Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 44 - Kerjasama



Aaron saat ini tengah berada dalam perlindungan Rika, atau lebih tepatnya dalam gendongannya.


Kedua lengannya yang telah hilang itu secara perlahan mulai pulih. Setidaknya, saat ini Aaron bisa berpegangan pada pundak Rika.


"Bersiaplah. Gerakanku sedikit lebih cepat darimu." Ucap Rika dengan nada datar dan wajah yang seakan tak memiliki ekspresi itu.


Sejujurnya, Aaron sendiri cukup meragukan mengenai perkataannya. Tapi hanya dalam satu detik saja, Aaron menyadarinya.


Bahwa Rika sama sekali tak bercanda soal itu.


'Swuuussshhh!!!'


Gerakannya tak lagi bisa dibilang cepat. Tapi seakan-akan bisa memotong jarak secara langsung tanpa banyak gerakan.


"Katakan. Apa yang harus ku waspadai darinya?" Tanya Rika yang sambil terus bergerak mengelilingi Iblis itu. Membuatnya kebingungan ketika harus menyerang karena gerakannya yang begitu cepat.


Mendengar pertanyaan itu, Aaron pun memberikan jawaban yang singkat dan jelas.


"Apinya.... Jika kau mendekatinya setidaknya 10 langkah darinya, mungkin kau akan mulai terbakar hingga hangus."


"Dimengerti."


Pada saat itulah, Rika segera melompat ke belakang untuk menjauh. Kedua tangannya telah menarik dua dari 8 buah pisau yang tersembunyi di balik pakaiannya. Dengan tatapan yang seakan tak memiliki ekspresi itu, Rika terlihat akan maju untuk menyerang.


"Tu-tunggu! Kau sadar apa yang baru saja ku katakan kan?" Teriak Aaron ketakutan. Kini tangannya telah tumbuh setengahnya.


Rika tak menjawab sedikitpun. Ia hanya memperkuat kuda-kudanya dan bersiap untuk menyerang.


Iblis yang mengetahui bahwa lawannya tak lagi bergerak, kini segera berlari untuk mendekatinya.


"Grroooaaarr!! Matilah kau manusia!"


Pada saat itulah, Rika menebas angin kosong yang ada di hadapannya dengan kedua pisau itu. Sebuah tebasan yang tak lain hanyalah memotong angin yang tak bernyawa.


Sebuah serangan yang terlihat sama sekali tak berguna. Meski begitu, Ia memberikan wajah yang terlihat cukup serius.


Hasilnya?


'Zraaaasshhh! Zraaassshhh!!'


Dua buah tebasan yang ada di udara itu, secara misterius telah mengenai kedua lengan Iblis itu.


"Kuugghh!"


Meski lukanya cukup dangkal, tapi setidaknya serangan itu mampu memberikan kejutan dan juga rasa sakit yang cukup untuk menghentikan langkah kaki Iblis itu.


"Tebal juga ya. Selanjutnya aku akan menebas jantungmu secara langsung." Ucap Rika dengan ekspresi yang datar.


Berkat perkataan dan juga serangannya, Iblis itu mulai merasa ngeri kepada wanita yang baru saja muncul ini. Bahkan rasa takutnya jauh melebihi daripada saat melawan Aaron.


"Kau, bisa melakukannya?" Bisik Aaron dengan berbisik.


"Tentu saja tidak. Itu hanyalah gertakan. Tapi aku sedikit banyak mengetahui cara lain untuk mengalahkannya." Balas Rika dengan suara lirih setelah melihat luka di kedua lengan Iblis itu beregenerasi dengan sangat cepat.


Merasa kesal, Iblis itu pun kembali menembakkan semburan api yang kuat ke arah lawannya. Tapi setiap kali itu terjadi, Rika telah berada di arah yang berlawanan dari serangannya.


Membuat Iblis itu menjadi semakin kesal dan secara tak langsung mulai membakar hampir seluruh wilayah di sekitar tempat ini.


'Gerakannya benar-benar cepat dan ringan, siapa sebenernya orang ini?' Pikir Aaron dalam hatinya yang masih terus memulihkan diri di balik punggung wanita itu.


Hingga akhirnya, kedua lengan Aaron dan seluruh bagian tubuhnya yang lain pun telah sembuh.


Tak hanya berlari dan menghindar tanpa berpikir, Rika juga terus mendekati ke arah dua buah pedang Aaron yang terlempar. Mengembalikannya kepada pemiliknya.


'Tap!'


Aaron segera turun dari tempat yang memalukan itu sambil mengucapkan terimakasih. Tapi Rika sendiri sama sekali tak membutuhkannya. Apa yang diinginkannya....


"Aku ingin kau membuka luka selebar mungkin pada tubuh Iblis itu sehingga aku bisa menyerangnya." Ucap Rika yang secara perlahan mulai tenggelam di dalam tanah itu. Atau lebih tepatnya, tenggelam di dalam bayangannya sendiri.


Sebuah kemampuan yang bahkan membuat Aaron sendiri merasa ngeri melihatnya. Tapi Ia harus fokus pada tujuannya. Jika dua buah pedang ini sekalipun tak mampu untuk membunuh titisan dari Api Aznor, maka Ia hanya bisa mempercayakannya kepada Rika.


'Tap! Blaaarr!!!'


Dengan hentakan kaki yang sangat kuat, Aaron melesat dengan cepat ke arah Iblis itu berada. Kedua tangannya memegang pedang dengan warna yang bertolak belakang.


Di tangan kanannya adalah sebuah pedang dengan warna hitam pekat yang terus menerus mengeluarkan aura kejahatan. Sedangkan di tangan kirinya adalah pedang dengan warna putih bersih yang dihiasi 8 buah huruf Runic berwarna biru terang.


Dengan bantuan dari sihir angin suci, Anemos, kecepatan gerakan Aaron benar-benar diluar batas nalar. Tapi kini Aaron menyadarinya. Bahkan Rika, seorang manusia yang baru saja dikenalnya itu pun, mampu bergerak jauh lebih cepat darinya.


'Klaaangg! Blaaarr! Zraaasshh!'


Setiap kali tubuhnya terkena tebasan dari pedang hitam itu, Iblis itu menjadi semakin lemah. Sedikit demi sedikit.


Begitu pula dengan tubuh Aaron. Hanya saja, efeknya sedikit tak terasa karena Runic Sword miliknya mampu meningkatkan kekuatan Aaron.


'Zraasshh!'


Hanya saja, ada satu hal yang cukup mengganggu Aaron saat ini.


'Kenapa dia tak mengeluarkan sihir api yang sama seperti sebelumnya? Apakah dia tak lagi bisa melakukannya?' Pikir Aaron dalam hatinya.


Tapi Ia menganggap kejadian ini sebagai sebuah kesempatan emas. Tanpa adanya tekanan api yang sekuat sebelumnya itu, pedangnya mampu menembus kulitnya yang cukup keras itu.


Dengan serangan bertubi-tubi itu, Aaron berhasil sedikit menyudutkan lawan terberatnya selama di dunia manusia ini.


Lawannya menjadi semakin lemah. Bagaimanapun, Aaron sangat yakin bahwa Iblis yang ada di hadapan Aaron ini hanya merasuki tubuh manusia yang sebelumnya. Semua itu didasarkan pada perubahan tubuh dan sifat lawannya yang cukup drastis.


Sehingga meski keturunan Api Aznor sekalipun, Ia takkan mampu mengeluarkan seluruh kekuatannya hanya melalui tubuh manusia yang dikendalikannya itu


Pertarungan terus berlanjut. Setiap tebasan yang diayunkan, kedua belah pihak menjadi semakin lemah. Luka di tubuh Aaron pun mulai terlihat jelas. Baik itu luka cakar maupun tubuh yang mulai terbakar.


Bantuan dari Rika sama sekali tak terlihat. Padahal Ia barusan mengatakan untuk menahan Iblis ini hingga Ia bisa mengalahkannya.


Tapi Aaron tak lagi peduli dengan pikiran negatifnya. Apa yang bisa dilakukannya saat ini adalah percaya kepada rekannya. Sebuah hal yang baru saja dipelajarinya ketika tiba di dunia ini.


Pada saat Aaron berhasil menekan Iblis itu dengan sangat kuat....


Senyuman yang lebar terlihat di wajah Iblis berkulit merah itu.


"Kukuku.... Matilah kau!" Teriak Iblis itu dengan keras. Pada saat itu juga, tekanan api yang kuat itu kembali muncul. Menahan serangan Aaron hingga tak mampu untuk menyentuh kulitnya sekalipun.


Bersamaan dengan itu, ledakan yang sama besarnya seperti yang sebelumnya kembali meledakkan tubuh Aaron.


Kedua lengan dan pedangnya kembali terlempar jauh entah kemana bersama dengan kedua pedangnya. Dan kali ini, bagian dadanya terluka sangat parah hingga sedikit terbuka.


"Kukuku.... Kau lemah sekali, manusia."


Pada saat itulah....


'Jlebbb! Jleebb! Jlebbb!'


Puluhan, atau mungkin ratusan lebih pisau kecil dengan warna hitam mulai terbang dan menancap ke tubuh Iblis itu dari berbagai arah.


Pisau itu nampak dilumuri oleh suatu cairan dengan warna hitam keunguan.


"Gaaahh! Kalian pikir bisa membunuhku de...."


'Deg! Deg!'


Hanya sesaat saja. Tapi setelah terkena serangan pisau itu di seluruh bagian tubuhnya yang telah terluka dan terbuka itu, Iblis itu merasa bahwa jantungnya mulai berhenti bekerja.


Bahkan seluruh tubuhnya tak lagi mampu untuk digerakkan.


'Brukk!'


Tak kuasa untuk menahan seluruh tubuhnya, Iblis itu pun jatuh tersungkur ke tanah. Bahkan api yang menyelimuti sebagian tubuhnya itu pun mulai padam.


Pada pandangan terakhirnya sebelum kegelapan memenuhi penglihatannya, Ia melihat sosok seorang wanita dengan pakaian serba hitam yang mendekati tubuhnya dengan membawa sebuah pisau hitam yang memiliki alur berwarna biru yang indah.


Tak ada sepatah kata pun darinya. Hanya kedua tangannya yang menusukkan pisau itu di seluruh anggota badan Iblis itu.


Sebuah pisau dengan racun yang mampu menghentikan seluruh gerakan dari Iblis itu untuk beberapa saat.


Meski begitu, wanita yang tak lain adalah Rika itu menghindari semua titik vital lawannya.


"Aaron, kita akan bawa dia ke markas dan selidiki. Kita tak berjuang sejauh ini hanya untuk membunuhnya." Ucap Rika dengan tenang setelah berhasil melumpuhkan Iblis itu sepenuhnya.


Sesaat setelah perkataan itu....


"Buahahaha! Perjuangan yang cukup menarik bagi manusia! Tapi sayang sekali aku takkan menyerahkan tubuh boneka ini! Sebagai hadiahnya, matilah bersama tubuh ini!" Teriak Iblis itu dengan keras sambil tertawa puas.


"Rika.... Kurasa ini sedikit bahaya...." Ucap dengan tubuh yang penuh luka itu.


Tanpa mempertanyakan ataupun meragukan, Rika segera bergerak ke arah Aaron berada lalu membawanya bersamanya untuk kabur dari tempat ini.


Sebuah keputusan yang sangat bijak.


Api di seluruh tubuh Iblis pun mulai membesar dan terlihat seakan siap untuk meledak kapan saja.


Hingga akhirnya, sebuah ledakan yang dapat terlihat hingga jarak lebih dari 10 kilometer itu pun terjadi.