Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 16 - Hasil Pertandingan



'Klaaaang!! Klaaang!!'


"Hah.... Hah.... Hah...."


Hampir satu jam telah berlalu semenjak Aaron memulai pertandingan yang berat sebelah ini. Meski begitu, Alice sama sekali tak menyerah untuk mencoba menyerah Aaron.


Satu demi satu rencana tumbuh dan hancur. Semua itu terus berulang seperti siklus yang tak berujung.


Tapi perbedaannya, kini Aaron sama sekali tak bermain-main. Ia terlihat berdiri dengan tegap sambil memperhatikan seluruh pergerakan Alice.


"Aku memujimu, Alice. Kupikir kau akan menyerah setelah menit ketiga. Tapi nampaknya aku terlalu meremehkanmu." Ucap Aaron sambil memasang wajah yang serius. Meskipun....


Di samping kakinya terlihat sebuah tempat sampah yang penuh dengan plastik dan beberapa tusuk bekas. Itu semua adalah camilan yang dihabiskan oleh Aaron hingga Ia mulai merasa harus serius.


Tapi bahkan dengan pujian itu, Alice sama sekali tak terpengaruh. Fokusnya masih tetap sama. Yaitu entah bagaimana caranya Ia harus bisa melancarkan serangan kepada Aaron.


Bukan karena hadiah yang mungkin akan diterimanya. Tapi harga dirinya sendiri tak bisa memaafkan kekalahan yang memalukan ini.


Kecepatannya semakin meningkat.


Pedangnya semakin tajam.


Dan seluruh serangannya kini menjadi semakin akurat.


Hingga akhirnya...


'PRIIIITTTT!!!'


Sebuah tiupan peluit terdengar begitu keras. Menandakan bahwa waktu yang dijanjikan telah berakhir. Dengan kata lain, kekalahan Alice telah dipastikan pada saat itu juga.


'Sraaatt!'


Pedang Alice terhenti tepat di depan leher Aaron. Secara perlahan, Alice mulai menurunkan pedang itu. Wajahnya nampak terus memandang ke arah tanah. Meskipun samar karena keramaian lapangan ini, Aaron menyadarinya.


"Alice. Jangan menangis. Kau telah membuktikannya padaku bahwa kau kuat. Tapi sayangnya, aku jauh lebih kuat darimu. Kau tahu apa artinya itu?" Ucap Aaron sambil mengangkat wajah Alice dengan kedua tangannya


Tapi tak ada sedikitpun jawaban yang diberikan oleh Alice. Hanya diam dan isak tangis yang terus menerus Ia tahan.


"Berlatihlah. Aku sama sekali tak keberatan untuk menjadi lawan latih tanding mu. Tak hanya dirimu, tapi juga semua orang disini. Tapi kau tahu? Aku mengakui tekad dan kesungguhanmu dalam pertandingan ini." Balas Aaron sambil segera menarik tangannya.


Kini, Aaron menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya di udara seakan sedang menggambar sesuatu. Sebuah lambang berwarna hijau yang sama sekali tak pernah dilihat oleh Alice.


"Thera." Ucap Aaron dengan suara yang lirih setelah selesai menggambar lambang itu.


Seketika, lingkaran sihir berwarna hijau yang indah muncul di lantai tempat Alice berdiri. Secara perlahan tapi pasti, lingkaran sihir itu mengeluarkan bola cahaya kecil berwarna hijau muda yang indah.


Tak hanya luka goresan karena Alice terjatuh berkali-kali pada latihan ini. Tapi juga semua ototnya yang berteriak kesakitan karena terus menerus dipaksa melakukan gerakan ekstrim selama satu jam ini segera sembuh.


Rasa sakit, rasa lelah. Semuanya menghilang begitu saja setelah cahaya kehijauan itu menyentuh Alice.


Dengan perasaan takjub dan juga penasaran....


"Apa-apaan itu barusan?!" Teriak Alice dan juga Hendra yang entah bagaimana sudah ada di belakang tubuh Aaron.


"Kenapa kau juga ada disini? Wajah sangarmu merusak suasana saja." Ucap Aaron sambil segera pergi meninggalkan tak hanya mereka berdua, tapi juga ruang latihan ini.


Tujuan utamanya kemari hanyalah untuk mengamankan pedangnya.


Sebuah pedang usang berwarna hitam. Tak hanya bilah pedangnya saja, tapi juga sarung pedang itu terlihat dalam kondisi yang begitu buruk. Membuat semua orang ragu apakah pedang itu bahkan masih bisa digunakan.


Tapi pada kenyataannya, pedang itulah yang telah menemani Aaron selama ini menebas ratusan ribu kepala iblis sendirian.


Sebuah pedang terkutuk, yang menjadi simbol kematian bagi para Iblis yang pernah mendengar nama penggunanya.


Deathbringer.


......***......


'Bluk! Bluk! Bluk!


Pertandingannya dengan Alice beberapa saat yang lalu tak hanya memberikan pelajaran bagi Alice. Tapi bagi Aaron sendiri.


'Meski menghadapi sebuah rintangan yang tak mungkin ditembus, Alice masih terus berjuang seakan masih ada secuil harapan. Tapi lihatlah dirimu sendiri, Aaron. Kau bahkan lari dari sebuah mesin yang seharusnya melayanimu. Hanya karena kau tak tahu cara menggunakannya.'


Aaron mulai memikirkan hal itu dalam hatinya sendiri. Sebuah fenomena yang cukup jarang terjadi dimana Ia memilih untuk tidak berbicara. Cukup dengan memikirkannya.


Penyebabnya tak lain adalah kehadiran manusia lain yang secara perlahan mampu menyembuhkan salah satu luka yang selama ini dideritanya di dunia Iblis. Yaitu kesendirian dan isolasi.


'Ctik! Ctik!'


Aaron terlihat menekan beberapa tombol setelah memasukkan pakaian kotornya. Pada saat itu, air mulai mengalir dari sebuah selang yang tersambung ke dalam mesin cuci itu.


Dengan fokus yang sangat tinggi, Aaron terus memperhatikan buku panduan dan juga mesin cuci itu.


'Sekarang!' Ucap Aaron sambil segera menuangkan sabun cuci yang sudah disiapkan olehnya.


Itu karena dalam buku panduan itu tertulis 'masukkan sabun cuci sebelum memutar cucian' yang diartikan Aaron secara kurang tepat. Tapi juga tidak salah.


Akhirnya....


'Tap!'


Aaron menutup pintu mesin cuci itu dan menunggunya selama beberapa saat.


'Bruk! Bruk! Bruk! Wuuuussshhh!'


Meski mengalami awalan yang cukup kasar, mesin cuci itu akhirnya berhasil berputar dengan baik. Membersihkan semua pakaian yang telah Aaron masukkan.


"Berhasil!" Teriak Aaron dengan wajah puas setelah melihat kemenangan pertamanya terhadap mesin di zaman modern ini.


Ia mulai mengingat rasa puas ini. Yaitu sebuah perasaan ketika Ia pertama kali menyelamatkan sebuah desa di wilayah Eropa pada tugas pertamanya.


Tak mengandalkan bantuan ksatria maupun prajurit lain. Hanya dirinya sendiri. Ia berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya.


Sebesar itulah rasa puasnya saat ini.


Tapi tanpa diduga, Aaron telah menurunkan kewaspadaannya secara drastis ketika sedang menghadapi mesin cuci itu.


'Plok! Plok! Plok!'


Suara tepuk tangan yang ringan terdengar dari belakang tubuhnya. Sumber suara itu tak lain dan tak bukan adalah Alice.


Dengan senyuman yang manis, Alice terus memberikan tepuk tangan sambil berkata.


"Kerja bagus, Aaron. Jadi akhirnya kau bisa menguasai mesin cuci itu ya?"


"Whooaah! Alice! Apakah kau barusan melihatnya?! Aku baru saja berhasil menyalakan alat ini sendiri! Menakjubkan bukan?!"


"Ya, menakjubkan. Aku akui itu. Tapi.... Apakah kau sudah bisa memasak?" Tanya Alice sambil mengangkat sebuah pisau dan buah tomat.


Pada akhirnya, Alice kembali memberikan pelajaran mengenai cara memasak dan makan yang benar. Tentu saja, Aaron memiliki fokus yang sangat tinggi. Sebuah fokus yang sama seperti ketika sedang mempertaruhkan nyawanya.


Sambil menikmati hidangan baru yang dibuat oleh Alice, akhirnya Ia mengutarakan maksud utamanya datang kemari.


"Nah, Aaron. Kau barusan bilang akan membantuku berlatih bukan? Apakah kau serius soal itu?" Tanya Alice sambil menundukkan pandangannya. Ia terlihat mulai takut ketika membahas hal ini dengan Aaron. Seseorang yang jelas-jelas berada jauh di atasnya.


Akan tetapi....


"Alice. Bagaimana mungkin aku menolak permintaanmu setelah kau bersabar menghadapiku selama ini? Kau telah mengajariku jauh lebih banyak hal daripada hanya berpedang.


Meluangkan waktuku untuk melatihmu teknik berpedang, setidaknya merupakan balasanku atas semua bantuanmu kan?"


Dengan kalimat itu, Alice akhirnya tersadar.


"Satu kebaikan untuk kebaikan yang lain. Aku suka pola pikirmu itu, Aaron. Dan juga.... Terimakasih."