Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 42 - Awal



...-- Alana Hotel, Yogyakarta --...


Beberapa hari telah berlalu semenjak rapat dengan beberapa Guild Swasta itu.


Matahari telah lama terbenam. Tapi pekerjaan dari para Hunter masih belum selesai mengingat misteri kemunculan dari dua Iblis itu belum terpecahkan.


Di atap dari bangunan berlantai 18 ini, Aaron berdiri dengan tenang sambil terus memandangi layar ponselnya. Tak lupa, handsfree yang selalu terhubung dengan pusat informasi menempel di telinga kirinya.


"Tuan Aaron? Kau bisa mendengarku?" Tanya salah seorang pegawai wanita yang ada di ruang kendali itu.


"Ya. Ada Iblis?" Tanya Aaron singkat.


"Regu C baru saja dibantai. Kami baru saja memperoleh pesan dari salah satu dari mereka yang selamat."


Mendengar hal itu, ekspresi wajah Aaron dengan segera menjadi menyeramkan. Terlihat dengan jelas amarah mulai memenuhi dirinya. Meski begitu, Ia masih bisa menahan dirinya dengan sangat baik.


"Dimana?"


"Dari lokasimu, bergeraklah ke arah Utara sejauh 5 kilometer. Lalu ke arah Timur Laut sejauh 1.2 kilometer. Kau akan melihat bangunan yang telah ditinggalkan disana."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aaron segera berlari di atap gedung tinggi itu dan melompat ke bawah tanpa ragu.


Seragamnya yang berupa Hoodie kasual berwarna hitam serta celana jeans yang juga hitam mampu menyamarkan keberadaannya. Hanya saja, dua buah pedang di pinggang kirinya cukup menarik perhatian banyak orang.


'Taapp!!'


Meski melompat dari lantai 18, Aaron sama sekali tak menderita luka ketika mendarat di jalanan yang saat ini masih cukup padat itu. Semua itu berkat sihir angin yang membuat pendaratannya jauh lebih lembut.


"Anemos...."


Angin dengan warna kehijauan yang indah mulai membalut tubuh Aaron secara perlahan.


Bersamaan dengan itu, kecepatan gerakan yang mampu dilakukan olehnya meningkat dengan sangat drastis.


'Tap! Tap! Tap! Swuuuoosshh!'


Hanya dengan berlari, Ia mampu mengungguli semua kendaraan yang ada di jalanan kota ini.


Aaron dengan hati-hati terus menghindari semua kendaraan dan orang yang ada di jalanan. Wajahnya tetap tenang meski saat ini mulai dipenuhi dengan amarah.


'Apa yang terjadi? Bukankah regu C dipimpin oleh 3 orang Hunter tingkat A? Mereka tak mungkin bisa kalah semudah itu. Terlebih lagi, Hendra dan Alice.... Apakah mereka baik-baik saja di regu A?' Pikir Aaron dalam hatinya sambil terus menerus berlari.


Semua orang yang melihatnya nampak kebingungan.


"Apa tadi yang baru saja lewat?"


"Entahlah.... Mungkin pembalap motor?"


"Yang benar saja, ini di jalanan kota kau tahu?"


Tapi Aaron sama sekali tak memperdulikan apapun saat ini.


"Aaron? Kau sudah melihat gedung itu? Mereka berada di lantai 4." Ucaporang yang selalu terhubung dalam panggilan kepada Aaron itu.


"Ya, aku sudah melihatnya. Aku akan segera masuk."


"Berhati-hatilah."


"Tentu saja." Balas Aaron singkat. Ia pun segera melompat dari jalanan ini.


Hanya dengan sebuah lompatan itu saja, Aaron mampu memotong jarak yang cukup jauh serta ketinggian yang lebih dari 15 meter itu.


'Pyaaaarrr!'


Jendela kaca pecah dan tersebar ke segala arah setelah Aaron menerobosnya secara paksa. Dengan tatapannya yang tajam, dan bantuan dari anggota di pusat informasi, Aaron pun mulai menjelajahi tempat ini.


'Krettak! Kreekk!'


Setiap langkah kakinya menginjak puing-puing bangunan, ataupun kaca yang pecah, suara yang cukup keras mulai menggema di dalam bangunan tua yang telah ditinggalkan ini.


"Tak ada siapapun. Tunggu dulu...."


Aaron melihat bukan hanya bercak, tapi menyerupai kolam darah. Bersamaan dengan itu, adalah robekan dari seragam Silver Guards yang tersebar di berbagai tempat.


"Aaron. Apa yang kau lihat? Bisakah kau nyalakan kameranya?" Tanya anggota informasi itu.


"Tentu saja."


Dengan balasan singkat itu, Aaron menekan suatu tombol di alat yang dipasangkan bersama dengan handsfreenya. Yaitu sebuah kamera kecil yang menghubungkan langsung video yang ada di hadapan Aaron ke pusat informasi.


Apa yang mereka lihat....


"Aku tidak merasakan keberadaan makhluk hidup satu pun dengan sihir pendeteksi ku. Tapi aku tetap akan mencarinya sebentar."


Aaron mulai berjalan ke segala arah. Memperhatikan detail apapun yang ada, termasuk pecahan tulang ataupun sisa daging yang tertinggal.


Pada saat Ia beruntung, Ia menemukan beberapa tanda pengenal korban. Tanpa ragu, Aaron menyimpannya ke dalam kantongnya. Meskipun itu dilumuri darah sekalipun.


Bagaimanapun, Aaron telah terbiasa dengan pemandangan seperti ini di dunia Iblis. Sebuah pemandangan yang sama setelah Ia membantai ratusan Iblis sendirian.


Setelah 10 menit lebih pencarian, Aaron tak menemukan jejak apapun. Atau setidaknya, itulah yang dikatakan oleh bagian informasi yang terdapat puluhan ahli di dalamnya.


Di saat suasana sedang cukup mencekam seperti ini....


"Aaron! Gawat! Regu A...." Teriak anggota informasi itu dengan keras.


"Dimana?" Jawab Aaron sambil segera berlari ke arah atap gedung tua ini. Setidaknya, Ia dapat memperoleh pandangan yang lebih baik dari atas sana.


"6 Kilometer dari lokasimu ke arah Barat! Mereka ada di...."


Tanpa menunggu lebih lama, Aaron dengan segera melompat dan berlari sekuat tenaganya. Apa yang ada di dalam pikirannya adalah keselamatan 2 orang terdekat baginya.


'Alice, Hendra.... Aku yakin kalau kalian....'


......***......


Di dalam sebuah bangunan tua yang belum selesai dibangun ini, Regu A yang beranggotakan 2 orang Hunter tingkat A, serta 8 orang Hunter tingkat B dapat dikatakan sedang berada dalam musibah.


Tidak.... Lebih tepatnya mereka berada di tepi jurang kematian.


'Tes.... Tes....'


Darah terlihat mengucur deras di tangan kiri Hendra yang kini tak lagi memiliki selapis pun zirah. Semuanya telah hancur. Bahkan perisai besarnya sekalipun.


Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang wanita dengan rambut perak yang membawa sebuah pedang tipis. Ia perlu berjuang sekuat tenaga untuk mampu berdiri dengan tubuhnya yang dipenuhi dengan luka itu.


Bahkan untuk membuat matanya tetap terbuka saja, wanita bernama Alice itu harus berusaha keras.


Sedangkan 8 orang lainnya, mereka telah tergeletak di lantai tak berdaya. Mungkin saja nyawa mereka telah direnggut.


"Kau.... Kenapa kau...." Ucap Alice dengan suara yang terengah-engah.


Pandangannya dipenuhi dengan warna merah karena banyaknya darah yang mengalir ke matanya.


"Alice. Pergilah dari tempat ini. Aku akan mengulur waktu." Ucap Hendra sambil berusaha mengangkat pedang satu tangannya.


Di hadapan mereka berdua, adalah seorang Pria dengan seragam kantoran yang sering dijumpai dimana saja. Tepat di sebelahnya terdapat sebuah tas koper dengan banyak dokumen yang ada di dalamnya.


"Kalian berdua, kenapa tak ingin menerima kematian? Seperti yang kalian ketahui, kematian adalah penyelamat! Dengan kata lain, aku sedang berusaha menyelamatkan kalian!" Ucap Pria itu dengan ekspresi wajah yang menyerupai orang gila.


Ia nampak meregangkan tangannya seakan telah kelelahan bekerja. Tapi pada kenyataannya, Pria itu masih memiliki banyak sekali tenaga untuk melakukan semua ini.


Hingga secara tiba-tiba....


'Pyaaaarrrr!!!'


Seseorang terlihat melompat melewati jendela kaca itu. Pria itu mengenakan Hoodie dan jeans hitam. Kedua tatapan matanya tepat ke arah Pria kantoran itu.


Tanpa sedikitpun keraguan, bahkan tak perlu mengajukan pertanyaan....


'Tap! Tap! Tap!'


'Sreeeett! Braaakkk!'


Aaron dengan segera melayangkan tinjunya ke arah Pria itu.


Hempasan angin yang cukup kuat bahkan mampu meruntuhkan sebagian dinding di bangunan tua ini. Akan tetapi, apa yang ada di hadapannya jauh dari harapan.


"Aah, jadi kau yang beberapa saat lalu membunuh dua Iblis itu ya? Menarik sekali." Ucap Pria itu dengan tenang sambil menahan pukulan Aaron hanya dengan tangan kirinya.


Dari bola mata Pria itu, terlihat semburat cahaya merah yang cukup menyeramkan. Secara refleks Aaron pun menyadarinya.


"Api dari Aznor.... Kau membuat kontrak dengan Iblis seperti itu?!" Teriak Aaron dengan wajah yang sangat terkejut.


"Kontrak? Apa itu? Tuan kami hanya memberikan berkahnya kepada mereka yang percaya dan taat. Apakah kau juga mau ikut dengan kami?" Tanya Pria itu dengan senyuman yang cukup mengerikan.


Pada saat itulah, Aaron menyadari.


Kemungkinan besar, dunia ini telah berakhir.