
Beberapa Minggu telah berlalu semenjak rapat besar yang diadakan di Jakarta.
Seperti biasa, Aaron menjalankan rutinitas hariannya dengan terus menerus memburu Iblis tanpa henti. Perburuannya itu seakan tak ada lagi hari esok.
Aaron bahkan dengan senang hati mengambil pekerjaan anggota yang lainnya untuk memburu Iblis. Terutama untuk gerbang pada peringkat C keatas.
Kecintaannya terhadap perburuan iblis membuat semua orang di Guild Silver Guards itu memberikannya sebuah julukan.
'Penggila Iblis'
Sebuah julukan yang diberikan murni karena dalam pikiran Aaron hanya dipenuhi dengan iblis. Perburuannya terus menerus berlanjut tanpa mengenal lelah.
Hingga akhirnya....
"Aah.... Apa yang harus ku lakukan di hari libur seperti ini?"
Kini Aaron sedang bersantai di tempat tidurnya. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah karena seluruh tindakannya hingga hari ini, telah menutup hampir semua gerbang Iblis yang ada di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Tak tanggung-tanggung, kedamaian di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya ini telah masuk ke dalam berita. Sebuah fenomena dimana masyarakat bisa menjalankan aktivitas mereka dengan tenang tanpa perlu memikirkan mengenai keberadaan Iblis.
Kejadian ini telah disiarkan ke seluruh saluran televisi nasional. Tapi tentunya, Aaron menyerahkan seluruh permasalahan pers dan juga wawancara kepada Hendra.
Alasannya?
Daripada membuang waktu untuk melakukan omong kosong ini, lebih baik Ia pergi berburu. Itulah alasan yang disebutkan oleh Aaron.
Dan imbasnya terjadi hingga hari ini.
"Kenapa dunia terlalu damai.... Iblis, dimana kalian?"
Aaron terlihat mengeluhkan keadaan ini sambil melihat keluar jendelanya. Berharap untuk memperoleh penugasan di luar tempat damai ini.
Tapi pada saat itu juga....
'Dok! Dok! Dok!'
Seseorang nampak mengetuk pintunya. Suara yang lembut dan juga merdu terdengar dari balik pintu itu.
"Aaron, kau di dalam?"
"Alice! Apakah sudah ada misi memburu Iblis?!" Teriak Aaron yang dengan secepat kilat membukakan pintu.
"Kau.... Kau benar-benar hanya memikirkan tentang iblis ya?" Balas Alice sambil membuat pandangan yang cukup jijik.
......***......
...-- Taman Kota --...
Pada akhirnya, Alice mengajak Aaron untuk berjalan-jalan di sekeliling taman kota ini.
Tujuannya adalah untuk melakukan refreshing tentu saja. Tapi sekaligus untuk melakukan patroli. Buktinya adalah mereka berdua mengenakan seragam Silver Guards yang terlihat begitu gagah.
"Yo, Alice. Apakah aku benar-benar tak diberi izin untuk pergi ke Provinsi lain?" Tanya Aaron tetap dengan wajah murungnya.
"Provinsi lain telah dijaga oleh komandan dan juga bawahannya masing-masing. Memasuki wilayah mereka tanpa izin mungkin akan memperburuk citra kita. Terlebih lagi, jika mereka membutuhkan bantuan, maka kita akan memperoleh pesan tersebut." Jelas Alice panjang lebar.
"Begitu ya...."
"Daripada membahas itu, Aaron! Apakah kau sudah pernah mencoba sosis bakar itu?! Aku akan mentraktirmu!" Teriak Alice sambil menarik tangan kiri Aaron.
Secara setengah terpaksa, akhirnya Aaron mengikuti langkah Alice.
Senyuman tipis terlihat di wajahnya.
'Sosis bakar ya.... Sepertinya lezat.'
Itulah yang ada di dalam pikiran Aaron setelah menghirup aroma yang begitu menggoda itu.
Sebuah sosis berukuran cukup besar ditusuk dan dibakar di atas sebuah panggangan. Tak lupa sosis itu telah diiris sedemikian rupa sehingga membentuk spiral.
Dengan bumbu berupa kecap manis, saos, serta mayones membuat jajanan itu terlihat begitu indah.
"Alice, tak masalah jika kau yang mentraktirku?"
"Tentu saja. Pak, kami pesan empat." Ucap Alice sambil mengangkat empat jari tangan kanannya.
Pedagang yang hanya menggunakan sepeda motor sebagai lapak dagangannya itu pun tersenyum sambil membalas.
Godaan berupa aroma asap yang begitu nikmat mampu membuat bahkan Aaron sekalipun segera kelaparan. Suara perutnya terdengar cukup ringan setelah terus menerus memperhatikan sosis itu.
Pada akhirnya, mereka berdua menikmati masing-masing dua buah sosis bakar itu sambil duduk di samping sang pedagang.
"Gwuilwa! Wuewnwak swekwalwi!"
"Telan dulu baru bicara!" Teriak Alice membalas tingkah Aaron.
"Hahaha! Kalian benar-benar diluar bayangan kami semua." Ucap sang pedagang yang juga ikut duduk di pembatas jalan setapak itu.
Mendengar pernyataan dari pedagang itu, Alice merasa penasaran.
"Apa maksudmu dengan diluar bayangan?" Ucap Alice sambil mengunyah sosis bakarnya.
"Yah kau tahu kan? Beberapa rumor terus menerus berterbangan di berbagai tempat. Menyatakan bahwa orang-orang dari Silver Guards adalah orang yang berbahaya dan sangat tegas. Berurusan dengan mereka saja dikisahkan bisa masuk ke dalam penjara." Jelas sang pedagang itu.
"Apa-apaan itu? Kami tak pernah melakukan hal seperti itu."
"Wuitwu bwenwar! Kwamwui hwanwya mwemmm!!!"
Alice segera membungkam mulut Aaron yang berusaha untuk berbicara itu.
"Itu benar. Kami hanyalah petugas untuk menjaga masyarakat dari Iblis. Kami tak memiliki kuasa seperti itu." Lanjut Alice seakan memahami apa yang ingin diucapkam oleh Aaron.
"Aah.... Benar juga. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa kalian berada di atas polisi.... Hahaha, nampaknya itu salah ya?"
"Tentu saja. Bahkan polisi bisa saja menahan kami jika memang melakukan suatu kesalahan."
Pembicaraan yang cukup berat itu mulai menyebar ke beberapa tempat. Memanggil pedagang yang lainnya untuk mendekat.
Selama ini, masyarakat selalu menganggap bahwa Silver Guards adalah organisasi besar yang tak hanya menjaga keamanan manusia dari ancaman Iblis dan juga penjahat, tapi juga penegak hukum.
Pada kenyataannya, Silver Guards dibentuk oleh pemerintah pusat sebagai upaya untuk menjaga kedamaian dunia dengan meminimalisir ancaman iblis dan juga penjahat berupa Hunter lain maupun *******.
Semakin lama, semakin banyak orang yang berkumpul mengerubungi dua orang anggota Silver Guards itu.
Beberapa pedagang bahkan memberikan jajanan gratis kepada Alice dan juga Aaron hanya untuk mendengarkan kisah mereka berdua.
Kisah mengenai bagaimana mereka melawan iblis dan menyelamatkan banyak orang yang tak berdaya di hadapan Iblis itu.
Sedikit demi sedikit....
Kepercayaan dan kedekatan antara masyarakat dengan Silver Guards semakin meningkat.
Tentu saja, hal ini juga salah satu tugas kecil dari para anggota Guild ini.
Tanpa disadari, matahari terlihat akan segera terbenam. Mereka berdua menghabiskan 3 jam lebih untuk berbincang-bincang dengan para masyarakat. Sekaligus untuk menjaga tempat ini.
"Terimakasih banyak! Datanglah kemari lain kali, aku akan memberikan bonus setiap pembelian!"
"Terimakasih telah bermain dengan putriku, Aaron!"
"Terimakasih telah...."
Aaron dan juga Alice melambaikan tangan mereka ke arah pengunjung taman ini. Senyuman yang ada di wajah mereka berdua tak kunjung hilang.
Hingga akhirnya, mereka harus segera kembali ke markas.
Dalam perjalanan....
"Jadi, bagaimana?" Tanya Alice sambil memberikan senyuman yang seakan mengejek.
"Apanya yang bagaimana?"
"Kau menikmati tugasmu di masa damai ini?" Tanya Alice sambil sedikit menubrukkan tubuhnya ke arah Aaron.
"Hentikan itu! Yah.... Bagaimana ya, aku cukup kesal karena tak bisa pergi untuk memburu Iblis tapi.... Melihat mereka begitu bahagia dengan kedamaian ini, aku benar-benar bersyukur."
"Benar kan? Maka dari itu berhentilah bermalas-malasan dan bantu aku latihan."
"Eh? Sekarang?"
"Kapan lagi? Ayo cepat!" Teriak Alice sambil menarik tangan Aaron.