Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 15 - Latih Tanding



...-- Pusat Kebugaran Silver Guards --...


Di dalam sebuah bangunan pusat olahraga ini, terlihat banyak orang sedang melakukan latihan mereka masing-masing.


Puluhan orang nampak berlari mengitari lapangan. Sedangkan beberapa yang lainnya terlihat sedang melatih tubuh mereka di dalam fasilitas gym yang ada.


Sementara itu di sisi samping gym ini....


"Alice.... Aku ingin pedangku kembali." Ucap Aaron sambil memberikan tatapan yang mengerikan.


"Te-tenang saja.... Kita sedang berjalan ke arah gudang tersebut...." Balas Alice dengan suara yang gemetar. Apa yang ada di dalam hatinya sangat mudah dibaca oleh siapapun.


'Kumohon! Kumohon pedang itu jangan sampai hilang!!'


Itulah yang ada di dalam pikiran Alice sambil membuat wajah yang dibanjiri keringat dingin.


Ketika mereka berdua berjalan melewati puluhan orang yang sedang berlatih, beberapa orang nampak mulai menggosipkan mereka berdua.


"Oi, bukankah itu anggota baru yang bernama Aaron?"


"Ya, aku baru saja mendengar kisahnya yang mengalahkan Sea Serpent sendirian."


"Sendirian?! Bukankah itu terlalu berlebihan untuk sebuah kebohongan?!"


Tapi seperti biasa, Aaron sama sekali tak memperdulikan bahasan sepele seperti itu. Baginya, membasmi iblis adalah segalanya.


Jika tidak bisa melakukannya, maka Ia hanya akan terbuang. Sama seperti....


"Aaron! Aku menemukan pedangmu!" Teriak Alice dengan keras sambil menunjuk ke sebuah tong sampah.


"Alice kau.... Bukankah ini sebuah tong sampah?" Ucap Aaron sambil berjalan mendekati tong sampah itu. Tatapannya menunjukkan ekspresi jijik yang begitu jelas kepada wanita yang ada di hadapannya.


"Bu-bukan begitu! A-aku sama sekali tida.... Ah! Benar! Tempat sampah ini sebenarnya adalah sebuah kotak penyimpanan." Balas Alice dengan sangat gugup.


Ia berusaha untuk mengambilkan pedang hitam yang usang itu tapi....


"Alice. Jangan menyentuhnya terlalu lama." Ucap Aaron yang segera merebut pedang usang itu.


"Eh? Kenapa?"


"Ini adalah pedang yang terkutuk. Orang selemah dirimu hanya akan terluka jika menyentuhnya terlalu lama."


Ekspresi wajah yang sangat kesal tergambar dengan jelas di wajah manis Alice. Aura dingin juga mulai keluar dari tubuhnya.


"Aku akui pedang itu memang sedikit lebih berat.... Tapi bukankah perkataanmu itu terlalu berlebihan?"


Tatapan Alice yang diarahkan kepada Aaron terlihat begitu mengintimidasi. Akan tetapi....


"Tidak percaya? Kalau begitu ayo latih tanding sebentar. Aku akan mengabulkan seluruh permintaanmu seumur hidup jika kau bisa mengenaliku satu kali saja." Ucap Aaron sambil terus memperhatikan pedang usangnya itu


"Kau sadar apa yang telah kau katakan?! Aku akan membuatmu menyesal telah mengatakan hal itu!"


Kemudian....


Pertandingan persahabatan antara mereka berdua pun dimulai.


Semua orang yang sedang berlatih mulai menyingkir dari tengah lapangan ini. Bukan karena takut mengganggu, tapi mereka sangat tertarik dengan hasil pertandingan ini.


"Kudengar Aaron memberikan batas waktu satu jam kepada Alice untuk menyerangnya."


"Apa kau bilang? Satu jam?!"


"Pada saat itu, Aaron sama sekali takkan menyerangnya."


"Bukankah meremehkan juga ada batasannya?! Lawannya adalah Hunter tingkat A! Apakah dia sadar akan hal itu?!"


Begitulah komentar dari para penonton yang telah berkumpul di tempat ini.


Pada saat itu juga, Hendra telah datang bersama dengan beberapa Pria berpakaian jas laboratorium. Tujuannya adalah meminta Aaron untuk melakukan identifikasi kekuatan yang dimilikinya.


Tapi nampaknya....


"Melihat hasil pertarungan ini sudah cukup mewakili, ya?" Ucap Hendra sambil mulai menyalakan rokoknya.


Di tengah lapangan itu....


Sedangkan di sisi lain....


"Seranglah aku seperti kau ingin membunuhku." Balas Aaron singkat sambil melipat celana jeans miliknya yang terlalu panjang.


Pakaiannya hanyalah kaos yang tertutupi oleh baju berwarna hitam serta sebuah sandal jepit dengan warna dasar putih dan hijau. Tentu saja memiliki merk yang terkenal.


Sedangkan di bagian kiri pinggangnya, terdapat sebuah pedang hitam yang masih berada di dalam sarungnya yang tak kalah lusuh.


"Dua belah pihak sudah siap? Tiga, dua, satu, mulai!" Teriak wasit yang secara tiba-tiba muncul di tengah lapangan ini.


'Tap!'


Alice dengan bantuan sihir esnya melompat dan melesat dengan sangat cepat ke arah Aaron.


Pikirannya sangat sederhana.


'Kau bilang aku hanya perlu mengenaimu kan? Kalau begitu coba hindari semua ini!'


Tangan kiri Alice membuat sebuah bongkahan es yang cukup besar. Tapi tak berhenti di situ. Ia justru membuat bongkahan es itu remuk dan menjadi serpihan-serpihan yang kecil.


Daya hancurnya memang akan menurun secara drastis.


Tapi untuk misi kali ini....


'Spraaaaassshhh!!!'


Ribuan pecahan es dengan ukuran yang kecil itu mulai melesat ke arah Aaron yang sedang berdiri dengan tenang. Serangan itu mampu mencakup area yang sangat besar dan cukup jauh. Membuat peluang menghindari semuanya sangatlah mustahil.


Pada saat itu juga, senyuman yang lebar terlihat dengan sangat jelas di wajah Alice.


'Kau takkan mungkin bisa menghindarinya, Aaron! Sekarang aku akan mengalahkanmu dan....'


Pikiran Alice secara tiba-tiba berubah setelah melihat apa yang terjadi.


Tekanan angin yang cukup kuat terlihat mengelilingi tubuh Aaron. Menghempaskan apapun yang mendekatinya.


"Pertama kali melihat sihir angin?" Tanya Aaron sambil memasang wajah yang cukup mengesalkan.


Tak cukup sampai di situ, Aaron justru berjalan menjauhi pusat lapangan pertandingan dan mendekati seorang Pria bertopi biru itu.


"Permisi. Aku mau beli dua bungkus susu murni."


Alice yang masih syok dengan tingkah tenang Aaron sebelumnya, kini jauh lebih terpukul setelah melihat lawannya justru membeli minuman.


"Kau.... Jangan menggunakan orang lain sebagai tamengmu!" Teriak Alice kesal melihat tingkah Aaron.


"Apakah kau tidak bisa lihat aku sedang membeli susu? Serang saja aku sesuka hatimu. Aku akan selalu melindungi orang lain dari efek samping seranganmu. Ah, jadi totalnya 10.000 rupiah ya?" Jelas Aaron panjang lebar sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.


Mendengar hal itu, Alice tak lagi ragu untuk menahan kekuatannya.


Ia dengan cepat menyelimuti dirinya sendiri dalam aura es yang sangat kuat. Bahkan cukup kuat untuk membekukan tanah di sekitarnya.


'Zraaaattt!!!'


Dengan kecepatan yang hampir tak bisa diikuti oleh pandangan mata, Alice bergerak ke arah Aaron dan bersiap untuk menebas lehernya.


Akan tetapi...


'Klaaaangg!!'


'Blaaaarrr!!!'


Tekanan angin serta suhu dingin dari serangan Alice itu sendiri justru terpental ke belakang. Membuat dirinya sendiri terlempar menjauhi sosok Aaron.


'Apa yang terjadi? Barusan aku merasa seperti mengenai sesuatu....'


Seakan memahami apa maksud dari wajah bingung yang dibuat oleh Alice, Aaron dengan senang hati segera menjelaskannya sambil duduk di tengah lapangan itu.


"Kekuatanmu terlalu lemah untuk menembus perisai sihir anginku. Itu saja. Ah ngomong-ngomong, terimakasih telah mendinginkan susu segar ku." Ucap Aaron sambil tersenyum dan memamerkan dua plastik susu segar di kedua tangannya.


Pertandingan pun berlangsung kembali, dengan Aaron yang terus menikmati susu segar itu....


Serta Alice yang semakin putus asa setiap kali Ia mengayunkan pedangnya.