
Sepuluh menit telah berlalu dengan Aaron yang terus menerus membantai semua Fellbeast yang berkeliaran di sekitar tempat ini.
Hingga akhirnya, dengan jumlah total 92 Fellbeast dari berbagai jenis telah berhasil dibunuh oleh Aaron sendirian. Semua itu hanya dengan tangan kosongnya.
Tindakannya telah berhasil mencegah kerusakan yang jauh lebih parah terjadi. Meskipun, beberapa bagian hutan telah menjadi abu. Dan sungai di sekitar tempat itu telah mengering.
Semua itu adalah masalah yang perlu diatasi. Tapi tentu saja, oleh mereka yang ahli dalam bidangnya.
Saat ini....
"Terimakasih banyak! Terimakasih banyak atas bantuan Anda!" Ucap pemimpin regu penjaga ini sambil terus menerus membungkukkan badannya berkali-kali.
"Hentikan itu. Aku hanya melakukan tugasku. Terlebih lagi, apa-apaan itu?" Ucap Aaron sambil memandangi sebuah gerbang Dungeon yang sebesar bangunan 4 lantai.
"Itu.... Itulah sumber dari kekacauan ini. Sebuah gerbang tingkat A." Balas sang pemimpin regu penjaga itu.
Gerbang itu tak hanya memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari semua yang pernah dijumpai oleh Aaron. Tapi juga memili warna merah gelap yang cukup berbeda dari gerbang biasanya yang berwarna ungu kehitaman.
Terlebih lagi....
Gerbang yang sedang ada di dekat Aaron itu terus menerus memancarkan cahaya merah menyala seperti api. Termasuk juga panas yang membakar tempat di sekitarnya.
Secara perlahan, Aaron mendekati gerbang itu.
"Tu-tunggu dulu, Tuan! Apakah Anda bermaksud untuk memasukinya sendirian?!"
"Ya, memangnya kenapa?" Tanya Aaron dengan wajah kebingungan.
"Ini adalah gerbang dengan energi sihir tingkat A! Setidaknya, tunggu beberapa Hunter tingkat S lainnya untuk bergabung dengan Anda. Begitu juga dengan beberapa Hunter tingkat A!" Teriak pemimpin regu penjaga itu dengan wajah memelasnya.
Ia seakan tak ingin sosok yang baru saja menyelamatkan dirinya dan juga seluruh bawahannya mati sia-sia.
Itu karena untuk menaklukkan sebuah Dungeon, setidaknya dibutuhkan 2 hingga 3 Hunter dengan tingkat di atas gerbang itu. Ditambah juga dengan 6 atau lebih Hunter pada tingkat yang sama.
Dengan kata lain, untuk menaklukkan sebuah Dungeon tingkat A, maka dibutuhkan 2 atau 3 Hunter tingkat S yang bekerjasama dengan lebih dari 6 Hunter tingkat A. Dengan batas minimal untuk masuk adalah satu tingkat dibawahnya yaitu tingkat B.
Membawa Hunter di tingkat di bawah itu kemungkinan besar hanya akan menjadi beban.
Meski begitu....
"Kalau begitu, sampaikan kepada Hunter tingkat S itu untuk segera kemari dan bantu aku. Sampai dia tiba, aku akan masuk lebih dahulu."
Segera setelah mengatakan semua itu, Aaron mulai melangkahkan kakinya melewati tanah yang membara itu. Hingga akhirnya, seluruh tubuhnya terlihat menghilang setelah melewati gerbang Dungeon itu.
"Ketua! Bukankah itu hal yang buruk?!" Teriak salah satu penjaga dengan wajah yang ketakutan.
"Tentu saja! Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Tuan Putra. Kabarnya Ia sedang dalam perjalanan kemari dari Semarang." Balas sang pemimpin regu penjaga itu.
Di sisi lain....
'Bzzzzttt! Bzzzzttt!'
Sebuah ponsel nampak menyala dan bergetar di atas jok mobil itu.
Seseorang dengan lengan yang cukup besar mulai meraih ponsel itu dan segera menjawabnya.
"Ya, Putra disini. Ada apa?"
"Tuan Putra! Cepatlah kemari! Salah seorang Hunter telah memasuki Dungeon tingkat A itu sendirian! Kumohon bantuanmu untuk...."
Tanpa sedikitpun niat untuk mendengarnya lebih lanjut, Pria dengan badan yang besar itu segera menutup panggilan itu.
"Cih, merepotkan sekali. Saat ini aku juga sedang dalam perjalanan kesana." Keluh Putra yang sedang duduk di kursi belakang mobil sedan ini.
"Aku akan berusaha untuk lebih cepat lagi, Tuan." Ucap sang sopir yang segera meningkatkan laju kendaraan itu.
"Ya, berhati-hati lah." Balas Putra singkat.
Putra sendiri adalah seorang Hunter tingkat [S] yang berada di dalam naungan Guild pemerintahan resmi, Silver Guards.
Ia memiliki tubuh yang cukup besar dengan tinggi mencapai 185cm. Rambutnya cukup pendek dengan warna hitam. Sedangkan tatapan matanya sangatlah tajam seperti seekor singa yang selalu siap menerkam mangsanya.
Rekor terbaiknya adalah dengan menutup Dungeon tingkat A hanya dengan anggota 2 orang saja. Dengan kemampuannya menggunakan pedang besar, Ia mampu menebas hampir semua Iblis yang ada. Lagipula, kekuatan yang mutlak adalah salah satu keunggulan dari sosoknya.
Meski terlihat garang dan mengerikan seperti itu....
'Siapapun kau yang telah hadir di dekat Dungeon itu, aku ucapkan terimakasih. Tapi bertahanlah. Aku akan segera membantumu.' Pikir Putra dalam hatinya.
Dilihat dari jaraknya, kemungkinan besar Putra akan sampai di lokasi dalam waktu kurang lebih 30 menit.
Harapan terbesarnya adalah agar tidak ada korban yang sia-sia dalam setiap insiden serangan Iblis. Termasuk Hunter tak dikenal seperti Aaron yang baru saja membantunya itu.
Meskipun....
Entah apakah kekhawatirannya itu berarti bagi Aaron.
...-- Dunia Iblis --...
Lokasi yang kini dipijak oleh Aaron, adalah sebuah lereng gunung berapi yang dipenuhi api yang berkobar kuat.
Tak jarang terlihat lava yang mengalir di sekitar tempat ini. Melelehkan apapun yang disentuhnya. Bahkan iblis itu sendiri.
Sedangkan di kejauhan, terlihat sebuah Istana yang cukup besar dengan warna hitam pekat.
Aaron melihat sekelilingnya secara perlahan untuk mencari tahu dimana Ia saat ini berada.
"Hmm.... Gunung berapi yang ada di dunia Iblis terlalu banyak jumlahnya. Mengingat mereka semua mustahil untuk dilakukan. Tapi kastil itu.... Aah, jadi itu adalah sosok Tamer yang dikabarkan berencana menjadi seorang Raja Iblis ya?" Ucap Aaron pada dirinya sendiri dengan wajah yang masih tetap datar.
Ia secara perlahan melangkahkan kakinya mendekati istana itu sambil menghindari lava yang ada.
Berbeda dengan lava yang ada di dunia manusia, lava di dunia Iblis jauh lebih panas dan mematikan. Bahkan dirinya sekalipun akan terbakar hangus jika menyentuhnya.
Tak ada sedikitpun Iblis yang menjaga di sekitar gerbang ini. Dengan kata lain, kemungkinan besar semua Iblis yang ada telah dikirimkan keluar melalui gerbang itu.
"Mengirim iblis selemah itu.... Apa tujuannya? Lagipula, gerbang Dungeon ini sebenarnya apa? Apakah hal yang sama seperti seribu tahun yang lalu?"
Yang dimaksud oleh Aaron adalah gerbang Iblis terbesar yang pernah terbentuk di dunia manusia. Yaitu gerbang yang dibuat oleh Raja Iblis Chronoa. Seorang Raja Iblis tingkat rendah yang bahkan mampu meratakan kekuatan terbesar umat manusia pada saat itu.
Sedangkan ini?
'Apakah iblis selain Raja Iblis bisa membuka gerbang? Aku tak pernah mendengar hal itu sebelumnya.'
Dengan terus berpikir, Aaron akhirnya telah tiba di hadapan gerbang istana itu.
Ia membuka gerbangnya dengan paksa. Atau lebih tepat jika menyebutnya memukul gerbang itu hingga terbuka.
Dengan santai, Aaron terus berjalan ke arah ruang tahta dimana pelaku dari kejadian kali ini berada.
Ketika Aaron tiba....
Kedua matanya terbuka lebar. Ia seakan tak bisa mempercayai apa yang dilihat olehnya.
Sosok Iblis dengan wujud seorang wanita yang luarbiasa anggun dengan rambut berwarna hitam yang begitu indah.
Kulitnya putih pucat dengan mata berwarna merah darah. Kedua tangannya memiliki kuku hitam yang terlihat sangat tajam. Di atas semua itu, Ia mengenakan gaun putih hitam yang indah.
Iblis itu duduk dengan santai di singgasananya seakan memang menanti kehadiran pahlawan yang berusaha untuk menaklukkan Dungeon ini.
"Selamat datang ke dalam istana ini, wahai pahlawan." Ucap Wanita itu dengan menggunakan bahasa Iblis.
Sedangkan Aaron?
"Yang benar saja.... Thiria ya? Kurasa aku bernasib sangat sial kali ini." Ucap Aaron dengan suara yang cukup lirih pada dirinya sendiri. Tentu saja dengan menggunakan bahasa manusia.
Raut wajahnya mulai menjadi tegang. Bahkan keringat dingin pun mulai mengalir di seluruh tubuhnya.
Akhirnya, pertemuan antara dua orang ini pun terjadi.
Apa yang menanti di balik pertemuan ini....