Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 5 - Kenyataan



...-- Kantor Silver Guards --...


Beberapa jam telah berlalu semenjak kemunculan 5 Iblis di tengah Kota Sleman ini.


Semua Iblis telah dikalahkan secara misterius, serta dengan cara yang sama. Yaitu terkena sihir elemen petir dan segera hancur.


Saat ini, Komandan dari Silver Guards di kota ini masih sibuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Untuk itulah rapat darurat ini dilakukan.


"Dari kalian semua, apakah ada yang melakukannya?" Tanya Hendra kepada seluruh petinggi yang ada di dalam ruangan ini.


Para petinggi yang ada di dalam ruangan ini setidaknya adalah seorang Hunter dengan tingkat B. Sebuah tingkat yang cukup untuk mengalahkan Iblis yang baru saja muncul itu dengan cukup mudah.


Urutan dari tingkat itu sendiri sebenarnya cukup ambigu karena hanya mengukur kekuatan fisik dan juga kekuatan sihir seseorang.


Jika gabungan dari dua kekuatan itu telah mencapai tingkat tertentu, maka orang itu bisa mengajukan permintaan untuk melakukan ujian peringkat.


Untuk naik tingkat, seseorang harus mengalahkan 5 orang dengan tingkat yang sama seperti dirinya.


Dengan kata lain, untuk naik dari tingkat B ke tingkat A, seseorang harus melakukan ujian dan di akhir ujian itu harus berhasil mengalahkan 5 orang tingkat B.


Jika digambarkan dengan lebih rinci, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.


Tingkat E : Setara dengan 5 orang biasa.


Tingkat D : Setara dengan 5 orang peringkat E.


Tingkat C : Setara dengan 25 orang peringkat E.


Tingkat B : Setara dengan 125 orang peringkat E.


Tingkat A : Setara dengan 625 orang peringkat E.


Meskipun, peringkat ini tak bisa dijadikan sebagai patokan secara langsung. Nilai ini hanyalah batas minimum yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat tertentu.


Bisa jadi, dengan pengalaman dan juga latihan yang cukup banyak, seorang Hunter tingkat A Setara dengan 1.000 orang peringat E atau lebih.


Itulah mengapa sistem peringkat cukup ambigu.


Dan itu juga mengapa Komandan Hendra menganggap bahwa salah seorang petinggi yang memberikan bantuan terhadap anggota tingkat D yang ada di garis depan sebelumnya.


"Maaf Komandan. Tapi pada saat itu aku sedang menaiki mobil untuk pergi ke TKP."


"Begitu pula diriku yang sedang berlari sekuat tenaga."


"Jika aku yang melakukannya, aku sudah pasti akan memamerkannya di media sosial."


Semua orang mulai memberikan pernyataan mereka masing-masing. Sebuah pernyataan bahwa mereka bukanlah pelakunya.


"Bagaimana dengan Alice dan juga dirimu, Komandan? Mungkin saja kalian yang melakukannya dan berniat untuk menguji kami kan?" Tanya salah seorang petinggi sambil tertawa ringan.


Hendra dengan segera menjawab pertanyaan itu.


"Aku adalah seorang Hunter dengan kelas Tank. Tak mungkin aku bisa mengeluarkan daya hancur sebesar itu. Sedangkan untuk Alice...." Ucap Hendra sambil melirik ke arah wanita berambut perak itu.


Alice sendiri terlihat memiliki wajah yang cukup kelelahan saat ini. Meningkatkan dugaan bahwa Ia yang melakukannya.


Akan tetapi....


"Maafkan aku sebelumnya, tapi aku malu untuk mengakui bahwa diriku sedang muntah di toilet saat itu semua terjadi.... Bahkan hingga saat ini, ugh!"


Alice dengan segera berlari meninggalkan ruangan rapat ini sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Itu benar. Alice sedang mual dan mengalami muntah-muntah ketika semua ini terjadi." Jelas Hendra.


"Kenapa? Apakah ada suatu hal khusus?"


'Aku tak bisa membiarkan korban perang seperti Aaron untuk mengalami hal yang lebih buruk lagi. Setidaknya, Ia bisa beristirahat dengan tenang di asrama itu. Menikmati sisa kehidupannya....'


Dengan pemikiran itu, Hendra dengan segera menyembunyikan fakta itu.


"Aku sendiri tak tahu. Mungkin Ia memakan sesuatu yang buruk sebelumnya." Jawab Hendra dengan wajah yang tetap sama seperti sebelumnya. Yaitu sebuah wajah yang cukup tegas.


Akhirnya, rapat ini pun berakhir dengan asumsi bahwa pelaku yang membantu menaklukkan 5 Iblis itu adalah Hunter dari Guild yang berbeda.


Karena yang mengawasi Aaron hanyalah Hendra dan juga Alice, mereka sama sekali tak menyadari bahwa pelakunya adalah seseorang yang sedang mereka lindungi itu.


......***......


Keesokan harinya di dalam asrama anggota Silver Guards....


"Pantas saja kau tak bisa menyalakan kompornya. Kau harus menghubungkannya dengan tabung gas terlebih dahulu...." Ucap Alice sambil memukul keningnya sendiri.


"Eh? Jadi ini harus benar-benar terhubung?" Tanya Aaron sambil memegang tabung gas berwarna hijau serta selang regulator.


"Tentu saja! Kau pikir darimana apinya berasal?! Astaga.... Aku tak percaya dengan semua ini. Terlebih lagi, makanlah seperti seorang manusia! Kau makan seperti seekor hewan ternak!" Teriak Alice sambil menunjuk ke arah bak yang berisi campuran daging dan sayur itu.


Itulah menu makan Aaron pagi hari ini. Campuran daging ayam yang dipotong-potong sesuka hati, satu kilogram bawang putih dan bawang merah, serta satu stoples tepung bumbu.


"Ba-bahkan aku sekalipun akan sakit hati mendengar itu! Lagipula, bagian mana yang salah dari makananku? Rasanya jauh lebih enak daripada semua yang ku makan dulu!"


Perdebatan antara mereka berdua pun berlangsung dengan cukup panas.


Di satu sisi, perkataan Aaron memang benar adanya. Dibandingkan dari semua daging hewan iblis yang dimakannya selama ini, makanan ini memang jauh lebih lezat.


Tapi di sisi lain, Alice juga harus mempertahankan pekerjaannya. Di saat Ia harus terus mengawasi Aaron selama satu bulan ini, Alice tak tahan jika harus terus melihat perilaku Aaron yang mengerikan itu.


"Sudahlah, cukup.... Ini kesalahanku karena hanya memberimu buku panduan itu. Maafkan aku." Ucap Alice sambil menghela nafasnya.


"A-aku juga minta maaf karena telah marah-marah...."


"Sekarang, aku akan menunjukkannya padamu bagaimana seharusnya manusia makan. Mengerti? Perhatikan diriku baik-baik!"


Alice dengan segera membuka kulkas yang ada di dalam dapur Aaron. Mengambil satu potong ayam bagian dada. Tak hanya itu, Alice juga mengambil beberapa siung bawang putih dan bawang merah.


Berbagai jenis bumbu juga telah disiapkannya dengan baik.


Alice juga mulai memasak nasi dengan menggunakan Rice Cooker yang ada. Dari setiap langkah yang Ia lakukan, Alice terus menjelaskannya kepada Aaron. Termasuk alasan di balik tindakannya.


"Ingat, kau perlu menumis bumbu-bumbu ini hingga kau bisa mencium aroma yang harum"


"Ka-kau benar.... Aroma ini benar-benar luarbiasa."


Setelah beberapa saat, akhirnya hidangan itu selesai. Sebuah hidangan yang cukup sederhana tapi sangat lezat.


"Nasi goreng ayam telah jadi. Sekarang aku akan mengajarkanmu cara untuk maka.... Tunggu, kenapa kau menangis?" Tanya Alice keheranan dengan sikap Aaron.


Saat ini, Aaron benar-benar tersentuh oleh masakan Alice. Ia menganggap bahwa hidangan itu adalah sebuah mahakarya seni.


Aroma, warna, suhu, dan bentuk. Semuanya sungguh sempurna. Sebuah wujud yang belum pernah dilihatnya selama seribu tahun terjebak di dunia Iblis.


Secara refleks, Aaron segera mengambil sendok dan garpu yang ada di samping piring itu dan mulai makan dengan menggunakan kedua alat itu.


Tak menjawab pertanyaan Alice, Aaron hanya terus menerus makan. Seakan itu adalah kesempatan terakhirnya untuk menikmati hidangan itu.


"Hah.... Bukankah kau bisa makan seperti layaknya seorang manusia? Kenapa selama ini kau tak melakukannya?" Tanya Alice sambil segera duduk.


Senyuman yang indah mulai menghiasi wajahnya ketika memperhatikan sosok Aaron yang sedang makan sambil menangis itu.


Pada akhirnya, mereka berdua menikmati nasi goreng itu bersama di dapur Aaron.