Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 32 - Penempaan



"Kau.... Apa yang baru saja kau bilang?" Tanya Aaron sambil memberikan tatapan yang cukup tajam.


Anton sendiri cukup kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Aaron. Membuatnya terdiam selama beberapa saat tanpa mampu untuk memberikan jawaban.


Sementara itu, Hendra telah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa setiap kali dia terganggu dalam makannya, hal yang buruk selalu terjadi?" Tanya Hendra pada dirinya sendiri.


"Komandan, jangan patah semangat!" Teriak Alice seakan menyemangati Hendra untuk menghadapi semua ini.


Kembali kepada keadaan Aaron....


"Oi, aku tanya apa yang baru saja kau bilang. Apakah kau benar-benar memanggilku Nak? Kau pikir aku anak kecil?" Tanya Aaron sambil segera berdiri dari kursinya.


Ia menghadap langsung ke wajah Pria tua yang setengah botak itu. Tak ada sedikitpun keraguan dalam tatapannya. Sama seperti singa yang siap untuk menerjang mangsanya.


"Yah.... Itu karena aku sedikit lebih tua darimu? Tapi kau benar-benar orang yang tak bisa diajak bercanda ya." Balas Anton sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tak ada satu orang pun yang ingin mengalah dari pemikiran mereka.


Di satu sisi, secara fisik Anton memang jauh lebih tua daripada Aaron.


Tapi di sisi lain, Aaron sendiri telah berusia lebih dari 1000 tahun. Meski begitu, penampilannya masih sama seperti manusia yang berada pada umur 20an.


Pada akhirnya setelah saling memelototi selama beberapa menit, Aaron pun mengalah.


"Hah, sudahlah. Jadi apa maumu?" Ucap Aaron sambil kembali duduk untuk menikmati secangkir teh. Atau cangkir tehnya yang ke 8.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Komandan Hendra dan segera bekerja tapi, kau memiliki energi sihir yang menarik ya?" Ucap Anton sambil memberikan senyuman.


"Ah, itu benar juga. Bagaimana jika kau mengukur kekuatan sihirmu disini, Aaron? Tempat ini memiliki fasilitas yang memadai untuk itu." Timpal Hendra yang berusaha sekuat tenaga untuk meredakan situasi ini.


"Mengukur kekuatan sihir? Apa gunanya? Aku tak mau. Terlebih lagi, apakah benar Pria tua ini bisa membuat senjata?" Ucap Aaron menepis perkataan Hendra.


Mendengar hal itu, Anton merasa tertantang untuk menunjukkan kemampuannya. Dengan segera, Ia menawarkan Aaron mengenai senjata seperti apa yang dia inginkan.


Sedangkan Hendra di sisi lain sedang menerima luka mental yang cukup dalam oleh perkataan Aaron.


"Ikut denganku." Ucap Anton sambil memandu jalan mereka.


Tujuannya adalah ke dalam sebuah ruangan dengan sebuah mesin hidrolik di atas sebuah meja penempa yang terbuat dari baja itu.


Di sekeliling ruangan ini dipenuhi dengan fasilitas pendukung dalam proses penempaan. Tungku api yang sangat panas, air dingin, serta lemari yang berisi berbagai macam alat dan bahan.


"Silakan pilih bahan mana yang akan kau gunakan. Aku sendiri menyarankan penggunaan baja tempa dengan imbuhan Tungsten dan titanium untuk meningkatkan daya tahan dan kekuatan. Hanya saja hasilnya akan cukup berat. Jika kau ingi...."


"Kalau begitu itu saja. Aku hanya butuh sesuatu yang cukup kuat untuk memenggal Iblis. Jika bisa sebuah pedang." Balas Aaron sambil melihat-lihat sekeliling, sama seperti Hendra dan juga Alice.


Berapa kali pun Aaron melihatnya, Ia masih merasa sangat kagum dengan teknologi yang ada di dunia modern ini.


"Oke.... Silakan tunggu sebentar."


Anton segera mengambil beberapa bahan dan mulai melelehkannya ke dalam tungku api itu. Api yang terbuat dari gas itu sangat panas. Jauh lebih panas jika dibandingkan dengan apa yang digunakan oleh pandai besi di jaman Aaron.


Setelah logam itu leleh dengan baik, Anton mulai menuangkannya ke sebuah cetakan kayu. Bentuknya saat ini masih cukup kasar. Logam itu bahkan masih berwarna merah menyala karena belum sepenuhnya dingin.


Pada saat itulah....


'Klaaaangg!!! Klaaangg!!!"


Beberapa saat berlalu dengan penempaan itu. Setelah terlihat sedikit mendingin, maka Anton akan memasukkannya kembali ke dalam tungku api. Kali ini dengan campuran logam yang lainnya.


Proses penempaan ini dilakukan secara berulang-ulang hingga beberapa jam.


Hendra dan juga Alice yang telah merasa bosan dan tak tahan dengan hawa panas yang ada di ruangan ini pun telah lama pergi.


Sedangkan Aaron?


'Luarbiasa! Teknik penempaan seperti ini.... Digabungkan dengan teknologi di jaman modern ini....' Pikir Aaron dalam hatinya tanpa bergerak satu langkah pun dari posisinya.


Ia terus menerus memperhatikan cara kerja Anton dengan seksama. Tanpa sedikitpun melewatkan detailnya.


Hingga akhirnya, setelah lebih dari 4 jam....


"Fuuuh.... Tahap pertama selesai." Ucap Anton sambil memperhatikan sebuah pedang dengan bilah berwarna perak yang cukup cerah serta gagang berwarna keemasan.


Tapi ada satu hal yang janggal. Yaitu di bagian tengah bilah pedang itu memiliki warna hitam.


Merasa penasaran dan melihat bahwa Anton sendiri telah terlihat cukup senggang, Aaron pun segera bertanya.


"Maaf, tapi bagian tengah bilah pedang itu.... Kenapa kau membuatnya seperti itu?" Ucap Aaron.


"Hoo, kau menyadarinya ya? Apakah kau sudah pernah menempa pedang sebelumnya?" Tanya Anton dengan wajah yang antusias.


"Ya, beberapa kali. Ini adalah satu-satunya yang selamat hingga sekarang." Ucap Aaron sambil memperlihatkan pedang hitam yang usang di pinggang kirinya.


Anton sama sekali tak meremehkan wujud dari pedang usang itu. Sebuah pedang yang bahkan pernah dibuang Alice ke tempat sampah karena wujudnya yang buruk.


Dengan tatapan matanya yang cukup tajam, serta pengalamannya dalam penempaan selama ini, Anton menyadarinya.


"Pedang ini, pedang sihir ya? Nampaknya kau telah membunuh banyak sekali iblis dengan pedang ini. Tapi entah kenapa, aku tak bisa mengukur kekuatan sihir pedang ini meskipun aku tahu pedang ini memancarkan energi sihir." Ucap Anton sambil membenahi kacamata anehnya yang hanya ada di mata kanannya.


"Yah, begitulah. Jadi, apa jawabanmu?"


"Hahaha! Kau tidak sabaran sekali ya? Baiklah-baiklah, aku akan memperlihatkannya." Balas Anton sambil segera meletakkan pedang itu di sebuah meja dengan banyak alur aneh berwarna biru.


Segera setelah itu, Anton mengambil beberapa batu sihir yang juga memiliki warna biru yang cukup indah.


"Kristal Mana?! Bagaimana kau bisa memiliki benda itu?!" Teriak Aaron dengan penuh rasa terkejut.


Kristal Mana itu sendiri merupakan perwujudan padat dari energi sihir. Keberadaannya tentu saja sangat langka. Tapi Anton membawanya seakan itu adalah benda murahan.


"Hmm? Aku tak paham dengan apa yang kau maksud tapi lihat saja."


Anton segera meremukkan kristal Mana itu dan menyebarkannya di atas bilah pedang itu.


Tak lama kemudian, Ia mulai menggunakan semacam sihir yang cukup rumit. Salah satu sihir modern yang didasarkan atas sihir kuno, Rune.


Alur aneh yang seakan membentuk suatu huruf itu mulai muncul di bagian tengah bilah pedang itu dengan warna biru yang indah.


Melihat hal itu saja sudah cukup untuk membuat Aaron merasa sangat terkejut.


'Yang benar saja?! Penggunaan sihir kuno untuk menempa?! Dunia ini benar-benar menarik tapi....'


Senyuman yang tipis terlihat di wajah Aaron setelah memahami atas apa yang ada di hadapannya