
'DUG! DUG! DUG!'
Helikopter yang membawa Aaron dan juga Rika itu telah pergi meninggalkan lautan api ini. Meninggalkan semua yang tersisa di dalamnya untuk terbakar hingga tak tersisa sedikitpun.
Akan tetapi.... Ada seseorang, atau lebih tepatnya suatu pihak yang tak bisa merelakan hal itu.
'Sraassshh!'
Sebuah celah ruang segera terbuka tepat di atas lautan api itu. Celah itu nampak menghubungkan dua tempat yang berjauhan secara langsung, memungkinkan pergerakan jarak jauh dalam sekejap mata.
Dari balik celah itu....
"Mengerikan sekali. Aaron benar-benar seorang monster untuk bisa bertahan melawan Iblis itu." Ucap seorang pemuda yang membawa sebuah tongkat sihir.
Dari balik celah yang sama, muncul satu orang lagi. Yaitu seorang Pria dengan badan yang cukup besar dan berotot. Seluruh tubuhnya telah dilengkapi dengan jubah tahan api. Tak hanya itu....
"Fire Ressistance, sekarang kau akan mampu menahan sedikit api itu." Ucap sang penyihir sambil tersenyum.
"Terimakasih." Balas sang Pria berotot itu sambil segera melompat ke bawah. Tepat ke arah lautan api itu berada.
"Kau ingat lokasinya kan? Rekaman dari Drone telah menunjukkan lokasi pedang itu berada! Cepat ambil dan segera pergi dari sini!" Teriak sang penyihir itu sekali lagi.
"Tenang saja!"
Dengan sigap, Ia mendarat di tanah dengan sangat keras. Menghentakkan tanah yang ada di sekitarnya.
Tepat di hadapannya, adalah sebuah pedang dengan bilah yang cukup usang. Pedang itu memiliki warna hitam pekat yang telah terkikis di banyak bagian.
Abu yang membentuk seperti tangan nampak berada di sekitar gagang pedang itu. Tak salah lagi bahwa itu adalah lengan Aaron yang sebelumnya terpotong dan kini telah sepenuhnya hangus terbakar.
'Luarbiasa sekali, bahkan di api sepanas ini pedang itu tak meleleh....' Pikir Pria berbadan besar itu sambil segera berusaha untuk mengambil pedangnya.
Ia sangat mengingat bagaimana rasanya tersentuh oleh pedang itu pada saat melawan Aaron dulu. Oleh karena itu, kini Ia mengambil tindakan pencegahan.
Apa yang dilakukannya hanyalah membuat sebuah sarung tangan besi yang akan langsung mencengkeram kuat gagang pedang itu. Sekalipun pedang hitam itu masih mampu menarik kekuatannya, Ia tak begitu mempermasalahkannya. Itu karena....
'Swuuuooossshhh!!!'
Segera setelah sarung tangan besi itu memegang pedang itu, Pria berbadan besar itu segera melepaskannya. Semburan api muncul dari bagian belakang sarung tangan itu dan segera terbang ke udara membawa pedang Aaron.
"Kuugghh! Bahkan hanya menyentuhnya sesaat, aku masih merasakan mati rasa di tanganku ya?"
Segera setelah mengatakan hal itu, Ia segera melompat kembali ke arah portal yang dibuat oleh rekannya.
Sang penyihir juga tak hanya diam. Ia membuat portal kedua di jalur lintasan sarung tangan besi itu. Membawanya kembali ke markas secara langsung tanpa adanya masalah.
Dengan begitulah, misi mereka untuk mengambil alih pedang terkutuk milik Aaron telah berhasil dengan sempurna.
Tak ada sedikitpun masalah dalam rencana mereka kali ini. Jika ada, mungkin adalah kemunculan Iblis yang sangat kuat barusan, yang membuat mereka semakin mudah untuk menyembunyikan jejaknya.
Meskipun Aaron sadar bahwa pedangnya tertinggal di tempat ini, Ia tak mungkin kembali untuk mencarinya di seluruh penjuru lautan api ini.
Tentu saja ada kemungkinan bahwa pedangnya akan meleleh dan ikut terbakar dalam api Aznor.
Tanpa para organisasi kriminal itu sadari, mereka telah mengambil kotak Pandora yang seharusnya tak boleh dibawa oleh siapapun kecuali Aaron.
Jika mereka sampai membukanya....
......***......
Dalam sebuah bangunan megah yang telah runtuh itu, terdapat ribuan orang berbaris dengan rapi. Mereka semua duduk di barisan kursi yang telah disusun dengan rapi itu.
Sekalipun ada batu besar, besi, ataupun pecahan kaca di sekitar tempat duduk mereka, tak ada satu orang pun yang mengeluh.
Semuanya duduk dengan tenang. Pakaian yang mereka kenakan seragam, yaitu jubah hitam polos dengan lambang sebuah mata merah di bagian punggungnya.
Mata itu memiliki desain yang sederhana. Hanya satu mata yang terbuka lebar. Empat buah garis nampak terbentuk dibawah dan diatas mata itu, menyerupai sebuah bulu mata. Meskipun, garis itu terlalu tebal untuk disebut sebagai bulu mata.
Di hadapan semua orang itu, terdapat seorang Pria dengan jubah hitam yang sama persis. Ia berdiri di atas sebuah tumpukan reruntuhan bangunan ini.
Sambil mengangkat kedua tangannya, Pria itu pun mulai berbicara.
"Saudaraku. Sungguh disayangkan bahwa salah satu saudara kita semua telah dibunuh dengan keji di wilayah Tenggara." Ucap Pria itu dengan suara yang begitu keras. Tapi ada satu hal yang sangat mengganggu, yaitu Ia berbicara dengan menggunakan bahasa Iblis.
Sebagian besar wajahnya tertutupi oleh tudung yang ada di jubahnya. Membuat ekspresi dan juga penampilan wajahnya tak terlihat seutuhnya.
Tapi ada satu hal yang pasti.
Apapun yang dikatakan oleh Pria itu, semua orang mendengarkannya seakan sedang menghadap kepada dewa.
Kedua tangan semua orang dirapatkan seakan sedang berdoa. Wajah mereka menunduk ke tanah seakan tak layak untuk memandang arah yang sama. Kedua mata mereka semua pun tertutup rapat seakan melihat adalah sebuah dosa.
"Saat ini, kita berhasil selamat dengan pengorbanannya! Tapi mungkin takkan begitu untuk yang selanjutnya! Saudaraku.... Sebarkanlah pesanku ini kepada seluruh pengikut kalian di dunia ini." Ucap Pria itu dengan suara yang begitu karismatik.
Segera setelah sedikit mengatur nafasnya, Pria itu pun kembali berbicara.
"Bakarlah dunia ini dengan api Suci-nya! Biarkanlah dunia ini tahu, bahwa kematian adalah sebuah keselamatan! Bahwa api adalah sebuah penyelamat!"
Mendengar perkataan itu, semua orang yang hadir di dalam bangunan yang sudah hancur ini pun mulai menundukkan kepala mereka secara bersamaan.
"Bagus. Sekarang, kalian bisa kembali." Ucap Pria itu sambil segera membalik badannya. Memperlihatkan lambang mata berwarna merah darah itu di punggungnya.
Bersamaan dengan itu, semua orang yang hadir segera berdiri dan mulai meninggalkan tempat ini.
Mereka semua berbaris dengan rapi menuju ke arah sebuah celah dunia yang memiliki warna merah itu. Satu persatu, mereka semua memasuki celah dunia yang kerap dipanggil sebagai portal Dungeon itu.
Semuanya memasuki dunia Iblis dengan sikap yang sangat tenang. Tapi apa yang ada di balik portal itu bukanlah neraka ataupun kematian. Akan tetapi sebuah lorong dengan lebar 5 meter serta ujung yang seakan tak lagi dapat dilihat.
Di sepanjang lorong itu, ratusan atau bahkan ribuan pintu berjejer dengan sangat rapi. Terdapat tulisan di atas pintu itu dengan huruf Iblis.
Satu demi satu, orang-orang berjubah hitam itu memasuki pintu yang berbeda. Sekalipun terdapat pintu di sebelahnya, tapi Ia hanya akan melewatinya dan tetap berjalan. Menuju ke pintu yang menjadi milik serta tanggungjawab mereka.
Dari balik pintu itu, terdapat sebuah celah dunia yang sama dengan banyak warna yang berbeda. Mulai dari biru hingga merah.
Ketika salah satu dari mereka melewati celah dunia yang ada di balik pintu itu....
Sebuah gang perkotaan yang sempit dan cukup gelap terlihat di depan matanya. Ia pun membuka jubah hitamnya dan melemparkannya di balik celah dunia yang segera menghilang itu.
Dengan tatapan yang sangat tajam, Pria itu pun membenahi kacamatanya.
"Mari kembali bekerja" Ucap Pria itu sambil melihat ke arah kerumunan orang di balik gang yang gelap ini.
Dengan kalimat itulah, Ia memulai misi mulianya untuk membakar habis dunia ini. Dimulai dari sebuah Kota bernama New York, salah satu Kota terbesar di dunia.
Bersamaan dengan itulah, kehancuran di seluruh dunia telah dipastikan.
Apa yang menanti umat manusia, hanyalah kebinasaan tanpa ampunan.