Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 53 - Pembelajaran



Kristal Mana.


Sebuah bentuk yang paling murni dari energi Mana itu sendiri.


Keberadaannya saja sudah merupakan suatu legenda. Tak banyak orang yang cukup beruntung untuk bisa melihatnya. Membuat Kristal Mana dianggap sebagai suatu benda yang hanya berada di dalam dongeng.


Hal ini dikarenakan untuk pembentukannya, membutuhkan banyak sekali kondisi yang begitu sulit untuk dicapai.


Yang pertama, Kristal Mana hanya dapat terbentuk di tempat yang tertutup atau sangat kecil. Itu semua untuk mencegah Mana yang ada bocor dan bergerak ke tempat yang lain.


Kemudian yang kedua, dibutuhkan energi Mana dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan dikatakan energi yang dibutuhkan setara dengan 100 tahun keluaran Mana penyihir agung.


Jika hanya dengan dua kondisi ini, maka banyak orang bisa menyimpulkan bahwa Kristal Mana bisa dibuat secara manual. Tapi pada kenyataannya tidak begitu.


Jika ada ruang untuk energi Mana bergerak dari penyihir yang ada di luar ke dalam tempat yang ditujukan untuk membuat kristal Mana, maka Mana yang ada di dalam ruangan tersebut bisa bocor ke tempat yang lain.


Sama seperti gas, Mana akan berusaha untuk memenuhi ruangan yang ada. Maka adanya sedikit saja celah akan membuat energi yang telah susah payah disalurkan akan bocor keluar.


Kemudian yang terakhir, kondisi yang ketiga.


Energi Mana yang dibutuhkan untuk menghasilkan Kristal Mana adalah energi yang murni. Tingkat kemurnian yang dibutuhkan yaitu setidaknya 95%. Kurang dari itu, maka Kristal Mana tidak akan terbentuk.


Sedangkan energi Mana yang dikeluarkan bahkan oleh penyihir yang paling berbakat dan paling terlatih sekalipun, hanya mampu mendekati angka 95%.


Untuk Aaron?


Kemurnian Mana yang bisa dialirkan olehnya saat ini hanya sebesar 10%. Dengan kata lain, 90% sisanya akan terbuang sia-sia ke tempat yang lain.


Hal itu merupakan berita yang buruk sekaligus berita yang baik.


Berita buruknya, tingkat penguasaan sihir Aaron masih sangat rendah jika dibandingkan dengan para penyihir.


Tapi sebaliknya, Aaron masih bisa meningkatkan kemampuannya ini dengan drastis. Yang mana bisa membuatnya semakin kuat secara signifikan.


"Kurasa kelas ilmu sihir untuk hari ini cukup sampai disini, Aaron." Ucap Gath sambil mulai menata tumpukan kertas yang ada di meja didekatnya.


Segera setelah itu, Gath terlihat menghapus kapur yang ada di papan tulis itu dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya berusaha menopang tubuhnya yang kian hari semakin melemah itu.


Tak jarang, Gath mulai batuk. Bisa dibilang kondisi kesehatannya sudah semakin menurun.


Wajar saja, Ia telah melatih dan mendidik Aaron selama lebih dari 30 tahun saat ini. Sebuah waktu yang sangat panjang bagi manusia. Tapi bagi Iblis, itu hanyalah sebagian kecil dari hidupnya.


Meski begitu, Gath adalah Iblis tua yang telah hidup selama lebih dari 800 tahun.


Iblis sekalipun juga tidak abadi. Mereka juga dapat mati atas faktor usia. Semua kecuali keenam penguasa utama dan para bawahan tertinggi mereka.


Sejarah setidaknya telah mencatat keberadaan mereka sejak 10.000 tahun yang lalu. Bisa jadi, mereka telah hidup jauh lebih lama dari hal itu.


"Gath, kau tidak apa-apa?" Tanya Aaron sambil membantu Gath untuk berjalan.


"Uhuk! Kughh! Tubuh tua sialan ini nampaknya mulai menyerah. Tapi sayangnya aku belum bisa mati sekarang." Ucap Gath yang menerima bantuan tangan kanan Aaron untuk berjalan.


Aaron segera mengantarkan Iblis tua itu untuk kembali ke kamarnya.


Sebuah kamar sederhana dengan ranjang kecil dan penerangan berupa batu sihir yang berwarna kuning.


Di sisi samping kamar itu, terlihat sebuah meja kayu dan rak yang dipenuhi dengan buku. Pena dan tinta yang ada terlihat berserakan bersamaan dengan kertas perkamen yang telah dicorat-coret itu.


Melihat hal itu, Aaron merasa sedikit penasaran mengenai apa yang sedang dikerjakan oleh Gath.


"Gath, apa yang sedang kau kerjakan?"


"Aah, itu? Hanya sebuah mantra yang gagal. Jangan terlalu pikirkan hal itu." Ucap Gath yang secara perlahan duduk di ranjang kayunya itu.


Aaron memberikan beberapa sihir penyembuh untuk meredakan penyakitnya. Tapi jujur saja, bahkan saat ini Aaron merasa bahwa hal itu sedikit sia-sia.


Sihirnya seakan tak mampu menyembuhkan apa yang sedang diderita oleh Gath.


"Aku akan membuatkan beberapa ramuan untukmu, Gath. Tak masalah jika aku mengambil beberapa tanaman di kebun bawah tanah itu kan?" Tanya Aaron yang telah berdiri dan siap untuk segera pergi.


Dengan suara yang lemas, Gath mencoba untuk memanggil sosok manusia itu.


"Aaron.... Uhhukk! Kuugghh!!"


"Gath. Beristirahatlah. Aku akan segera kembali."


Meski menyadari lawan bicaranya telah lama pergi, dan tak mungkin bahwa Ia akan bisa mendengarkan apa yang akan dikatakannya....


Tapi Gath tetap berbicara.


"Terimakasih...."


......***......


Di balik pintu kayu itu, secara samar-samar Aaron bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Gath.


Tanpa disadari, Aaron telah menggigit bibirnya sendiri. Kedua tangannya telah mengepal dengan keras seakan merasa sangat kesal.


"Gath.... Tenang saja. Aku pasti akan menyembuhkanmu."


Dengan cepat, Aaron segera pergi ke sebuah ruangan yang memiliki tangga kecil untuk pergi semakin jauh ke bawah tanah.


Apa yang ada di tempat itu adalah sebuah kebun yang begitu indah. Salah satu dari peninggalan Chronoa. Sebuah mahakarya, atau setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Aaron.


Bagaimana tidak, kebun bawah tanah ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat besar dalam dunia pengendalian sihir.


Puluhan bola cahaya berwarna kuning yang seukuran kepalan tangan itu bergerak kesana kemari. Mendekati tanaman satu demi satu, baik itu rumput, tanaman buah, hingga pepohonan.


Tak hanya menerangi, bola cahaya itu juga menyimpan energi sihir yang sangat kuat. Setidaknya cukup kuat untuk terus bekerja bahkan setelah pengguna sihirnya tiada.


Semua itu demi menggantikan keberadaan cahaya matahari yang ada di permukaan tanah. Yang pada kenyataannya sebagian besar hanyalah tanah tandus yang selalu hancur karena peperangan.


"Berapa kali pun dilihat, kebun ini sendiri merupakan keajaiban di dunia Iblis. Chronoa, pada kematian ku yang berikutnya, aku berjanji untuk menyelamatkanmu. Tunggu saja." Ucap Aaron pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Ia pun dengan segera bergerak untuk mencari beberapa bahan tanaman yang diperlukan untuk meracik sebuah ramuan obat-obatan.


Apa yang diambilnya adalah 3 lembar daun dari Blood Ivy, 2 buah dari jenis Red Berries, serta serbuk sari dari bunga Luna.


Membutuhkan hampir 20 menit bagi Aaron untuk mencari bahan yang terbaik. Tapi karena Ia telah berada di kebun itu, Aaron berencana untuk sekalian menyiraminya.


Ia menggunakan salah satu sihir air untuk membuat hujan ringan yang setinggi setengah dari badannya. Membasahi semua tanah yang ada disini.


Dengan senyuman, Aaron segera meninggalkan kebun ini setelah beberapa saat dan bersiap untuk mengolah ramuannya.


Aaron menghancurkannya dengan alat gerus lalu mengeringkannya dengan sihir api yang kecil.


Hasil kering yang diperoleh kemudian diseduh dalam air yang telah dicampur dengan bubuk dari biji Valica, sebuah biji yang menyerupai biji bayam.


Dengan api yang sedang, Aaron merebusnya terus menerus. Warna dari campuran itu secara perlahan berubah menjadi merah. Tepat setelah 30 menit, Aaron segera menghentikan perebusan dan mengambil air yang ada.


Menuangkannya dalam sebuah gelas kayu yang cukup kecil.


Baik gelas maupun sisa dari cairan itu, Aaron letakkan di sebuah nampan yang cukup besar.


'Dok! Dok!'


"Oi, Gath. Aku telah selesai membuatkanmu ramuan pereda batuk. Cepatlah bangun dan...."


'Kleetaakkk!!!'


Nampan yang dibawanya terjatuh ke tanah. Seluruh ramuan yang telah susah payah dibuat kini membasahi lantai kamar itu.


"Gath.... Kau bercanda kan?"


Kini, apa yang ada di hadapan Aaron, adalah sosok Iblis tua yang telah berubah wujud sepenuhnya.


Tubuhnya hanya tersisa tulang saja yang tertutupi oleh jubah coklat yang selalu dikenakannya itu.


Tongkat kayunya yang selalu berada di tangan kanannya untuk berjalan, kini telah tergeletak di tanah. Matanya yang telah tak lagi ada, kini hanyalah sebuah pancaran cahaya kehijauan di tengkoraknya.


Dan di atas semua itu, cahaya kehijauan dan asap hitam mulai menyelimuti tubuh Iblis yang bungkuk itu.


Dengan langkah kaki yang cepat, Iblis yang kini hanya tersisa tulang saja itu menerjang ke arah Aaron. Tak memperdulikan apapun yang telah dan akan terjadi padanya.


"Yang benar saja.... Molrog.... Kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk memakamkannya?"


Tanpa Aaron sadari, air mata telah mengalir dengan cukup deras membanjiri wajahnya.