
Beberapa bulan telah berlalu semenjak Aaron mengurung dirinya sendiri di dalam ruang kerja itu. Pertemuan antara dirinya dengan Chronoa dan juga Gath hanyalah sebentar saja. Yaitu ketika mereka makan.
Apa yang dibicarakan juga tak banyak. Hanya mengenai bagaimana perkembangan Golem dan juga pendapat dari mereka berdua.
Segera setelah selesai makan, Aaron akan kembali mengurung dirinya di dalam ruang kerja itu. Tak berinteraksi dengan siapapun.
"Gath, bukankah dia terlalu buruk?" Tanya Chronoa sambil memperhatikan pintu dari ruang kerja itu.
Di sisi lain, Gath yang selalu mengikuti kemanapun Chronoa berada, segera menjawabnya.
"Jika kau bertanya padaku bagaimana dia sebelumnya, maka aku takkan bisa menjawabnya, Tuan Muda. Itu karena aku tak memiliki sedikitpun ingatan mengenai dirinya di garis waktu yang lain.
Tapi ada satu hal yang pasti. Orang itu telah sedikit rusak, baik karena sihir waktumu atau karena kebiasaan hidupnya yang selalu sendiri." Jelas Gath sambil berjalan secara perlahan.
Tangan kanannya terus menumpu tubuhnya yang telah bungkuk dan lemah itu dengan tongkat kayunya.
"Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Chronoa seakan tak mampu memahaminya.
Gath pun terlihat menghela nafasnya seakan kecewa dengan anak didiknya sendiri.
"Hahaha.... Nampaknya kau masih perlu belajar banyak. Yang ku maksud adalah, Aaron menghabiskan waktu ribuan tahun hanya dengan hidup sendirian di dunia ini. Mungkin saja sihirmu hanya memiliki efek yang ringan.
Tapi yang lebih berat adalah kebiasannya hidup selama ini." Jelas Gath dengan cukup panjang lebar. Ia pun segera duduk di kursi goyang untuk mengistirahatkan badannya.
Sedangkan Aaron sendiri terlihat sibuk bekerja di ruangannya sendiri.
Waktu terus berlalu.
Tapi Golem yang ingin dibuatnya sama sekali belum berhasil. Ada sesuatu yang kurang dari apa yang dibuatnya.
Sesuatu apa yang disebutnya sendiri sebagai jiwa yang murni.
Sebuah jiwa yang akan menuruti apapun perkataannya, dan yang paling jelas....
Tidak menyerangnya sesaat setelah dibangkitkan.
......***......
...'BZZZTTT!!!'...
Pandangan Thiria tiba-tiba menjadi sangat buram. Sedangkan telinganya mendengar sesuatu yang seharusnya tak dapat Ia dengar.
Semua itu terjadi di saat Thiria sedang sibuk melakukan pembantaian sama seperti biasanya.
Kepala salah satu Raja Iblis tingkat menengah itu ada di tangan kanannya. Mengalirkan darah yang tiada henti. Tentu saja nyawanya telah lama pergi.
"Apa itu barusan?" Tanya Thiria pada dirinya sendiri.
Pandangan yang dilihatnya adalah sosok seorang Pria berambut perak dengan zirah yang berwarna putih. Tak salah lagi bahwa sosoknya bukanlah Iblis, melainkan manusia.
Sedangkan di tangan kanan Pria itu, terdapat sebuah pedang yang cukup besar dan panjang dengan warna hitam dan alur biru yang rumit.
"Pandangan apa itu? Siapa dia?" Tanya Thiria pada dirinya sendiri.
Tak seperti yang sebelumnya, dimana pandangannya tak jelas dan tak begitu terdengar, kali ini penglihatannya sangat jelas dan nyata.
Apa yang dilihatnya, adalah sesuatu yang seharusnya belum pernah terjadi.
Atau lebih tepatnya....
Sesuatu yang akan terjadi di masa depan.
Senyuman yang tipis terlihat di wajah Thiria segera setelah Ia melihat tangannya dalam penglihatan itu.
Apa yang terdapat pada kedua telapak tangannya, adalah cairan berwarna merah gelap. Yang tak lain adalah darahnya sendiri.
Telah lama semenjak ada Iblis yang mampu melukainya.
Bahkan dari 5 penguasa utama yang lain, mereka hanya mampu memberikan goresan kecil pada dirinya sebelum kabur dengan mengorbankan para bawahan mereka.
Tatapan mata dari Aznor sekalipun tak mampu untuk menghancurkan tubu Ratu Iblis ini.
Tapi seorang manusia?
Dengan perasaan yang begitu bahagia, menantikan hari dimana Ia bertemu dengan manusia itu....
Thiria kembali melanjutkan kegiatan sehari-harinya, yaitu untuk terus membantai Iblis yang ada. Sebanyak yang Ia bisa.
......***......
...- Perpustakaan -...
"Hmm.... Aku sama sekali tak bisa membuatnya." Ucap Aaron pada dirinya sendiri di tengah meja makan itu.
Chronoa dan juga Gath yang mendengarnya pun sudah menduga hal itu.
"Sudah ku duga. Kemampuan membuat Golem yang sempurna hanya bisa dimiliki oleh Virxas, sebagai seorang yang jenius dalam bidang itu. Meskipun.... Menggunakan kata jenius pada dirinya terkesan terlalu meremehkan." Balas Chronoa sambil mengiris daging di piring itu.
"Kau benar, Tuan Muda. Entah rahasia apa yang dimiliki oleh Virxas, tapi itulah yang membuat dirinya menjadi satu dari enam penguasa utama di dunia ini. Tentu saja itu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai." Lanjut Gath seakan ingin memperberat situasi ini.
Aaron yang mendengarkan perkataan mereka berdua hanya bisa menghela nafasnya, seakan terpaksa menerima kenyataan yang pahit itu.
"Hah.... Begitu kah? Kalau begitu, bisakah kalian menceritakan padaku mengenai Virxas ini? Aku sama sekali tak menemukannya di perpustakaan ini." Jawab Aaron dengan wajah yang terlihat kecewa.
Meski begitu, kedua tangannya tak berhenti untuk menyantap hidangan yang ada di hadapannya itu.
Chronoa dengan senang hati menjawab pertanyaan dari satu-satunya rekannya dalam misi ini.
"Tentu saja tak ada. Literatur mengenai keenam penguasa utama adalah salah satu hal tabu di dunia ini. Dengan kata lain, dilarang secara tak tertulis. Bahkan menyebutkan namanya saja seharusnya merupakan hal yang tabu." Jelas Chronoa.
Aaron yang mendengar hal itu merasa keheranan dengan alasan dibaliknya.
"Memangnya kenapa? Bukan berarti mereka akan mendatangimu secara langsung bukan? Untuk membunuhmu karena menulis sesuatu tentang mereka?"
"Tidak, bukan begitu. Tapi lebih tepatnya.... Kekuatan mereka di dunia ini terlalu besar. Sangat besar hingga membuat Raja Iblis sepertiku sekalipun seperti seekor semut.
Menuliskan literatur mengenai kekuatan sebesar itu, yang entah kapan akan datang menghancurkan peradaban, hanya akan memberikan satu hal kepada pembacanya. Yaitu rasa keputusasaan.
Dan dalam keadaan ini, satu-satunya hal yang tak boleh kita lakukan adalah putus asa dengan situasi para Penguasa Utama." Jelas Chronoa panjang lebar.
Aaron pun memahami alasan dibalik hal itu. Jujur saja Ia juga merasa putus asa setelah mengetahui beberapa kekuatan dari keenam penguasa utama.
Meski begitu, sama seperti perkataan Chronoa, itu bukanlah hal yang baik. Dan Aaron telah melampaui perasaan itu saat ini.
Oleh karena itu....
"Begitu ya? Kalau begitu, ceritakan kepadaku. Seperti apa Raja Iblis bernama Virxas ini." Ucap Aaron sambil melahap daging yang baru saja dipotongnya.
Gath yang melihat Aaron begitu antusias itu pun terlihat begitu senang. Seakan harapan mereka memang mungkin bisa melalui situasi yang mencekam ini.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Chronoa pun segera menjelaskannya.
Ia mengambil sebuah tongkat sihir kecil untuk membuat gambar di udara, sehingga semakin mempermudah penjelasannya.
Tangan kanannya terus bergerak, sedangkan bibirnya terus berbicara.
"Baiklah. Mari kita mulai dari arti sebuah kata jenius itu sendiri."