Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 46 - Terbangun



Kegelapan yang menyelimuti seluruh pandangan Aaron, kini mulai memudar secara perlahan. Cahaya mulai terlihat di hadapannya.


"Dimana aku...." Ucap Aaron dengan suara yang lirih. Tubuhnya masih sangat lemas. Tapi semuanya telah sembuh sepenuhnya. Hanya saja....


Tak ada satupun jawaban. Yang terdengar olehnya adalah suara ledakan dan juga teriakan dari berbagai sisi. Aaron segera mempercepat langkah kakinya.


Dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos, Aaron berlari secepat mungkin. Tapi pada saat Ia mencari senjatanya, Aaron baru sadar bahwa Ia telah meninggalkannya di lautan api itu.


'Benar juga, aku meninggalkannya disana. Lagipula, takkan ada orang yang tahu dan cukup gila untuk mengambilnya. Aku akan segera ke....'


Pikiran Aaron segera terhenti setelah berada di samping sebuah jendela dari bangunan ini.


Nampaknya, Aaron berada di dalam salah satu rumah sakit militer yang dijaga dengan sangat ketat oleh satuan militer dan juga banyak Guild. Termasuk Silver Guards.


Apa yang ada diluar dari jendela itu, adalah sebuah neraka dunia. Membuat seakan lautan api yang baru saja dialaminya seperti sebuah api lilin yang begitu kecil dan lemah.


Lautan api ada dimana-mana. Banyak gedung dan menara berjatuhan begitu saja, menimpa banyak orang yang tak bersalah.


Dan dari berbagai sudut, ribuan, bahkan puluhan ribu Iblis dengan warna kulit merah dapat terlihat dengan jelas.


Berbeda dengan dua yang Aaron jumpai sebelumnya. Kini mereka mengenakan perlengkapan yang lengkap, baik itu zirah maupun senjata. Gerakan mereka membabi-buta dan membantai apapun yang ada di sekitarnya.


'Brukk! Bruukk! Bruukk!'


Suara langkah kaki yang berat terdengar dengan jelas di lorong rumah sakit ini. Dari balik kegelapan itu, sosok tiga Iblis dengan kulit merah dan berzirah tebal dapat terlihat dengan jelas.


Tinggi tubuhnya saja hampir mencapai tiga meter, sehingga membuat bangunan ini nampak terlalu kecil untuk mereka.


"Lihat, masih ada manusia yang hidup." Ucap salah satu Iblis itu sambil mengarahkan pedang besarnya kepada Aaron.


Hanya dengan kalimat itu, Aaron menyadarinya.


Bahwa dunia ini telah berakhir. Tak ada lagi harapan untuk menyelematkan nya. Lalu apa yang bisa dilakukan di saat seperti ini?


Satu-satunya yang bisa dipikirkan oleh Aaron, hanyalah untuk membunuh sebanyak mungkin Iblis yang ada. Membawa mereka semua bersamanya dalam kematian.


'Tap! Swuusshh!'


Aaron melompat dan melesat dengan sangat cepat ke arah Iblis itu, lalu melayangkan tinju dengan kanannya.


'BLAAAAARR!!!'


Pukulannya begitu telak, dan targetnya sangat jelas yaitu tempat jantung mereka berada. Bahkan serangannya saja mampu merusak sebagian besar lantai dan dinding di dalam rumah sakit ini.


Akan tetapi....


Apa yang terjadi hanyalah tangan kanan Aaron yang mengalami luka parah. Sedangkan zirah tempat Aaron memukul hanya sedikit penyok.


"Yang benar saja...." Ucap Aaron pada dirinya sendiri.


Zirah berwarna hitam pekat itu, terbuat dari sebuah logam yang sangat kuat, yaitu Demon Steel. Logam yang sama yang digunakan Aaron dalam menempa pedang pemakan jiwanya.


"Hmm.... Menarik sekali. Manusia yang satu ini bisa memberikan sedikit luka." Ucap Iblis itu dengan tenang sambil memperhatikan lecet yang terdapat pada zirahnya.


Sementara itu, dua rekannya hanya tertawa terbahak-bahak melihat ada manusia yang bisa melukainya.


"Buahahaha! Kau lemah sekali! Jangan katakan kau akan...."


Tanpa memberikan jeda, Aaron segera mengambil alih salah satu dari senjata mereka, yaitu sebuah tombak besi yang berwarna hitam pekat.


Tak ada sedikitpun keraguan, Aaron segera mengayunkannya tepat ke arah leher Iblis yang sedang tertawa itu.


'Klaaangg!!'


Tapi yang terjadi, bahkan tombak itu sekalipun tak mampu untuk menembus zirah yang mereka kenakan.


Deretan tawa mulai meledak dari mereka semua. Melihat Aaron berusaha dengan sangat keras untuk melawan mereka.


"Buahahaha! Lihat manusia ini! Dia pikir bisa mengalahkan kita!"


"Tunggu dulu, bukankah komandan meminta kita mencari seseorang?"


Menyadari hal itu. salah satu dari tiga Iblis itu segera memukul Aaron dengan sekuat tenaganya. Membuatnya kehilangan kesadaran seketika.


Apa yang diingatnya adalah sebuah kenyataan bahwa Aaron masih tak mampu untuk melawan pasukan militer Aznor saat ini. Sekalipun mereka hanya memiliki pekerjaan dan perlengkapan yang berbeda dari yang dilawan sebelumnya, tapi perbedaannya sejauh langit dan bumi.


Beberapa saat pun berlalu. Secara perlahan, Aaron mulai memperoleh kembali kesadarannya. Tapi kini, Ia telah berada di tengah sebuah lapangan yang cukup besar.


Api yang cukup tinggi mengelilingi lapangan itu, dengan barisan pasukan yang tertata rapi.


Tubuhnya terikat oleh rantai yang keras dan kokoh, sedangkan energi sihirnya telah lama habis untuk mempertahankan tubuhnya tetap utuh selama perjalanan hingga ke tempat ini.


"Hah! Apa yang terjadi?!" Teriak Aaron dengan keras.


Seketika, seseorang dengan jubah hitam pun berjalan mendekati Aaron. Meninggalkan apapun yang baru saja dikerjakan olehnya.


Lambang mata merah dengan 4 buah garis diatas dan dibawah mata itu terlihat dengan jelas di punggungnya.


'Tap! Tap!'


Langkah kakinya begitu lambat, namun cukup berat untuk menghasilkan suara yang keras ke segala arah.


Sosok berjubah hitam itu pun membuka tudungnya dan memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Yaitu seorang Pria biasa yang terlihat berada di usia 30an tahun.


Tak ada ciri khusus atau ciri yang istimewa pada diri Pria berjubah hitam itu.


Tak ada kecuali seluruh Iblis yang sebelumnya terlihat begitu mengerikan, kini bertekuk lutut memberikan jalan kepada Pria itu.


Segera setelah sampai tepat di hadapan Aaron....


"Aah, jadi kau ya? Kau yang membiarkan para manusia untuk menarik perhatian dari Molrog sang penguasa kematian ya? Kau benar-benar telah berjuang keras untuk merusak rencana-nya yang Agung." Ucap Pria berjubah hitam itu sambil menyentuh wajah Aaron.


Seketika, Aaron pun terkejut bukan main. Seluruh bulu kuduknya berdiri bukan karena kematian telah ada di depan matanya. Sejujurnya, Ia rela untuk mati kapan saja dan dimana saja, asal setidaknya umat manusia bisa diselamatkan. Walaupun hanya beberapa jiwa.


Tapi setelah mendengar nama itu, Aaron pun sadar.


Bahwa kini, dunia manusia ini hanya akan menjadi medan pertempuran antara dua penguasa tertinggi dunia Iblis.


Dengan memejamkan kedua matanya, Aaron pun telah mempersiapkan diri untuk menerima kematiannya. Sebuah sabit raksasa telah diayunkan oleh Pria berjubah hitam itu. Ayunannya sangat cepat dan akurat, memenggal kepala Aaron hanya dalam sekejap saja.


'Brukkk! Bruukk!'


Kepalanya menggelinding secara perlahan di tengah tanah lapang ini. Dan sedikit demi sedikit, mendekati arah api yang besar itu.


'Sialan.... Dewa, maafkan aku....'


Aaron terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu untuk melindungi umat manusia dengan sedikit kesadarannya yang tersisa.


Pikirannya berjalan dengan cepat, teringat akan segala hal yang telah dilaluinya hingga hari ini.


Mulai dari hari dimana Ia bekerja sebagai seorang Ksatria suci, hingga hari dimana Ia menikmati masa-masa damai di dunia manusia ini.


Tak ada sedikitpun penyesalan dalam dirinya. Ia merasa telah berjuang sekuat tenaga untuk menjaga umat manusia. Tidak....


Jika mengatakan soal penyesalan, Aaron menyesal atas beberapa hal.


Akan tetapi....


Tanpa Ia sadari, kedua matanya kembali terbuka. Dan kini, apa yang ada di hadapannya, adalah sosok Iblis yang telah lama Ia lupakan.


Tak hanya itu, tempat Ia berdiri saat ini jauh berbeda dari apa yang sebelumnya dilihat olehnya. Yaitu sebuah kastil Raja Iblis. Langit dengan warna merah darah mulai menghiasi pandangannya.


Kedua tangannya memegang sebuah pedang suci yang telah menusuk tepat ke arah jantung Iblis yang ada di hadapannya.


Iblis itu memiliki warna kulit hitam legam, dengan banyak alur merah di seluruh tubuhnya. Kepalanya memiliki tiga buah tanduk yang melengkung ke atas. Sedangkan perlengkapannya adalah zirah yang berwarna hitam pekat dengan batu biru cerah di bagian dadanya yang kini telah remuk karena tusukan pedang Aaron.


"Manusia.... Siapa namamu?" Tanya Iblis itu dengan nafas terakhirnya.


Dengan tubuh yang gemetar, Aaron pun menjawab.


"Aaron...."