
Pandangan Aaron seketika berubah.
Apa yang terakhir kali dilihatnya adalah sebuah dunia yang terbelah menjadi beberapa bagian. Bahkan inti dari dunia itu pun terlihat, memuntahkan banyak sekali lava yang panas.
Hingga di akhir kehidupannya, Aaron hanya terus berdiam diri di dalam perpustakaan itu untuk terus belajar dan melatih kemampuan sihir dan fisiknya.
Tujuannya hanya satu. Yaitu mempersiapkan diri untuk kematian yang berikutnya.
Dan kini, apa yang ada di hadapannya adalah sosok Raja Iblis yang tak pernah bisa dilupakannya.
Kedua tangannya memegang sebuah pedang suci yang telah menusuk tepat ke arah jantung Iblis yang ada di hadapannya.
Iblis itu memiliki warna kulit hitam legam, dengan banyak alur merah di seluruh tubuhnya. Kepalanya memiliki tiga buah tanduk yang melengkung ke atas. Sedangkan perlengkapannya adalah zirah yang berwarna hitam pekat dengan batu biru cerah di bagian dadanya yang kini telah remuk karena tusukan pedang Aaron.
"Manusia.... Siapa namamu?" Tanya Iblis itu dengan nafas terakhirnya.
Tak menunggu lebih lama, Aaron segera menggunakan salah satu sihir tingkat tinggi yang telah dipelajarinya.
Tak ada sedikitpun keraguan maupun rasa takut. Seakan-akan Aaron memang telah mempersiapkan diri untuk semua ini.
'Swwuuusshh!!!'
Cahaya kehijauan yang indah beserta terpaan angin yang ringan segera muncul dengan Aaron sebagai pusatnya.
Tepat di tempat kedua kaki Raja Iblis Chronoa berdiri, muncul sebuah lingkaran sihir berwarna kehijauan yang cukup terang.
Semua itu adalah sihir penyembuhan tingkat tinggi, Rejuvenation.
Meski terlihat tidak diperlukan, tapi Aaron tetap menggelontorkan banyak sekali energi Mana di dalamnya. Jumlahnya bahkan setara dengan 20x lipar energi Mana yang dimiliki oleh Aaron di kehidupan yang pertamanya.
Dengan wajah yang terkejut, Chronoa nampak tersenyum dengan puas.
"Kau.... Kau telah menyadarinya? Berapa kali kau telah mati?" Tanya Chronoa dengan suara yang semakin jelas karena luka di tubuhnya dengan cepat segera sembuh.
Hanya ada satu luka terakhir yang harus disembuhkan. Yaitu Luka dimana pedang suci Aaron masih menancap.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Chronoa, Aaron secara perlahan segera menarik pedangnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegangi tubuh Chronoa agar tak bergerak.
Sedikit demi sedikit, pedang itu pun keluar dari tubuh lawannya.
Bersamaan dengan tarikan pedang itu, luka yang ada di tubuh Chronoa terus menerus disembuhkan. Hingga akhirnya....
'Klaaangg!!'
Pedang suci itu berhasil ditarik sepenuhnya dan dilemparkan ke tanah. Menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Hanya saja....
'Bruukk!'
Aaron juga ikut terjatuh ke tanah. Hal yang wajar karena Ia menghabiskan seluruh energi Mananya untuk menyembuhkan Chronoa.
Meski pada kenyataannya, Aaron hanya membutuhkan sepersepuluh dari energi itu. Tapi Aaron tak bisa setengah-setengah. Atau kejadian yang sama seperti yang menimpa Gath akan terulang kembali.
Bersamaan dengan kesadarannya yang mulai memudar, Aaron pun mulai memejamkan kedua matanya. Mempercayakan nasib dirinya kepada Raja Iblis yang beberapa saat yang lalu merupakan musuh terbesarnya.
......***......
"Uughh....Dimana aku?" Tanya Aaron pada dirinya sendiri. Apa yang dilihat olehnya di bagian langit-langit merupakan sebuah pemandangan yang selalu dilihat olehnya selama ribuan tahun.
Yaitu pemandangan kamarnya sendiri.
Aaron berusaha untuk bangun dan berdiri, tapi tubuhnya saat ini benar-benar lemas dan tak berdaya. Seakan-akan tak memiliki tenaga bahkan untuk melakukan gerakan yang ringan.
Pada saat itu juga....
Seseorang terlihat membuka pintu dari ruangan ini. Memperlihatkan sosok Chronoa di baliknya yang membawa nampan berisi makanan.
"Kau sudah bangun? Syukurlah. Kau telah tak sadarkan diri selama 3 hari lebih tanpa makan. Setiap hari aku membawakannya untukmu, tapi kau tak kunjung bangun." Ucap Chronoa yang dengan tenang meletakkan makanan itu di sebuah meja yang berada di dekat ranjang Aaron.
Tapi Aaron sama sekali tak menjawab. Seakan-akan pikirannya masih berada di tempat yang lain. Bahkan tatapan matanya kosong seperti seseorang yang telah mati.
Menyadari hal itu, Chronoa pun segera bertanya kepada Aaron.
"Kau, berapa kali kau sudah mati? Jangan katakan 4?"
Tapi tetap saja, Aaron masih tak menjawabnya. Hanya berdiam diri di ranjangnya seakan tak ada siapapun atau apapun.
Nampaknya Aaron telah mulai menerima sebagian kecil dari efek samping sihir waktu yang diberikan oleh Chronoa kepadanya.
Tak hanya itu, kesendiriannya selama 8.000 tahun lebih membuat hal itu semakin parah. Sebelumnya Aaron memang sendiri, tapi Ia selalu memburu Iblis selama hidupnya.
Membuat dirinya memiliki sosok makhluk hidup lain yang dilihatnya. Membuat dirinya menyadari bahwa ada kehidupan lain.
Tapi kali ini, apa yang dihadapi olehnya hanyalah benda mati seperti tumpukan buku, kaca, dan berbagai jenis peralatan lain.
Makhluk hidup yang dilihatnya hanyalah tanaman yang menjadi makanannya setiap hari.
'Tap!'
Chronoa pun segera meletakkan tangan kanannya di kepala Aaron, mencoba untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika sudah tahu, menyelesaikan masalah itu dengan segera.
"Haattt!!"
Sebuah hentakan tekanan angin yang sangat kuat muncul dari arah tangan kanan Chronoa. Membuat banyak benda berterbangan ke segala arah.
Bersamaan dengan itu, Chronoa pun menyelam ke dalam pikiran Aaron. Mencari tahu penyebab kejadian ini.
Tapi sayangnya, apa yang dilihat dari ingatan Aaron hanya satu hal yang sama dalam waktu yang seakan tak terbatas.
Mencari buku, membaca hingga selesai, makan, mencari buku lain dan begitu seterusnya.
Untuk melatih sihirnya, Aaron hanya terus menguras energi Mana miliknya baik ketika mencoba sihir baru ataupun ketika berlatih fisik untuk memperberat dirinya sendiri.
Tak ada sama sekali perubahan dalam rutinitas ini.
Membuat bahkan Chronoa yang mengintipnya selama beberapa saat saja sedikit merasakan kegilaan yang dirasakan oleh Aaron selama ini.
"Kau.... Kau hidup seperti itu sebelumnya? Yang benar saja?" Ucap Chronoa dengan wajah yang penuh dengan perasaan khawatir.
Tanpa menunggu lama, Chronoa segera mempersiapkan dirinya untuk membatalkan sihir itu pada diri Aaron.
"Sudah cukup. Aku akan membatalkan sihir ini darimu."
Kedua tangan Chronoa mengarah tepat ke tubuh Aaron. Puluhan lingkaran sihir yang kompleks dengan warna putih itu terlihat mengitari tubuhnya. Ciri utama dari lingkaran sihir ini adalah memiliki wujud seperti gerigi mesin pada jam.
Tapi pada saat persiapan dari sihir itu hampir selesai....
'Tap!'
Tangan kanan Aaron terlihat meraih lengan Chronoa seakan ingin menghentikannya.
"Jangan lepaskan sihir itu.... Aku masih perlu untuk berlatih dan belajar...." Ucap Aaron dengan suara yang lemas.
"Persetan dengan itu! Jika kau melanjutkannya, mungkin kau akan terjebak dalam lingkaran kematian yang abadi! Dan terus mengulang kematianmu untuk selamanya! Jangankan menyelamatkan dunia, kau bahkan takkan bisa menyelamatkan dirimu sendiri dari hal itu!"
Segera setelah mendengar hal itu, Aaron seakan memperoleh pukulan yang kuat pada dirinya. Membuatnya memperoleh kembali kesadarannya.
"Chronoa.... Terimakasih. Tapi sebelumnya, dengarkan kisahku terlebih dahulu."