Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 31 - Pengrajin



...-- Guild Artisan --...


Di sebuah tempat yang sangat menyerupai seperti pabrik baja raksasa ini, puluhan palu hidrolik raksasa terlihat terus menerus menempa berbagai jenis logam.


Beberapa terlihat sedang menempa rantai raksasa untuk kapal. Sedangkan bagian yang lain terlihat sedang melelehkan logam dalam sebuah tungku yang tak kalah besar.


'Klaaaaangg! Klaaang!!'


Suara tempaan itu begitu keras hingga dapat membuat siapapun yang masuk tanpa menggunakan perlengkapan yang tepat, termasuk pelindung pendengaran, bisa mengalami tuli selama beberapa saat.


Dan disinilah....


"Gila! Benar-benar gila! Manusia pada zaman ini menempa dengan alat sebesar ini?!" Teriak Aaron dengan wajah yang sangat terkejut.


"Apa yang kau bilang?! Aku sama sekali tak bisa mendengarmu!" Teriak Alice yang terlalu rapat dalam menggunakaan alat pelindung pendengaran itu.


"Luarbiasa bukan? Ayo, ikut denganku." Ucap Hendra sambil memandu jalan mereka semua.


Mereka bertiga saat ini masih dalam jam kerja dan menggunakan seragam yang lengkap. Sedangkan alasan kedatangan mereka semua ke tempat ini, atau Guild Artisan, adalah untuk melakukan pemesanan senjata.


Guild Silver Guards dan juga Artisan memiliki hubungan yang cukup erat. Di satu sisi, Guild Artisan merupakan Guild terbesar yang bergerak dalam bidang kerajinan.


Fokus utama mereka tentu saja persenjataan dan juga zirah pelindung. Tapi tak hanya sebatas itu, Guild ini juga memproduksi berbagai jenis aksesoris yang diimbuhi dengan kekuatan sihir.


Setelah perjalanan selama beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang nampaknya merupakan kantor utama di pabrik ini.


'Cklek!'


Hendra mengawali mereka bertiga untuk membuka pintu besi itu.


"Permisi, kami telah membuat janji temu dengan Pak Anton. Apakah Beliau sedang ada disini?" Tanya Hendra ke arah salah satu pegawai yang ada di ruangan itu.


Mendengar perkataan Hendra, sekaligus melihat sosoknya itu....


"Oooh! Pak Hendra! Kenapa Anda tak bilang jika akan kemari?! Mari! Silakan duduk! Saya akan segera panggilkan kepala Pengrajin saat ini juga." Teriak pegawai itu sambil berlarian seperti orang panik.


"Anton? Kepala Pengrajin tempat ini?" Tanya Aaron penasaran.


"Hah, siapa lagi kau pikir?" Balas Hendra sambil segera duduk di sofa yang ada. Alice dan juga Hendra mengikuti dan mulai bersantai untuk menunggu kedatangan Tuan Rumah.


Sementara itu, beberapa pegawai nampak membawakan teh hangat dan juga beberapa toples makanan ringan.


"Silakan dinikmati, jika kurang bisa kami ambilkan lagi di bekalang. Mohon tunggu sebentar ya, Kepala Pengrajin sedang dalam perjalanan kemari." Ucap pegawai itu sambil memberikan gestur untuk mempersilakan para tamunya.


"Terimakasih banyak. Sebenarnya tak perlu repot-repot seperti ini hahaha...."


Basa-basi ringan terjadi antara Hendra dan juga pegawai tempat ini. Sedangkan Alice tetap terus memasang wajah ramahnya dan sesekali ikut tertawa.


Akan tetapi....


'Kraauuk! Kraauukk! Sluuurrrpp!'


Aaron terlihat memangsa habis biskuit di dalam toples itu dan segera meneguk teh hangat yang sebenarnya panas itu seakan tiada lagi kesempatan lain.


"Enak sekali! Nona! Tolong ambilkan biskuit ini lagi!"


"Aaron! Apa yang kau katakan?! Dia bukanlah pelayan!" Teriak Hendra kesal dengan tingkah kasar Aaron.


"Tapi dia baru saja menawarkan untuk mengambilkannya lagi jika kurang. Apa salahnya?"


Perdebatan kembali terjadi antara dua Pria itu. Membuat situasi yang ada cukup canggung. Tapi pada akhirnya, pegawai tempat ini segera mengambilkan beberapa toples biskuit dan satu teko teh panas untuk Aaron.


Diskusi pun berlanjut dengan Aaron yang masih terus menerus menyantap hidangan yang ada di hadapannya.


"Yah, saat ini kita sedang diberkahi dengan kedamaian. Jumlah gerbang yang muncul menurun dengan sangat drastis. Begitu juga keberadaan iblis.


Memanfaatkan keadaan yang damai ini, kami ingin melakukan penyetokan ulang persenjataan dan perlengkapan kami. Termasuk juga untuk membuat beberapa perlengkapan khusus." Jelas Hendra dengan suara yang sangat sopan dan ramah.


Mendengar perkataan itu, sang pegawai terlihat cukup tertarik.


"Hoo.... Perlengkapan khusus ya? Tingkat apa dan untuk siapa? Elemen yang akan digunakan?" Tanya pegawai itu.


"Pertama adalah untukku. Aku memerlukan zirah dan juga perisai yang lebih kuat lagi. Beberapa waktu lalu aku memasuki Dungeon tingkat B dan serangan boss yang ada di dalamnya memberikan kerusakan yang parah.


Untuk elemen yang digunakan aku ingin sesuatu yang tahan api. Sedangan tingkatannya tentu saja minimal berada di tingkat A." Jelas Hendra dengan panjang lebar.


Pegawai itu kemudian mencatatnya di sebuah buku dengan sangat rapi. Segera setelah itu, Ia kembali memberikan pertanyaan.


"Apakah hanya satu perlengkapan khusus? Bagaimana dengan wakil ketua yang manis ini?" Tanya Pegawai itu sambil melirik ke arah Alice.


Mendengar godaan ringan itu, Alice tak bisa menahan dirinya untuk sedikit tersipu.


"A-aku hanya ingin pedang baru. Elemen es dan memiliki tingkatan A. I-itu saja." Balas Alice dengan malu-malu.


"Baik, aku akan mencatatnya. Kemudian untuk jumlah perlengkapan lainnya?"


Hendra kemudian menjelaskan mengenai kebutuhan pedang, tombak, anak panah, zirah dan lain sebagainya untuk anggota reguler.


Untuk perlengkapan reguler, tingkat yang digunakan berada di tingkat C yang biasa disebut sebagai standar nasional. Dibawah tingkat C maka dianggap memiliki kualitas yang kurang baik atau buruk.


Meskipun pada kenyataannya, perlengkapan yang dibuat oleh para penempa memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi daripada perlengkapan produksi massal pabrik umum.


Alasannya hanya satu. Yaitu mereka melakukan imbuhan sihir yang juga disebut sebagai Rune. Dengan imbuhan pola sihir itu, mampu membuat pisau tingkat E sekalipun mampu memotong daging hewan buas dengan mudah.


Tentu saja, semakin tinggi tingkatannya maka kekuatannya akan semakin meningkat.


Dan semua biaya untuk perlengkapan reguler ini ditanggung secara langsung oleh Pemerintah Pusat. Dengan kata lain bebas biasa


Tapi beda ceritanya dengan perlengkapan khusus yang baru saja dipesan oleh Hendra dan juga Alice. Mereka perlu membayarnya dengan uang mereka sendiri yang tentu saja tak murah.


Berkat pangkat dan pekerjaan mereka, serta sisa bagian tubuh Iblis yang mereka kelola, uang yang mereka miliki cukup banyak. Setidaknya cukup untuk membeli satu atau dua perlengkapan khusus setiap tahunnya.


Setelah semua pencatatan itu beres, senyuman yang cukup lebar terlihat di pegawai wanita tersebut.


"Terimakasih banyak atas pesanannya." Ucap pegawai itu sambil sedikit membungkukkan badannya.


Wajar saja Ia senang karena memperoleh pesanan dalam jumlah besar. Dengan kata lain, memperoleh keuntungan besar.


Tapi ada satu hal yang terlewat.


"Aaron, sampai kapan kau akan makan dan minum? Apakah kau yakin tak ingin membeli sesuatu? Aku yakin kau memiliki uang yang cukup setidaknya untuk membeli sebuah senjata tingkat B bukan?" Tanya Hendra sambil memasang tatapan kesal.


"Aku cukup tertarik, tapi aku perlu memikirkannya lagi." Balas Aaron sambil menghentikan makan dan minumnya.


Pada saat itulah....


'Plak!'


Sebuah telapak tangan menepuk pundak kiri Aaron dengan cukup keras. Sebuah telapak tangan yang terlihat memiliki banyak sekali luka dan sangat keras.


"Hoo.... Jadi kau tidak tertarik dengan karyaku sama sekali?" Ucap seorang Pria paruh baya dengan kepala setengah botak itu. Ia terlihat berbicara sambil menatap ke sebuah bilah pedang yang dipajang di dinding ruangan ini.


"Siapa kau?" Tanya Aaron bingung.


"Anton. Panggil saja seperti itu, Nak."