
Hari yang cerah ketika Adrianne melangkahkan kaki jenjangnya ditangga rumah besar itu. Ia berusaha lebih optimis hari itu.
Dengan berbalut blazer body fit abu-abu dengan dalaman putih berkerah 'V' beserta rok lebar putih selutut bercorak bunga-bunga rose merah dan high heels merah menyala, membuat Adrianne kelihatan memukau dan lebih percaya diri dibanding penampilannya kemarin.
Adrianne menekan tombol dan disambut oleh seorang pelayan yang langsung mengantarnya ke ruang kerja Nyonya Dara.
Sayup sayup terdengar bunyi alunan piano yang begitu indah ditelinga Adrianne, Ia langsung mengenali musik clasic yang sedang dimainkan itu, Spring Waltz!
Musik yang sering dimainkan ibunya sewaktu Ia masih kecil. Musik yang selalu mampu membuatnya berhayal sampai ketiduran.
Adrianne terus menikmati alunan nada-nada itu sambil memejamkan matanya. Senyum kecil tersungging dibibirnya. Ada rasa nyaman yang menyusup dalam hatinya mengingat masa kecil sewaktu ibu dan ayahnya masih ada.
"Siapa yang memainkan nada seindah itu?" pikir Adrianne. Ia sendiri yang bisa bermain piano sejak umur tujuh tahun tidak bisa bermain selembut dan seindah itu. Adrianne sudah jarang menyentuh piano sejak orang tuanya tiada lagi. Baginya itu hanya akan mengingatkan Ia pada orang tuanya terutama ibunya yang mengajarkannya bermain piano.
Adrianne masih terpaku dengan lamunannya ketika sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut.
"Nak Anne? Selamat pagi."
Adrianne terkejut menatap sosok didepannya.
"Eh..maaf Nyonya. Selamat pagi." Ia langsung tersenyum.
"Nyonya...boleh saya tahu siapa yang sedang memainkan piano dengan sangat indah itu?"
Nyonya Dara tersenyum sambil memegang tangan Adrianne dan membawanya berjalan menuju lantai atas.
"Itu Clayton. Ia memang pandai bermain piano sejak masih sangat kecil. Jika Ia sedang bermain piano, pasti moodnya sedang bagus. Jadi kamu beruntung hari ini karena bisa bertemu dengannya dengan kondisi yang lebih baik. Saya sudah bicara dengannya tadi malam. Ia tidak memberi tanggapan apa-apa. Jadi menurut saya, kita lihat saja dulu bagaimana tanggapannya setelah bertemu denganmu nanti. Saya harap Nak Anne bisa mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Bisa kan, Anne?
Adrianne tersenyum tulus sambil mengangguk.
Setelah mereka berdua sampai dilantai dua, Nyonya Dara menunjukkan beberapa ruangan agar nantinya Adrianne terbiasa dengan suasana lantai dua karena nantinya Ia akan paling sering berada di tempat itu.
Nyonya Adrianne menunjukkan letak beberapa ruangan seperti kamar tidur Clayton, ruang olah raganya, ruang terapi dan juga ruang serbaguna bagi Clayton yang mana Clayton sedang berada sekarang.
"Nak Anne, ruang serbaguna ini lumayan besar. Disinilah Clayton paling banyak menghabiskan waktunya bermain piano, melukis atau menggambar dipapan gambarnya karena Ia seorang arsitek. Kalau menonton tv, Ia melakukannya di kamar tidurnya.
Oh iya, toilet untuk tamu ada disebelah ruangan ini. Clayton punya toilet sendiri di masing masing ruangannya. Toiletnya dirancang khusus untuk penyandang disabilitas."
Adrianne tak berhenti berdecak kagum dalam hatinya. Satu ruangan saja dalam rumah ini sudah seluas apartemennya!
Adrianne menatap ruangan serba guna itu. Alunan piano semakin nyaring terdengar walaupun pintunya tertutup.
Jantung Adrianne mulai berdetak tidak beraturan menyiratkan bahwa Ia merasa gugup saat itu. Sekuat apapun Ia berusaha bersikap wajar, rasa gugup itu tetap tak mau pergi.
"Nak Anne? Siap bertemu putra saya?" Tanya Nyonya Dara dengan lembut.
Adrianne tersenyum mengangguk kemudian menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
Nyonya Dara mengetuk dan terdengar bunyi piano yang terhenti tiba tiba. "Masuk." kata suara dari dalam.
Pintu terbuka dan Nyonya Dara masuk bersama Adrianne.
Adrianne menatap pria yang sedang duduk dikursi roda membelakanginya dan Nyonya Dora.
"Clay, ibu membawa Dokter Anne hari ini. Bicaralah dengannya. Sekiranya ada hal-hal yang bisa kalian sharing setelah berkenalan tentunya." kata Nyonya Dora sambil membelai bahu putranya. Pria itu tetap diam ditempatnya tanpa menoleh. Sedetik kemudian pria itu mengangguk pelan.
"Baiklah, silahkan kalian bicara. Saya ada diruang kerja jika kamu memerlukan saya Nak, Anne." setelah berkata demikian, Nyonya Dara meninggalkan mereka.
"Selamat pagi, Tuan Clayton. Saya Dokter Adrianne Alexandria, panggil saja Dokter Anne." suara Adrianne hampir tidak kedengaran.
Pria itu tetap diam ditempatnya. Ia belum juga membalikkan badannya. Beberapa menit kemudian Clayton memutar kursi rodanya sehingga mereka berdua saling berhadapan.
Adrianne menelan ludahnya serta mengatur nafasnya agar terlihat wajar di depan Tuan muda itu.
Mata mereka bertemu. Saling menatap beberapa detik tanpa kata-kata.
Adrianne tersenyum, menundukkan wajah sejenak lalu berjalan mendekati Tuan Clayton.
Adrianne mengulurkan tangannya. 'Hai, Tuan Clayton. Senang bertemu dengan anda hari ini."
Clayton hanya menatap tangan putih itu, kemudian membalikkan lagi badannya ke depan pianonya.
"Maaf, saya belum terbiasa dengan dokter perempuan."
Adrianne menarik lagi tangannya demi melihat reaksi Tuan Clayton. Tapi Ia berusaha mengerti dan menganggapnya sebagai ujian pertama.
"Tidak apa-apa Tuan Clayton. Saya bisa mengerti. Bisakah kita berbincang sambil saya duduk? Kaki saya sudah agak pegal dengan high heels ini ditambah lagi rumah ini terlalu besar dan luas dan anda belum mempersilahkan saya duduk." Adrianne seketika kaget dengan ucapannya sendiri, Ia terlalu polos berucap. Ia lupa kalau tidak sedang berbincang dengan temannya.
Clayton memalingkan wajahnya ke arah Adrianne, pikirnya, dokter muda ini ceplas ceplos sekali bicara dengannya. Clayton memberi tatapan tajam kearah Adrianne. Melihat tatapan itu, Adrianne langsung berpura-pura memijit salah satu betis kakinya. Ia sudah kelepasan bicara!
"Silahkan tarik kursi dibelakang anda, Dokter Anne. Saya harap anda tidak keberatan." ucap Clayton tanpa ekspresi.
Adrianne langsung mengambil sebuah kursi dan membawanya mendekati tempat dimana Tuan Clayton duduk.
"Oh iya, jangan pernah pakai high heels lagi jika kesini, saya tak mau anda cedera nantinya lalu menyalahkan keadaan rumah ini." seru Clayton tanpa menoleh.
"Baiklah Tuan Clayton. Akan saya catat itu." ucap Adrianne sambil duduk.
Adrianne mengamati wajah Tuan Clayton dari samping. Ternyata Ia tidak seseram khayalannya. Wajah itu sungguh tampan tepat seperti kata Matteo kemarin malam. Kening tebal, hidung yang mancung sempurna serta bibirnya yang terbentuk, sungguh menawan! Benar-benar jauh dari kesan menyeramkan.
"Saya sangat suka lagu yang anda mainkan tadi. Sping Waltz! Lagu masa kecilku." kata Adrianne sambil tersenyum memandang piano didepan Tuan Clayton.
Tuan Clayton tersenyum tipis, "Benarkah?" tanyanya dengan tatapan meneduhkan tepat dimanik mata Adrianne.
Adrianne terkesiap sesaat lalu tersenyum pada wajah bak malaikat itu. Ia kemudian mengangguk.
"Saya sudah menjadi penggemarmu sejak melangkahkan kaki di rumah ini dan terhipnotis dengan permainan pianomu."
Ada sebuah senyum sumringah di wajah Tuan Clayton. "Spring Waltz atau lebih tepatnya Marriage d' Amour." ucap Clayton masih tertunduk menatap piano tanpa berani lagi melayangkan pandangannya pada dokter muda disampingnya.
"Oh iya, Dokter Anne, jangan terlalu formal jika dengan saya. Kita bicara saja dengan bahasa yang lebih enak. Stop panggil saya dengan sebutan Tuan. Panggil saja Clayton atau Clay."
Adrianne tersenyum sambil merapikan rambut lurusnya yang dibiarkan tergerai Hari itu. "Aku setuju, Tuan..maaf maksud saya, Clay. Aku juga ingin bisa menjadi temanmu."
Clayton hanya mengangguk. "Kamu bisa bermain piano?"
Adrianne langsung mengangguk. "Tapi tidak sebagus caramu bermain. Aku hanya akan mempermalukan diriku jika harus bermain di depanmu."
Clayton memandang Adrianne, ada binar cahaya dimatanya. "Bagus. Berarti kita bisa duet sekali-kali." katanya dengan nada datar.
Kelegaan terpancar diwajah Adrianne. Kenyataan di hari pertamanya bertemu Clayton tidaklah serumit khayalannya. "Harapan masih ada." bisiknya dalam hati.