Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 38 - Kenyataan



"Ka-kau manusia?!" Ucap Iblis itu dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


Sosok bernama Death Bringer memang cukup dikenal di dunia Iblis. Tentu saja sebagai seorang Iblis bengis yang hanya bergerak untuk memburu Iblis lain tanpa pandang bulu.


Seorang Iblis gila yang hanya memikirkan cara untuk membunuh Iblis baru tiap harinya.


Bahkan berita mengenai sosok Death Bringer yang mampu menerobos kastil salah satu Raja Iblis tingkat rendah telah tersebar luas. Termasuk membunuh seluruh pasukan dan Raja Iblis itu sendirian.


Tak banyak yang tahu wujudnya yang sebenarnya. Tapi dikisahkan bahwa Death Bringer memiliki rambut perak seperti ras serigala bulan.


Hanya satu hal yang mereka semua kenal.


Yaitu sebuah pedang yang akan membawa kematian bagi iblis yang berhadapan dengannya. Sebuah pedang hitam usang yang terlihat rapuh itulah yang merenggut banyak sekali nyawa Iblis.


Dan kini, sosok itu berdiri tepat di hadapannya. Terlebih lagi, sosok sebenarnya dari Death Bringer adalah manusia.


"Memangnya aku pernah memperkenalkan diriku sebagai Iblis?" Ucap Aaron dengan tatapan yang tajam.


Kini Ia bisa sedikit lebih tenang. Setidaknya, kedua lawannya telah menerima luka yang cukup parah. Membuat mereka berdua tak mampu mengeluarkan seluruh kekuatannya dengan maksimal.


Mengetahui bahwa kemungkinan besar dirinya akan menang....


"Sekarang katakan padaku. Bagaimana kau bisa sampai disini? Gerbang mana yang kau lewati? Lalu, dimana Aznor?" Tanya Aaron dengan bahasa Iblis sambil membuat kuda-kuda yang siap untuk memberikan tebasan itu.


Aliran cahaya berwarna biru yang indah nampak menyelimuti pedang Runic itu. Secara perlahan tapi pasti, huruf Runic yang ada pada bilah pedang itu menjadi semakin terang.


Mendengar pertanyaan itu, Iblis berkulit merah itu justru merasa kesal dengan Aaron sebelum menjawabnya.


"Hah! Memangnya aku sendiri tahu?! Sebelumnya aku sedang berada di lahan bersama dengan rekanku yang baru saja kau tusuk itu!"


"Di lahan? Kenapa?" Tanya Aaron kebingungan.


"Apalagi jika bukan untuk bertani?! Tiba-tiba saja kami muncul di tempat ini!"


"Kau bohong."


Tentu saja Aaron tak bisa mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh lawannya itu. Setidaknya, ada dua hal yang tak sanggup Ia percayai.


Yang pertama adalah sebuah kenyataan dimana mereka muncul di dunia ini secara tiba-tiba. Tanpa melalui gerbang manapun.


Kemudian yang kedua....


'Iblis sekuat ini hanyalah petani?! Yang benar saja?! Meskipun memang benar mereka keturunan Aznor, tapi mereka hanya mewarisi warnanya saja!' Teriak Aaron dalam hatinya.


Semua itu didasarkan atas informasi yang diperolehnya selama di dunia Iblis.


Salah satu dari Penguasa Dunia Iblis, Aznor. Dikisahkan Aznor konon membagi sebagian sifatnya untuk menjadi keturunannya. Yang mana semuanya akan melayaninya dalam menaklukkan dunia Iblis.


Sifat yang diturunkan yaitu warna, darah, api, dan mata. Keempat sifat itu diurutkan dari yang paling rendah hingga yang paling kuat.


Mereka yang mewarisi mata dari Aznor memiliki kekuatan yang dikisahkan setingkat dengan raja Iblis tingkat tinggi. Meski begitu, hanya ada 8 Iblis yang mewarisi mata Aznor. Menyisakan Aznor hanya dengan satu mata saja.


Sebuah mata yang mampu menghancurkan segala yang dilihatnya. Atau setidaknya.... Itulah yang dikisahkan oleh para penyair di dunia Iblis.


Mengetahui bahwa keturunan terendahnya sekalipun, yang memiliki kekuatan yang sebesar ini, hanyalah petani?


Tentu saja Aaron tak bisa menerima kenyataan itu.


"Terserah kau mau menganggapnya seperti apa, tapi itulah kenyataannya. Terlebih lagi...."


Senyuman yang penuh dengan rasa puas terlihat di wajah Iblis itu. Alasannya sangat sederhana. Yaitu kedua lengannya yang sebelumnya hampir terbelah menjadi dua itu, kini telah sembuh sepenuhnya.


Membuat Iblis itu mampu menggunakan kekuatan penuhnya sekali lagi.


"Terimakasih telah memberikanku waktu untu...."


Aaron tanpa ragu mengayunkan pedangnya secara horizontal. Menebas kembali kedua lengan Iblis itu yang baru saja sembuh.


Kilatan cahaya biru yang sangat terang mengikuti arah tebasan pedang itu.


'Tess.... Plaakk!'


Sesuatu terliihat jatuh ke tanah. Yaitu potongan tangan yang memiliki kulit berwarna merah.


Darah mulai mengalir kembali dari lengan yang kini telah benar-benar terpotong itu. Aaron hanya memberikan tatapan santai ke arah Iblis itu.


"Ba-bagaimana bisa?! Sebelumnya pedang itu...."


"Tumpul? Maaf tapi karena aku belum mengisi penuh tenaganya. Hmm.... Sama seperti ponsel yang melambat karena baterainya habis? Apakah benar seperti itu?"


Aaron mulai melontarkan omong kosong yang diperolehnya dari MeTube. Berbagai video LifeHack yang sebagian besar hanyalah kebohongan, yang mana Aaron masih belum mampu membedakannya.


"Apa?! Jadi sebelumnya belum kekuatan penuhmu?!"


"Yah kau tahu? Aku tak pernah menyangka akan bertemu Iblis di saat tak ada gerbang yang terbuka. Maka dari itu aku membiarkan pedang Runic ini kosong tak berisi sedikitpun energi sihir. Eh, kenapa aku menjelaskan ini padamu?"


Aaron tiba-tiba mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Tentu saja, tak hanya dirinya, tapi lawan bicaranya juga tak bisa menjawab.


"Jadi kau.... Sebelumnya hanya mengulur waktu untuk mengisi kekuatan pedang itu?" Tanya Iblis itu sekali lagi.


"Ya, begitulah. Lagipula aku masih belum terbiasa menggunakannya. Ah, soal temanmu...." Ucap Aaron yang menarik tubuh besar Iblis itu untuk duduk di jalanan aspal yang sudah hancur lebur itu.


Setelah memaksa Iblis itu untuk duduk, Aaron sendiri juga ikut duduk dengan tenang. Tangan kanannya masih tetap memegang pedang Runic itu yang kini semua hurufnya memancarkan cahaya biru yang terang.


Tak hanya itu, bagian luar dari bilah pedang bermata dua itu juga terlihat memiliki semburat warna biru dari aliran sihir Rune yang ada.


Dengan sikap santai....


"Kemungkinan dia telah mati. Jadi aku akan memberikanmu sedikit tawaran. Apakah kau mau mati dengan cara cepat atau dengan cara yang sangat cepat?" Tanya Aaron dengan ekspresi yang cukup datar.


Iblis itu tak lagi mampu menjawabnya. Ia telah sangat yakin bahwa dirinya akan mati. Oleh karena itu....


"Dewa kami takkan memaafkanmu untuk ini...."


"Whoah! Upaya terakhir dari lawan yang sudah sekarat. Aku sangat yakin Aznor takkan peduli padamu. Bahkan mungkin saja tak pernah tahu bahwa kau ada."


Aaron dengan lincah mampu membalas perkataan dari Iblis itu yang berusaha untuk mengancamnya.


Tapi apa yang dikatakan oleh Aaron memang benar adanya. Meskipun memang merupakan keturunan Aznor, tapi sosok yang ada di hadapan Aaron ini bukanlah keturunan langsung atau yang dikenal sebagai Elder. Melainkan keturunan dari para keturunan Elder itu.


Aznor sekalipun tak mungkin untuk mengetahui semua itu.


Sedangkan Aaron saat ini....


Ia terlihat sedang berjalan ke arah tubuh Iblis yang menerima tusukan pedang hitam itu. Tubuhnya telah tergeletak di tanah tak berdaya dengan kedua tangan yang nampak berusaha menarik keluar pedang itu.


'Sraaatt!'


Aaron mencabut pedang hitam yang telah menancap di dada Iblis itu. Kematian sudah jelas pada Iblis yang telah menyentuh pedang itu terlalu lama. Apalagi ketika mengenai tepat di bagian vitalnya.


Terlebih lagi....


"Hmm? Nampaknya kau menjadi semakin kuat lagi?" Ucap Aaron sambil memandangi pedang hitam itu.


Dasar dari perkataannya adalah perasaan Aaron yang kekuatannya ikut terkuras oleh pedang itu. Kini, kecepatan pengurusannya menjadi sedikit lebih cepat karena telah memangsa iblis yang baru, yaitu keturunan dari Aznor.


"Sekarang.... Giliran mu ya?"


Dengan kalimat itu, Iblis yang kedua lengannya telah terpotong itu tahu. Bahwa tak ada lagi jalan keluar dari tempat ini.