Tears, Revenge, and Love

Tears, Revenge, and Love
Mengenal Lebih Dalam



Setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit, Adrianne kini telah bersiap siap untuk pulang.


"Wah...biasanya gak tergesa gesa begini. Ada janjian ya..." goda Dokter Luna pada.


Adrianne hanya tersenyum simpul. "Mau tau aja."


Dokter Luna mendekati Adrianne dengan tatapan jenaka. "Aku tahu siapa dia." katanya sambil menganggukkan kepala.


Dahi Adrianne berkerut. "Dia siapa?"


"Si tampan itu tuh...anak pemilik saham disini, siapa sih yang gak kenal? Clayton Cakrawangsa. Walaupun selama ini dia bak hilang ditelan bumi, sekarang sudah kembali. Dengar dengar sih dia selama ini tinggal diluar negeri karena suatu kecelakaan. Tapi... ternyata gak nyangka kalau dia nyangkutnya ke kamu. Aku liat dia sering kemari dengan sopirnya. Aku penasaran aja dan gak sengaja pernah liat kalian berduaan di mobilmu hehe.... jadi aku bisa berkesimpulan kalau ... kalian berdua gak hanya sekedar teman kan?" ucap Dokter Luna penuh selidik.


Adrianne memasang wajah memelas.


"Aduh Luna.... kok kamu udah kayak detektif sih! Please....please.... keep it as a secret yah." kata Adrianne sambil meletakan kedua tangannya didepan dada pertanda memohon.


"Tapi kalau boleh aku tahu, kok kamu bisa langsung tahu kalau dia itu Clayton? Padahal banyak yang sudah lupa sosoknya seperti apa." Tanya Adrianne penasaran.


"Ya ampun, Anne. Aku ini udah berumur 35 tahun lho, kamu belum lulus kuliah, aku udah tugas disini. Jadi aku setidaknya lumayan tahu tentang Clayton. Yang aku ingat dia anaknya sangat ramah dan murah senyum. Dulu beberapa kali Ia kesini menemani ayahnya atau Ibunya rapat. Kalau gak salah Ia mantan aktor film film laga alias action. Tapi tiba tiba Ia menghilang begitu saja. Dengar dengar sih dia mengalami kecelakaan dan berobat keluar negeri, selebihnya aku gak tahu lagi kabarnya."


Adrianne mengangguk anggukkan kepalanya mendengar kisah itu. "Jadi, sekembalinya ke Indonesia, keluarganya bahkan semua dokter yang pernah merawatnya di rumah merahasiakan keberadaannya selama ini?" pikir Adrianne.


"Makasih ya Luna, udah berbagi info. Tapi mengenai yang satu tadi....ehmm.. please.." ucapan Adrianne langsung dipotong Dokter Luna.


"Jangan khawatir." ucap Dokter Luna sambil membuat gerakan mengunci bibirnya dengan jari. "Aman kok."


Adrianne memasang senyum manis. "Makasih Luna, aku jalan dulu ya. bye."


.


.


.


.


Sesampainya di tempat parkir, Adrianne disambut Clayton yang sedang berdiri dan bersandar pada mobilnya.


Adrianne tersenyum dengan wajah terpesona, Clayton terlihat sangat gagah dengan kaca mata hitamnya, kaos oblong putih yang dibalut blazer abu abu dipadukan dengan jeans hitam dan sepatu sport.


Supirnya masih duduk dibelakang setir. Jika Clayton datang untuk bertemu dengannya, Clayton selalu diantar oleh sopir pribadinya karena Ia masih trauma menyetir sendiri.


Adrianne tidak membawa mobil ketempat kerjanya jika ada janjian dengan Clayton.


"Clay, udah lama nunggu?" Tanya Adrianne sambil menggenggam kedua tangan Clayton.


Clayton tersenyum dan membuka kaca mata hitamnya. "Baru sekitar lima menit." ucapnya.


"Aku kangen kamu, baru dua hari gak ketemuan."


Adrianne tersenyum sumringah. "Aku juga." jawabnya singkat. "By the way, kita kemana nih?"


Adrianne tertawa mendengarnya. "Bisa bisa bangkrut dong usaha adikmu."


Clayton memeluk pundak Adrianne sambil terkekeh. "Dianya yang pengen kita dinner disana. Katanya sih sekalian kita bantu promosi nantinya."


Adrianne mengangguk sambil masuk kedalam mobil yang telah dibukakan oleh Clayton.


Mobilpun melaju kearah sebuah restoran dikawasan sebuah perbelanjaan.


Kedatangan Clayton dan Adrianne langsung disambut hangat oleh Carlene.


"Ayo kak, ke lantai dua aja biar gak terlalu rame. Bisa mesra mesraan tanpa rasa risih, hehe."


Adrianne tersipu mendengar ucapan Carlene. Clayton hanya tersenyum sambil merangkul pinggang Adrianne menuju lantai dua.


Keduanya disuguhi makanan pembuka terlebih dahulu bersama wine. Kemudian makanan inti dan dessert yang sangat wah dan pastinya enak.


Carlene tidak mau berlama lama menemani kakaknya. Ia ingin memberi ruang privasi bagi kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Carlene sangat berbahagia melihat Clayton akhirnya bisa mendapatkan cinta dalam hidupnya setelah bertahun tahun hidup dalam goncangan mental dan kelumpuhan.


Bagi Carlene, kakaknya pantas mendapatkan kebahagiaan dan Dokter Anne adalah sebuah berkah bukan hanya bagi kakaknya tapi juga keluarganya. Sejak Clayton menyatakan bahwa Ia telah menetapkan hatinya bagi Dokter Anne, semua anggota keluarga mereka langsung setuju, terlebih Tuan Adhiata dan Nyonya Dara. Mereka sangat menyayangi Dokter Anne bukan hanya karena jasanya menyembuhkan Clayton, tapi karena Clayton terlihat lebih hidup sejak bersamanya.


"Sayang, kamu cantik banget hari ini. Aku suka bau parfummu. Jangan pernah diganti ya parfumnya karena itu sudah tertanam dalam memori aku." ucap Clayton sambil mengecup dahi Adrianne.


"Aku senang kamu suka." ucap Adrianne dan kali ini dia membalas ciuman Clayton dengan memberi kecupan di pipinya.


Clayton menatap mesra wajah Adrianne.


"Aku tak pernah menyangka bertemu kamu akan membuatku bangkit kembali. Bagiku kamu hadiah terindah yang harus aku jaga."


Adrianne sangat terharu mendengar ucapan Clayton. "Clay, aku telah jatuh cinta padamu sebelum kamu sembuh. Jadi sebenarnya, kamu sembuh atau tidak aku tetap mencintaimu."


Clayton tersenyum tulus. "Aku percaya padamu dan aku rasa kamu berhak tahu masa laluku yang menyebabkan aku pernah hidup terpuruk selama beberapa tahun hingga kamu hadir sebagai dokter pribadiku."


"Kamu yakin mau cerita ke aku?" Tanya Adrianne sambil meremas jemari Clayton.


Clayton mengangguk dan kemudian menarik nafasnya dalam dalam. "Aku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku beberapa tahun yang lalu. Sebuah mobil yang berkecepatan tinggi menabrak mobilku hingga terpental dan terbalik. Aku terluka parah dibeberapa bagian tubuhku. Kata dokter di Hongkong waktu itu, benturan tersebut telah mengganggu saraf gerak dibagian kakiku sehingga aku mengalami kelumpuhan. Beruntung kata mereka yang merawatku waktu itu, hal tersebut tidak bersifat permanen. Kalau aku terus terapi, peluang untuk berjalan lagi sangat besar. Tapi,.... aku sudah terlanjur down waktu itu. Aku lagi semangatnya meraih impianku. Aku sedang naik daun dibeberapa film yang aku bintangi, namun kecelakaan itu telah membuatku benar benar terpuruk. Secara mental aku kalah. Sangat sulit bagiku menerima kenyataan bahwa aku harus duduk di kursi roda. Sejak saat itu aku bertekad, jika aku sembuh, aku akan mencari tahu identitas orang yang menabrakku. Aku benar benar sangat membencinya karena Ia telah merenggut masa depanku!"


Adrianne terdiam dengan wajah sedih. Ia kemudian mengusap punggung Clayton dengan lembut. "Tenanglah sayang, orang yang telah menabrakmu pasti sudah menerima hukumannya."


Clayton menggelengkan kepalanya dengan wajah kecewa. "Tidak! Orang tuaku malah menyembunyikan dariku mengenai identitas orang tersebut. Katanya sih dia seorang laki-laki paruh baya. Dan semua masalah sudah diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Tapi....aku ragu... karena seingatku orang yang menabrakku adalah seorang perempuan yang masih sangat muda waktu itu. Ia masih sempat menolongku keluar dari dalam mobil yang terbalik itu karena mobil itu akan segera meledak. Aku tak dapat mengingat wajahnya. Aku juga tak yakin dengan ingatanku karena aku setengah sekarat waktu itu. Yang aku ingat, ketika aku berhasil dikeluarkan dari mobilku, aku sudah pingsan."


Adrianne tertegun mendengar kisah itu. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan ikut merasakan bagaimana perasaan Clayton waktu Ia divonis tidak bisa berjalan.


"Sayang, kira kira apa yang akan kamu lakukan jika kamu dipertemukan dengan orang itu?" Tanya Adrianne penasaran.


"Sejujurnya aku belum tahu. Tapi yang jelas, aku akan membuat orang itu membayar tahun tahun penderitaanku tanpa belas kasihan!"


Adrianne menatap gelas wine didepannya. Kisah Clayton mengingatkannya akan kecelakaan yang juga terjadi pada dirinya beberapa tahun yang lalu. Bedanya adalah Ia bukan korbannya melainkan pelaku yang tidak pernah menerima hukumannya!