
...-- Kantor Utama Silver Guards --...
...- Yogyakarta -...
Di dalam ruangan yang cukup besar itu, kini telah dipenuhi oleh banyak orang. Seragam mereka semua mulai beragam. Ada beberapa kelompok yang mengenakan seragam berwarna merah. Ada juga yang mengenakan seragam berwarna hitam dan juga biru.
Tapi dari semua itu, seragam berwarna putih mendominasi di ruangan ini.
"Terimakasih karena kalian telah datang meskipun panggilannya sangat mendadak." Ucap Hendra sambil sedikit menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan Alice yang ada di sebelahnya.
Seorang Pria dengan seragam merah yang begitu mencolok pun segera menjawab.
"Hah! Aku akan memastikan untuk menarik biaya yang tinggi dari semua ini." Balas Pria yang tak lain adalah Satria itu sambil tersenyum lebar.
Berada di sampingnya merupakan 5 orang petinggi dari Guild Red Phoenix yang juga hadir untuk menjaganya.
Sementara itu....
"Tak perlu basa-basi, segera sebutkan tugasnya." Ucap seorang wanita dengan rambut yang diikat ekor kuda dengan poni yang berada di atas matanya.
Sebagian wajahnya nampak tertutupi oleh kain hitam hingga di bawah matanya. Sedangkan pakaian utamanya adalah kain berwarna hitam dengan beberapa lapis zirah ringan yang diwarnai menjadi hitam.
Nama sebenarnya dari wanita itu tak ada satu orang pun yang tahu. Bahkan tiga bawahannya yang juga hadir di sini. Meski begitu, Ia dipanggil dengan alias 'Rika' untuk mempermudah komunikasi.
"Terimakasih telah datang kemari, Rika dari Guild Black Blade." Balas Hendra dengan sopan. Tapi Rika hanya mengacuhkannya saja.
Sedangkan terakhir hanya ada dua orang dengan seragam berwarna biru yang indah. Bahan utama dari seragam mereka adalah kain tanpa adanya sedikitpun besi pelindung.
"Dimana Pria bernama Aaron itu? Apakah Ia tak hadir dalam rapat ini?" Tanya Wanita yang merupakan ketua dari Guild Southern Sea, Julia.
Ia memiliki rambut biru yang indah dengan wajah yang terlihat begitu dewasa. Tentu saja, kecantikannya tak lagi diragukan jika dipadukan dengan seragamnya yang menyerupai jubah itu.
Tangan kanannya nampak terus mengayunkan kipas tangannya meski ruangan ini sudah cukup sejuk karena adanya AC.
"Sayangnya kami sendiri tak bisa menghubunginya. Ponselnya rusak berkat pertarungan yang sebelumnya Ia hadapi sendirian." Balas Hendra sambil memasang wajah kecewa.
Seketika, semua orang yang berasal dari Guild lain itu pun terkejut bukan main.
Itu karena mereka tahu ancaman yang sebelumnya muncul di tengah kota ini merupakan iblis yang setidaknya berada di tingkat S. Bahkan, informasi telah disebarkan oleh Guild Silver Guards bahwa jumlah iblis yang muncul ada 2.
"A.... Apa kau bercanda, Komandan Wilayah?" Tanya Julia dengan wajah panik.
Begitu juga Satria yang memasang wajah yang sangat tegang.
'Aku tahu bahwa Pria bernama Aaron itu sangat kuat. Tapi mengalahkan dua ekor Iblis tingkat S sendirian?! Bahkan Hunter tingkat S sekalipun akan merasa kesulitan!' Teriak Satria dalam pikirannya sendiri.
Sedangkan Rika....
"Ya ya ya.... Aku tak peduli soal obrolan ringan kalian. Apa yang ku inginkan adalah misi. Katakan padaku, Komandan Wilayah. Misi seperti apa yang harus kami kerjakan." Balas Rika sambil menggenapi topik pembicaraan itu.
"Ah soal itu, aku ingin membagi beberapa tugas kepada kalian."
Hendra pun mulai menjelaskan semua rencananya secara mendetail. Mulai dari awal hingga akhir dengan bantuan layar LCD di belakangnya.
Pada intinya, Silver Guards akan lebih fokus melakukan penanganan mengenai keamanan Kota.
Karena telah diketahui bahwa Iblis bisa muncul bahkan tanpa adanya gerbang sekalipun, maka peningkatan jumlah penjagaan harus dilakukan. Baik itu tenaga kerja maupun jam kerja.
Oleh karena itu, Silver Guards akan kesulitan dalam melakukan pergerakan lain.
Sebagai gantinya, Guild Satria yaitu Red Phoenix akan memperoleh hak khusus untuk menjadi penakluk Dungeon tingkat C dan diatasnya jika muncul.
Sedangkan untuk Guild Southern Sea, mereka akan ditugaskan untuk membantu menjaga wilayah Selatan dari Provinsi ini. Itu karena markas utama Silver Guards cukup jauh dari bibir pantai. Membuat pergerakan menjadi tak begitu efektif.
Terakhir untuk Guild Black Blade, mereka ditugaskan untuk mencari pelaku dari kejadian kali ini.
Sejujurnya itu merupakan tugas yang paling berat dari semuanya. Sebagai gantinya....
"Aku bisa menganggarkan setidaknya 5 Milyar untuk Guildmu. Bagaimana?" Tanya Hendra singkat.
Tapi jawaban dari Rika....
"Jangan bercanda. Kau memberikan kami tugas hidup atau mati dan hanya membayar sekecil itu?
Jika teorimu benar bahwa ada seseorang yang memanggil Iblis itu kemari, bahkan memang sekuat itu, maka nyawa kami dalam bahaya yang besar. Jauh lebih besar daripada mereka berdua." Balas Rika sambil melirik ke arah Satria dan juga Julia.
Hendra juga menyadari hal itu. Tapi bahkan kedua Guild itu pun tak memperoleh bayaran. Hanya sebatas hak khusus terhadap Dungeon yang muncul, atau bantuan berupa tenaga dan perlengkapan.
Sedangkan Black Blade....
"Jadikan itu 20 atau kami akan segera pergi dari tempat ini." Ucap Rika yang telah berdiri dari tempat duduknya.
Pakaian ala ninjanya terlihat cukup mencolok meski memiliki warna yang gelap. Begitu juga dengan rekan-rekannya.
Seakan diberi bom waktu, Hendra mulai memikirkan hal ini dengan sangat keras. Ia tak tahu lagi Guild mana yang lebih cocok untuk menangani misi berbahaya itu.
Meskipun tak mempublikasikan peringkatnya, Rika dari Black Blade dikatakan memiliki kekuatan setara dengan Hunter tingkat S. Setidaknya dalam kemampuannya membunuh targetnya dengan cepat dan senyap.
Satria dan Julia yang mendengar perkataan Rika mulai menyipitkan mata mereka berdua. Seakan tak bisa percaya bahwa di kala sulit seperti ini wanita itu masih memikirkan mengenai uang.
"Oi, Rika. Aku tak peduli apa masalahmu tapi ini adalah masalah kita bersama. Jika kau masih memikirkan mengenai hal itu...."
"Apa? Kau akan melawanku?" Balas Rika singkat, memotong perkataan Satria.
Tentu saja nyali Satria sedikit menciut ketika melihat tatapannya yang penuh dengan hawa membunuh itu. Bahkan kedua tangannya nampak telah siap menarik dua buah pisau di pinggangnya.
"Sudahlah.... Jika kita tak bisa mengatasi masalah ini, maka seluruh wilayah Yogyakarta ini juga bisa hancur. Sama seperti kejadian di Negara tetangga kita." Jelas Julia dengan begitu meyakinkan.
Tapi perkataannya sungguh efektif untuk meredakan sikap Rika kepada Hendra dan semua orang.
Apa yang dimaksud oleh Julia adalah runtuhnya Ibukota Thailand, Bangkok oleh Iblis. Semua itu terjadi karena pertikaian antar para Hunter yang seharusnya bertugas menjaga Kota itu.
Meskipun.... Itu adalah kejadian beberapa tahun lalu dan kini Kota Bangkok telah berhasil direbut kembali.
Tapi tetap saja, luka sebesar itu masih membekas di wilayah Asia Tenggara.
Di saat semua orang sedang dalam keadaan yang tegang ini....
'Kreeek!'
Seseorang terlihat sedang membuka pintu ruangan ini. Dari balik pintu itu terlihat sosok seorang Pria yang cukup unik.
Ia mengenakan celana kain hitam yang sangat besar hingga membuat kedua kakinya tak lagi terlihat bentuknya, serta kaos yang terlalu besar untuknya.
Ditambah lagi, tangan kirinya membawa tiga buah kresek hitam. Sedangkan tangan kanannya membawa dua buah pedang dengan warna hitam dan juga putih.
"Ah maaf, aku terlambat ya? Tapi tenang, aku sudah hadir untuk membasmi iblis manapun!" Ucap Pria itu sambil tersenyum dengan gaya yang cukup sombong.
Semua kepercayaan diri itu karena kacamata hitamnya.
Siapa lagi jika bukan Aaron.