Pagi itu Adrianne sudah bersiap di apartemennya. Sejak ditugaskan di kota tersebut, Ia tak lagi tinggal dengan paman dan bibinya. Apartemen tersebut dibelikan pamannya agar Adrianne tak perlu bolak-balik.
Adrianne menatap pantulan dirinya didepan cermin. Ia mengenakan baju terusan selutut berwarna biru mudah dengan sepatu yang heelsnya tidak terlalu tinggi berwarna biru tua. Rambut hitam panjangnya yang lurus diikat kebelakang dengan aksen dikepang dikedua sisinya. Adrianne hanya memakai make up minimalis dengan lipstick berwarna pink muda yang menonjolkan kecantikan alaminya.
Ia sedikit gugup juga pagi itu, pikirnya, jika Tuan Clayton tidak ramah padanya atau bahkan menolaknya nanti, Ia sudah bertekad untuk tidak akan menyimpan dalam hati agar karena Ia hanya akan fokus pada penyembuhan Tuan muda itu. Bagaimanapun, sebagai seorang dokter, Ia harus memahami kondisi pasiennya yang sedang mengalami depresi akan jati dirinya.
Adrianne menyalakan mesin mobilnya dan kemudian memacunya dengan kecepatan sedang. Ia tidak perlu buru-buru karena waktu masih menunjukkan jam 07.00. Berarti Ia masih punya waktu sekitar 45 menit untuk sampai di rumah keluarga Cakrawangsa.
Dengan berbekal Google map, Adrianne sampai juga dikediaman Keluarga Cakrawangsa. Pikirnya, Ia mungkin salah alamat atau? Karena bangunan megah dengan pagar tinggi yang sudah dibuka oleh dua orang satpam itu lebih mirip sebuah istana ketimbang rumah tinggal biasa.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Adrianne pada dua orang satpam tersebut dengan senyum ramahnya. "Apakah benar ini rumah kediaman Nyonya Dara Cakrawangsa?"
"Selamat pagi mbak. Iya benar. Maaf kalau boleh saya tahu, mbak namanya siapa?"
"Saya Dokter Anne, hari ini tugas pertama saya membantu Tuan Muda Clayton." ucap Adrianne dengan sopan.
"Oh..Dokter Anne. Silahkan masuk Dokter. Tadi memang Nyonya besar sudah menginformaskan kami. Mari silahkan. Saya bantu parkirkan mobilnya ya Dok." ucap satpam itu, seraya membukakan pintu mobil Adrianne. Adrianne berterima kasih dan mulai berjalan menuju rumah yang baginya lebih mirip istana itu.
Halamannya begitu luas. Ada beberapa taman dikedua sayap bangunan yang kelihatan sangat terawat. Berbagai jenis bunga menambah keindahan bagi siapapun yang memandangnya. Pohon cemara dan pinus menambah keteduhan di istana itu.
"Ckckckc....ini mah bukan rumah tapi istana!" guman Adrianne sambil terus berdecak kagum. "Bisa-bisa hilang jalan kalau tidak ada guide yang menunjukkan arah."
Adrianne tidak berhenti mengaggumi keadaan disekitar rumah itu. Baginya, rumah itu pasti membutuhkan perawatan yang menguras kantong dan yang pasti pekerja didalamnya tidak sedikit!
RUMAH KEDIAMAN KELUARGA CAKRAWANGSA
Adrianne menaiki anak tangga yang lumayan panjang menuju pintu utama. Ia sedikit ngos-ngosan juga menaiki tangga tersebut. Ia mengatur nafasnya perlahan dan kemudian menekan tombol bell.
Pintu dibuka oleh seorang pelayan. Pelayan itu mempersilahkannya masuk dan duduk.
"Mohon tunggu sebentar, Nyonya sedikit lagi akan turun." kata pelayan itu dengan sopan.
Seorang pelayan yang lain membawakan sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah teko, wadah berisi gula dan dua buah cangkir beserta sendoknya.
Adrianne menatap interior rumah itu, yang baginya mirip sebuah hotel berbintang lima!
Beberapa saat kemudian terlihat Nyonya Dara menuruni tangga dengan senyum merekah. Ia mengenakan setelan blazer berwarna pink muda dengan dalaman putih berenda dan sepatu highheels berwarna hitam. Sungguh elegan dan terlihat bersahaja. Adrianne langsung berdiri menyambutnya.
"Maaf Nak Anne. Sudah lama menunggu?" Tanya Nyonya Dara begitu tiba dihadapan Adrianne.
Adrianne tersenyum, "Gak juga, Nyonya. Baru lima menit yang lalu kok."
"Syukurlah. Silahkan duduk. Ayo kita ngeteh dulu. Nak, Anne sudah sarapan?" Tanya Nyonya Dara sambil menuangkan teh kedalam cangkir-cangkir tersebut.
"Terima kasih, Nyonya. Saya sudah sarapan tadi sebelum kesini." ujar Adrianne meyakinkan sosok didepannya.
Adrianne menyambutnya. "Terima kasih Nyonya."
Sewaktu Adrianne sedang berbincang-bincang dengan Nyonya Dara, tiba-tiba terdengar suara barang yang pecah dari salah satu ruangan dilantai atas, diiringi teriakan suara seorang lelaki. Karena rumah itu sangat luas, suara histeris itu terdengar menggaung keseluruh bagian rumah itu.
Braaaakkkk!!!!
"Cepat kalian keluar dari kamarku! cepaat!!!"
Adrianne seakan terlonjak dari tempat duduknya mendengar teriakan histeris dari seorang lelaki dilantai atas. Ia buru-buru meletakkan cangkir ditangannya sebelum cangkir itu jatuh karena rasa kaget setengah mati yang membuat wajah Adrianne memucat.
Nyonya Dara terlihat agak panik dan berusaha tersenyum pada Adrianne dengan wajah yang mengisyaratkan bahwa Ia merasa malu pada gadis didepannya karena insiden barusan.
"Maafkan saya, Nak Anne. Saya permisi sebentar. Silahkan nikmati waktu anda. Tak perlu sungkan." kata Nyonya Dara sambil berlalu dari hadapan Adrianne dan bergegas menuju tangga.
Andrianne mengangguk dengan wajah yang masih sedikit pucat mendengar insiden barusan.
"Apakah itu suara Tuan Muda Clayton?" Tanya Adrianne pada dirinya.
Jantungnya masih berdebar-debar. Ia melihat beberapa pelayan sedang berlarian dengan wajah gugup. Ada yang berlarian menuruni tangga dan ada juga yang menaiki tangga.
Suasana rumah itu tampak tegang dan penuh misteri bagi Adrianne.
"Ya Tuhan, salahkah aku mengambil keputusan ini? Ya ampun, aku bisa mati jantungan kalau begini. Dibentak orang saja aku seakan bisa kehabisan nafas, apalagi kalau menghadapi kejadian seperti barusan?"
Adrianne berusaha menenangkan dirinya. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena menerima pekerjaan membantu penyembuhan Tuan Muda Clay.
Berbagai pertanyaan dan perasaan tidak enak silih berganti dikepalanya sampai-sampai Ia tidak sadar bahwa Nyonya Dara sudah berdiri dihadapannya.
"Nak, Anne? Anne?" tegur Nyonya Dara.
Adrianne terkejut dan langsung berusaha bersikap biasa saja. Tapi Nyonya Dara menyadari hal itu. Adrianne memang tidak punya bakat untuk berpura-pura.
"Maafkan, Nak Anne kalau dihari pertama kunjunganmu, kamu harus mengalami hal yang kurang menyenangkan. Tapi setidaknya kamu sudah bisa meraba-raba bagaimana kondisi putra saya, Clayton. Beginilah keadaannya hampir setiap hari. Saya harus menenangkannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semua orang dalam rumah ini harus sabar dengan Clayton. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun! Itulah sebabnya Saya memintamu untuk sabar menghadapi putra saya nantinya."
Wajah Nyonya Dara terlihat sarat beban dan kesedihan yang berusaha ditutupinya dengan senyum. Pikir Adrianne, Nyonya Dara adalah sosok yang sangat kuat. Ia sangat sabar menghadapi pergumulan hidup selama beberapa tahun mendampingi Tuan Muda Clayton. Sungguh luar biasa!
"Nak Anne, untuk hari ini Nak Anne belum bisa saya pertemukan dengan putra saya. Keadaan masih kurang baik. Jika tidak keberatan, bolehkah Nak Anne kembali lagi besok? Tidak perlu datang sepagi ini. Datanglah pada jam sembilan atau sepuluh." ucap Nyonya Dara dengan lembut.
Adrianne menarik nafas lega dan mengangguk. Ia berpamitan dan diantar oleh seorang pelayan sampai ditangga depan rumah.
Sejenak Adrianne menatap lagi bangunan dibelakangnya.
"Sanggupkan aku, Tuhan. Istana indah ini ternyata ditutupi kabut gelap kesedihan."
Adrianne berlalu dari tempat itu dengan perasaan tak menentu. Kedua kakinya terasa lemas dan seakan akan ingin berteriak pada tuannya untuk tidak melangkah kembali ke rumah tersebut esok hari!