Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 23 - Hari yang Baru



...-- Di suatu lokasi yang tidak diketahui --...


Di dalam sebuah ruangan yang cukup besar dengan banyak sekali komputer dan layar yang terpasang itu, suasana gaduh sedang terjadi.


Penyebabnya adalah kembalinya 5 orang Hunter tingkat S yang baru saja melarikan diri dari Aaron.


"Tim medis! Segera tangani mereka!" Teriak sang Direktur dari tempat ini dengan cukup keras.


Tak menunggu lama, puluhan orang baik itu dokter maupun penyihir dengan tipe penyembuh segera berlarian mendekat. Target mereka adalah sang Pendekar Pedang yang kini tak mampu menggerakkan tangan kanannya sama sekali.


Keempat Hunter lainnya segera menjauh untuk memberikan ruang kepada tim medis.


"Apakah kau merasakan sakit?" Tanya sang dokter sambil menyentuh di beberapa bagian lengan Pria itu.


"Tidak. Aku tidak merasakan apapun...."


Sedangkan para pengguna sihir penyembuhan terus menerus mengobati tangan kanannya.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya sang Direktur kepada 4 orang Hunter yang lain.


Direktur itu memang melihat bahwa penyebab luka ini adalah Aaron yang berhasil memberikan sebuah goresan pada tangan kanannya. Tapi hasil video yang ditangkap oleh Drone itu tidak mampu memperlihatkan kekuatan pedang hitam Aaron yang sebenarnya.


Keempat Hunter itu pun dengan segera menjelaskannya.


"Pedang hitam itu.... Seakan memiliki mulut tak terlihat yang akan ikut memangsa targetnya ketika bersentuhan. Itulah yang terjadi padanya." Ucap sang penyihir sambil melirik ke arah rekannya yang sedang diobati itu.


"Meskipun kau sebelumnya tak merasakan apapun?" Tanya Direktur itu untuk memastikan.


"Itu benar.... Pedang itu, memiliki aura jahat yang jauh lebih mengerikan daripada iblis yang membuat kontrak dengan kita semua. Aku sama sekali tak melebih-lebihkan hal itu...."


Sang Direktur bersyukur karena keputusannya sangatlah tepat untuk menarik mundur Hunternya. Jika Ia terlambat sedikit saja, maka kemungkinan kelima orang itu akan benar-benar mati.


"Kerja yang bagus, kalian semua. Untuk sementara ini, kita akan tetap mengawasi Aaron dari kejauhan. Jangan buat kontak apapun dengannya kecuali persiapan kita telah matang sepenuhnya."


"Siap, Direktur." Ucap keempat Hunter rank S itu sambil memberikan hormat.


Dengan begitu.... Organisasi kriminal ini mulai membuat langkah yang jauh lebih hati-hati daripada yang sebelumnya.


......***......


Hari ini adalah hari yang cukup berbeda bagi Aaron.


Ia bangun cukup siang karena baru saja tidur pagi tadi. Semua itu karena semalam Ia harus berurusan dengan hal yang mengesalkan baginya.


Sedangkan saat ini, tepatnya pukul 10.32, Aaron sedang berlatih di sebuah taman.


Alasannya?


Ia selalu berlatih dengan menguras energi sihirnya dan membuat dirinya menjadi semakin berat. Sehingga membuat latihannya menjadi semakin efektif. Tapi jika terlalu berat, Aaron bisa saja meruntuhkan bangunan Asrama yang ditinggali olehnya.


Itulah mengapa kini Ia berlatih di taman. Tepatnya di bagian yang yang berumput.


"Hei, lihat. Bukankah Pria itu cukup tampan?"


"Kau benar. Apakah kau pikir kita bisa mendekatinya?"


Tentu saja. Semua tindakan ada efek sampingnya. Aaron yang selalu berlatih dengan melepas kaosnya, kini menjadi pusat perhatian dari semua orang.


Meskipun, orang yang bersangkutan sendiri sedang memikirkan hal yang berbeda.


'Jika Iblis tingkat menengah dan tingkat atas datang, aku mungkin takkan bisa mengatasi mereka. Kemudian jika 6 dari penguasa utama Dunia Iblis datang, peluang besar dunia ini akan hancur sepenuhnya. Aku harus menjadi lebih kuat lagi....' Pikir Aaron dalam hatinya sambil terus melakukan push-up.


Selama beberapa saat, Ia masih terus memikirkan mengenai pertemuannya dengan Thiria.


'Tapi.... Jika memang Raja Iblis tingkat atas muncul dan menyerang dunia manusia, kemudian dunia manusia hancur sepenuhnya.... Bukankah itu berarti takdir dari para dewa?'


Aaron merasa bahwa apa yang harus dilakukannya saat ini hanyalah berjuang sekuat tenaga untuk menjaga kedamaian dunia ini, sebagai salah seorang manusia.


Perkara kehancuran dunia atau kemunculan Raja Iblis tingkat tinggi, Ia tak ingin terjebak dalam pemikiran itu selamanya dan membuat dirinya kehilangan fokus dan ketenangannya.


Tapi tiba-tiba, diluar dugaan Aaron sendiri....


'Prriiiiittt!! Priiiiiiiiitt!'


Seseorang nampak meniup peluit sambil mengarahkan tangannya kepada Aaron. Dengan segera, orang itu mendekati sosok Aaron sambil berkata.


"Selamat siang." Ucap Pria itu sambil memberikan hormat.


Aaron yang melihatnya sedikit kebingungan. Pria yang ada di hadapannya memiliki seragam kecoklatan dengan beberapa lambang dan atribut pada pakaiannya.


Untuk menghormati Pria itu, Aaron segera menyudahi latihannya dan segera berdiri. Tempat dimana tangan dan kakinya berada sebelumnya terlihat memberikan bekas yang cukup dalam. Menunjukkan betapa beratnya beban yang dibuat Aaron selama latihan.


"Selamat siang." Balas Aaron sambil menirukan salam hormat yang dibuat oleh Pria itu.


Pria berseragam itu pun kembali melanjutkan perkataannya.


"Apakah Anda tahu kesalahan yang telah Anda buat?"


"Kesalahan? Apa maksudnya dengan itu?" Tanya Aaron kebingungan.


Sang Pria berseragam itu pun segera menjelaskan.


"Ini adalah tempat umum. Sedangkan Anda mengenakan pakaian yang terlalu terbuka di tempat seperti ini. Hal itu tentu akan memberikan pandangan yang buruk dari sebagian pengunjung taman ini." Ucap Pria itu sambil menunjuk ke arah tubuh Aaron yang hanya mengenakan celana pendek itu.


Aaron pun merasa kebingungan atas apa yang dibicarakannya.


"Eh? Jadi tindakanku ini melanggar hukum?"


"Saat ini aku hanya akan memberikan peringatan. Tapi untuk selanjutnya, mungkin kau akan mendapatkan hukuman. Ingat itu baik-baik." Ucap Pria berseragam itu sambil memberikan sebuah surat peringatan.


"Ba-baiklah...."


......***......


"BUAHAHAHAHAA!!!"


Hendra nampak tertawa begitu keras setelah melihat surat peringatan yang diperoleh Aaron.


"Berhenti tertawa. Apanya yang lucu dari ini." Balas Aaron sambil memasang wajah yang sedikit kesal. Meski secara tak langsung, tapi Aaron terlihat sedikit malu dengan kejadian ini.


"Apanya yang lucu?! Buahahahahaha!"


Hendra tak bisa berhenti tertawa sambil terus memukul meja tak bersalah yang ada di hadapannya. Ketika tawanya seakan mulai habis, Ia akan kembali tertawa terbahak-bahak lagi setelah melihat surat peringatan itu.


Sebuah peringatan yang mengatakan bahwa Aaron harus berhenti mengenakan pakaian yang tidak senonoh ketika berada di tempat umum.


Di sisi lain....


"Alice.... Kau ada di pihakku kan kali ini?" Tanya Aaron dengan wajah memelas seakan membutuhkan pembelaan.


Akan tetapi, Alice hanya memalingkan wajahnya. Terlihat wajahnya mulai memerah. Itulah mengapa Alice segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Dari balik semua itu, suara yang lirih terdengar darinya.


"Ma-maafkan aku Aaron. Tapi kau memang salah...." Ucap Alice samb terus tersipu malu.


"Hah?! Apa-apaan ini?! Kenapa semua orang menyalahkanku?!"


'Plak!'


Hendra secara tiba-tiba menepuk pundak dari Aaron sambil mengeluarkan kata-kata penuh motivasi


"Aku paham kau ingin memamerkan tubuhmu. Tapi, lakukanlah di tempat dan saat yang tepat, mengerti?" Ucap Hendra sambil memberikan senyuman yang terkesan begitu mengejek.


"Aku sama sekali tak mengerti soal itu!"


Pada akhirnya, Aaron kembali merasa sedikit lebih baik lagi setelah merasakan kedamaian ini. Sebuah kedamaian dimana Ia tak perlu memikirkan mengenai ancaman para Iblis kepada umat manusia.