
"Kau...."
Aaron terkejut bukan main dengan apa yang baru saja terjadi. Pukulan yang dilancarkan olehnya sama sekali tak ditahan dengan niat utama untuk membunuh.
Tapi apa yang ada di hadapannya saat ini, adalah sosok Pria yang terlihat cukup tenang dengan situasi ini.
Dengan gerakan yang cepat, Pria kantoran itu segera memutar tubuhnya dan memberikan tendangan kepada Aaron.
Sebuah tendangan yang begitu cepat, hingga Aaron sekalipun tak mampu untuk menahannya dengan baik.
'Blaaaarr!! Braakkk!!'
Lebih dari tiga dinding hancur lebur setelah Aaron terpental melewati semuanya. Tangan kirinya yang digunakan untuk menahan tendangan itu terlihat telah patah.
"Heal.... Apa-apaan kekuatan ini?!" Pikir Aaron dalam hatinya.
Cahaya hijau dengan cepat menyembuhkan tangan kirinya. Tapi Pria kantoran itu telah berada tepat di hadapannya.
"Regenerasi yang sangat cepat. Aku cukup penasaran dengan itu."
'Swuuusshh!'
Tendangan dari Aaron berhasil dihindari dengan sangat mudah oleh orang itu. Membuat Aaron tak lagi memiliki pilihan lain selain menggunakan pedangnya.
Saat ini, Ia hanya menarik Runic Sword yang telah terisi penuh dengan energi sihir. Aaron telah belajar bahwa Ia harus selalu siaga di semua situasi meskipun dunia begitu damai.
Sama seperti saat ini.
Hanya saja....
'Sraaat! Zraaatt! Sraaatt!'
Tak ada sedikitpun keraguan dalam gerakannya. Dengan refleks yang begitu cepat, Aaron mengayunkan tiga buah tebasan yang mampu menggores sedikit bagian tubuh lawannya.
Darah berceceran ke berbagai tempat dari tebasan itu. Pakaian kantoran yang rapi itu pun kini robek di 3 bagian yang berbeda.
Bahkan, wajah santainya pun seketika berubah dengan drastis. Menjadi wajah yang dipenuhi dengan amarah.
"Kau.... Beraninya manusia rendahan sepertimu...." Ucap Pria kantoran itu yang secara perlahan wujudnya berubah.
Kulitnya mulai memerah. Cipratan darahnya juga sangat panas hingga mampu melelehkan besi. Lebih dari semua itu, kedua tangannya diselimuti oleh api merah.
Sebuah api yang cukup panas untuk melelehkan apapun pada jangkauan 3 meter. Aaron yang menyadari hal itu segera menjaga jaraknya.
'Lebih kuat dari Ignis.... Benar saja, ini adalah api kehancuran Aznor, sama seperti yang kudengar di dunia Iblis. Kalau begitu lawanku saat ini....' Pikir Aaron dalam hatinya sambil membuka segel pedang pelahap jiwanya.
'Klaaaanggg!!'
Suara rantai yang begitu keras terdengar memekikkan telinga semua orang yang ada di dalam jarak puluhan meter lebih.
Dari suara itu, sebuah pedang hitam usang telah menunjukkan wujudnya yang sebenarnya.
"Jadi begitu ya.... Kau benar-benar orangnya.... Tenang saja, dengan tubuh ini, aku akan mempersembahkan nyawamu pada-Nya!" Ucap Pria kantoran yang kini telah sepenuhnya menjadi Iblis itu.
Bahkan, Ia baru saja berbicara dengan menggunakan bahasa Iblis yang dengan sangat jelas dimengerti oleh Aaron.
"Aku akan membunuhmu."
Hanya dengan kalimat itu, Aaron melesat dengan sangat cepat. Semua itu berkat bantuan Anemos yang mempercepat gerakannya.
Kedua tangannya memegang pedang putih itu sekuat tenaga. Menusukkannya tepat di jantungnya, atau setidaknya di tempat itulah jantung manusia berada.
...'BLAAAARRR!!!'...
Hanya dengan hentakan kaki Aaron itu, seluruh gedung tua ini mulai runtuh. Ia menusuk dan membawa Iblis itu jauh di tempat yang sepi penduduk, yaitu sebuah wilayah pertanian yang dipenuhi dengan ladang jagung.
Sementara itu....
"Alice! Kau baik-baik saja?! Kita akan pergi dari sini!" Teriak Hendra sambil mengangkat tubuh Alice.
Dari handsfree yang masih berfungsi itu, Hendra segera mengabari pusat informasi.
"Aaron pergi ke arah Utara! Aku tak tahu sampai seberapa jauh, tapi lawan kali ini benar-benar berbahaya! Segera kirimkan bantuan!" Teriak Hendra dengan suara yang putus asa.
Dengan itulah, Ia segera meninggalkan lokasi itu dan mencari pertolongan dari regu medis.
......***......
'Bruuukkk! Zraaasshh! Klaaangg!'
Segera setelah Aaron dan juga Iblis itu jatuh tepat di tengah ladang jagung, pertarungan antara mereka berdua tak lagi terelakkan.
Suara benturan antara pedang Aaron dengan kuku tajam dan kuat dari Iblis itu terdengar begitu keras.
Pada setiap tebasannya, tekanan yang sangat kuat mampu menghempaskan ladang jagung ini hingga radius puluhan meter lebih. Bahkan tak jarang tanah menjadi terbelah karena tebasan Aaron.
Tak ada sedikitpun Aaron menahan kekuatannya.
Meski begitu....
'Tangguh sekali! Seperti inikah keturunan dari Api Aznor?' Pikir Aaron dalam hatinya.
Fokusnya begitu tinggi hingga Ia sama sekali tak memperhatikan wilayah sekitarnya. Ia tak peduli lagi pada apapun yang akan terjadi pada ladang ini. Apa yang ada di dalam pikirannya adalah Iblis ini terlalu berbahaya untuk diberi ampunan.
'Zraaaaatttt!'
Seakan tak pernah terjadi.
Sedangkan di sisi lain, tanah tempat mereka berpijak mulai terbakar dengan hebat. Bahkan batuan yang ada pun meleleh.
Aaron yang berada tepat di hadapan Iblis itu juga terus menerima luka dari api itu. Hanya saja, Ia berhasil menahannya dengan kemampuan Healnya.
'Bahkan dengan Anemos sekalipun aku masih kalah cepat?!' Teriak Aaron kesal.
"Buahahaha! Manusia! Kau benar-benar kuat! Sekarang, coba tahan ini!" Teriak Iblis itu sambil mengarahkan kedua lengannya kedepan.
Sebuah bola api berwarna merah gelap mulai terkumpul di telapak tangan Iblis itu. Dengan cepat, bola api itu menjadi semakin besar hingga akhirnya....
...'ZUWOOOOSSSHH!!!'...
Semburan api yang sangat besar dan sangat panas itu mengenai Aaron tepat di tubuhnya.
Menghindarinya pun mustahil dilakukan karena betapa luasnya jangkauan dari api itu. Menyapu bersih tanaman setidaknya hingga jarak ratusan meter lebih.
Tubuhnya terbakar dengan sangat parah. Bahkan kemampuan penyembuhannya pun tak lagi mampu mengimbangi luka yang diterimanya. Begitu pula seragamnya yang secara perlahan mulai terbakar.
Sebagai keputusan terakhir, Aaron pun akhirnya menarik pedang pelahap jiwanya meskipun Ia tahu semakin lama memegangnya, Ia hanya akan menjadi semakin lemah dalam pertarungan ini.
Dengan sekuat tenaga, Aaron mengayunkan dua pedang itu ke depan seakan ingin membelah lautan api itu.
"Anemos!" Teriak Aaron sekuat tenaga.
Tebasan angin yang sangat kuat itu berhasil membelah lautan api Iblis itu. Memberikan jalan bagi Aaron tepat ke arahnya. Terlihat wajah panik dari sang Iblis mengetahui bahwa lawannya bisa selamat dari serangannya.
Tak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan, Aaron segera menghentakkan kakinya untuk memperpendek jarak dengan secepat mungkin.
Ia memutar tubuhnya untuk meningkatkan kekuatan dari ayunan dua pedangnya. Tujuannya sangat jelas, yaitu untuk memenggal leher dari Iblis yang ada di hadapannya.
Hanya dalam sekejap....
'Zraaaaaaassshhhh!!!'
Dua buah pedang Aaron itu dengan cepat menebas leher dari Iblis itu. Hanya saja....
"Usaha yang menarik, manusia." Ucap Iblis itu sambil menahannya dengan tangan kanannya.
Kedua pedang itu sekalipun tak mampu menembusnya. Tak mampu untuk melewati kobaran api di tangan kanannya yang begitu kuat.
Secara perlahan, pedang itu mulai terdorong oleh kobaran api itu. Hingga akhirnya meledak dan melemparkan Aaron hingga puluhan meter ke belakang.
...'DUAAARRR!!!'...
"Kuuuggh!"
Tubuhnya kini telah dipenuhi dengan luka. Kedua pedangnya telah terlempar entah kemana bersama dengan kedua tangannya.
Dan di atas itu semua, sang Iblis hanya berjalan dengan tenang ke arah Aaron berada. Tak butuh waktu lama hingga Iblis itu berdiri tepat di hadapannya.
"Manusia, perjuanganmu selama ini cukup bagus. Aku akan mengakhirinya saat ini juga."
Ia mulai mengulurkan tangan kanannya yang memiliki kuku tajam berwarna hitam itu ke arah jantung Aaron berada.
Tepat di saat Ia akan menghunuskannya dan menghancurkan jantung Aaron....
'Swwuuusshh!!'
Asap hitam mulai menyebar di berbagai tempat. Membuat Iblis itu bingung untuk waktu yang singkat. Hingga akhirnya Ia menyadari bahwa Aaron tak lagi berada di hadapannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya seorang wanita berambut hitam itu dari balik kain yang menutupi setengah wajahnya. Pakaiannya yang menyerupai seorang ninja itu merupakan salah satu ciri khasnya.
"Kau.... Rika?"
"Tak ada waktu untuk melamun. Berapa lama hingga tanganmu akan sembuh?" Tanya Rika sambil mengangkat tubuh Aaron dengan kedua tangannya.
Sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan untuk seorang wanita dengan tubuh yang cukup kecil itu.
"Setengah menit, mungkin...." Balas Aaron yang masih cukup lemas. Tapi tubuhnya secara perlahan mulai diselimuti cahaya hijau yang menyembuhkannya.
Mendengar jawaban itu, Rika nampak cukup lega.
"Bagus, hingga saat itu tiba, aku akan menjagamu. Setelah itu kita akan mengalahkan Iblis ini bersama. Mengerti?"
Pertama kalinya, Aaron menderita luka yang sangat parah bahkan sampai mengandalkan orang lain. Tapi karena itulah.... Ia tak lagi sama dengan dirinya yang selalu sendirian ketika berada di dunia Iblis.
Saat ini, ada banyak orang yang akan mendukungnya. Untuk menghadapi ancaman dari para Iblis.
...[\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=]...
...Bonus Ilustrasi...
...[Rika]...
Cewe Assassin yang baru aja Dateng nolongin MC kita. Sekiranya seperti ini lah penampilannya. Bedanya saat di dalam cerita itu dia lagi pakai penutup wajah dan pakaian yang hampir serba hitam.
Untuk sumber dari gambarnya seperti biasa, saya hanya nemu di pinterest. Bagi yang keberatan langsung komentar saja, akan segera saya hapus.
Semoga bisa membantu dalam berimajinasi. Bebas kalian mau membayangkannya seperti apa. Tapi inilah yang ada di dalam bayangan saya hehehe.