Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 9 - Insiden Kecil



...-- Lereng Gunung Merapi --...


Ketika Aaron berjalan melewati Portal itu, beberapa petugas keamanan dan juga anggota Guild Silver Guards nampak kebingungan.


Seakan tak bisa percaya bagaimana Aaron bisa selamat meskipun Hendra dan juga Alice tak bisa menangani Boss di dalam Dungeon itu.


"Ka-kau.... Baik-baik saja?!" Tanya Alice dengan wajah terkejut sambil mengelilingi tubuh Aaron. Ia terlihat memeriksa segala sesuatu yang ada.


"Hentikan itu. Aku baik-baik saja." Balas Aaron sambil memasang wajah yang risih.


Di sisi lain, Hendra nampak terlihat sangat kebingungan mengenai tubuh Aaron yang terlihat tak tergores sedikitpun.


'Sebelumnya dia tertimpa batu besar, tapi masih bisa bergerak hingga ke dalam kastil. Tak hanya itu, Ia juga melawan iblis yang bahkan mampu menembus pertahanan ku. Meski begitu, Ia baik-baik saja?' Tanya Hendra dalam hatinya sendiri.


Hendra memang menyadari bahwa sihir penyembuh yang dimiliki Aaron tak hanya langka, tapi juga sangat kuat. Bahkan sihir itu mampu menyembuhkan luka fatal yang seharusnya sangat sulit disembuhkan itu.


Di saat semua orang kebingungan....


"Ah, tapi sayangnya aku mematahkan pedangnya. Bagaimana caranya aku menggantinya?" Tanya Aaron sambil menarik pedang dari yang telah terbelah dua itu. Wajahnya terlihat sedikit khawatir.


"Asal kalian tahu, aku sama sekali tidak memiliki uang. Mungkin aku bisa menggantinya dengan sesuatu?" Lanjut Aaron seakan tak mengerti arti ucapannya itu.


Ia seakan mengatakan bahwa pedangnya yang patah jauh lebih mengerikan daripada boss yang sebelumnya mereka lawan.


'Tap! Tap! Tap!'


Hendra melangkah secara perlahan mendekati Aaron. Dengan tatapan yang serius, bahkan terkesan menyeramkan itu, akhirnya Ia berbicara.


"Lupakan soal pedang kualitas rendahan itu. Aaron, apakah kau tertarik untuk...."


"Tak bisa seperti itu, Komandan keamanan." Ucap seorang Pria dengan seragam seperti jubah penyihir berwarna merah dengan alur emas itu.


Pria itu nampak berjalan dengan wajah yang terus menerus tersenyum. Bersama dengan enam orang pengawalnya yang mengenakan seragam yang hampir serupa.


"Cih. Akhirnya datang ya?" Keluh Hendra sambil sedikit mendecakkan lidahnya.


"Siapa dia?" Tanya Aaron dengan suara yang sama lirihnya. Selama pengalamannya hidup seribu tahun di dunia Iblis, Ia bisa membedakan antara Iblis yang jahat dengan yang sangat jahat. Dan orang yang ada di hadapannya itu....


'Orang ini adalah kabar yang buruk. Entah mengapa, hatiku mengatakan hal itu.' Pikir Aaron dalam hatinya.


Mendengar pertanyaan pelan dari Aaron, Hendra pun segera menjawab.


"Satria, dari Guild Red Phoenix. Dia adalah penyihir api tingkat tinggi. Dan orang paling menyebalkan yang kukenal." Jawab Hendra dengan berbisik.


"Jadi begitu."


Aaron segera melangkah untuk mendekati Satria dan juga pengawalnya. Berniat untuk menilai orang itu secara langsung.


'Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada manusia selama seribu tahun ini. Tapi nampaknya manusia telah berkembang ke arah yang cukup buruk.' Pikir Aaron sambil memperhatikan tubuh Satria.


"Perkenalkan, namaku adalah Satria dari Guild Red Phoenix. Kami kemari untuk merekrutmu, wahai pahlawan." Ucap Satria sambil memberikan salam hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Hmm? Pahlawan? Aku tak ingat pernah melakukan apapun padamu." Balas Aaron sambil terus menatap mata Satria.


"Jangan merendah seperti itu. Bukankah kau telah menyelamatkan kota ini dengan membunuh lima Iblis yang muncul itu sendirian? Tenang saja, kami memperhatikanmu melempar pisau itu dari atap bangunan." Balas Satria sambil terus menjaga senyuman hangatnya.


"Ah jadi begitu? Ngomong-ngomong, Hendra. Aku ingin memastikan satu hal padamu." Ucap Aaron tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dari Satria.


Tanpa keraguan, Hendra segera melangkah mendekat ke arah Aaron. Menanyakan apa yang dimaksud olehnya.


Tapi pada saat Hendra telah berada di samping Aaron....


"Apakah manusia di zaman ini memang melakukan kontrak dengan iblis?"


Tatapan mata Aaron sangatlah tajam dan terlihat terkunci di balik mata Satria ketika mengucapkan hal itu.


Akan tetapi.... Tepat sebelum Hendra menjawabnya....


Satria telah mengarahkan kedua tangannya ke tubuh Aaron. Api merah kekuningan nampak menyelimuti kedua lengannya itu.


'Bruuuukk!'


Kedua orang itu bertubrukan tanpa sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


Meskipun, tak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk menyadari apa yang telah terjadi.


Semburan api yang kuat terlihat membakar tubuh Aaron tanpa kenal ampun. Termasuk juga pos penjagaan portal yang ada di sini.


"Jadi kau juga sama seperti yang lain ya?! Memangnya kenapa? Kekuatan adalah kekuatan! Takkan ada yang membantah hal itu! Semuanya! Beri dia pelajaran!" Teriak Satria sambil terus menyemburkan sihir api dari kedua telapak tangannya.


"Aaron!" Teriak Hendra setelah memahami apa yang terjadi. Ia terlihat hendak segera berlari untuk memberikan bantuan kepada Aaron.


"Kalian para petugas keamanan diam saja! Atau aku mungkin akan membakar kalian!" Teriak Satria dengan wajah yang cukup mengerikan itu.


Meski begitu, Hendra tetap berdiri dan berusaha untuk membantu. Begitu juga Alice yang telah siap untuk menggunakan sihir esnya.


Tapi sayangnya....


"Kalian semua tenanglah. Api selemah ini takkan melukaiku. Daripada memikirkan hal itu, jawablah pertanyaanku. Apakah manusia di zaman ini memang lazim memanfaatkan iblis sebagai sumber kekuatan?"


Suara Aaron terdengar dari balik kobaran api yang bahkan telah membuat sebagian besar batuan di sekitar tempat ini meleleh.


Bahkan ucapannya terkesan sangat santai meskipun berada dalam situasi yang sangat mengerikan itu.


Merasa tersinggung, Satria mulai memperkuat sihirnya. Kini, kobaran apinya menjadi jauh lebih besar. Begitu pula para pengawalnya yang mulai menaikkan daya hancur sihir apinya.


Melihat hal itu, Hendra sedikit kebingungan.


'Yang benar saja?! Api seperti itu dibilang lemah?!' Pikir Hendra dalam hatinya. Karena kepanikan yang menguasai dirinya, Ia lupa untuk menjawab pertanyaan dari Aaron.


Meskipun benar bahwa serangan api Satria saat ini kepada Hunter dengan tingkat [B] ke atas takkan mampu membunuhnya. Tapi tentu saja mereka akan tetap menerima luka yang cukup besar.


Mengetahui bahwa Hendra sedang panik dan kebingungan, Alice akhirnya segera mewakilinya.


"Ya! Sebagian manusia memang melakukan kontrak dengan iblis untuk memperoleh kekuatan yang lebih besar demi membasmi iblis lain! Meskipun diperbolehkan secara hukum, saat ini hal itu masih dipandang buruk oleh sebagian besar Hunter yang lainnya!"


"Jadi begitu. Terimakasih." Balas Aaron dengan tenang. Ia terlihat berjalan dengan santai di dalam kobaran api yang sangat besar itu. Lalu dengan tangan kirinya....


'Tap!'


Ia menyentuh leher dari Satria. Seakan telah siap untuk mencekiknya.


Sihir apinya pun segera berhenti karena telah paham posisinya yang saat ini.


Pada saat itulah....


"Jika dunia saat ini memang seperti itu, maka apa boleh buat. Tapi biar kutanyakan satu hal padamu. Apakah kau berada di pihak Manusia? Atau Iblis?" Ucap Aaron dengan nada yang sedikit berbeda daripada ketika Ia berbicara dengan Hendra dan Alice.


Satu hal yang membuat Satria benar-benar ketakutan dengan sosok bernama Aaron ini. Yaitu sebuah kenyataan bahwa sedari awal, Aaron sama sekali tak memalingkan pandangannya sedikitpun.


Tatapannya masih tertuju pada mata Satria.


"Tentu saja pihak manusia! Aku hanya kesal dengan mereka semua yang memandang buruk kontraktor iblis!" Balas Satria dengan keras. Meski begitu, Ia tak mampu menyembunyikan rasa takutnya dengan baik.


'Yang benar saja?! Bahkan tak sedikitpun goresan pada tubuhnya? Meskipun aku memang tak berniat untuk membunuhnya dengan menahan kekuatanku tapi.... Bukankah dia terlalu tangguh?!' Pikir Satria dalam hatinya.


Ia terlihat sudah siap untuk menerima serangan balasan dari Aaron. Akan tetapi....


"Hahaha! Jadi begitu ya? Maafkan aku karena telah lancang padamu barusan. Mari kita bekerjasama untuk selalu membasmi iblis." Ucap Aaron sambil tertawa dan terus menepuk pundaknya dengan tangan kirinya.


Melihat tingkah Aaron barusan, semua orang terlihat kebingungan.


"Kupikir pertumpahan darah akan terjadi disini...."


"Tak hanya kau saja yang berpikir seperti itu, Alice."