Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 12 - Ular Besar



Alice yang masih kebingungan dengan situasi saat ini akhirnya tersadar setelah melihat Sea Serpent yang dimaksud oleh Aaron melompat ke udara.


Ukurannya setidaknya sepanjang 30 meter lebih. Dengan diameter tubuh yang setebal lebih dari 4 meter membuat makhluk yang menyerupai ular itu cukup sulit untuk ditembus.


"Alice. Kau bilang di bagasi mobil terdapat beberapa senjata kan?" Tanya Aaron yang segera berlari ke arah mobil.


Alice pun mulai mengikutinya sambil melemparkan kunci mobil itu kepada Aaron.


"Ya! Ada beberapa! Apa yang akan kau lakukan?!"


"Tentu saja melawan makhluk itu!" Balas Aaron sambil segera membuka bagasi mobil sedan itu.


Busur, anak panah, dua buah tombak dan tiga buah pedang.


Tanpa ragu, Aaron segera mengambil semuanya dan mengikatnya di punggungnya. Semua kecuali sebilah pedang yang tipis.


'Tap!'


Aaron melemparkan pedang tipis itu kepada Alice.


"Bawa itu. Jika Sea Serpent hadir disini, kemungkinan besar juga anak-anak mereka." Ucap Aaron sambil segera berlari ke arah mercusuar tua di tempat ini.


Tangan kirinya membawa sebuah busur mekanik yang cukup besar. Bahan utama dari busur itu adalah baja tempa. Membuatnya kuat tapi juga ringan.


Sedangkan di pinggangnya terdapat satu tas penuh berisi anak panah dengan bahan logam yang ringan namun kuat.


"Apa maksudnya dengan anak-anaknya?" Pikir Alice kebingungan. Tapi Ia segera bergerak sesuai dengan permintaan Aaron.


"Komandan! Percepat bantuannya! Aaron berkata bahwa kali ini adalah kabar yang sangat buruk sehingga harus melakukan pengungsian!" Teriak Alice.


"Sedang kuusahakan." Balas Komandan Hendra yang sedari tadi tersambung dalam panggilan itu.


Kedua orang itu pun bergerak dengan sangat efisien. Alice tanpa menyia-nyiakan sedikitpun waktu segera mengeluarkan sihir es dan menembakkannya ke udara. Lebih tepatnya menargetkan atap seng di pasar yang ada di dekat bibir pantai ini.


'Krrootaak! Krreetaakk!'


Suara pecahan es yang menghujani atap seng itu terdengar begitu keras ke segala arah. Membangunkan sebagian warga yang sedang tertidur.


"Semuanya! Serangan Iblis! Bangunkan yang lain dan ikuti aku untuk mengungsi!" Teriak Alice sambil segera berlarian ke area pemukiman warga.


Penduduk yang masih setengah sadar karena baru saja bangun itu segera paham mengenai kondisi mereka.


Mereka yang tinggal sendiri segera berlari mengikuti Alice. Beberapa terlihat membantu Alice dalam membangunkan warga yang lain.


Sementara mereka yang berkeluarga segera membangunkan anggota keluarga mereka yang lain sebelum bergabung dengan Alice.


Di sisi lain....


Aaron saat ini telah berdiri di puncak mercusuar itu. Yaitu tepat di ujung atap mercusuar ini.


Tangan kirinya memegang busur dengan kuat. Sedangkan tangan kanannya menarik sebuah anak panah pada senar busur itu.


Beberapa detik telah berlalu, tapi Ia tak segera melepaskan tembakannya.


Alasannya sangatlah sederhana.


"Iblis sialan.... Keluarlah dari dalam air! Jangan hanya bersembunyi disana!"


Sekuat apapun tembakannya, kekuatannya akan jauh melemah ketika memasuki perairan yang dalam.


Hal itu mungkin masih bukan masalah jika lawannya adalah Iblis biasa. Tapi kali ini lawannya adalah salah satu keturunan Leviathan sang penguasa lautan.


Menembus sisiknya di udara sekalipun adalah hal yang sangat sulit. Tapi di dalam air?


Itu adalah hal yang mustahil. Terlebih lagi mengingat bahwa Aaron hanya memiliki 10 anak panah. Ia tak bisa menyia-nyiakan satupun tembakannya.


'Zraaaattt!!!'


Tembakan panah pertama yang dilancarkan oleh Aaron telah diperkuat dengan elemen petir dan angin. Tak hanya mempercepat laju tembakan itu, tapi juga meningkatkan daya hancurnya. Terutama pada musuh yang berelemen air.


Lesatan panah itu begitu cepat hingga nampak seperti bintang yang jatuh dari langit. Menembus lautan yang dalam itu dan mengarah tepat ke tubuh Sea Serpent.


Akan tetapi, kecepatan dan daya hancurnya telah menurun drastis. Ketika panah itu akhirnya menyentuh sisik terluar dari Sea Serpent itu, jangankan luka parah. Goresan sekalipun tak mampu terbentuk pada sisik yang sangat keras itu.


Aaron sadar bahwa panahnya akan jauh melemah ketika ditembakkan ke dalam air.


Selama ini, jika Ia berhadapan dengan Sea Serpent atau Iblis lain yang hidup di air, maka Aaron hanya meninggalkan mereka. Tak berpikir banyak untuk membunuhnya karena melawan musuh di wilayah keunggulan mereka adalah hal yang bodoh.


Tapi saat ini, Ia harus bertarung untuk melindungi manusia lain yang tinggal di tempat ini.


'Menggunakan Ignis akan sangat memperkuat daya hancurnya. Tapi aku ragu benda ini bisa menahannya bahkan selama 3 detik saja.' Pikir Aaron dalam hatinya sambil memperhatikan busur dan panah yang sedang digunakannya.


'Tak ada pilihan lain.'


Aaron dengan segera meletakkan busur dan panahnya di atap mercusuar itu. Ia kemudian menarik sebuah tombak dan meninggalkan sisanya bersama dengan busur dan panah itu.


Setelah itu, Aaron melompat turun ke tanah dan segera berlari ke arah laut.


Ia berencana untuk menghadapi Sea Serpent itu secara langsung di wilayah yang mengunggulkannya. Yaitu laut itu sendiri.


'Bluuukk!! Bluurrbb!!'


Dengan kecepatan yang sangat tinggi, Aaron mulai berenang menuju ke laut yang dalam itu.


Dalam pandangannya terlihat sosok Sea Serpent yang telah melepaskan ratusan telur ke laut ini. Tapi Aaron tak punya banyak waktu untuk memikirkan hal yang sepele seperti itu.


Saat ini tujuannya adalah....


...'JBLAAAAAAARRRRRR!!!'...


Suara ledakan yang begitu besar, diikuti dengan semburan air yang sangat tinggi itu dapat dilihat oleh semua orang yang ada di sekitar bibir pantai ini. Termasuk Alice.


"Nona Alice.... Kami akan selamat kan?" Tanya salah seorang wanita tua yang menggandeng dua cucunya itu.


Alice memang tak mampu memastikannya. Tapi satu-satunya jawaban yang bisa Ia berikan adalah....


"Tenang saja. Kami akan selalu menjamin keamanan kalian."


Di sisi lain....


Puluhan kendaraan Jeep terlihat melaju dengan kencang ke arah Pantai Samas. Semuanya berisi banyak Hunter dengan tingkat setidaknya [C] keatas.


'Kalian berdua.... Bertahanlah.' Pikir Komandan Hendra yang ada di dalam salah satu Jeep itu.


Sementara itu....


"Ada apa?! Takut tak bisa bernafas?!" Teriak Aaron kepada Sea Serpent yang telah terpental ke udara karena pukulannya itu.


Meskipun.... Kini tangan kanan Aaron terlihat dilumuri oleh darah.


'KRAAAAAAAAA!!!'


Tak berniat untuk menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan ini, Aaron segera bersiap untuk melemparkan tombaknya.


Dengan tangan kanan yang berdarah-darah itu, Ia mengumpulkan energi sihir dalam jumlah yang cukup besar. Termasuk juga....


"Ignis!"


Tombak itu kini diselimuti oleh api berwarna kuning kemerahan. Meskipun Aaron sebenarnya ingin menggunakan kekuatan yang lebih besar, tapi Ia ragu bahwa senjata yang digunakannya bisa bertahan.


Segera setelah melemparkan tombak itu....


'SPRAAASSSHHH!!!'


Tekanan udara yang sangat kuat menghempaskan lautan ini. Menghasilkan ombak yang sangat besar ke dua arah yang berlawanan.


Bahkan suara dari tekanan udara itu saja sudah cukup kuat untuk menghempaskan beberapa bangunan dan juga pepohonan yang ada di sekitar bibir pantai ini.


'ZLEEEEBBB!!!'


Tombak itu berhasil menembus sisik bagian paling atas dari Sea Serpent itu. Melemparkannya ke daratan.


'BLAAAARRR!!!'


Aaron yang melihat bahwa Ia telah berhasil mengeluarkan Sea Serpent itu dari wilayah keunggulannya segera berenang kembali menuju daratan.


Ia tak boleh menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan ini.


Sea Serpent itu terlihat meraung keras karena rasa sakit yang diterimanya. Meski begitu, apa yang telah hancur hanyalah lapisan paling atas dari sisik Sea Serpent itu.


Sedangkan tombak yang berusaha menembusnya telah meleleh. Begitu juga dengan salah api suci yang membakarnya, Ignis, yang telah padam.


'Tap!'


Hanya dalam beberapa puluh detik, Aaron telah berhasil kembali ke daratan. Sementara itu, Sea Serpent itu masih menggeliat dan kesulitan bergerak karena berat tubuhnya sendiri.


"Hah.... Ular sialan, kau sekali lagi merepotkanku. Sekarang aku akan menghabisi mu di wilayah keunggulanku." Ucap Aaron sambil tersenyum puas dan mempersiapkan pukulannya.


Tangan kanannya yang terluka juga terlihat telah sembuh kembali. Kini yang tersisa, hanyalah pertarungan penghabisan.