Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 6 - Pekerjaan Pertama



...-- Kamar Asrama Aaron --...


Di hadapan sebuah TV yang menyala itu, Aaron nampak duduk dan memperhatikan sebuah acara dengan seksama. Fokusnya yang sangat tinggi setara seperti seorang pemburu yang sedang bersiap menerkam mangsanya.


"Luarbiasa sekali.... Bagaimana bisa kaca ini memunculkan gambar dan juga suara?!" Teriak Aaron kebingungan dengan wujud TV.


Sementara itu, acara yang sedang dilihat olehnya adalah sebuah acara yang membahas mengenai Hunter.


"Seperti yang kalian lihat, Hunter peringkat [A] yaitu Alice dan juga Hendra berhasil menutup salah satu portal. Mereka berhasil menaklukkan Dungeon yang ada di dalamnya hanya berdua!" Jelas sang pembawa acara TV itu.


Acara tersebut nampak membesar-besarkan mengenai fakta bahwa mereka berdua adalah salah satu Hunter tingkat tinggi di Provinsi ini.


Tentu saja, hanya Aaron yang bisa berpikir seperti itu.


"Bukankah mereka sebenarnya cukup lemah? Aku sama sekali tak paham dengan standar kekuatan di dunia modern ini." Ucap Aaron pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan acara itu.


Tapi saat memperhatikan cuplikan ketika Alice dan Hendra melakukan latih tanding, Aaron menyadarinya.


Gerakan Alice yang memanfaatkan kemampuan alaminya yaitu sihir air dan es sangatlah gesit. Ia mampu melakukan manuver gerakan yang sangat sulit dengan sangat mudah.


Bahkan tebasan pedang tipisnya itu mampu menjadi semakin tajam dengan bantuan sihir es itu.


Fleksibilitas Alice itulah yang membuatnya berdiri di tingkat [A] saat ini. Ia mampu menjadi pedang yang tajam sekaligus perisai yang kokoh hanya dengan sihir esnya.


Sementara itu, Hendra menunjukkan ketahanan yang begitu tinggi. Meski menerima serangan telak dari Alice, Hendra mampu menahannya dengan baik. Bahkan seakan tak merasakan kesakitan sedikitpun.


"Luarbiasa.... Sebagai ganti rendahnya energi sihir, mereka mengasah kemampuan fisik dan pola pikirnya setinggi ini. Memanfaatkan sekecil apapun kekuatan menjadi senjata yang cukup kuat untuk menumpas iblis.


Kurasa.... Aku kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya terhadap dunia modern ini." Ucap Aaron sambil terus memperhatikan TV itu.


Pada akhirnya, Aaron menghabiskan siang harinya dengan terus menonton TV. Terutama saluran televisi yang membahas mengenai Hunter di negara bernama Indonesia ini.


......***......


"Hah? Pekerjaan? Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Alice kebingungan setelah mendengar perkataan Aaron.


"Seperti membasmi iblis? Setidaknya aku bisa melakukan hal itu. Lagipula, aku sudah mulai bosan diam di rumah selama seminggu ini." Jelas Aaron.


Memahami apa maksud Aaron, Alice dengan segera memintanya untuk ikut bersamanya.


Tujuannya adalah pergi ke ruangan Hendra, Komandan dari Silver Guards ini.


"Oh? Ada apa, Alice? Kenapa Aaron ada disini bersamamu?" Tanya Hendra yang nampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu di komputernya.


"Aaron secara tiba-tiba ingin bekerja membasmi iblis. Menurut pengakuannya, Ia bosan di rumah. Bagaimana menurutmu, Komandan?" Tanya Alice sambil melirik ke arah Aaron.


"Hmm...."


Hendra segera berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan mendekati Aaron.


Jika diperhatikan lagi, Hendra benar-benar memiliki tubuh yang besar. Ia bahkan harus sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Aaron.


"Kau tahu bahwa kami berdua masih perlu mengawasimu kan?" Tanya Hendra kepada Aaron dengan tatapan yang tajam.


Itu benar, Hendra dan juga Alice masih memiliki keraguan terhadap sosok bernama Aaron ini. Apakah Ia benar-benar manusia? Jika memang benar demikian, apakah Ia berada di pihak negara ini?


Saat ini, musuh umat manusia tak hanya iblis. Perbedaan pendapat dan pandangan antara dua bangsa adalah hal yang bisa memicu perang dan kehancuran.


Tentu saja, Aaron hanya mengenali dunia dimana seluruh manusia bersatu untuk melawan Iblis.


"Bagaimana jika aku ikut kalian berdua dalam ekspedisi ke dalam portal berikutnya?" Tanya Aaron tanpa sedikitpun merasa terancam terhadap sosok Hendra.


Hendra benar-benar serius memikirkan perkataan Aaron. Sampai-sampai Ia tak berbicara sedikitpun selama beberapa detik.


"Komandan! Meski begitu, kita tak tahu pasti bagaimana kekuatannya! Membawa orang lain bisa saja hanya menjadi beban untuk Ki...."


"Baiklah. Aku akan menilai kemampuanmu di dalam Dungeon. Meskipun Alice berkata bahwa dirimu mungkin setingkat Hunter Rank [A], tapi aku masih belum sepenuhnya mempercayai hal itu.


Tapi satu hal yang perlu kau ingat, Aaron. Ketika kau masuk ke dalam Dungeon bersama kami berdua, kematian mungkin akan menghampirimu. Jika kau hanya menjadi beban, maka kami berdua takkan ragu untuk meninggalkanmu." Jelas Hendra dengan tegas.


Mendengar perkataan Hendra, Aaron sedikit kebingungan. Terutama mengenai konsep bahwa bahaya akan mendatangi dirinya.


Bagi Aaron yang selama seribu tahun hidup dengan terus mempertaruhkan nyawanya di dunia Iblis, konsep seperti mempersiapkan diri terhadap kematian terdengar aneh baginya.


Terlebih lagi....


"Baiklah. Aku setuju dengan itu. Lalu? Kapan kita akan mulai?" Jawab Aaron sambil tersenyum. Meskipun, tatapan matanya kali ini sedikit berbeda. Seakan sedikit memberikan kesan yang mengerikan.


Alice dan juga Hendra justru kebingungan dengan sikap Aaron yang sama sekali tak takut mati.


'Bukankah dia penyintas dari perang besar itu? Dia seharusnya merasa takut akan iblis bukan? Lalu kenapa? Tidak, daripada semua itu....' Pikir Alice dalam hatinya.


"Sekarang. Kita akan masuk ke dalam sebuah Dungeon tingkat B bertiga." Jawab Hendra sambil segera berjalan.


"Bagus!"


Aaron nampak sangat senang dengan hal itu dan segera mengikuti Hendra. Tapi di sisi lain, Alice justru mulai panik.


"Tu-tunggu dulu! Tingkat B?! Hanya bertiga?! Terlebih lagi kita harus melindungi orang ini?!"


"Sudah kukatakan barusan. Jika dia mati, maka biarkan saja. Selain itu, kita hanya perlu bertarung seperti biasa." Balas Hendra kepada Alice.


Hendra terlihat cukup kesal dengan tingkah Aaron yang meremehkan betapa mengerikannya kondisi di dalam sebuah Dungeon. Begitu juga Alice yang merasa kesal karena bisa jadi mereka akan membawa beban.


Oleh karena itu, Hendra berniat untuk memberikan pelajaran bagi Aaron. Bahwa memburu Iblis di dalam Dungeon adalah kehidupan yang keras dan penuh bahaya.


Sebuah kehidupan yang mungkin belum pernah dialami Aaron, karena selamat dari perang itu dengan melintasi waktu seribu tahun ke masa kini.


Setelah itu....


Mereka bertiga pergi menuju ke arah Utara. Tepatnya ke arah lereng Gunung Merapi. Setelah menempuh perjalanan yang memakan lebih dari 1 jam itu, mereka akhirnya tiba.


"Selamat datang, Komandan!" Ucap beberapa petugas yang menjaga tempat itu sambil memberikan hormat.


Hendra dan Alice hanya membalas dengan memberikan hormat.


Di tempat ini, dibangun semacam benteng kecil dengan beberapa tenda. Yang semuanya mengelilingi sebuah portal di lereng gunung ini.


Alasannya hanya satu. Yaitu menjaga keberadaan portal jika Iblis muncul dari balik portal itu. Jika itu terjadi, maka mereka hanya perlu menahan dan mengirimkan permintaan bantuan kepada markas pusat.


'Jadi seperti ini cara manusia modern bertahan dari Iblis.... Terlebih lagi, bukankah portal yang ada terlalu banyak?' Pikir Aaron sambil memperhatikan peta yang penuh dengan tanda.


Menunjukkan di setiap tanda itu terdapat portal yang menghubungkan antara dunia manusia dengan dunia iblis.


Sepengetahuan manusia di zaman ini, secara umum dapat dikatakan ada dua jenis portal.


Yang pertama adalah portal sempurna seperti yang mereka hadapi saat ini. Dimana portal itu benar-benar menghubungkan antar dua dunia dan takkan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Kecuali jika mereka membunuh boss yang ada di dalamnya atau karena suatu kondisi tertentu sehingga membuat portal itu menutup.


Sedangkan yang kedua adalah portal yang tidak sempurna. Sama seperti kejadian dimana portal tiba-tiba muncul di tengah kota dan mengeluarkan 5 Iblis sebelum segera menghilang tanpa perlu melakukan apapun.


Pada saat Aaron masih tenggelam dalam pikirannya....


"Apa yang kau tunggu? Cepat ambil beberapa perlengkapan dan bersiaplah. Kita akan segera masuk dan menutup portal ini." Teriak Hendra yang telah mengenakan zirah besi berat yang lengkap dengan pedang dan perisainya.


Begitu juga Alice yang telah mengenakan zirah besi ringan dengan sebilah pedang tipis.


Aaron segera mengambil sebilah pedang satu tangan. Tanpa mengambil zirah pelindung satu pun. Hendra dan juga Alice yang melihatnya hanya membiarkan hal itu karena tak ingin ambil pusing.


'Kurasa.... Aku perlu menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi dengan dunia ini.' Pikir Aaron dalam hatinya sambil segera mengikuti dua orang itu untuk masuk ke dalam portal.