Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 18 - Dungeon Rank A



...-- Kantor Pusat Silver Guards --...


...-- Pukul 22.31 --...


Di hadapan Komandan Silver Guards wilayah Yogyakarta, Hendra, Aaron terlihat berdiri dengan sikap yang santai.


"Dungeon baru?" Tanya Aaron dengan wajah yang cukup datar. Di sisi kiri pinggangnya, pedang hitam usang itu nampak selalu tergantung dengan rapi.


Selain itu, pakaiannya adalah seragam hitam khusus anggota Intel Silver Guards.


"Itu benar. Dan kali ini cukup buruk, Aaron." Balas Hendra sambil memasang wajah yang tegang.


"Apa maksudmu dengan itu?"


"Gerbang Dungeon dengan energi sihir tingkat A telah muncul di daerah Kaliadem sekitar 2 jam yang lalu. Tepatnya di pinggiran sungai. Ratusan petugas telah mengamankan zona itu. Akan tetapi...."


Kali ini, Hendra menjelaskannya dengan raut wajah yang bercampur antara marah dan kesal.


Aaron yang telah mulai terbiasa dengan keadaan di dunia modern ini pun memahami. Bahwa kelanjutan dari perkataan yang tak diselesaikan oleh Hendra adalah sebuah kenyataan dimana mereka semua dibantai oleh Iblis.


Oleh karena itu....


"Aku akan kesana. Apakah area invasi iblis itu sudah luas?" Tanya Aaron kepada Hendra.


Area invasi adalah sebuah istilah yang dibuat untuk menjelaskan seberapa besar daerah yang telah berhasil diduduki oleh Iblis. Sebuah daerah dimana kerusakan telah dipastikan.


Kerusakan ini bukan hanya terbatas pada hancurnya bangunan atau fasilitas umum. Tapi juga hancurnya kesuburan dan ekosistem lingkungan.


Tak jarang kemunculan Iblis saja mampu menyebabkan hutan yang rimbun sekalipun menjadi padang pasir.


"Saat ini pasukan Silver Guards telah menahan mereka pada radius 3 kilometer. Tapi jujur saja, aku tak yakin itu akan bertahan lebih lama. Oleh karena itu, Aaron. Apakah kau mau kesana?"


Sebenarnya, Hendra ingin menunggu bantuan Hunter Rank S dari Silver Guards yang saat ini berada di Semarang. Tapi menunggu bantuan itu dirasa terlalu lama.


Jika pertahanan pasukan ini berhasil ditembus, jangankan 3 kilometer.


Kemungkinan besar seluruh wilayah Kaliadem dan Kaliurang akan dikuasai oleh Iblis.


"Tenang saja. Aku akan segera kesana dan menutup gerbang Dungeon itu." Balas Aaron sambil segera membuka pintu untuk meninggalkan ruangan itu.


Di balik badannya, terlihat sosok Hendra yang telah menundukkan kepalanya hingga menyentuh meja.


"Terimakasih, Aaron."


......***......


"Anemos." Ucap Aaron sebelum mulai berlari dari depan ruangan Hendra.


Angin dengan warna putih kehijauan mulai menyelimuti tubuh Aaron dengan lembut. Membantunya dalam melakukan setiap gerakan.


Langkah awalnya terlihat lambat. Tapi lama kelamaan langkahnya semakin ringan dan semakin cepat.


'Tap! Tap! Tap!'


Aaron berlari dengan sekuat tenaga ke arah Utara segera setelah keluar dari kantor ini. Ia bahkan telah meninggalkan sopir mobil yang menantinya di depan gedung kantor itu.


Alasannya?


Tentu saja karena berlari jauh lebih cepat daripada mengendarai mobil. Meskipun, itu hanya berlaku bagi Aaron yang telah memperoleh berkah suci Anemos.


Di jalanan yang telah sepi ini, Aaron bisa bergerak dengan tenang tanpa harus memikirkan orang lain yang bisa melihatnya. Suara langkah kakinya yang cepat hampir tak terdengar sama sekali. Terlebih lagi, Ia mengenakan seragam Intel hitam gelap yang membuatnya semakin sulit dilihat.


Sedangkan kecepatannya?


Aaron saat ini bahkan mampu mendahului sebuah mobil yang sedang mengebut pada kecepatan 120km perjam.


"Apa itu?" Ucap sang pengendara mobil ketika melihat sesuatu melewatinya dengan kecepatan yang lebih tinggi.


Sementara itu, tak ada satu keringat pun yang menetes dari tubuh Aaron. Ia bahkan sama sekali tak kesulitan dalam bernafas.


'Syukurlah jalanan di dunia modern ini sangat bagus. Mengingatkanku pada betapa sulitnya berlari di batuan terjal dan tajam di dunia Iblis....' Pikir Aaron dalam hatinya sambil memasang wajah yang cukup datar.


Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, kini Ia telah berada di zona terdepan area invasi Iblis.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Aaron yang mulai memperlambat larinya. Berkah Anemos juga terlihat mulai memudar secara perlahan.


"Eh?! Siapa kau?! Bagaimana kau bisa ada disini?!"


Tapi Aaron hanya diam sambil memperlihatkan lencana Intel miliknya. Secara langsung, petugas yang sedang berjaga di tempat ini paham dengan kondisinya.


Itulah pemikiran dari petugas ini. Ia merasa kesal karena pusat hanya memberikan bantuan sebanyak satu orang saja.


Akan tetapi....


"Lapor! Iblis telah mulai berkelompok dan siap bergerak ke arah Selatan!" Ucap seorang petugas yang cukup muda sambil memberikan hormat kepada Aaron.


Dari penampilannya, Ia terlihat seperti seorang pemuda dengan umur 21 tahun. Rambutnya berwarna hitam dengan seragam standar Silver Guards.


"Terimakasih. Kalian semua mundurlah, aku yang akan menangani ini." Ucap Aaron sambil berjalan dengan santai melewati pembatas yang telah dibuat para petugas itu.


Dan apa yang ada di hadapan Aaron....


"Fellbeast ya?"


Sosok Iblis yang sedang dihadapinya berupa berbagai jenis hewan buas dengan sebuah ciri yang sama. Yaitu tubuh mereka terbakar oleh api merah menyala.


Sebuah kutukan yang memberikan mereka kekuatan, tapi merenggut kebebasan mereka.


Sedangkan sosok yang merenggut kebebasan itu..


"Jadi begitu. Iblis Tamer ya? Sudah lama tak berjumpa dengan mereka." Ucap Aaron sambil tetap berjalan dengan santai.


"Ggrrrrrr!!!"


Tiga ekor serigala raksasa dengan ukuran yang sebesar gajah itu berdiri tepat di hadapan Aaron.


Mereka memamerkan taringnya dengan niatan untuk menakuti orang yang ada di hadapannya. Tentu saja, termasuk bersiap untuk memangsanya.


Api merah yang menyelimuti tubuh mereka itu telah lama mulai membakar pepohonan yang ada di sekitarnya.


"Kurasa aku tak perlu menggunakannya hanya untuk melawan kalian."


Apa yang dimaksud oleh Aaron adalah menggunakan pedang hitam usang yang ada di pinggangnya.


Dengan cepat, Aaron segera melompat dan memberikan pukulan telak pada kepala salah satu Fellbeast itu.


'Blaaaaaarrrr!!!'


Suara pukulannya begitu keras hingga membuat semua orang yang sedang berjaga di sekitar tempat itu mengira petir baru saja menyambar.


Dari pukulan itu, terlihat kepala Fellbeast dengan bentuk serigala itu hancur lebur. Membunuhnya dengan sekali pukulan.


Akan tetapi....


"Graaawwrrr!!!"


Kedua Fellbeast itu terus menerus mencoba untuk mendesak Aaron.


'Blaaarr! Kraaaakk!!'


Dengan tendangan yang kuat dari Aaron yang mengarah ke langit, leher dari salah satu Fellbeast itu dengan segera patah. Membuatnya jatuh tak sadarkan diri.


Tanpa ampunan, Aaron segera menghabisinya dengan memberikan tendangan ke arah tanah.


Suara dari benturan itu bahkan cukup keras hingga terdengar seperti sebuah ledakan dari bawah tanah.


'Zraaaattt!'


Aaron melompat ke arah kepala Fellbeast terakhir itu. Tapi kali ini, Fellbeast itu berhasil membuka mulutnya tepat waktu. Membuat Aaron termakan hidup-hidup.


Meskipun....


'Bruukk! Brruuukk! Kraaaakk!'


Aaron memukuli tubuh Fellbeast itu dari dalam tubuhnya. Membuatnya jatuh terkapar dengan penuh rasa sakit. Sedangkan Aaron sendiri terlihat membuka paksa perut Iblis itu dan keluar dengan tubuh yang dipenuhi dengan darah.


"Sialan.... Aku yang harus mencuci semua ini kau tahu?"


Dengan kalimat itu, Ia melanjutkan kembali perburuannya di tempat ini.


Tak memperdulikan apapun.


Baik itu pandangan orang terhadap dirinya, harta, maupun kekuasaan.


Apa yang diinginkan oleh Aaron hanya satu.


Membasmi sebanyak mungkin Iblis.