Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Ending 2 - Bliss of Ignorance



...-- Oracle --...


Thiria tiba di tanah para keturunan naga bumi. Mereka semua memiliki penampilan seperti Draconic pada umumnya. Hanya saja tubuh mereka lebih pendek dan lebih besar.


Para tetua dari Oracle ini adalah sekumpulan keturunan naga bumi yang telah hidup selama lebih dari ribuan tahun.


Tubuhnya terlihat begitu rapuh. Pandangannya tampak begitu kelelahan. Meski begitu, tiga dari tetua Oracle ini masih duduk dengan tegap di hadapan salah satu jelmaan dari keputusasaan itu sendiri.


"Wahai Thiria.... Apa yang kau mau di tanah dewa kami?" Tanya salah satu Oracle yang ada. Ia memiliki kulit bersisik dengan warna kuning kecoklatan. Pakaiannya adalah sebuah jubah putih kecoklatan yang cukup panjang hingga menyentuh tanah.


Dengan langkah yang perlahan, Thiria pun segera mendekat ke arah Oracle tua itu.


"Aku ingin kau menjelaskan ini padaku." Jelas Thiria sambil menempelkan tangan kanannya ke wajah Oracle itu.


Seketika, pandangan dan pendengaran yang dirasakan oleh Thiria selama ini tersalurkan ke orang lain.


Sikap terkejut dapat terlihat dengan jelas dari wajah Oracle tersebut. Seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya.


Setelah beberapa menit, Thiria melepaskan pegangannya dan segera berjalan mundur. Menanti jawaban dari Iblis tua itu.


Tapi apa yang diperolehnya hanyalah sebuah tatapan ketakutan yang begitu mendalam. Bukan pada Thiria. Tapi kepada sosok yang dilihatnya di dalam pandangannya.


"Thiria.... Bagaimana bisa kau melihat sesuatu yang belum pernah terjadi di dunia ini? Bahkan kastil tempatmu duduk dalam penglihatan itu, sama sekali belum dibangun. Setidaknya hingga 800 tahun kedepan. Apakah kau juga memiliki kemampuan yang sama seperti para Naga Bumi?" Tanya Oracle tua itu dengan perasan bingung.


Thiria pun terkejut untuk mendengar bahwa apa yang dilihatnya adalah penglihatan di masa depan. Tapi 800 tahun lebih?


Apakah hal itu mungkin terjadi?


"Jika aku tahu hal itu, dan punya kekuatan yang sama seperti kalian, maka aku takkan pernah datang kemari." Balas Thiria dengan cukup sinis.


Para Oracle pun menyadari hal itu. Tapi mereka tetap saja tak bisa memahaminya.


Apa yang mengganggu pikiran mereka, adalah sebuah kenyataan. Bahwa Pria yang sedang berlutut di hadapan Thiria, telah melampaui batasan waktu itu sendiri.


"Thiria. Pria yang ada di dalam pandanganmu, apakah kau yakin kau sama sekali tak mengenalinya?" Tanya Oracle yang lain.


Thiria hanya menggelengkan kepalanya sambil memberikan jawaban yang singkat.


Akhirnya, ketiga Oracle itu pun sepakat terhadap apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan memutuskan untuk memberikan jawabannya.


"Thiria, mengenai Pria yang berlutut di hadapanmu itu, Ia memiliki wujud yang sangat aneh. Kemungkinan besar, Ia adalah manusia." Jelas Oracle yang pertama.


"Tak hanya itu, keberadaan dari Pria yang muncul di dalam penglihatanmu itu selalu berubah setiap saat. Seakan-akan Ia telah melampaui konsep dari waktu itu sendiri." Jelas Oracle yang kedua.


Kemudian setelah mengatur nafasnya, Oracle yang ketiga pun memberikan tanggapannya.


"Thiria, keberadaan Pria itu sendiri adalah kerusakan dari dunia ini. Ia adalah sosok yang seharusnya tak ada di dunia ini. Dan kemungkinan terbesar, Ia adalah sosok yang seharusnya telah lama kehilangan jiwanya. Semua itu terlihat dari wujudnya yang semakin berubah setiap saat, sama seperti yang kau jelaskan.


Menurutku, pilihan terbaik bagimu adalah menemukan dan membunuhnya sesegera mungkin. Atau lebih baik, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kehadirannya saja sudah merusak aliran waktu di dunia ini." Jelas Oracle yang ketiga.


Akhirnya, Thiria pun memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Yaitu di masa depan yang setidaknya 800 tahun dari sekarang, dirinya akan bertemu dengan Pria berambut perak itu.


Dan Pria itu memiliki ikatan yang cukup kuat dengan dirinya hingga mampu membuat Thiria bisa melihat dan merasakan kehadirannya.


Terlebih lagi, kemungkinan besar, Pria yang dilihatnya itu mampu melintasi waktu. Sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi, Thiria pun segera meninggalkan tanah para Oracle ini dan pergi untuk mencari keberadaannya.


Senyuman yang lebar terlihat di wajah Thiria. Ia merasa sesuatu yang besar akan segera terjadi.


Tapi sayangnya, Ia mungkin takkan mampu mengingat apa yang telah terjadi saat ini jika memang Pria itu bisa melintasi waktu.


Oleh karena itu....


"Aku hanya perlu membuat sebanyak mungkin ikatan setelah bertemu dengannya. Dan menyelesaikan urusannya di waktu yang berbeda."


Aaron memutuskan untuk selamanya tinggal di dalam perpustakaan raksasa ini. Mencerna seluruh pengetahuan yang ada di dalamnya tanpa henti. Sambil sekaligus terus menerus melatih kemampuan sihirnya dan sesekali kemampuan fisiknya.


Pada kehidupan kali ini, Aaron benar-benar mengabaikan tugasnya sebagai seorang Ksatria Suci. Ia seakan tak lagi peduli atas nasib kedua dunia.


Baik itu dunia manusia yang akan segera hancur, ataupun dunia iblis yang akan hancur setelahnya.


Mengabaikan semuanya itu, Aaron hanya berdiam diri di dalam perpustakaan itu tanpa satu kali pun meninggalkannya.


Apa yang menjadi dasar dari keputusannya adalah betapa lemah dan tak berdayanya dirinya di hadapan para Penguasa Utama dunia Iblis.


Molrog di satu sisi bahkan tak perlu mengulurkan tangannya untuk mendirikan pasukan kematian.


Sedangkan Aznor di sisi lain hanya perlu melihat untuk menghancurkan apapun yang ada di hadapannya.


Menghadapi bahkan hanya dua dari keenam penguasa utama hanyalah bunuh diri bagi Aaron yang saat ini.


Entah berapa lama Aaron telah tinggal di tempat ini. Tapi hanya ada satu hal yang pasti, yaitu sebuah kenyataan dimana Ia bahkan belum mampu menyelesaikan semua buku yang ada di perpustakaan ini.


Sesekali, Ia melakukan percobaan-percobaan dengan berbagai sihir yang telah dipelajarinya. Tapi bahkan itu sekalipun tak mampu membuat dirinya kembali tersenyum.


Tepat setelah 1020 tahun semenjak kehidupannya yang kedua ini dimulai, dunia manusia telah hancur oleh para pengikut Aznor.


Peperangan yang besar terjadi antara jutaan penyembah Iblis dan para Hunter di berbagai dunia.


Kemenangan mutlak pun diperoleh para penyembah Iblis dengan meratakan seluruh dunia dan menyelimutinya dalam api abadi.


Menjadikan dunia manusia sebagai wilayah kedua yang dimiliki Aznor.


Hal itu pun membuat keseimbangan kekuatan antara 6 Penguasa Utama dunia Iblis runtuh.


Tahun ke 1739, Aznor berhasil mengalahkan satu dari 6 Penguasa Utama, yaitu Virxas, yang merupakan seorang penguasa Ilmu penciptaan.


Jutaan Golem yang dibuatnya tak bisa menahan seluruh kekuatan utama dari Aznor.


Segera setelah mengalahkannya, Aznor pun menyerap seluruh kekuatannya dan menjadikan dirinya bahkan jauh lebih kuat dari Thiria sekalipun.


Nasib dari dunia Iblis ini akhirnya sudah semakin jelas. Apa yang menanti, adalah sebuah kehancuran dalam tatapan mata Aznor. Sedangkan yang dibutuhkan? Hanyalah penantian saja.


Sementara itu, Thiria yang terus menerus mencari keberadaan Aaron sama sekali tak berhasil menemukannya.


Semua itu berkat keahlian Aaron dalam sihir yang bahkan telah melampaui Pertapa Agung sekalipun. Ia berhasil memasang banyak sihir penyamaran dan pengecoh, semakin membuat dirinya sendiri sibuk dalam penyendiriannya.


Tahun ke 3184, Aznor telah secara resmi menaklukkan seluruh dunia Iblis ini. Membunuh keempat penguasa yang lain dan menyerap kekuatan mereka.


Menjadikan dirinya seperti Dewa yang menguasai seluruh dunia ini.


Sedangkan Aaron?


Ia masih sibuk dalam pendiriannya sendiri, tak pernah keluar untuk meninggalkan bahkan satu langkah pun dari perpustakaan itu.


Tahun ke 7814.


Pada saat ini, Dunia Iblis berada dalam kekacauan yang besar.


8 dari Mata Aznor yang sebelumnya melayaninya, berbalik arah dan melawan Tuan mereka sendiri.


Dunia pun kembali terseret dalam konflik berdarah selama 300 tahun lebih. Dimana pada akhirnya, Aznor memutuskan untuk memusnahkan dunia ini seutuhnya, jika Ia memang tak bisa menguasainya setelah 8 keturunannya berhasil menyudutkannya.


Aaron dan seluruh dunia ini pun binasa tepat di tahun ke 8142 setelah kebangkitannya kembali.


Bahkan hingga saat-saat terakhir....


Aaron sama sekali tak memperdulikan nasib dunia ini. Ia masih terus membaca buku yang ada di perpustakaan itu.