Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 29 - Kembali



Sang Grandmaster nampak kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Aaron. Wajar saja karena Ia masih terkejut dan juga sangat mengantuk.


Niko bisa terkena serangan jantung kapan saja karena kombinasi dua hal tersebut. Meski begitu....


"Aaron, ya? Apa maksudmu dengan hal itu?" Tanya Niko sambil berjalan mendekati sosok Pria berambut perak yang sedang sibuk dengan seragamnya itu.


Akan tetapi, balasan yang diberikan oleh Aaron cukup diluar dugaannya.


"Kau bodoh atau bagaimana? Jika kau tak bisa memahami hal sesederhana itu, kau tak pantas untuk menjadi pemimpin. Selamat tinggal, aku harus memperbaiki seragam ini." Balas Aaron sambil segera pergi ke arah Lift di ruangan ini.


Secara refleks, Hendra dan juga Alice mengikuti langkah kakinya.


"Aaron! Tunggu! Apa yang kau lakukan?" Tanya Hendra sambil mengejarnya.


"Tentu saja memburu Iblis sambil pulang ke rumah. Apalagi?"


Dengan kalimat yang seringan itu, Aaron pun meninggalkan semua orang yang ada di tempat latihan ini. Membuat mereka sendiri tenggelam dalam kesunyian yang tiada akhir.


"Grandmaster...."


Beberapa orang nampak berjalan mendekati sosok Niko yang masih berlutut di tanah itu. Secara tiba-tiba....


'Blaaaarrr!!!'


Niko memukul lantai logam tempat latihan ini, membuatnya rusak cukup luas.


Semua orang pun segera teringat kembali mengenai sosok salah satu Hunter terkuat di Indonesia itu.


Itu benar, Grandmaster Niko bukanlah orang yang lemah. Hanya saja....


"Aaron.... Kau benar-benar kuat ya? Syukurlah kau memihak manusia...."


'Bruuukk!'


Segera setelah mengucapkan kalimat itu, Niko segera terjatuh ke tanah. Membuat semua orang yang ada segera berlarian untuk memberikan pertolongan.


Mungkin saja, Aaron melakukan suatu serangan yang tak terlihat. Membuat Grandmaster terluka parah dengan serangan itu.


Tapi kenyataan memang terkadang tak sesuai dengan harapan semua orang.


"Grooookk...."


Niko terlihat tertidur pulas sambil mendengkur dengan cukup keras. Menunjukkan wajah yang begitu kelelahan.


Pada akhirnya, beberapa komandan wilayah ikut beristirahat di tempat latihan ini sambil menunggu sang Grandmaster untuk terbangun. Sedangkan sisanya telah terlihat meninggalkan gedung ini dan kembali bekerja.


......***......


Di dalam mobil, perjalanan menuju ke Yogyakarta.


"Aaron. Apa yang kau maksud dengan yang terakhir itu?" Tanya Hendra kembali mengenai penggunaan sihir apinya di bagian akhir.


"Kau juga tidak paham? Bodoh sekali ya." Balas Aaron yang kini telah mengenakan kaos oblong berwarna hitam polos serta celana pendek yang juga berwarna hitam.


"Kau.... Bisakah kau sedikit mudah dipahami?" Tanya Alice yang terlihat memberikan tatapan sinis kepada Aaron.


Setelah perdebatan ringan yang terjadi diantara mereka bertiga, Aaron akhirnya menyerah dan segera memberitahu apa yang sebenarnya dimaksud.


"Maksudku adalah, Grandmaster bernama Niko itu terlalu banyak membuang energi sihirnya untuk pedang sampah. Padahal jika dia memfokuskan seluruh energi sihir itu pada satu pedang, aku yakin dia mungkin bisa mendekati kualitas pedang suci."


Jawaban Aaron itu membuka mata semua orang. Bahkan....


"Aaron! Lalu kenapa kau tak memberitahukannya secara langsung padanya?!"


"Itu benar! Bisa jadi kekuatan itu akan...."


"Akan apa? Menolongnya? Kalian terlalu meremehkan Grandmaster itu. Benar juga.... Jika dengan standar kekuatan kalian, dia mungkin berada di tingkat S akhir, atau mendekati tingkat SS awal.


Aku yakin takkan ada Iblis yang menjadi masalah dengan gaya bertarungnya itu. Menembakkan ratusan atau ribuan pedang ke arah ribuan Iblis yang pada umumnya tak memiliki kecerdasan tinggi? Tentu saja itu akan berhasil.


Tapi menggunakannya melawan seorang manusia yang memiliki kekuatan diatasnya? Maka strategi itu takkan berguna." Jelas Aaron dengan cukup panjang lebar.


Jika Ia memang bisa hidup hingga saat ini, maka Niko tak lagi membutuhkan bantuan. Tentu saja beda ceritanya jika yang dihadapinya adalah setingkat Raja Iblis.


Itulah mengapa Aaron membiarkannya untuk memikirkan hal itu sendiri.


"Aaron, aku tak menyangka bahwa kau adalah orang yang serumit ini." Balas Alice sambil menghela nafasnya.


"Begitu kah?"


Tanpa dua orang itu sadari, Aaron memang telah hidup sekitar 50 kali lebih lama daripada mereka berdua. Tentu saja pengalamannya jauh lebih tinggi. Termasuk pengalamannya.


Dan menurut Aaron, salah satu cara terbaik untuk mendidik orang yang kuat, adalah dengan memperlihatkan kelemahannya secara langsung.


'Benar juga.... Perjalananku juga masih jauh....' Pikir Aaron dalam hatinya sambil teringat kembali mengenai sosok Thiria.


Jika saja Thiria ingin, mungkin dunia ini sudah berubah menjadi lautan api sejak saat ini.


Hanya karena keberuntungan.


Dan keberuntungan takkan mudah terulang kembali. Untuk itulah....


'Aku masih perlu menjadi jauh lebih kuat lagi.'


......***......


Di suatu tempat yang tidak di ketahui....


"Tuan Direktur! Ada berita yang bagus mengenai ID Blade. Tangan kanannya telah berhasil disembuhkan!" Teriak salah seorang karyawan yang sedang menghadap di sebuah komputer itu.


Di bagian paling atas dari ruangan yang besar ini, terlihat sosok sang Direktur yang sedang mengawasi berbagai hal.


"Kerja bagus. Apakah kalian sudah mengetahui penyebabnya?"


"Berdasarkan dari tim medis disimpulkan bahwa serangan yang merusak tangan kanan Blade adalah sebuah kutukan." Balas karyawan itu melalui Handsfree yang dikenakannya.


"Kutukan? Apa maksudmu dengan itu?"


"Pada kenyataannya, pedang yang menggores tangan kanan Blade memiliki kutukan yang sangat teramat pekat. Sangat pekat bahkan dapat disetarakan dengan Iblis tingkat S yang muncul beberapa tahun lalu."


Dengan balasan itu, semua orang mulai panik. Terutama mendengar mengenai Iblis tingkat S yang hampir menghancurkan wilayah Asia ini.


"Iblis tingkat S, Sang Raja Laut itu ya?"


"Tidak mungkin! Itu adalah Iblis yang sangat kuat!"


"Tapi kematiannya cukup misterius bukan? Di saat semua orang sudah berkumpul untuk melawannya di laut, tiba-tiba dia telah mati. Bahkan keberadaannya segera dirahasiakan oleh berbagai pemerintahan negara Asia." Balas sang Direktur.


"Be-benar juga.... Jadi apakah Aaron adalah pelakunya?"


"Kemungkinannya sangat besar. Ia mengambil sebagian tubuh dari Iblis itu lalu menggunakannya untuk membuat pedang. Itulah hasilnya."


"Bukankah dia juga sering menghadap ke arah laut?"


Berbagai macam spekulasi segera muncul mengenai asal-usul dari kekuatan pedang Aaron, termasuk juga identitasnya.


Hingga akhirnya telah disepakati bahwa yang paling berbahaya dari diri Aaron, atau target mereka, adalah pedang hitam itu sendiri.


"Tujuan baru telah ditetapkan! Saat ini misi kita hanya satu! Untuk merebut pedang hitam yang digunakan oleh Aaron itu, lalu menjadikannya sebagai pendukung organisasi kita!" Teriak sang Direktur.


"Siap laksanakan!"


Semua orang membalasnya dengan penuh semangat.


Di bagian kiri seragam semua orang yang ada di dalam ruangan ini, terdapat sebuah lambang yang serupa.


Yaitu sebuah lambang tangan yang sedang menarik sebuah rantai yang terlihat patah.


Itulah mereka, sang perebut segalanya. Sebuah organisasi kriminal tingkat internasional, Usurper.