
Setibanya Aaron di tempat Ibu-ibu itu berada....
"Dasar! Kami membayar pajak untuk kalian agar bisa melindungi kami! Apa gunanya jika kalian tida...."
"Ini kalungmu. Selamat tinggal." Balas Aaron sambil menyerahkan kalung itu dan segera pergi meninggalkan wanita gila itu.
Melihat apa yang terjadi di hadapannya, Ibu-ibu itu tak mampu mempercayainya. Bagaimana mungkin sosok yang telah direndahkannya ternyata bisa menyelesaikan masalah semudah ini.
Terlebih lagi, Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena tak lagi bisa menyalahkan Silver Guards.
'Dasar wanita gila. Apa sulitnya bersabar sedikit saja?' Pikir Aaron sambil berlari kembali ke arah kedua penjahat itu sebelumnya berada.
Sesampainya disana, Aaron segera mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol.
'Tut! Tut!'
Dari balik ponsel itu, terdengar suara seorang wanita yang cukup merdu.
"Ya, halo Aaron. Ada apa?" Tanya wanita yang tak lain adalah Alice itu.
"Ah, Alice. Tolong panggil beberapa polisi di tempatku saat ini. Aku akan mengirimkan posisiku melalui tombol GPS." Balas Aaron singkat.
"Oke. Kirimkan saja, aku akan segera memanggilkan polisi untukmu. Kali ini apa? Pencopet?" Tanya Alice sambil tertawa ringan.
Aaron yang sedang duduk di samping dua orang penjahat ini melihat ke arah mereka sesaat. Beberapa pejalan kaki yang melewati mereka berdua nampak memberikan tatapan yang cukup buruk.
Tapi selama Aaron, seorang petugas dari Silver Guards berada di samping dua orang itu, setidaknya mereka akan selamat dari amukan warga.
"Ya, begitulah. Kalau begitu, sampai bertemu lagi." Balas Aaron sambil segera menutup panggilan itu.
Ia kemudian menekan beberapa tombol di aplikasi pesan singkat itu untuk mengirimkan lokasi terkini dari dirinya. Setelah itu....
"Tolong! Maafkan kami! Kami berjanji takkan melakukan kejahatan lagi!" Teriak sang pengendara sambil mengemis.
"Kumohon! Tolong lah kami!" Teriak sang penjambret itu.
Tapi Aaron hanya memberikan tatapan yang cukup dingin kepada mereka berdua.
"Maaf, tapi bukan tugasku untuk menghakimi kalian. Biarkan kepolisian yang mengurus hal itu. Tugasku hanyalah menjaga kedamaian tempat ini." Balas Aaron sambil segera memalingkan wajahnya.
"Tidaaaak! Kami tak ingin dipenjara! Kumohon!"
Teriakan demi teriakan, Aaron terus menerus menghiraukan semua permintaan dan permohonan dua orang penjahat itu.
Mereka seharusnya bersyukur karena Aaron tidak segera membunuh mereka. Itu karena setelah mempelajari beberapa bagian dari hukum penting di negara ini, Aaron tahu bahwa membunuh orang secara sembarangan akan membuatnya berada dalam posisi yang sulit.
Tentu saja, pengecualian bagi Aaron adalah manusia yang membunuh manusia lain.
Sekitar sepuluh menit telah berlalu, dan akhirnya sebuah mobil polisi dengan warna putih biru dan sirine yang juga berwarna biru itu tiba.
Dari dalam mobil itu, terlihat dua orang petugas.
"Selamat siang. Kami diminta untuk kemari oleh wakil ketua Silver Guards. Apakah Anda yang bernama Aaron?" Tanya Polisi itu setelah memberikan hormat selama beberapa saat.
"Ya begitulah. Ini dua penjahatnya, silakan diurus. Aku akan kembali melanjutkan patroliku." Ucap Aaron sambil segera berdiri dari trotoar itu.
Sikap dan postur tubuhnya yang cukup gagah, ditambah juga dengan seragam putih dengan sedikit alur emas, membuat siapapun yang melihatnya merasa terpana.
Tanpa menoleh ke arah belakang, Aaron segera kembali melanjutkan patrolinya di wilayah ini.
Salah seorang polisi itu terlihat sedang memborgol kedua pelaku kejahatan yang masih saja terus merengek itu. Sedangkan yang satu lagi....
"Yang benar saja, petinggi melakukan patroli di jalanan?" Ucap petugas polisi yang sebelumnya berbicara pada Aaron itu.
"Jangan diam saja dan bantu aku memasukkan dua orang ini ke dalam mobil!"
"Baik-baik.... Tak ada salahnya untuk sedikit mengagumi sosok penjaga kota ini kan?"
"Kumohon! Siapapun tolong aku! Aku akan melakukan apapun! Aku hanya tak ingin masuk penjara! Aku mohon!" Teriak sang penjahat itu. Ia masih terus merengek untuk dibebaskan.
Tapi sayangnya, kedua polisi itu sama sekali tak memperdulikannya.
Salah satu polisi itu kemudian mengendarai sepeda motor pelaku untuk disita. Sedangkan yang satunya lagi akan mengendarai mobil polisi itu.
'Duk! Duk!'
"Kumohon! Siapapun tolong aku! Aku akan melakukan apapun!!!" Teriak sang penjahat sambil terus menerus membenturkan kepalanya di jendela mobil itu.
"Kalian tenanglah sedikit! Kami hanya akan membawa kalian ke kantor polisi dan meminta keterangan! Lagipula, kami takkan menyiksa kalian sedikitpun!"
"Tidaaaak!"
Di pinggir jalanan itu, terlihat seorang Pria dengan pakaian yang rapi serta membawa tas koper. Penampilannya sama seperti sebagian besar pekerja kantoran yang ada di kota ini.
Ia memperhatikan sosok dua penjahat yang terus menerus meminta pertolongan itu dengan tatapan iba. Hal yang juga sama seperti kebanyakan orang yang ada di jalanan ini.
Hanya saja.....
"Kau yakin dengan perkataanmu itu?"
Suara itu tiba-tiba muncul di dalam kepala dua orang penjahat itu, meskipun tak ada satu orang pun yang sedang berbicara dengan mereka.
Meski begitu, perkataan ini seakan menandakan bahwa pertolongan akan datang pada mereka. Tanpa ragu, mereka berdua pun menjawabnya dengan serentak.
"Tentu saja! Kami akan melakukan apapun! Apapun! Asalkan kami tak masuk dalam penjara!"
"Kalian diamlah!" Teriak sang polisi itu yang telah mulai menyalakan kendaraannya.
Pria kantoran yang ada di pinggir jalan itu nampak menganggukkan kepalanya, seakan telah menerima permintaan dua orang penjahat itu.
Tak berapa lama kemudian....
...'Deg! Deg!!'...
Jantung kedua orang penjahat itu serasa akan berhenti saat itu juga. Pada leher mereka berdua, terlihat motif tulisan yang aneh yang mengelilingi leher itu.
Tubuh mereka berdua mulai terasa panas. Bahkan tak lagi sanggup untuk bernafas.
"Kuuaaagghh! Aaagghh!!!"
Mereka berdua berteriak sambil meronta-ronta kesakitan. Kedua tangannya terlihat menggaruk-garuk lehernya yang secara misterius muncul motif aneh yang membentuk rantai itu.
Secara perlahan, warna motif itu berubah dari hitam menjadi merah. Dan seakan mulai membakar leher mereka.
Pria kantoran yang sebelumnya nampak memperhatikan dua penjahat itu, saat ini telah kembali membaur dengan masyarakat. Langkah kakinya tak terlalu cepat, dan tak terlalu lambat.
Dengan tas koper yang terlihat berisi laptop dan beberapa dokumen itu, Ia pergi ke arah suatu bangunan yang nampaknya merupakan sebuah koperasi.
Sang polisi yang melihat tingkah dua orang itu mulai panik. Bagaimana tidak, tubuh mereka yang saat ini telah mulai memerah seakan terbakar.
"Ti-tidak! Apa-apaan ini?!" Teriak Polisi itu sambil segera keluar dari mobil.
Rekannya yang sedang berusaha menyalakan motor kedua pelaku itu nampak kebingungan. Tapi secara insting, Ia mengikuti rekannya yang kabur. Begitu juga dengan sebagian pejalan kaki yang ada di tempat ini.
Jika dibilang....
Keputusan mereka itu sangatlah tepat.
Sesaat setelah semua orang berhasil menjauh dari mobil polisi itu....
...'BLAAAAARR!!!'...
Terjadi sebuah ledakan yang cukup besar dengan mobil polisi itu sebagai pusatnya. Atau lebih tepatnya... dua orang penjahat itu.
Dari balik api yang membara, dan juga rongsokan besi kendaraan itu....
"Ggrrr.... Kenapa kita ada disini? Siapa yang memanggil?" Ucap sosok seorang Iblis dengan tubuh setinggi 2.5 meter itu.
Iblis itu memiliki tubuh menyerupai manusia dengan kulit yang berwarna merah. Sedangkan bagian kepalanya memiliki taring yang besar hingga keluar dari mulutnya, serta sepasang tanduk yang diselimuti oleh api.
"Jangan tanya padaku. Aku sendiri juga tak tahu." Balas Iblis yang satunya lagi yang juga memiliki penampilan yang serupa.
Tanpa dunia sadari....
Dua Iblis telah tiba di dunia ini dengan cara yang cukup berbeda dari biasanya.