Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 51 - Keseharian



"Buka halaman ke 27, pelajari dengan baik mengenai kuda-kuda yang dibuat." Ucap Gath sambil berdiri di hadapan sebuah meja. Sebuah meja dimana Aaron duduk dengan tenang membaca buku dengan sampul merah itu.


Jauh diluar dugaan Gath, Aaron adalah sosok yang sangat cerdas. Ia mampu mempelajari sebuah gerakan yang rumit hanya dengan tulisan dan gambar yang sederhana.


"Hmm.... Jadi begitu. Baiklah, aku akan mencobanya." Ucap Aaron sambil segera berdiri dari kursinya dan mengambil sebuah pedang kayu.


Pedang kayu itu memiliki ukuran yang menyerupai pedang satu tangan yang biasa digunakan olehnya.


Aaron berdiri di tengah sebuah lantai baja, menghadap ke sebuah boneka yang terbuat dari besi itu.


Kuda-kudanya sempurna. Sama persis seperti yang dimaksudkan dalam buku itu. Ia memegang pedang kayu itu dengan kedua tangannya di sisi kiri tubuhnya.


Setelah bersiap dan mengatur nafasnya....


"Haaat!!"


Aaron melesat ke depan dan mengayunkan pedangnya.


'Swwuuuoosshh!'


Tekanan yang sangat kuat timbul dari tebasan yang diayunkan oleh Aaron. Cukup kuat hingga mampu membuat beberapa kertas yang ada di sekitarnya berterbangan.


Akan tetapi....


"Hah? Aku tidak mengenainya?" Ucap Aaron pada dirinya sendiri setelah melihat hasilnya.


Aaron setidaknya satu langkah lebih jauh dari targetnya. Dan pedang kayu itu hanya menebas angin tanpa menggores sedikitpun dari boneka besi itu.


"Aaron.... Katakan padaku dua kesalahan yang kau lakukan." Ucap Gath yang berjalan secara perlahan dengan tongkat kayu itu sebagai tumpuannya.


Mendengar pertanyaan itu, Aaron dibuat cukup kebingungan. Ia sangat yakin bahwa posisi tubuh dan juga gerakannya sudah benar. Sama seperti yang dimaksud di dalam buku itu.


Tapi kenapa? Apa yang salah?


Melihat Aaron kebingungan, Gath pun memberikan sebuah petunjuk.


"Katakan, Aaron. Apa nama dari teknik berpedang ini?"


Hanya dengan kalimat itu, Aaron segera menyadari apa yang menjadi kesalahannya. Meski begitu, Ia tak hanya diam tanpa menjawab sosok yang kini telah menjadi gurunya itu.


"Seni berpedang ras Orc.... Benar juga, ini adalah seni berpedang bangsa Orc yang dikenal memiliki tubuh yang tinggi dan besar, termasuk menggunakan pedang besar dua tangan. Lalu aku...."


Setelah menyadari kesalahannya, Aaron kembali berjalan ke lokasi yang sebelumnya. Bersiap untuk kembali memberikan serangan.


Kedua tangannya memegang pedang itu dengan kuat. Kuda-kudanya kini sedikit mengalami perubahan. Aaron membuat postur dirinya sedikit lebih tegap daripada yang sebelumnya.


Sedangkan kaki kanannya digunakan sebagai tumpuan utama untuk melompat dan memperpendek jarak.


Setelah mengatur nafasnya, Aaron segera kembali melompat. Dan kini....


'Swuuusshh!! Klaaangg!! Kleetaakk!'


Aaron berhasil memperpendek jarak dengan sangat cepat. Bahkan jauh lebih cepat daripada dirinya yang dulu. Tak hanya itu, tebasannya benar-benar ringan dan tajam.


Tak banyak kekuatan yang terbuang ke berbagai arah. Semuanya fokus pada satu titik, yaitu tebasannya.


Hanya saja, pedang kayunya segera patah setelah mengenai boneka yang sepenuhnya terbuat dari besi itu.


"Hah.... Aku berhasil...."


'Plaakkk!'


Tongkat kayu dengan cepat memukul kepala Aaron tanpa ampun.


"Apanya yang berhasil! Kau setidaknya masih memiliki 4 kesalahan lagi! Segera perbaiki!" Teriak Gath dengan wajah yang marah.


"Hah?! Bukankah sebelumnya hanya ada dua?! Kenapa bertambah?! Lalu jangan memukul kepalaku! Berbeda dari sikapmu, pukulanmu cukup kuat kau tahu?!" Balas Aaron kesal.


Ia pun segera kembali pada posisinya yang sebelumnya dan bersiap untuk mengulangi gerakan itu kembali.


Sementara itu, tanpa Aaron sadari, Gath telah tersenyum dengan cukup lebar melihat perkembangan Aaron.


'Hanya sekali coba.... Tuan Muda, kau telah memilih orang yang tepat. Kurasa jika itu adalah dirinya, mungkin saja....' Pikir Gath dalam dirinya sendiri sambil perlahan duduk di sebuah kursi kayu yang ada.


Kini, apa yang harus dilakukannya hanyalah memastikan bahwa Aaron memiliki bekal yang cukup. Setidaknya untuk sedikit menyaingi para penguasa utama.


Latihan keras tanpa kenal lelah pun segera berlanjut. Dan kini, hal itulah yang menjadi keseharian Aaron.


......***......


Seorang wanita dengan rambut perak yang anggun itu terlihat sedang berjalan dengan tenang. Suara langkah kakinya terdengar menggema memenuhi ruang istana ini.


Bagi mereka yang cukup beruntung, mereka telah tergeletak di tanah tak bernyawa. Sedangkan mereka yang cukup sial untuk masih tetap hidup, harus bertahan sedikit lebih lama lagi atas keputusasaan yang ada di hadapan mereka.


"A-aku mohon.... Berikanlah aku ampunan.... Aku akan bersumpah setia padamu! Aku mo... Kughh!!!"


Sosok Iblis dengan tubuh yang memiliki sisik hijau serta sebuah ekor yang panjang itu segera terangkat. Mahkota emas yang ada di kepalanya pun terjatuh ke tanah, menggelinding hingga berhenti tepat di depan salah satu prajuritnya yang telah mati.


Dengan tangan kanannya, wanita itu mengangkat salah satu Raja Iblis dari ras Lizardmen itu semakin tinggi ke udara.


"Yang.... Mu... Lia.... Kumohon...."


Dengan seluruh kekuatannya, bukan perlawanan yang diberikan. Melainkan sebuah rengekan untuk memohon ampunan pada lawannya.


Sebuah sosok yang dikenal sebagai keputusasaan itu sendiri. Menemuinya sama artinya dengan kematian. Tak ada sedikitpun yang bisa dilakukan selain menerima kematian.


Bahkan di seluruh dunia iblis ini, tak ada satu iblis pun yang bisa menandinginya.


Itulah Thiria, salah satu dari keenam penguasa utama di dunia ini.


"Kadal, bisakah kau setidaknya berusaha untuk melawan?" Ucap Thiria dengan wajah yang datar. Tak ada sedikitpun ekspresi di wajahnya.


Tapi sekuat apapun Raja Iblis itu berusaha meronta, Ia tak bisa melepaskan cengkeraman tangan Thiria dari lehernya.


Bahkan cakarnya yang tajam itu berusaha sekuat tenaga untuk mencabik-cabik sosok Iblis yang menyerupai manusia itu. Tubuhnya terlihat begitu lemah. Meski begitu, seluruh cakarnya hanya patah setelah mengenai kulitnya.


Seakan ada kekuatan yang mencegah cakar itu mengenainya secara langsung.


"Aah.... Lemah sekali. Dan kau dianggap sebagai tingkat menengah? Yang benar saja, siapa yang memberikan peringkat itu padamu?" Ucap Thiria yang secara perlahan mulai memperkuat cengkeraman tangannya.


Tak selang berapa lama, Iblis dengan wujud yang menyerupai kadal itu pun mulai mengurangi perlawanannya. Gerakannya semakin melambat. Hingga akhirnya, bernafas pun tak sanggup Ia lakukan.


'Bruuukk!'


Thiria hanya melempar Iblis itu ke tanah dan membalikkan badannya untuk bersiap meninggalkan Istana ini.


Tapi tanpa Ia duga....


...'NGIIIIIING!!!'...


Telinganya mulai berdenging. Suara yang didengarnya cukup keras untuk membuat Thiria memejamkan matanya. Bersamaan dengan itu, pandangannya menjadi sedikit buram.


Kini apa yang dilihatnya adalah pemandangan sebuah istana dengan nuansa warna merah. Dengan banyak sekali api dan lava yang mengelilingi istana itu.


Kedua tangannya berusaha untuk menutupi telinganya. Tapi itu semua tak ada gunanya. Karena suara yang didengarnya bukan berasal dari luar.


Setelah beberapa detik, suara itu pun menghilang. Begitu juga dengan pandangan yang dilihatnya.


"Apa itu barusan? Kenapa akhir-akhir ini aku melihatnya?" Ucap Thiria pada dirinya sendiri. Ia merasa kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.


Sebelumnya, Ia juga mengalami hal yang sama setidaknya 4 kali. Suara dan pemandangan yang dilihatnya juga sama. Hanya saja, kali ini pemandangan yang dilihatnya jauh lebih jelas dari yang sebelumnya.


Setelah menghela nafasnya, Thiria pun kembali berjalan meninggalkan Istana itu. Ia tak ingin terlalu banyak memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi.


Tapi mungkin.... Ada sesuatu di balik kejadian itu?


Tepat setelah Thiria berada diluar, seluruh penjaga dan prajurit yang masih hidup secara tiba-tiba jatuh dan tergeletak di tanah.


Darah dari tubuh mereka nampak berusaha sekuat tenaga untuk keluar.


Dan semua mayat yang ada pun mulai mengering. Seluruh darah mereka bergerak ke arah yang sama, membentuk sebuah bola darah yang semakin lama semakin memadat.


Hingga akhirnya, ukuran bola darah yang sebelumnya sebesar rumah itu pun mengecil hingga cukup untuk ditampung dalam gelas kaca yang ada di tangan kanan Thiria.


'Glek! Glek!'


Ia meminumnya secara perlahan. Menikmati seluruh rasa yang ada di dalamnya.


"Hmm.... Kali ini sedikit lebih manis dari biasanya. Walaupun rasanya masih tetap pahit."


Dengan kalimat itu, Thiria melemparkan gelas kacanya ke udara yang secara misterius mulai memudar dan menghilang.


Kini, Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Untuk membunuh dan menikmati apapun yang ada di hadapannya selama perjalanan.


Tanpa memperdulikan apa dan siapapun mereka.