
...-- Jakarta --...
Akhirnya, hari yang dinantikan telah tiba.
Hendra bersama dengan Aaron dan juga Alice berjalan ke arah sebuah gedung yang sangat besar. Gedung itu terlihat setidaknya memiliki 50 lantai atau lebih. Ketinggiannya saja seakan mampu menembus langit.
Lebih dari itu, gedung ini juga cukup luas dengan desain yang begitu indah. Lengkap dengan halaman taman dan tempat parkir bawah tanah yang sangat besar.
Tapi berbeda dari hari sebelumnya, Aaron yang saat ini terlihat sangat tenang dan tampil berwibawa dengan setelan seragam Silver Guards. Sebuah seragam dengan zirah tipis berwarna perak dan baju putih dengan alur emas yang indah.
Tak hanya dirinya, Hendra dan juga Alice juga mengenakan seragam yang sama. Meskipun....
Semua orang yang ada di sini juga mengenakan seragam yang sama. Tentu saja, bagaimanapun tempat ini adalah markas pusat Silver Guards yang ada di Indonesia.
Sedangkan alur emas yang ada di seragam itu hanya dimiliki oleh para petinggi setingkat kapten saja. Mereka adalah para anggota yang diakui oleh komandan wilayah yang berkuasa di daerahnya.
Pandangan manusia lain terhadap kontraktor Iblis, atau mereka yang membuat kontrak dengan Iblis cukup buruk. Itulah mengapa Aaron mengenakan jam tangan untuk menutupi tanda kontrak yang ada di pergelangan tangan kanannya.
Tentu saja, tak ada orang yang mengetahui hal itu.
Di kejauhan....
"Hmm?"
Seorang Pria dengan badan yang cukup besar serta rambut yang pendek nampak menghentikan langkah kakinya. Semua itu terjadi setelah Ia melihat sosok seseorang yang cukup familiar.
"Tuan Muda, apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya seorang Wanita yang juga mengenakan seragam yang sama padanya.
"Sudah ku duga, dia juga seorang petinggi ya?" Ucap Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Putra, Komandan Silver Guards di Kota Semarang.
Sedangkan Pria tua yang ada di sebelahnya, yang merupakan sopirnya itu pun menambahi perkataan Putra.
"Aah, pemuda itu ya? Nampaknya Hendra memperoleh bawahan yang menarik."
"Kau benar. Aku ingin satu kali saja latih tanding dengan Pria yang bisa menutup gerbang tingkat A sendirian itu." Balas Putra sambil tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkah kakinya.
Setibanya di ruang rapat, sebuah ruangan yang cukup besar dan memiliki meja bundar raksasa ini, semua orang duduk di tempat yang ada.
Terdapat tiga buah kursi untuk setiap wilayah. Yaitu satu untuk Komandan wilayah yang bertugas, serta dua lagi untuk pengawal pribadi mereka.
Setelah semua orang duduk dengan rapi, masih ada sebuah kursi yang kosong.
Kursi itu memiliki bentuk yang paling berbeda karena memiliki hiasan emas yang begitu indah dan ukuran yang sedikit lebih besar.
Aaron yang melihatnya juga merasa penasaran siapa yang akan duduk di tempat itu. Tapi Hendra segera menjawabnya sebelum Aaron membuat kehebohan lain.
"Itu adalah kursi untuk Grand Master. Pemimpin utama dari Guild Silver Guards ini."
"Grand... Master?"
Itu adalah informasi yang baru didengar oleh Aaron kali ini. Sebanyak apapun Ia pernah melakukan browsing mengenai sosok Hunter yang ada di dunia, serta organisasi keseluruhan yang sebenarnya dari Silver Guards ini, Ia baru pertama kali mendengar istilah Grand Master.
"Itu adalah informasi yang sangat rahasia. Itulah mengapa hanya komandan yang tahu dan pernah bertemu langsung dengannya. Aku sendiri baru bertemu sebanyak tiga kali." Jelas Alice sambil berbisik kepada Aaron.
Pada saat mereka berdua tengah sibuk berbicara itu....
'Tap! Tap! Tap!'
Suara langkah kaki dari seseorang terdengar cukup nyaring dan menggema di seluruh ruangan ini.
Pakaiannya adalah seragam Silver Guards pada umumnya. Zirah perak tipis dengan baju berwarna putih dengan alur emas. Perbedaannya hanyalah pada alur emas itu, terdapat garis luar berwarna hitam.
Tatapan matanya terlihat cukup lesu, seakan Ia belum tidur selama dua hari atau lebih. Semua itu terlihat dari kantung matanya yang mulai berwarna hitam.
Jika dilihat dengan baik-baik, penampilan orang itu terlihat seperti pekerja kantoran pada umumnya.
Tapi ketika Pria itu datang dan masuk ke dalam ruangan ini....
'Graaakk!'
Semua orang secara spontan berdiri dan memberikan hormat mereka kepada Pria itu. Aaron sendiri tertinggal selama dua detik, tapi Ia segera berdiri dan turut memberikan hormat.
Apa yang membuatnya tertinggal bukanlah karena Ia tak mampu mengikuti gerakan orang lain dengan cepat. Hendra juga telah memberikan instruksi untuk siap dalam segala kondisi.
Akan tetapi....
'Yang benar saja?! Orang itu adalah manusia?!' Teriak Aaron dengan sangat keras dalam hatinya.
Tentu saja, Pria yang terlihat begitu lesu di hadapan semua orang itu adalah manusia. Takkan ada satu orang pun yang menyangkal hal itu. Tapi apa yang membuat Aaron berpikir seperti itu, hanya karena satu hal.
'Energi sihir yang luarbiasa besar.... Bagaimana mungkin seorang manusia bisa menjadi sekuat itu?! Energi ini, bahkan jauh lebih besar daripada Uskup Agung di Katredal Suci seribu tahun yang lalu.'
Itulah yang ada di dalam pikiran Aaron.
Jika disetarakan berdasarkan seluruh video dan informasi yang telah Ia gali di dunia Maya dengan ponselnya, kedudukan Pria yang ada di hadapannya ini mungkin setara dengan 4 Hunter tingkat SS yang ada di dunia. Sebuah keberadaan istimewa dimana hanya bisa dijelaskan sebagai berkah dari langit untuk umat manusia.
Meskipun, di hadapan Aaron yang telah hidup seribu tahun lebih, maka energi sihirnya tetap lebih besar jika dibandingkan orang itu.
Merasakan tatapan yang cukup lama dari Aaron, Pria dengan wajah lesu itu segera menoleh ke arah Aaron. Tatapannya menunjukkan perkataan seperti 'kenapa kau melihatku seperti itu' bagi Aaron.
Ia pun segera menundukkan pandangannya dan terus memberikan hormat.
Hingga akhirnya, Pria yang kemungkinan besar adalah Grand Master itu pun juga memberikan hormat sambil berkata.
"Terimakasih. Kalian semua, silakan kembali duduk."
Semua orang pun duduk kecuali Pria itu. Dengan segera, Ia melanjutkan perkataannya.
"Perkenalkan. Namaku adalah Nikolas. Orang-orang menyebutku sebagai Grand Master tapi.... Panggil saja aku Niko, hoaaahm...." Ucap Pria yang telah mengakui bahwa dirinya adalah Grand Master itu sambil menguap.
Hanya Aaron sendiri yang masih kebingungan dengan situasi ini.
Tapi Alice segera memberikan tatapan yang dingin kepada Aaron sebagai isyarat untuk tetap diam dan tenang.
Semua orang terdiam dan bersiap untuk mendengarkan apapun dengan seksama. Rasa hormat mereka kepada sang Grand Master benar-benar tinggi. Membuktikan bahwa mereka semua mengakui kekuatan dan kekuasaan dari pria bernama Niko itu.
"Baiklah karena kalian semua sudah hadir, aku akan langsung membahas inti dari semua masalah ini." Ucap Niko sambil menekan sebuah remote.
Segera setelah itu, delapan layar berukuran besar muncul di tengah meja bundar itu. Membuat semua orang yang duduk bisa melihat apa yang disajikan pada layar tersebut.
Niko pun melanjutkan perkataannya setelah semua itu beres.
"Jadi langsung saja. Tingkat kematian Hunter di Indonesia, baik itu Hunter dari pemerintahan, ataupun Hunter swasta. Apakah kalian ada sedikit pun pemikiran mengenai apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Niko sambil memberikan tatapan mata yang tajam meski terlihat bisa tertidur kapan saja.
Akhirnya, rapat untuk membahas masalah ini pun segera dimulai.