
Seminggu belakangan ini, sejak Adrianne telah kembali ke apartemennya, Clayton diperhadapkan dengan masalah keluarga yang lumayan membuatnya stress.
Ibunya menelponnya dari Belanda dan menempatkannya pada situasi yang sulit. Walaupun hidup mereka terpisah, baik Clayton dan ibunya tidak pernah putus hubungan walaupun hanya lewat telpon. Clayton sangat menghormati dan menyayangi ibunya, begitupun sebaliknya. Hanya dengan ayahnya yang benar benar putus hubungan. Ia hanya mengetahui keadaan ayahnya dari ibunya.
Clayton mengerti kalau ayahnya masih sangat marah dan kecewa padanya jadi Ia hanya bisa maklum jika sampai saat ini ayahnya masih belum mau bicara padanya.
Ibunya telah mengetahui kalau Clayton telah bertemu dengan Adrianne secara tak sengaja di Saint Petersburg. Clayton telah menceritakan segalanya pada ibunya, termasuk bagaimana Ia telah meminta maaf secara tulus kepada Adrianne atas perbuatannya dimasa lalu. Clayton tak pernah menyembunyikan apapun dari ibunya soal kehidupannya karena Ia tak mau ibunya khawatir.
Beberapa hari yang lalu ibunya menelpon dan mengajukan permintaan yang bagi Clayton tidaklah main main dan sangat rumit baginya.
Menurut ibunya, ayahnya ingin agar Clayton datang ke Belanda bersama Adrianne untuk membuktikan bahwa Adrianne telah benar benar memaafkannya. Dan yang paling membuat Clayton menjadi stress adalah ayahnya ingin Clayton datang bersama Adrianne sebagai pasangan suami istri lengkap dengan surat nikah yang sah!
Menurut ayahnya, hanya itu jalan satu satunya agar ayahnya bisa memaafkannya sehingga Ia bisa meninggal dengan tenang karena kesehatan ayahnya semakin menurun.
"Arrgghh..." Clayton mengacak acak rambutnya sambil sesekali memijat dahinya. Ia sangat tertekan dengan permintaan ayahnya. Disaat Adrianne dan dirinya tidak lagi dekat, justru orang tuanya memintanya untuk menikahi Adrianne.
Namun Clayton juga tak tega menghadapi kondisi ayahnya. Ia ingin ayahnya memaafkannya sebelum terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Bagaimana jika ayahnya tiba tiba pergi untuk selamanya sebelum bertemu dan memaafkan dirinya? pikir Clayton. Cepat cepat Clayton menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
Ia harus memikirkan caranya bagaimana untuk berbicara dengan Adrianne. Sudah pasti Adrianne tidak akan setuju jika Clayton memintanya untuk menikah!
"Ini benar benar gila! Bagaimana mungkin aku memintanya menikahiku dengan tiba tiba?" guman Clayton sambil menggingit kukunya.
Clayton berpikir sejenak. Ia berjalan mondar mandir sambil sesekali menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Jikapun aku menceritakan alasan mengapa aku memintanya untuk menikah, ini tidaklah mudah karena dia kemungkinan akan segera menikah dengan Damian!" ucap Clayton pada dirinya.
"Waktu Anne disini tinggal setahun dan Ia tak akan memperpanjang kontraknya lagi. Hmm.... kecuali..."
Clayton tidak meneruskan ucapannya. Ia mengangguk pelan. Sebuah senyum terukir dibibirnya.
"Semoga Ia mau...semuanya harus dicoba dulu apapun hasilnya nanti."
Clayton meraih hapenya dan mencari nama Adrianne. (dilayar hape muncul nama 'Anne Love') Ia berharap Adrianne menjawab panggilannya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara diseberang dan itu membuat Clayton tersenyum lega.
Adrianne: "Halo Clay."
Clayton: "Hai Anne. Maaf mengganggumu. Aku tahu ini jam istirahat, jadi aku menelpon.
Adrianne: "Ada yang bisa aku bantu?"
Clayton: "Hmm.... boleh kita bertemu malam ini di Cafe Tiffany? Ada yang ingin aku bicarakan. Mungkin aku butuh bantuanmu."
Adrianne: "Baiklah. Jam berapa? Aku baru sampai rumah nanti jam 6 dan harus siap siap dulu."
Clayton: "Jam 8 bisa? Aku jemput?"
Adrianne: "Cafenya hanya dekat banget dari apartemenku, jadi kita langsung ketemu aja disana."
Clayton: "Oke, kalau begitu. See you tonight."
Adrianne: "See you.'
Clayton sedikit lega mengakhiri percakapan itu. Tinggal bagaimana Ia harus mencari kata kata yang tepat untuk menyampaikan semua pada Adrianne.
.
.
.
.
.
#Di Cafe Tiffany
Clayton menunggu kedatangan Adrianne dengan gelisah di depan cafe. Ia belum ingin masuk karena perasaannya yang tidak tenang. Ia sangat gugup saat itu.
Clayton melipat tangannya didepan dada sambil sesekali melihat keadaan disekelilingnya jika Adrianne sudah muncul.
Hari itu Clayton mengenakan jeans biru tua, warna favoritnya, beserta kemeja lengan panjang berwarna gelap yang dipadukan dengan blazer berwarna abu abu.
Adrianne tampak tampak begitu casual dari biasanya karena cuaca sedang hangat hangatnya. Ia mengenakan kaos oblong putih dan jeans ketat berwarna biru muda yang ada sobekan di beberapa bagian. Rambutnya hanya diikat secara asal kebelakang. Bagi Clayton, Adrianne selalu tampak memukau di matanya.
"Damn! She's beautiful as always." guman Clayton dalam hati.
#Clayton yang tersenyum bahagia menyambut kedatangan Adrianne.
#Adrianne yang selalu memikat Clayton dengan tampilannya yang natural dan sederhana.
"Hai Clay. Sudah dari tadi menungguku?" ucap Adrianne tersenyum ramah. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan senang bertemu Clayton karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
"Gak kok. Baru sekitar lima menit. Ayo kita masuk." ajak Clayton yang diikuti Adrianne dari belakang.
Clayton membiarkan Adrianne memilih meja yang diinginkannya. Kini mereka duduk berhadapan.
"Anne, kamu mau makan apa?" Tanya Clay sambil menyodorkan sebuah menu.
Adrianne berpikir sesaat. "Kali ini aku ikut kamu saja."
Clayton tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu kita pesan macaroni skutel plus Arabica Coffee Latte."
"Perfect!" seru Adrianne.
Clayton memanggil pelayan dengan tangannya kemudian menyebutkan pesanan mereka.
"Clay, apa yang bisa aku bantu?" ucap Adrianne tanpa basa basi.
Clayton terperangah sesaat. Ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan lahan.
"Anne, sebelum kebagian itu, bolekah aku bertanya sesuatu yang bersifat pribadi?"
ucap Clayton dengan hati hati.
Adrianne mengernyit. "Hmm...tergantung pertanyaannya seperti apa dulu."
Clayton menatap mata Adrianne tanpa berkedip.
"Apakah benar tahun depan kamu akan kembali ke Indonesia?"
Adrianne meletakan tangannya didagu.
"Aku berencana untuk tidak akan memperpanjang kontrak kerjaku. Memangnya kenapa?"
Clayton berusaha mencari kata kata namun Ia justru kelihatan bingung.
"Err...apakah kamu berencana untuk menikahi seseorang dalam waktu dekat?"
Wajah Adrianne tampak sedang mencari cari sesuatu di wajah Clayton. Ia kemudian tersenyum menyeringai.
"Boleh aku tahu kemana arah percakapan kita?"
Clayton tampak kewalahan.
"Ehmm... iya...maksudku apakah kamu dan Damian akan menikah dalam waktu..."
"Clayton! Please jangan buang buang waktuku. Aku dan Clayton hanyalah sebatas kakak dan adik. Kami memang sangat akrab tapi seperti yang pernah aku katakan, aku gak mungkin menganggap Damian lebih dari seorang saudara." Adrianne sedikit kesal dengan pertanyaan Clayton. Ia paling tak suka jika orang orang salah mengartikan perhatiannya pada Damian.
Mendengar hal itu, ada binar binar harapan dimata Clayton. Ada rasa lega dan juga bahagia perlahan lahan menggantikan rasa gugupnya yang sedari tadi berusaha ditutupinya.
"Maafkan aku Anne, aku menanyakan hal ini karena ingin memastikan apakah kamu dapat menerima permohonan bantuanku atau tidak."
Setelah Clayton berucap, pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Sebaiknya kita makan dulu dan setelah itu baru aku ceritakan masalahku. Bolehkah?" Tanya Clayton yang disambut anggukkan oleh Adrianne.
Merekapun menikmati makanan mereka. Dan sementara menikmati hidangan tersebut mereka hanya berbicara tentang masalah pekerjaan masing masing.