
Sore itu Adrianne sudah janjian untuk nongkrong bareng dua orang teman seperjuangannya dahulu waktu masih dibangku kuliah. Mereka bertemu disebuah cafe di kawasan perkantoran.
Walaupun mereka bertiga bekerja di rumah sakit yang berbeda tapi tak pernah mengurangi kasih persahabatan yang sudah terjalin sekian lama.
Sahabat-sahabat Adrianne adalah Matteo si dokter spesialis anak dan Kinanti, dokter spesialis kandungan.
Mereka memesan minuman favorit masing-masing beserta beberapa macam snack.
Matteo meneguk minumannya kemudian menatap pada Adrianne.
"Anne, dengar-dengar dari beberapa dokter di rumah sakit tempat kamu bertugas, kamu ditugaskan ditempat lain ya? Maksudku diluar rumah sakit?"
Kinanti mengernyitkan dahinya. "Masa sih? Kok bisa Anne?"
Adrianne mengangkat kedua bahunya. "Ya, begitulah. Direktur rumah sakit memintaku secara khusus untuk menjadi dokter pribadi seorang pasien yang mana aku bertugas membantu penyembuhannya lewat terapi. Pasien tersebut seorang lelaki yang menurutku masih cukup muda. Ia lumpuh sejak beberapa tahun silam. Kata para dokter yang pernah merawatnya sih dia ada harapan besar untuk sembuh, tapi.....yang jadi masalahnya adalah mental dan emosinya yang agak labil jadi menyulitkan penyembuhan." Adrianne berusaha mengambil nafas.
"Aku sudah kerumahnya tadi pagi dan berbicara dengan Ibu dari pasienku itu. Aku gak nyangka!...ckckck...mereka sangat kaya choy! Rumahnya kayak istana....tapi sayang...bagaikan tinggal dalam neraka karena anak mereka yang lumpuh itu sewaktu-waktu bisa marah dan histeris!
Adrianne masih bergidik ketika menceritakan kembali kisahnya tadi pagi.
"Anne, kalau boleh tahu, siapa nama keluarga tersebut yang pastinya sanggup membayarmu dengan mahal." Tanya Kinanti sedikit penasaran.
"Keluarga Bapak Adhiata Cakrawangsa." jawab Adrianne singkat.
Wajah Matteo agak terkejut mendengar jawaban Adrianne.
"Hmmm....setahu saya mereka adalah orang berpengaruh karena hampir semua saham diperusahaan besar dikota ini adalah milik mereka. Termasuk rumah-rumah sakit tempat kita bekerja."
Adrianne langsung mengangguk tanda setuju.
"Wah...enak dong....gaji yang kamu dapatkan dari mereka pasti jauh lebih besar dengan apa yang kita dapatkan dari rumah sakit dan tempat praktek!" seru Kinanti dengan senyum penuh arti.
Adrianne hanya tersenyum kecut. "Guys, aku memang mendapat bayaran khusus yang sangat fantastis! Tapi tahukah kalian? Aku menyesal menyanggupi pekerjaan ini karena pasienku itu orangnya bikin jantungan. Temperamennya sangat meledak-ledak dan siapapun itu kecuali Ibunya, pasti diteriaki dengan semena-mena jika ada sesuatu yang tidak beres." kata Adrianne mencoba menutupi perasaan kacau balaunya.
"Menurut kalian aku sebaiknya berhenti aja kali ya....baru mendengar suara pasienku histeris dan berteriak-teriak saja wajahku langsung pucat."
"Anne, kamu coba aja dulu. Siapa tahu, begitu Ia tahu ternyata dokter pribadinya adalah seorang perempuan, maka Ia bisa menahan dirinya untuk tidak lagi marah-marah." ujar Kinanti dengan enteng.
Matteo mengangguk tanda setuju dengan perkataan Kinanti. "Sudah Anne, jangan ragu-ragu. Menurutku kamu beruntung bisa masuk ke kediaman keluarga yang terkenal itu. Anggaplah nanti, apapun yang akan terjadi, kamu sedang menambah pengalaman serta kedewasaan dalam hal professionalitas kamu dalam mengobati pasien yang bukan hanya lumpuh tapi juga mengalami down mental dan emosi. Jika kamu berhasil, kamu bisa membuat penelitian dalam hal ini dan bisa kamu mempresentasikannya di konferensi international."
"Anne, boleh tahu siapa nama pasienmu? Soalnya nama Cakrawangsa seperti mengingatkanku pada seseorang." kata Matteo.
"Namanya Clayton. Clayton Cakrawangsa." ucap Adrianne sambil tersenyum dipaksa. "Aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung karena insiden kecil yang memaksaku harus pulang lebih awal tadi pagi."
Matteo mengangguk anggukan kepalanya. "Clayton. Benar feelingku."
Adrianne mengernyitkan dahinya. "Maksudmu? Apakah kamu mengenalnya, Mat?"
Matteo mengangguk pelan. "Bisa iya bisa juga gak. Aku cuman ingat kalau Ia adalah sahabat kakakku Marki waktu masih di SMA. Mereka sering kerja kelompok bareng. Dulu beberapa kali si Clayton pernah muncul di rumah tapi aku tidak begitu memperhatikannya. Cuman dengar dengar sekilas aja kalau kakakku sedang membicarakannya. Seingatku si Clay ini sangat tampan dan menurut kakakku Ia sempat menjadi aktor dibeberapa film tapi tidak lama kemudian Ia tak pernah lagi muncul. Seperti hilang ditelan bumi. Mungkinkah Ia adalah Clayton si pasienmu? Jika benar, berarti ketidakmunculannya lagi di dunia perfileman adalah karena kelumpuhan yang dialaminya."
Adrianne meletakan kedua tangannya didagu. Benarkah Clayton mantan seorang aktor? pikirnya.
"Mat, tolong dirahasiakan dulu ya informasi ini. Aku ingin menjaga kode etik rahasia pasienku. Seandainya informasi yang kamu katakan itu benar, cukup kita bertiga saja yang tahu. Tolong jangan pernah menceritakan hal ini pada kakakmu Marki karena bagaimanapun, seandainya Clayton yang kamu maksud adalah Clayton pasienku, aku tak mau kakakmu mencari tahu lebih dalam akan hal ini."
Baik Matteo maupun Kinanti sama sama mengangguk tanda setuju.
"Anne, seingatku, Clayton itu orangnya sangat ramah, sopan dan murah senyum. Setidaknya itu kesan yang aku dapatkan sewaktu Ia beberapa kali mencari kakakku di rumah. Jadi kalau Ia sampai menjadi pribadi yang seperti sekarang ini, bisa jadi Ia mengalami depresi akut dimana Ia belum bisa menerima kenyataan hidupnya. Kasihan dia....padahal Ia adalah pewaris perusahaan ayahnya." ucap Matteo dengan wajah serius.
"Kamu harus berusaha keras, Anne. Bukan hanya sebagai dokter yang mengobati fisiknya, tapi sekaligus kamu harus bisa menjadi psikiater untuk penyembuhan emosinya juga." kata Kinanti sambil memegang tangan Adrianne.
Adrianne mencoba tersenyum. "Sebenarnya aku sendiri belum yakin apakah aku akan sanggup melakukan tugas ini atau tidak."
Adrianne menarik nafas panjang. Ada sirat keraguan dimatanya. Entah ada juga ketakutan atau kekhawatiran yang terus membuatnya berpikir dalam dilema.
"Anne, kamu harus bisa." ucap Kinanti pelan.
"Jangan menyerah dulu. Jikapun kamu berhasil melaluinya, kamu pasti bisa menjadi pribadi yang lebih kuat!"
Matteo tersenyum, "Betul Anne. Lakukan saja tugasmu dengan professional. Tidak semua dokter punya kesempatan sepertimu."
Adrianne tersenyum menatap kedua sahabatnya. Kekuatan dan motivasi dari mereka membuat hatinya terasa hangat. Ia kemudian mengangguk pada dua orang didepannya.
"Makasih pals, thanks for the support. I really appreciate it." ucap Adrianne dengan tulus.
Adrianne menatap keluar kaca jendela, lampu lampu penuh warna telah menghiasi langit malam. Ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Ia sendiri tak pasti apakah Ia sedang menantikan hari esok atau tak ingin malam ini berakhir. Yang pasti, hari esok tetap akan datang dan apakah Ia siap atau tidak, Ia harus kembali melangkah ke istana itu.