Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 54 - Kesendirian



Sebuah bilah pedang berwarna perak keemasan telah menusuk tubuh yang hanya terbentuk dari tulang itu.


Dengan mudahnya, bilah pedang itu menembus semuanya. Sama seperti ketika menembus sebuah kertas.


"Gath.... Maafkan aku." Ucap Aaron dengan kepala yang hanya mampu menatap ke tanah.


"Graaa.... Grooaaa.... Klaaakk!" Gath yang kini telah menjadi Skeleton itu pun hanya bisa mengeluarkan suara aneh karena tak lagi memiliki tubuh untuk berbicara.


Tapi Aaron menyadarinya. Setidaknya.... Kesadaran Gath masih tersisa di dalam tubuh ini.


Kedua tangan tengkorak yang rapuh dan kecil itu berusaha dengan keras untuk mengelilingi tubuh manusia yang ada di hadapannya.


Akan tetapi, hal itu mustahil untuk dilakukan karena tenaganya telah habis setelah Aaron menusuknya tepat di inti tubuh itu.


'Kreettaakkk!!'


Seketika, tubuh Skeleton itu hancur dan tersebar ke segala arah. Hanya menyisakan sebuah tumpukan tulang dan sebuah jubah yang menutupi sebagian dari tulang belulang itu.


Tak ada satu patah kata pun dari Aaron. Ia hanya bisa memandangi sosok yang telah menjadi guru dan pengajarnya selama lebih dari 30 tahun ini.


Meskipun singkat....


Tapi Aaron merasakan suatu kedekatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Hal yang sama seperti yang dirasakannya kepada rekan-rekannya yang ada di dunia manusia pada kehidupannya yang sebelumnya.


Kehadiran sosok orang lain. Meskipun singkat, hal itu telah memulihkan seluruh kesendirian yang dialami oleh Aaron sebelumnya.


Sebuah kesendirian dimana dirinya hanya tahu dan hanya bisa untuk terus membantai Iblis. Tanpa menyadari kenyataan dari dunia ini.


"Hendra.... Alice.... Rika.... Maafkan aku. Aku juga tak bisa melindungi kalian bertiga sebelumnya. Tapi kini.... Aku...."


Aaron hanya bisa terpuruk di hadapan tulang belulang itu.


Menghabiskan semalaman hanya untuk menangisi kepergian dari satu-satunya guru yang memperlakukan dirinya seperti manusia yang seutuhnya.


Berbeda dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Katredal Suci pada saat melatihnya.


......***......


Aaron memulai kembali kesehariannya. Tapi kini, Ia hanya sendirian di dalam perpustakaan raksasa itu.


Tak ada lagi satu orang pun yang ada di sisinya. Tak ada lagi yang mengajarinya. Seakan-akan dunia telah benar-benar meninggalkannya. Seakan-akan dunia telah mengutuknya untuk selalu sendiri.


Tapi Aaron sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Dirinya hanya teringat mengenai pesan-pesan yang telah disampaikan oleh Gath.


Kekuatan fisik dan sihir hanya akan dibawa sebagian. Tapi sebaliknya, ilmu pengetahuan akan dibawa seutuhnya setelah kembali mati dengan sihir yang terpasang padanya.


Itulah kenapa Aaron hanya menghabiskan seluruh waktunya saat ini di dalam sebuah kamar kecil. Di hadapannya ada sebuah tumpukan buku yang tebal, yang disusun dengan rapi di sisi samping meja kayunya itu.


Sedangkan di bagian belakangnya terdapat sebuah jam dinding yang tak lain adalah artifak buatan Chronoa itu sendiri.


Aaron terus menerus mengalirkan Mana miliknya ke dalam jam dinding itu. Pada awalnya, Ia selalu gagal untuk membuat aliran yang stabil.


Tapi setelah terus menerus melakukannya selama lebih dari 10 tahun, kini Aaron dapat mengalirkan dan mengendalikan energi Mana dengan sangat akurat. Bahkan bisa dikatakan mendekati sebuah kesempurnaan.


Tak ada satupun jumlah Mana yang tidak sesuai yang dialirkan ke dalam jam dinding itu.


Meski begitu, energi Mananya segera terkuras habis setelah 3 jam penggunaan artifak itu.


"Bahkan energi Mana milikku sudah jauh lebih besar karena terus menerus mengurasnya. Meski begitu aku masih belum mampu menggunakan benda ini selama 24 jam? Gath akan kecewa padaku." Ucap Aaron dengan wajah acuh yang terus membaca buku itu.


Sejak kematian satu-satunya gurunya, Aaron sama sekali belum pernah kembali ke dalam kamar Gath.


Sejujurnya Ia cukup penasaran dengan tumpukan buku dan kertas yang ada di meja kerja Gath. Tapi Ia mengurungkan niatnya untuk melihat hal itu. Mungkin saja itu adalah sesuatu yang tak bisa Gath tunjukkan pada Aaron.


Mengabaikan seluruh latihan fisiknya, Aaron pun hanya mendedikasikan dirinya untuk mempelajari sebanyak mungkin buku yang ada.


Baik itu buku ilmu sihir, maupun buku pengetahuan umum. Semuanya tanpa terkecuali Ia pelajari sambil terus menerus meningkatkan kapasitas energi Mana miliknya dengan menggunakan artifak jam itu.


......***......


...'BZZZZTTT!!!'...


Pandangan Thiria kembali buram selama beberapa saat. Kini apa yang ada di hadapannya semakin jelas. Yaitu pemandangan sebuah ruang tahta di suatu kastil.


Tak lupa, suara dengungan yang keras terus menerus menusuk telinganya.


Tangan kirinya berusaha untuk menutup telinga kirinya. Sedangkan tangan kanannya menutupi kedua matanya yang telah terpejam itu. Meski begitu, pemandangan yang ada di hadapannya sama sekali tak menghilang.


Terlihat sosok seorang Pria dengan pakaian hitam dan rambut perak yang berlutut di hadapannya. Thiria sama sekali tak mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Meski begitu, Ia merasa tidak asing dengan pemandangan yang dilihatnya.


"Apa ini? Kenapa aku selalu melihat ini?" Ucap Thiria pada dirinya sendiri.


Lokasi Thiria berada saat ini adalah di dalam sebuah goa yang besar, dengan cahaya biru yang berasal dari berbagai batuan sihir di dinding goa itu.


Di sekitarnya terdapat tumpukan mayat dari berbagai jenis Iblis, serta kepala ular raksasa yang telah tergeletak di hadapannya.


Lautan darah yang berwarna kehitaman mulai memenuhi goa ini, dengan Thiria yang masih merasakan gangguan pandangan dan pendengarannya.


"Apakah ini pandangan dari masa depanku? Oracle sialan.... Apakah dia memaksaku melihat ini? Apa itu artinya aku akan memiliki pengikut kedepannya?" Tanya Thiria pada dirinya sendiri.


Tak ada satu orang pun yang bisa menjawabnya.


Tapi Thiria yakin, bahwa setidaknya para Oracle mampu menjelaskan mengenai hal ini.


Oracle adalah sosok Iblis yang berasal dari para keturunan naga tanah. Meski tak termasuk dalam keenam penguasa utama dunia Iblis ini, mereka masih termasuk ke dalam salah satu Iblis tingkat tertinggi yang pernah ada.


Sebagian besar Raja Iblis tingkat menengah dan bawah menyembah para Oracle layaknya dewa.


Hal yang wajar, karena para Oracle memiliki sebuah kemampuan yang bahkan tak dimiliki oleh keenam penguasa utama. Yaitu kemampuan untuk melihat ke masa depan.


"Kurasa aku akan meminta mereka untuk memberikanku penjelasan."


Thiria segera kembali berjalan dengan tubuh yang sedikit sempoyongan. Ia tak mampu berjalan dengan baik karena gangguan penglihatan dan pendengarannya yang begitu parah.


Bahkan, Ia tak sempat untuk berpikir meneguk darah Hydra yang baru saja dibunuhnya. Yang seharusnya dapat membuatnya menjadi bertambah kuat, atau setidaknya meredakan kondisinya.


Itu karena Thiria tak lagi mampu berpikir dengan jernih semenjak ratusan kali melihat dan mendengar hal yang sama secara terus menerus. Yang semakin hari semakin jelas, semakin lama, dan juga semakin menyakitkan.