Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 17 - Kegiatan Sehari-hari



...-- Kantor Utama Guild Silver Guards --...


...-- Cabang Yogyakarta --...


Aaron memulai pagi harinya dengan melakukan latihan fisik dan juga peregangan otot selama dua jam.


Sebelumnya, Hendra hendak melakukan pengukuran kekuatan yang dimiliki oleh Aaron melalui para ilmuan yang telah dipanggil olehnya. Tapi Hendra segera mengurungkan niatnya itu setelah melihat kekuatan Aaron secara langsung.


'Aaron sama sekali tak serius. Meski begitu, Ia mengungguli Rank [A] seperti Alice dengan sangat mudah. Kemungkinan besar Aaron memiliki rank [S] dan jika para ilmuan ini memastikannya....


Tidak, aku tak boleh membiarkan Aaron dikerumuni banyak wartawan dan media karena memiliki tingkat [S]. Setidaknya, aku harus menghargai pola hidup yang disukainya.'


Itulah pemikiran Hendra yang membuatnya tak jadi melakukan pengukuran kekuatan pada Aaron.


Kembali kepada latihan Aaron.


Pola latihan ini adalah kegiatan rutin yang menjadi kebiasaannya selama berada di dunia Iblis. Tentu saja efeknya memang tak sebesar jika berlatih langsung di dalam Gym.


Tapi latihan ini memiliki keunggulan tersendiri. Yaitu membentuk kekuatan sekaligus kelenturan otot secara perlahan. Membuat pertumbuhannya perlahan tapi pasti.


Bagi manusia biasa yang hidup selama 60 tahun, latihan ini takkan membawa mereka kemana-mana. Tapi lain halnya jika latihan ini, digabungkan dengan membasmi Iblis secara langsung dilakukan selama seribu tahun.


Hasilnya adalah Aaron yang saat ini.


Di sekitar tubuhnya, terlihat suhu mulai meningkat dengan cukup drastis. Keringat karena kelelahan juga terlihat membasahi tubuh Aaron.


Dan tentu saja, seseorang terlihat mengintip latihannya dari dapur dengan alasan 'memasakkan makanan pagi' untuk Aaron.


Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Alice.


Dengan kemampuan memasaknya yang sangat tinggi, sangat mudah baginya untuk memasak tanpa melihat ke arah wajan dan kompor.


'Aaaaa.... Bagaimana aku bisa melewatkan pemandangan ini....'


Pemikiran itulah yang selalu terlintas dalam pikiran Alice setiap paginya.


Segera setelah mereka berdua selesai makan, terjadi perubahan sikap yang drastis pada mereka berdua.


Aaron tak lagi terlihat bermain-main. Sedangkan Alice terlihat seperti seorang wakil ketua Guild Cabang ini dengan karisma dan juga keanggunannya yang mampu dirasakan oleh semua orang.


Kecuali Aaron.


"Aaron. Misi hari ini adalah menutup 6 gerbang Iblis tingkat B yang ada di beberapa lokasi ini. Bisakah kau melakukannya?" Tanya Alice sambil menunjukkan lokasi dan juga penanda tempat kepada Aaron.


Dengan santai, Aaron pun menjawab.


"Akan ku selesaikan sebelum matahari tenggelam."


Perkataan Aaron sama sekali tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurangi bahkan sedikitpun.


Sebenarnya, Aaron bisa saja menyelesaikan dan menutup 20 gerbang dalam waktu beberapa jam saja. Tapi yang menjadi masalah adalah jarak yang memisahkan antar gerbang satu dengan gerbang yang lain.


Jarak yang jauh itu tentu saja akan membuat Aaron menghabiskan banyak waktu dalam perjalanannya.


Meski begitu, Aaron sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Selama Ia bisa memburu Iblis, itu sudah cukup baginya.


"Ingat. Kau cukup memperlihatkan kartu identitasmu saja. Dengan kebaikan Komandan, dia memberikanmu kartu anggota khusus sebagai Intel rahasia dalam Guild ini.


Keberadaanmu sendiri dirahasiakan secara langsung dengan bantuan komandan dan seluruh petinggi yang ada sebagai ganti dari pekerjaanmu.


Ketika petugas melihat lambang identitasmu sebagai Intel, takkan ada orang yang menghentikanmu. Dan jangan pernah sebut namamu diluar sana." Jelas Alice panjang lebar kepada Aaron.


Mendengar penjelasan yang telah diulang beberapa kali dalam seminggu ini, Aaron sama sekali tidak menyepelekannya.


Semua itu berkat didikannya selama berada di Katredal Suci untuk selalu fokus dan memperhatikan segala informasi yang penting.


"Aku akan memastikan hal itu takkan pernah terjadi, Alice."


Dengan jawaban itulah, Aaron segera menaiki sebuah mobil yang dikendarai oleh sopir Guild.


"Tolong antarkan aku ke beberapa tempat ini." Ucap Aaron sambil menyerahkan tablet yang diberikan oleh Alice kepadanya.


Karena kesulitan untuk menjelaskan lokasi, Aaron memilih cara yang jauh lebih mudah ini.


"Siap laksanakan, Tuan Hunter. Seperti biasa, Anda selalu memburu banyak portal sendirian ya?" Tanya pengemudi itu.


"Haha, bukan apa-apa. Aku hanyalah seorang pengumpul informasi." Balas Aaron sambil mengikuti karakter yang telah diajarkan oleh Alice seminggu ini.


"Usaha yang bagus, Tuan Hunter. Tapi Anda tak perlu berakting pada anggota dalam Guild yang telah mengenal betapa kuatnya Anda. Sekarang, mari kita berangkat." Balas sopir itu sambil tersenyum.


Sesampainya di depan gerbang Dungeon pertamanya....


Aaron hanya berjalan sambil mengeluarkan sebuah dompet lipat yang menunjukkan lambang Silver Guards. Yakni sebuah perisai perak dengan berbagai jenis senjata yang ada di depannya.


Tombak, pedang, busur, tongkat sihir, dan lain sebagainya. Bahkan Aaron sendiri mengakui bahwa itu adalah lambang yang keren. Setidaknya.... Itulah pandangan dari orang yang baru pertama kali melihat desain lambang di zaman modern ini.


"Silakan masuk, Tuan." Ucap salah seorang penjaga gerbang Dungeon yang dengan segera memberikan jalan masuk kepada Aaron.


"Terimakasih."


Tanpa ragu, Aaron segera memasuki Dungeon tingkat [B] itu dengan setelan jas hitam panjang dengan baju putih di dalamnya. Tapi perbedaannya, kini Aaron membawa sebuah pedang hitam yang usang di pinggang kirinya.


Pembicaraan singkat antara para penjaga itu pun mulai terdengar oleh sang sopir yang duduk manis menunggu kembalinya Aaron di dalam tenda pos penjaga itu.


"Siapa dia sebenarnya?"


"Intel dari Silver Guards. Lebih baik kau tidak mengetahuinya lebih lanjut lagi."


"Apakah dia akan selamat dengan menjajah Dungeon itu sendirian?"


"Tentu saja. Orang-orang yang terpilih sebagai Intel dalam Guild Silver Guards merupakan orang-orang yang mampu bertahan hidup sendirian di tengah krisis yang mengancam. Kudengar, setidaknya mereka perlu berada di tingkat [A] untuk bisa mendaftar."


Senyuman tipis dari sang sopir yang berumur 40 tahun itu terlihat setelah mendengar pembicaraan mereka.


'Nampaknya penyamaran ini jauh lebih berhasil daripada yang diharapkan.' Pikir sang sopir itu.


Tentu saja, sopir itu bukanlah seorang sopir biasa. Melainkan seorang Hunter tingkat [B] yang ditunjuk secara khusus oleh Hendra untuk menjadi sopir pribadi Aaron.


Tugasnya adalah untuk mengawasi dan melakukan evaluasi terhadap kinerja dan perkembangan Aaron.


'Komandan.... Pemuda itu berkembang jauh lebih pesat daripada yang kau bayangkan. Meskipun.... Sungguh disayangkan aku tak bisa melihat secara langsung aksinya.' Pikir Sopir itu sambil memandangi ke arah gerbang itu.


Dimana Aaron telah kembali tepat setelah 5 menit masuk ke dalamnya.


Tapi bukan hanya kembali. Gerbang itu segera menutup dan hilang selamanya dari muka bumi.


Semua penjaga pos yang masih baru saja bergabung tentu akan terkejut dengan apa yang baru mereka saksikan.


'Menutup gerbang tingkat [B] hanya dalam lima menit?! Apakah dia benar-benar manusia?!'


Setidaknya, kalimat itu pernah terlintas di dalam pikiran para penjaga yang berurusan dengan sosok Aaron.


Tapi tentu saja, semua itu bisa ditutupi dengan sebuah topeng bernama Anggota Intel Silver Knights.


"Aah, kau sudah selesai?" Tanya sang sopir yang mulai berjalan menghampiri Aaron.


"Ya. Segera bergerak ke lokasi yang berikutnya."


Pekerjaan Aaron benar-benar selesai tepat sebelum matahari terbenam. Bukan karena timingnya yang luarbiasa. Tapi Ia menghabiskan waktu sisanya di Dungeon terakhir untuk terus melatih dirinya bersama dengan pedang hitam usang itu.


Pada saat Ia telah kembali ke kantor....


"Apakah kau sudah siap dengan latihannya?" Tanya Aaron kepada Alice yang telah mengenakan seragam tempurnya.


"Tentu saja. Tapi kali ini aku takkan kalah."


Kegiatan terakhirnya setiap hari, adalah dengan melatih Alice secara langsung di sebuah tempat latihan rahasia yang hanya diketahui oleh para petinggi.


Sesekali, petinggi lain termasuk Hendra juga ikut dalam sesi latihan itu.


Tapi mereka semua patah semangat setelah merasakan 'rutinitas latihan Aaron versi ringan' selama beberapa jam.


Sebuah latihan rutin yang sederhana bagi Aaron....


Tapi sebuah latihan gila dan mematikan bagi manusia lainnya.


Latihan pun berakhir pada pukul 10 malam dengan Alice yang selalu dipenuhi dengan luka di sekujur tubuhnya. Itu karena Aaron benar-benar menghajarnya selama latihan. Meskipun, Ia dengan segera menyembuhkan lukanya.


Tak memberi alasan bagi Alice untuk beristirahat sedikitpun.


Di penghujung hari itu, Aaron membersihkan tubuhnya sebelum menonton televisi hingga tertidur.


Tanpa Ia sadari....


Hari esok dengan rutinitas yang serupa telah menantinya.