
"Aaron. Apakah kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" Tanya Hendra sambil memasang wajah yang serius.
Di dalam ruangannya ini, hanya ada Aaron dan Hendra saja. Membuat suasana menjadi cukup tegang dan serius. Meski begitu....
"Iblis kan? Katakan dimana lokasinya. Aku akan segera memburu mereka."
Itulah balasan yang diberikan oleh Aaron dengan wajah yang sangat serius. Ia bahkan telah siap untuk berlari sekuat tenaga ke lokasi yang akan disebutkan.
Mendengar hal itu, Hendra dengan segera memukul keningnya dengan cukup keras.
'Plak!'
"Komandan? Apa ada nyamuk?" Tanya Aaron sambil menunjukkan wajah khawatir.
Meski di dunia yang sangat damai ini, bahkan tak ada sedikitpun bahaya yang mengancam seperti ketika Aaron berada di dunia Iblis, Ia tetap memiliki satu keluhan besar.
Yaitu keberadaan nyamuk.
Hewan sialan yang suka menghisap darah ini cukup membuat kesal Aaron. Bukan karena Ia digigit dan merasa gatal. Tapi suara dan gerakan terbangnya yang begitu aneh, terkadang membuat Aaron tak sengaja menghirupnya. Membuatnya batuk karena menghirup nyamuk.
Akan tetapi....
'Plak! Plak! Plak!'
Hendra kembali memukul keningnya dengan telapak tangannya. Tapi kini tak cukup sekali. Ia memukulnya sebanyak tiga kali.
Alasannya?
"Aaron.... Apakah di kepalamu itu isinya hanya ada Iblis saja? Lagipula, nyamuk? Kau lebih khawatir tentang nyamuk daripada masalah yang sedang kita hadapi ini?" Tanya Hendra sambil memasang wajah yang kecewa.
"Yah, bagaimana lagi. Iblis adalah ancaman besar di dunia ini kan? Tentu saja aku terus memikirkan tentang mereka." Balas Aaron dengan wajah yang cukup kebingungan.
Hendra hanya menghela nafasnya karena mau tak mau, Ia harus bersabar dengan sikap setengah gila yang dimiliki oleh Aaron ini.
"Kau.... Aku hanya ingin memastikannya saja. Jika ada seorang gadis cantik berdiri di hadapanmu, dan seekor Iblis tingkat rendah seperti Goblin, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hendra penasaran.
"Tentu saja. Aku akan membunuh Iblis itu."
Balasan Aaron sambil memberikan tatapan serius, bahkan mata yang berbinar itu membuat Hendra semakin gila.
"Lalu.... Setelah itu?"
"Setelah itu? Tentu saja, Goblin takkan pernah bergerak sendirian. Mereka biasanya berkelompok. Jika aku menemukan Goblin yang sendirian, maka aku akan melakukan pencarian secara menyeluruh ke berbagai arah.
Bisa jadi, kawanan Goblin yang lain sedang bersembunyi. Atau mungkin saja sedang bersiap untuk melakukan sesuatu dengan satu ekor Goblin itu sebagai tumbal demi mengalihkan perhatian. Kemudian aku akan memburu mereka semua." Jelas Aaron panjang lebar.
Kali ini, Hendra menerima luka yang cukup fatal dari perkataan Aaron. Ia sama sekali tak menyangka bahwa situasi pengandaian yang dibuatnya, justru dipikirkan secara realistis oleh Aaron.
"Kau memang benar.... Goblin memang bertindak berkelompok. Ya, aku salah. Kemudian setelah kau membasminya?" Tanya Hendra sambil menaruh sedikit harapan kecil.
Sebuah harapan bahwa Aaron juga seorang lelaki yang normal.
"Berikutnya? Hmm.... Benar juga. Melihat kondisi seperti yang kau sebutkan barusan.... Goblin itu tak mungkin muncul dari udara. Mereka pasti datang dari suatu gerbang Dungeon. Maka langkahku berikutnya adalah dengan mencari Dungeon itu dan menutupnya rapat-rapat dengan membunuh bo...."
"BAGAIMANA DENGAN WANITA CANTIK YANG ADA DI DEPANMU SEBELUMNYA?!" Teriak Hendra kesal sambil memotong perkataan Aaron.
Kenyataannya, Aaron cukup terkejut dengan pertanyaan yang Hendra ajukan kali ini.
"Aaah.... Gadis cantik itu ya? Jika dari cerita barusan, gadis itu tak menderita luka apapun kan? Ia juga tak memiliki penyakit bawaan. Jadi meninggalkannya agar bisa lari ke tempat yang lebih aman adalah pilihan yang efisien. Mengingat ancaman Goblin yang mengancam kedamaian kota."
Dengan mendengar jawaban itu, akhirnya Hendra menyerah.
Saat ini, Ia telah sangat yakin bahwa Aaron bukanlah manusia yang normal. Setidaknya, ada satu atau dua baut yang hilang dari kepala Aaron yang menyebabkannya menjadi sangat terobsesi pada iblis seperti ini.
Mengetahui hal itu....
"Baiklah. Sudahlah. Lupakan saja. Sekarang apa yang ingin ku bicarakan padamu adalah ini." Ucap Hendra sambil mengulurkan sebuah kertas yang cukup tebal dengan tulisan yang sangat rapi.
"Aku kagum bagaimana kalian bisa menulis serapi ini."
Itulah kesan pertama yang dikeluarkan oleh Aaron setelah melihat surat itu. Baginya, buku dan tulisan jauh lebih berharga daripada emas. Itu karena pada zamannya, semua buku harus ditulis dengan tangan. Membuat harganya menjadi begitu fantastis.
"Kau.... Bisakah kau melupakan hal-hal tak berguna itu dan segeralah baca apa yang tertulis di situ?" Keluh Hendra dengan sedikit kesal.
"Baik baik.... Kau jadi orang tidak begitu sabaran ya."
Aaron pun segera membaca surat itu.
Pada intinya, surat itu berisi undangan kepada setiap komandan wilayah Silver Guards untuk menghadiri sebuah rapat besar. Isi dari rapat itu sendiri tak dijelaskan dengan rinci. Tapi apa yang ditekankan bahwa setiap komandan wajib datang, dan maksimal membawa dua orang pengawal.
Tentu saja, Aaron memahami maksud dari Hendra yang memperlihatkan surat ini kepadanya.
"Jadi kau ingin aku dan Alice untuk menemanimu?" Tanya Aaron untuk memastikan.
Hendra pun menganggukkan kepalanya membenarkan pernyataan Aaron.
"Bagus jika kau cepat paham. Apakah kau mau ikut ke Jakarta bersamaku dan Alice untuk menghadiri rapat ini?"
"Tentu saja. Bukankah itu pekerjaanku untuk selalu memenuhi perintah kerja darimu?" Jawab Aaron seakan itu semua bukanlah hal yang besar.
Aaron segera mempertanyakan mengenai kenapa sebuah rapat yang dihadiri oleh para komandan Silver Guards dari berbagai Provinsi ini harus terdapat pengawal.
Itu karena Aaron tahu, mereka semua pasti adalah manusia meskipun beberapa membuat kontrak dengan Iblis. Terlebih lagi, semuanya berada di bawah naungan Guild resmi Silver Guards.
Jadi seharusnya tak ada masalah yang mengharuskan mereka membawa pengawal.
Akan tetapi, Hendra segera menjelaskan bahwa meskipun Guild Silver Guards ini adalah Guild resmi dari Pemerintahan Indonesia, setiap komandan yang bertugas di wilayah mereka memiliki idealisme mereka masing-masing.
Tak jarang bahwa perbedaan pendapat antar komandan berakhir dengan pertengkaran yang cukup berat. Memaksa Komandan dari wilayah lain untuk ikut turun tangan.
Tapi permasalahannya, terkadang ada komandan wilayah yang tak ingin melerai. Melainkan memihak pada komandan wilayah lain. Membuat situasi menjadi semakin panas.
Oleh karena itulah, pembawaan pengawal menjadi diwajibkan. Tugas dari para pengawal itu adalah untuk memastikan Komandan mereka tak membuat tindakan yang bisa memancing amarah pihak lain. Termasuk juga menjaga dan melerai komandan di pihak mereka agar menghentikan pertikaian jika hal itu benar-benar terjadi.
Setelah memahami semua itu, Aaron menilai bahwa manusia di zaman ini justru mengalami kemunduran.
'Tak hanya perbedaan kewarganegaraan maupun Guild, bahkan di dalam Guild yang sama sekalipun mereka masih bertikai? Sungguh.... Apakah Dewa benar-benar mengharapkan ku untuk menjaga dunia ini?'
Meski pemikiran Aaron seperti itu, Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang anggota badan Intel di Silver Guards wilayah Provinsi Yogyakarta.
Lagipula, bukan dirinya yang memutuskan untuk melindungi ataupun tidak.
Itu adalah sebuah kewajiban baginya. Meski busuk sekalipun.