Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 11 - Hal Tak Terduga



...-- Kamar Aaron --...


...-- Asrama Anggota Silver Guards --...


Saat ini, Aaron tengah menghadapi sebuah musuh yang sangat kuat. Sebuah musuh yang sama sekali tak pernah Ia duga akan ada di dunia ini.


Wujudnya bahkan sangat sederhana dan kecil. Meski begitu, Aaron sekalipun tak sanggup melawannya.


"Buku sialan! Apa-apaan dengan instruksi aneh ini! Lagipula, kenapa mereka bisa menulis tulisan sekecil dan serapi ini?!" Teriak Aaron sambil membanting buku manual penggunaan ponsel pintar.


Ia telah berulang kali membacanya dan mempelajarinya dengan seksama. Tapi tiada hasil. Bagaimanapun Ia mencobanya, ponsel itu tak kunjung menyala.


"Sudah jelas bahwa aku telah menekan benda bernama tombol ini selama beberapa detik. Tapi kenapa tak kunjung menyala?!"


Merasa kalah dalam pertarungan ini, Aaron pun akhirnya menggunakan kartu terakhirnya.


"Tak ada pilihan lain selain ini.... Maafkan aku karena menggunakan cara yang buruk, wahai para Dewa."


Beberapa menit kemudian....


"Jadi setelah beberapa Minggu ini, kau masih belum bisa menggunakan ponsel itu?" Tanya Alice sambil memutar kursinya.


Ia terlihat sedang sibuk mengerjakan beberapa tumpukan berkas sambil menghadap sebuah komputer.


"Ma-maafkan aku...." Ucap Aaron sambil menyerahkan kardus yang berisi ponsel itu.


Alice segera membuka dan memeriksanya. Mungkin saja memang terjadi sesuatu yang menyebabkan ponsel itu tak mampu bekerja.


'Hmm? Dia benar-benar rapi dalam menata semua ini.' Pikir Alice dalam hatinya sambil tersenyum tipis ketika melihat isi dari kardus itu tertata dengan sangat rapi.


'Ctik! Ctik!'


Alice beberapa kali mencoba untuk menyalakan ponsel itu. Tapi nampaknya, hal yang sama juga terjadi pada Alice. Yaitu ponsel itu tak mau menyala.


"Apa kubilang! Benar kan! Aku sama sekali tidak salah! Ponsel itu pasti sudah rusak atau kerasukan iblis! Biarkan aku membasminya sebentar...."


Pada saat Aaron mengocehkan omong kosong itu....


Alice telah memamerkan layar ponsel yang telah menyala dengan latar belakang berwarna hitam. Gambar yang ada di layar itu hanyalah sebuah baterai besar dengan warna merah dan simbol petir.


Dengan wajah yang terlihat begitu kesal, Alice akhirnya berbicara.


"Ponsel ini sudah kehabisan baterai. Maka dari itu dia tak mau menyala." Ucap Alice sambil meletakkan ponsel itu di samping mejanya.


Aaron yang menyadari keteledorannya kali ini benar-benar merasa terpukul. Ia tak bisa percaya bahwa tahapan yang paling penting dalam menyalakan ponsel pintar, adalah memastikan bahwa baterainya masih ada.


Akhirnya, Aaron tertunduk di lantai dengan perasaan penuh kekalahan.


"Oh Dewa.... Maafkan aku yang bodoh ini. Aku akan belajar lebih banyak lagi.... Aku berjanji...."


"Jika sudah mengerti maka ambil ponselmu dan segera keluar dari ruangan ku. Maaf saja tapi aku masih banyak pekerjaan untuk meladenimu." Ucap Alice dengan nada yang dingin.


"Baiklah...."


......***......


Malam harinya....


'Dok! Dok! Dok!'


Seseorang nampak mengetuk pintu kamar Aaron beberapa kali dengan ketukan yang cukup keras.


"Aaron. Kau didalam? Ini Alice. Aku punya misi baru untukmu."


"Masuk saja." Balas Aaron singkat.


'Ceklek!'


Alice dengan segera memasuki ruangan Aaron. Apa yang ada di dalamnya jauh lebih rapi daripada yang Ia duga.


Jemuran yang belum kering sepenuhnya nampak berjejer rapi di beranda ruangan itu. Sementara itu, pakaian yang telah kering terlihat sudah dilipat dengan rapi meskipun belum di setrika.


Di bagian dapur, terlihat jejeran piring yang baru saja selesai di cuci di bagian samping wastafel itu.


'Aku sudah memikirkannya tapi, dia benar-benar cepat dalam belajar ya?' Pikir Alice dalam hatinya sambil memperhatikan bagaimana Aaron bisa menguasai beberapa alat-alat modern itu.


Tapi apa yang dicari olehnya adalah Aaron itu sendiri, yang saat ini sedang berada di kamarnya.


"A-apa yang?!" Teriak Alice terkejut dengan wajah yang memerah.


Apa yang dilihatnya adalah sosok Aaron yang hanya mengenakan celana pendek. Aaron terlihat sedang melakukan peregangan tubuh dimana sekujur tubuhnya saat ini telah dipenuhi keringat.


Bagi Aaron, ini adalah sebuah rutinitas untuk selalu melatih dan menjaga tubuhnya. Bersiap untuk segala macam ancaman yang mungkin akan datang padanya.


Tapi bagi Alice....


'Bukankah dia memiliki tubuh yang luarbiasa?!' Pikir Alice dalam hatinya sambil terus memandangi tubuh Aaron yang terlihat sangat terlatih itu.


Lekukan otot terlihat di sekujur tubuhnya. Meski begitu, ukurannya tidak terlalu besar. Justru berada pada ukuran yang tepat.


Akhirnya, Alice mulai tersadar setelah Aaron menghilang dari pandangannya untuk mandi.


Beberapa menit berlalu.... Alice akhirnya menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Aaron. Aku kemari untuk mengajakmu ikut bersamaku memburu Iblis." Ucap Alice yang telah kembali pada kesadarannya.


"Begitu kah? Lalu tunggu apalagi. Ayo berangkat sekarang."


"Eh? Kau tidak akan menanyakan apapun?"


......***......


...-- Kabupaten Bantul --...


...-- 22.18 --...


Alice membawa Aaron dengan menggunakan mobil kantor yang ada. Tak ada orang lain yang bersama mereka.


Selama perjalanan, Aaron juga tak banyak berbicara karena sibuk untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya. Sedangkan Alice? Ia terlihat sibuk mengendarai mobil itu sambil menghubungi seseorang.


"Ya, aku masih dalam perjalanan dengan kecepatan setinggi yang aku mampu." Ucap Alice pada Handsfree yang diletakkan pada telinga kirinya.


Pada speedometer mobil ini terlihat bahwa Alice melaju dengan kecepatan 90km/jam. Tujuannya? Yaitu Pantai Samas.


"Tenang saja. Aku membawa Aaron bersamaku. Ya. Meskipun itu Iblis tingkat [S] sekalipun, aku yakin Aaron bisa menanganinya dengan baik. Atau setidaknya, kami berdua bisa menahannya sampai bala bantuan tiba." Jelas Alice sambil terus mengemudi.


Perjalanan berlangsung dengan tenang tanpa banyak kendala.


Diluar dugaan Alice, Aaron saat ini terlihat lebih tenang daripada biasanya. Sewajarnya, Aaron pasti sudah berteriak untuk mempercepat laju mobil ini agar bisa secepat mungkin memburu Iblis.


Tapi kali ini....


'Entah kenapa, suasana malam hari ini cukup aneh. Apakah hanya perasaanku saja?' Pikir Aaron sambil memandang keluar jendela mobil itu.


Hingga akhirnya, mereka telah sampai di pantai Samas.


Pantai ini cukup sepi. Tak banyak objek wisata yang ada selain sebuah mercusuar di dekat bibir pantai ini. Angin laut yang kencang serta ombak yang mulai menerpa mereka berdua.


Pada saat mereka berdua sedang sibuk sendiri....


'Spraaasshh!'


Sesuatu nampak menyipratkan air di tengah gelapnya lautan di malam hari ini.


Aaron tiba-tiba diam terpaku menatap lautan malam yang gelap gulita itu.


"Aaron? Kau kenapa?" Tanya Alice sambil memperhatikan Aaron.


Pandangan Aaron terpaku ke arah Selatan. Tepatnya lokasi dimana sebelumnya terjadi cipratan air itu. Tanpa sedikitpun gerakan. Bahkan nafas sekalipun tak terdengar dari tubuh Aaron.


Secara tiba-tiba....


"Alice. Ini kabar yang sangat buruk. Aku minta kau segera menjauhkan semua warga dari tempat ini." Ucap Aaron sambil terus menatap di kedalaman lautan itu.


"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Alice dan juga Hendra yang masih berada dalam sambungan panggilan.


"Yang ku maksud adalah.... Iblis kali ini cukup kuat. Jika hanya ada satu atau dua takkan masalah. Tapi lebih dari itu.... mungkin saja akan menyebabkan kehancuran di tempat ini."


Segera setelah Aaron mengatakan hal itu....


..."KRAAAAAAAAAAAAAAA!!!"...


Raungan yang sangat keras terdengar dari arah lautan. Begitu juga dengan sosok yang sebenarnya dari Iblis ini.


"Datang juga, keturunan dari Leviathan."


Apa yang terlihat di kejauhan, adalah seekor Sea Serpent atau ular laut dengan tubuh yang sangat besar dan sisik yang sangat keras. Bagian atas tubuhnya terlihat memiliki sirip besar yang sepanjang seluruh tubuhnya. Dilihat dari bentuknya, sirip itu sangatlah tajam.


Jika makhluk itu mencapai daratan... atau membawa laut itu sendiri ke daratan....