
"Hmm? Apakah kau barusan menyebut namaku?" Ucap Thiria dengan bahasa Iblis. Wajahnya terlihat cukup terkejut karena manusia yang muncul di hadapannya justru mengenalnya.
Keringat dingin mulai mengalir di tubuh Aaron setelah menyadari siapa lawannya.
Oleh karena itu, Ia hanya memilih untuk tetap diam tanpa banyak memprovokasinya. Tubuhnya telah memasang kuda-kuda untuk bersiap bertarung. Sedangkan tangan kanannya telah berada tepat di dekat pegangan pedang hitam usang itu.
'Dari semua Iblis yang ada, kenapa aku harus bertemu dengannya?! Bukankah ini adalah gerbang tingkat A?! Kurasa alat pengukuran para petugas itu benar-benar tidak berguna!' Pikir Aaron dalam hatinya sambil memasang wajah yang tegang.
Sementara itu, Iblis bernama Thiria itu terlihat berdiri dari singgasananya dan mulai berjalan secara perlahan.
Perlahan tapi pasti, dengan tetap menjaga keanggunannya, Ia mendekati Aaron.
Hanya dalam satu kedipan mata.
"Jangan terlalu gugup seperti itu, wahai pahlawan." Ucap Thiria yang kini telah berada di belakang tubuh Aaron sambil tersenyum.
'Swuuussshh!'
Aaron menundukkan tubuhnya dan melakukan sebuah tendangan memutar yang sangat cepat dan kuat.
Tapi saat Ia melakukannya, Thiria tak lagi berada di belakang Aaron. Melainkan sudah kembali berjalan ke arah singgasananya, seakan serangan barusan sama sekali tak berguna dihadapannya.
'Sreett!'
Thiria terlihat mengibaskan gaunnya sambil membuat senyuman yang menawan sebelum kembali duduk.
"Katakan, wahai pahlawan manusia. Apakah kau ingin tetap hidup?" Tanya Thiria sambil memegang dagu dengan tangan kirinya. Kini dengan bahasa manusia.
Sedangkan tangan kanannya nampak menunjuk ke arah Aaron yang masih terdiam karena perasaan syok yang dialaminya.
"Apa yang kau mau?" Tanya Aaron tanpa sedikitpun menurunkan kewaspadaannya.
"Yang kumau? Aku tak tahu apakah manusia bisa memenuhinya tapi.... Aku hanya ingin bersenang-senang." Balas Thiria sambil membuat senyuman yang hangat.
"Bersenang-senang yang kau maksud?" Tanya Aaron sekali lagi untuk memastikannya.
Akan tetapi....
"Sebuah pertarungan hidup dan mati." Ucap Thiria yang telah berada di samping Aaron hanya dalam satu kedipan mata.
'Glek!'
Aaron menelan ludahnya sendiri.
Tentu saja, Ia sama sekali tak bisa mengabulkan permintaan itu.
"Wahai Ratu Iblis yang Agung, Thiria. Aku memohon ampunan kepada umat manusia, sebagai gantinya, aku akan melakukan apapun." Ucap Aaron yang dengan segera berlutut menghadap kepada Thiria yang telah kembali duduk di singgasana itu.
Mendengar perkataan itu, Thiria terlihat tersenyum puas.
"Hoo.... Jadi kau benar-benar tahu siapa diriku yang sebenarnya ya? Sikap yang bagus, wahai pahlawan manusia. Aku berjanji akan mengabulkan permintaanmu itu. Sebagai gantinya...." Balas Thiria sambil mengibaskan rambut hitamnya.
Dan lagi.
Thiria kembali muncul tepat di depan tubuh Aaron hanya dalam sebuah kedipan mata saja.
Tapi kali ini....
"Katakan padaku. Apakah diantara para manusia di dunia itu, ada yang cukup kuat untuk menghiburku?" Tanya Thiria sambil memegang wajah Aaron dengan kedua tangan putih pucatnya itu. Senyuman Thiria seakan tak pernah hilang dari wajahnya.
Aaron menelan ludahnya sekali lagi sebelum menjawabnya dengan segala yang telah diketahuinya di dunia modern itu.
Berkat ponsel pintar yang telah dikuasainya, Aaron berhasil memperoleh informasi mengenai berbagai Hunter terkuat yang ada di dunia.
Saat ini, hanya ada 4 orang Hunter dengan tingkat tertinggi yang pernah dicatat oleh sejarah yaitu tingkat [SS]. Sebuah tingkat spesial yang dibuat karena standar kekuatan biasa tak lagi mampu diterapkan pada mereka berempat.
Bahkan Aaron sekalipun mengakui dan mengagumi kekuatan dari keempat orang itu.
Satu-satunya penjelasan atas kekuatan mereka adalah berkah dari langit itu sendiri.
Dengan informasi itu....
Mendengar hal itu, Thiria nampak mendekatkan wajahnya ke arah Aaron. Mata merah darahnya mulai sedikit memancarkan cahaya.
Tatapannya cukup tajam karena saat ini sedang memeriksa kekuatan dari sosok manusia yang ada di hadapannya itu.
Pada akhirnya, Thiria tahu bahwa sosok manusia yang ada di hadapannya ini hanyalah seperti seekor semut yang mungkin secara tak sengaja bisa terbunuh olehnya. Terlebih lagi, Thiria tak merasakan adanya sedikitpun kebohongan dari perkataan Aaron.
Sedangkan Aaron sendiri?
Kini Ia telah menyerahkan nyawanya kepada takdir.
Aaron telah berusaha sekuat tenaga bukan untuk menjaga nyawanya sendiri. Tapi untuk menjaga keselamatan umat manusia.
Bahkan jika Thiria tak puas dengan jawaban itu, Aaron takkan ragu untuk menyerahkan nyawanya demi menjaga keselamatan dunia manusia.
Kenapa Ia percaya dengan Iblis?
Itu karena Aaron tahu, bahwa Iblis adalah pemegang kontrak yang paling bisa dipercaya. Selama dua belah pihak telah membuat kontrak darah, maka Iblis sekuat apapun takkan bisa mengingkari kontrak itu.
Hal itu juga yang dimanfaatkan oleh manusia di zaman modern ini untuk memperoleh kekuatan dari Iblis.
Tapi balasan dari Thiria sangatlah jauh dari perkiraannya.
"Aaah, begitu kah? Aku mendengar saat ini menyerbu dunia manusia adalah hal yang menyenangkan karena tak hanya memberikan para Iblis kekuatan, tapi juga hiburan.
Ternyata, hiburan para Iblis rendahan tetaplah hiburan rendahan ya? Kalau begitu, cukup sia-sia juga aku membunuh pemilik istana ini sebelumnya demi menemui pahlawan umat manusia." Jelas Thiria sambil membalikkan badannya dan berjalan secara perlahan ke arah singgasana itu.
Wajahnya terlihat dipenuhi dengan kekecewaan. Meskipun, hanya dalam beberapa detik saja setelah kembali duduk, kekecewaan itu segera hilang seakan tak pernah terjadi sebelumnya.
"Baiklah, karena manusia sama sekali tak menyenangkan, aku akan memenuhi permintaanmu. Membantai mereka takkan menyenangkan jika tak ada sedikitpun perlawanan. Segera ulurkan tangan kananmu." Ucap Thiria sambil mengulurkan tangan kanannya.
Pada saat itu juga, sebuah lingkaran sihir berwarna merah darah dengan pola yang cukup rumit muncul di telapak tangan kanan Thiria. Ia terlihat mengucapkan beberapa hal yang terlalu lirih untuk didengar.
Tapi hal yang paling jelas dari semua itu adalah setetes darah yang keluar dari telapak tangannya.
Segera setelah itu, saatnya telah tiba untuk mengucapkan tuntutannya.
"Aku, Ratu Iblis Agung Thiria, tak menginginkan apapun dari manusia. Sekarang giliran mu untuk mengatakan permintaanmu dalam kontrak ini." Ucap Thiria sambil mengarahkan lingkaran sihir itu ke tangan kanan Aaron.
"Aku, Aaron, menginginkan agar Ratu Iblis Agung Thiria tak pernah kembali menyerang dunia manusia." Ucap Aaron dengan suara yang terpatah-patah. Setetes darah juga muncul dari tangan kanan Aaron.
Ia sendiri ragu apakah meminta hal sebesar itu sama sekali bukan masalah. Tapi kontrak adalah kontrak. Jika Ia berhasil menyelesaikan kontrak ini, maka setidaknya....
"Aku, dengan darah sebagai bayarannya, menyetujui kontrak ini." Ucap mereka berdua secara bersamaan.
Segera setelah itu, lingkaran sihir itu terbelah menjadi dua dan kini terukir di pergelangan tangan kanan mereka.
'Aku berhasil! Aku berhasil memintanya untuk mundur dan tidak menyentuh dunia manusia untuk selamanya!' Pikir Aaron dalam hatinya.
Sementara itu....
"Terimakasih, wahai pahlawan manusia. Kau telah menyelamatkanku dari pemikiran bodoh untuk menyerbu dunia manusia. Sekarang, aku mempersilakan dirimu untuk meninggalkan tempat ini sebelum aku menutup gerbangnya." Ucap Thiria dengan suara yang begitu merdu.
"Terimakasih banyak atas kebaikan Anda, wahai Ratu Iblis Agung Thiria. Aku, Aaron, takkan pernah melupakan hal ini."
Dengan kalimat terakhir itu, Aaron dengan segera pergi meninggalkan kastil itu menuju ke arah gerbang Dungeon.
Dan benar saja, segera setelah Ia keluar, gerbang itu segera tertutup dan menghilang untuk selamanya.
Meninggalkan Aaron di tengah sungai yang telah kering ini dikerumuni oleh beberapa orang yang kebingungan.
Bagaimana bisa, Aaron mampu menyelesaikan Dungeon tingkat A sendirian dengan secepat itu.
Di dalam pikirannya, Aaron masih terus mengingat kejadian barusan.
'Ratu Iblis Agung Thiria Tou Mavrou, satu dari enam penguasa dunia Iblis yang terkuat. Semua Iblis yang hidup disana tak mungkin tidak mengenalinya karena kekuatannya yang mutlak dan tak terbantahkan oleh apapun.
Aku sendiri tak menyangka bahwa semua akan berakhir seperti ini, tapi setidaknya.... dunia manusia selamat karena terlalu lemah di hadapannya.'
Tentu saja, Aaron sangat terpukul atas kejadian ini.