
Melihat apa yang sedang dilakukan oleh Anton, Aaron tak lagi mampu untuk tetap diam. Ia segera menglurkan tangan kanannya ke arah pedang tersebut.
"Gunakan kekuatan sihirku." Ucap Aaron sambil melepaskan setidaknya setengah dari kekuatan sihirnya secara perlahan.
"Ah! Terimakasih, dengan ini mungkin aku akan...." Ucap Anton sambil terus menerus menjaga mantra sihirnya untuk melanjutkan penulisan Rune di bilah pedang itu.
Tapi tanpa Ia duga....
"Tu-tunggu dulu! Seberapa banyak kau akan mengalirkan energi sihir?!"
Anton mulai panik karena keadaan yang sangat diluar dugaannya.
Sebelumnya Ia memang sudah sangat yakin bahwa Aaron sendiri merupakan Hunter yang kuat. Mungkin berada di tingkat A ke atas. Tapi Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa Aaron akan sekuat ini.
'Jumlah energi sihir sebesar ini.... Aku tak pernah merasakannya sebelumnya. Siapa sebenarnya orang ini?!' Pikir Anton dalam hatinya sambil terus menerus berusaha menahan jumlah energi yang sangat besar ini.
Ia secara terpaksa harus sedikit mengubah Rune yang ditulisnya agar bisa menampung kekuatan sebesar ini.
Meski begitu, Anton merasa bahwa mungkin saja, kali ini Ia bisa melahirkan sebuah mahakarya.
Setelah beberapa menit berlalu dengan Aaron yang terus menggelontorkan energi sihirnya, dan Anton yang dengan susah payah menahan agar seluruh energi sihir itu tidak meledak, akhirnya mereka berhasil.
Mereka berdua telah berhasil menciptakan sebuah mahakarya yang sesungguhnya dengan salah satu bahan terbaik yang ada di dunia manusia.
"Indah sekali.... Aku tak pernah melihat Rune seindah ini...." Ucap Anton sambil menangis memandangi pedang perak dengan bilah tengah berwarna hitam itu.
Pada bagian bilah itu, sebuah tulisan dengan huruf yang aneh nampak menyala dengan warna biru yang indah. Sebuah Rune tingkat tinggi.
"Aku kagum kau bisa menuliskan 8 buah Rune pada saat yang sama." Ucap Aaron sambil memandangi 8 buah huruf di bilah pedang itu.
"Hahaha, jangan begitu. Aku sendiri tak menyangka kau memiliki energi sihir sebesar itu. Tanpamu, aku mungkin hanya akan bisa menuliskan 3 atau 4 huruf tingkat menengah." Balas Anton sambil tertawa.
Kedua orang itu nampak menjalin hubungan yang cukup erat saat ini. Tanpa lebih banyak berbicara, mereka berdua nampak mengagumi keindahan dari pedang itu.
Pada saat itu juga, Aaron benar-benar menghormati sosok bernama Anton. Bahkan pada jamannya, orang yang mampu menuliskan Rune saja sangat jarang. Apalagi menambahkan Rune tersebut pada senjata atau perlengkapan lainnya.
Tentu saja, Aaron sendiri tak mampu untuk melakukannya karena Ia buta huruf Rune. Ia hanya tahu itu adalah sebuah Rune tanpa mampu membaca ataupun menuliskannya.
Dan hal lain yang Ia ketahui adalah sebuah kenyataan bahwa untuk menulis Rune tingkat tinggi diperlukan energi sihir yang sangat besar. Itulah kenapa Aaron segera membantunya.
"Sungguh, aku berterimakasih padamu, Anton. Kau benar-benar membuat sebuah senjata yang sangat luarbiasa."
"Yah, setidaknya ini berada di tingkat S atau lebih. Sungguh menakjubkan." Balas Anton sambil tersenyum.
Tapi secara tiba-tiba dan tanpa adanya satu orang pun yang menyangka....
"Jadi totalnya adalah sebesar 2 Milyar Rupiah." Lanjut Anton.
Seketika, senyuman yang ada di wajah Aaron segera remuk berkeping-keping. Bahkan Ia tak mampu untuk menolehkan wajahnya ke samping.
"Apa yang baru saja kau bilang?" Tanya Aaron seakan tak mampu untuk mempercayai keadaan ini.
"Jasa penempaan dan juga bahan yang dibutuhkan, 400 juta Rupiah. Sedangkan untuk jasa penulisan Rune sebesar 1.6 Milyar Rupiah."
Pada saat itulah, Aaron baru pertama kali menyadari ada sebuah serangan tak berwujud fisik yang mampu membuatnya pingsan.
......***......
"Hei, Aaron. Kau sudah bangun?"
"Alice? Dimana aku?" Tanya Aaron dengan ekspresi yang masih kebingungan.
"Kamar Asramamu." Balas Alice sambil tersenyum.
"Aah, benar juga. Aku sedang ada di ranjang dan.... Kenapa aku bisa ada disini?"
"Kau pingsan setelah mendengar tagihan biaya dari Pengrajin itu. Tapi tenang saja, Komandan bilang akan membantumu mengurusnya. Apa yang perlu kau lakukan hanyalah bekerja seperti biasanya." Jelas Alice panjang lebar sambil terus tersenyum.
Aaron akhirnya teringat kembali akan serangan mental yang begitu kuat itu. Membuatnya segera tersadar akan kenyataan.
"Lalu, kenapa kau ada di ranjang bersamaku?"
Tanpa menjawab, Alice hanya segera pergi meninggalkan kamar Aaron sambil terus tersenyum. Membuat banyak sekali pertanyaan tertinggal dalam dirinya.
"Hah, sialan. Bahkan hal itu juga bisa membuat jantungku cukup berdebar ya? Nampaknya sebagai seorang Ksatria aku masih belum seberapa." Ucap Aaron sambil membasuh wajahnya di hadapan sebuah cermin dinding.
Segera setelah itu, Aaron mulai mengelap wajahnya dengan handuk dan terlihat cukup merenung di wastafel itu.
Apa yang dimaksud oleh Aaron, tentu saja perihal yang selalu dipermasalahkan oleh hampir semua Pria yang ada di dunia ini.
Tak lain dan tak bukan adalah tagihan yang begitu besar.
Dengan gajinya yang hanya sebesar 6 juta Rupiah perbulan, Aaron sangat yakin bahwa Ia tak mungkin bisa membayarnya dalam jangka pendek.
"Tapi syukurlah, Komandan benar-benar pengertian kepadaku. Mungkin aku akan membawakannya nasi goreng nanti?"
Dengan pemikiran itu, Aaron segera meninggalkan kamarnya untuk mencari makan. Wajar saja, Aaron telah pingsan selama beberapa jam dan kini hari sudah malam.
Memakan beberapa toples biskuit dan juga meneguk beberapa gelas teh panas saja takkan cukup.
Tak lupa, Aaron membawa pedang barunya yang baru saja selesai dibuat. Ia memasangnya di pinggang sisi kiri, bersamaan dengan pedang hitam usangnya.
"Sebisa mungkin, aku tak ingin menggunakan pedang pemakan jiwa ini lagi." Ucap Aaron pada dirinya sendiri.
Pedang hitam Aaron memang memiliki kekuatan kutukan yang sangat dahsyat untuk iblis tingkat rendah. Tapi Aaron sama sekali tak menyangka bahwa kutukan itu juga akan berimbas kepada kontraktor Iblis.
Sedangkan dirinya sendiri kini telah menjadi kontraktor iblis dengan Thiria, memegangnya saja akan menguras banyak sekali kekuatannya. Jika pertarungan berlangsung cukup lama, maka Aaron sendiri akan dirugikan.
Itulah kenapa Aaron selalu menyegelnya sebanyak beberapa lapis saat ini. Rencananya, Ia hanya akan menggunakan pedang itu dalam situasi darurat.
'Tap! Tap! Tap!'
Aaron berjalan ke arah salah satu tenda di pinggir jalan. Tenda itu memiliki warna kuning dengan tulisan Nasi Goreng dan Bakmi Goreng Jawa.
"Aromanya sungguh lezat. Sekarang, apa yang harus ku makan?" Tanya Aaron pada dirinya sendiri sambil memasuki tenda itu.
"Mari silakan, pesan apa mas?" Tanya penjual makanan itu yang merupakan Pria paruh baya berjenggot.
Setelah duduk di tempat yang nyaman, bersama dengan beberapa pembeli lain, Aaron pun segera menjawab.
"Nasi goreng porsi besar dua. Satu untuk dimakan disini dan satu untuk dibungkus."
Akhirnya, Aaron menikmati makanan di malam hari itu dengan tenang.
Sungguh, hari yang cukup menyulitkan bagi Aaron.