
"Tingkat kematian Hunter terlalu tinggi. Apakah kalian ada informasi yang membantu soal ini?" Ucap sang Grandmaster dengan wajah yang serius.
Semua orang pun terkejut bukan main mendengar perkataan dari Grandmaster. Itu karena dalam Guild Silver Guards sendiri, tingkat kematian yang terjadi tidak lah terlalu tinggi. Semua itu karena banyak sekali Hunter yang kuat di dalam Guild resmi dari Pemerintahan ini.
Tapi untuk Guild swasta yang lain? Terutama yang baru saja merintis sebuah Guild sebagai sebuah bisnis? Tentu saja, tingkat kematiannya akan sangat tinggi.
"Aku nampaknya terlalu sibuk bekerja untuk memperhatikan hal seperti itu."
"Lagipula, apakah tingkat kematiannya memang setinggi itu?"
"Setiap hari aku memang mendengar berita kematian dari beberapa Guild swasta yang ada di sekitar wilayah ku."
Beberapa perkataan nampak dilontarkan dari para komandan wilayah yang ada. Tapi semuanya hanyalah ungkapan yang tak berguna.
Hingga akhirnya....
'Sreeet!'
Salah seorang Komandan wilayah dengan rambut hitam panjang yang diikat dengan cukup anggun itu mengangkat tangannya.
Grandmaster pun segera membuat sebuah isyarat untuk meminta semua orang agar diam. Memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk berbicara.
"Perkenalkan, namaku adalah Bella. Komandan dari wilayah Medan. Menurutku pribadi, kesalahan alat pengukuran portal Dungeon menjadi terlalu sering terjadi.
Hal itu menyebabkan banyaknya kesalahan perhitungan jumlah anggota yang masuk untuk menaklukkan Dungeon yang muncul." Jelas wanita itu dengan wajah dan suara yang terkesan cukup sinis.
Hampir semua orang yang ada di ruangan ini mulai menggumam dan berbicara dengan pengawal mereka masing-masing. Sedangkan Grandmaster sendiri?
Ia terlihat berpikir keras dengan wajahnya yang terlihat sangat mengantuk itu.
"Kesalahan pengukuran Dungeon? Apakah kau mengatakan bahwa sebuah Dungeon dinilai terlalu rendah untuk kekuatannya yang sebenarnya?" Tanya sang Grandmaster untuk memastikan.
Mendengar pertanyaan itu, wanita bernama Bella itu pun menganggukkan kepalanya dengan ringan sambil segera kembali duduk.
"Oi! Jadi kau pikir alat buatanku itu cacat?!" Teriak seorang Pria yang berada pada usia 40an itu sambil memukul meja.
"Maafkan aku, Tuan Guntur, jika perkataanku menghinamu. Tapi itu adalah kenyataannya. Jika tidak percaya, bagaimana jika kau sesekali masuk ke dalam Dungeon itu?" Balas Bella tetap dengan tatapan dan nada sinisnya.
"Jangan samakan aku dengan kalian para Hunter tingkat S! Aku hanyalah seorang peneliti yang terpaksa menjadi komandan wilayah!" Balas Guntur dengan kesal.
"Jadi kau tak mempercayai alatmu sendiri?"
Keributan pun mulai terjadi setelah suasana ruang rapat ini menjadi cukup panas.
Sesaat sebelum pertengkaran ini menjadi lebih buruk lagi, sang Grandmaster mulai angkat bicara.
"Hentikan perdebatan ini." Ucap Niko dengan suara yang sedikit lemas.
Tapi perkataannya sama sekali tak digubris oleh mereka berdua. Bahkan mereka justru bertengkar dengan lebih heboh lagi. Hal itu akhirnya membuat Grandmaster Niko mengambil langkah ekstrim untuk menghentikan mereka berdua.
'Swuuuoosshh!'
Dua buah pedang yang berwarna putih tiba-tiba muncul dan melesat ke arah dua orang itu. Serangan itu dilancarkan dengan sangat tiba-tiba dan tanpa adanya pertanda sama sekali.
Bella di satu sisi mampu menghindarinya hanya dengan memiringkan sedikit tubuhnya. Karena Ia sendiri adalah Hunter tingkat S, sedangkan serangan peringatan serendah itu takkan mampu melukainya.
Pedang itu pun menancap dengan cukup dalam ke dinding yang ada di belakangnya. Membuat retakan yang cukup besar.
Menyadari apa maksud dari serangan pedang cahaya itu, Ia segera menenangkan dirinya sendiri dan kembali duduk.
Akan tetapi di sisi lain....
'Kretak!'
Suara retakan yang cukup keras terdengar dari sisi Guntur.
Terlihat ada seorang Pria berambut perak yang berada di atas meja. Tangan kanannya nampak memegang ujung dari pedang putih itu.
"Oi, apa yang kau pikirkan? Kau tahu dia akan mati dengan ini kan?" Ucap Pria yang tak lain adalah Aaron itu sendiri.
Dengan cengkeramannya yang kuat, Aaron menghancurkan pedang itu hingga remuk dan akhirnya berubah kembali menjadi cahaya. Hilang sepenuhnya.
Guntur sendiri terlihat sangat ketakutan dengan situasi ini. Bukan hanya karena nyawanya hampir saja melayang. Tapi juga karena tindakan dari Pria berambut perak yang ada di hadapannya.
Sedangkan Niko....
"Jadi? Dia hanya mengganggu rapat ini." Balas Niko dengan tatapan mata yang sangat mengantuk itu.
"Lalu kau pikir membunuh manusia dengan alasan seperti itu adalah hal yang bagus?"
Tatapan mata Aaron menjadi semakin tajam setelah mendengar jawaban dari Niko.
Beberapa saat berlalu dengan keheningan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain seakan sedang mengukur kekuatan dari lawannya.
Hingga akhirnya....
"Hah.... Sudahlah. Kembali ke tempatmu." Ucap Niko sambil segera melanjutkan rapat besar ini.
Aaron pun segera menurutinya karena Ia memang tak lagi memiliki urusan di tempat itu.
Terlebih lagi....
'Dia benar-benar kuat.... Kenapa aku belum menemukannya sejak dulu?' Pikir Niko sang Grandmaster dalam hatinya sambil terus memandangi sosok Aaron.
Rapat besar ini pun berlanjut. Tapi kini dengan suasana yang lebih tenang dan damai daripada yang sebelumnya.
Dua buah pedang yang dikeluarkan oleh Grandmaster sudah menjadi peringatan yang cukup keras bagi semua peserta.
Sedangkan tindakan Aaron sendiri juga menjadi peringatan bagi Grandmaster itu sendiri.
Akhirnya, keputusan dari rapat ini pun sudah terbentuk untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai malfungsi alat pengukur energi sihir. Sebuah penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan seberapa besar tingkat penyimpangan yang terjadi pada alat itu.
Setelah data itu diperoleh, maka pemerintah dapat melakukan kalibrasi ulang terhadap nilai energi sihir dibandingkan dengan peringkat dari suatu Dungeon. Yang mana pada akhirnya dapat menurunkan peluang kematian Hunter yang masuk ke dalam Dungeon.
Selain membahas mengenai hal itu, Grandmaster juga menyinggung mengenai potensi aksi terorisme dari organisasi kriminal dunia, Usurper.
Meskipun basis utama mereka tidak diketahui secara pasti, beberapa bukti telah menunjukkan bahwa mereka mulai aktif di wilayah Asia.
Tepat sebelum rapat dibubarkan....
"Hendra. Siapa orang itu?" Tanya Grandmaster sambil berdiri tepat di hadapan Hendra dan juga Alice.
"Grandmaster.... Dia adalah Aaron. Seorang dari bagian Intel yang telah kurekrut." Jawab Hendra dengan perasaan cemas.
Sedangkan Aaron sendiri masih sibuk menikmati Snack dan juga nasi kotak yang dibagikan dalam rapat ini.
"Hmm.... Begitukah?"
Hanya itulah jawaban dari Grandmaster.
Meski begitu, Ia berjalan secara perlahan ke arah Aaron berada.
"Sluurpp! Glekk! Sialan! Kenapa makanan ini begitu enak?! Glekk!"
Aaron sendiri terlihat sedang sangat menikmati menu makanannya.
"Aaron. Kau terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan yang sebelumnya. Apakah kau benar-benar orang yang sama?" Tanya Niko tetap dengan wajahnya yang terlihat mengantuk itu.
"Jwanguan bwicwarwa! Wakwu swedwang mwakan!" Balas Aaron dengan mulut yang masih dipenuhi makanan itu.
Tapi Niko sama sekali tak memperdulikannya. Bahkan....
"Bagaimana kalau kita latih tanding sebentar setelah kau makan?"
Hanya dengan kalimat itu....
'Glekkk!!!'
Aaron segera menelan seluruh makanan yang ada di mulutnya sambil memberikan tatapan yang tajam ke arah Niko.
"Boleh saja. Dimana?"
Senyuman yang tipis terlihat di wajah sang Grandmaster. Ia terlihat sangat tak sabar untuk mengukur kekuatan dari orang yang diakuinya secara langsung itu.