
Lautan api menyelimuti hampir seluruh wilayah ini. Membakar apapun yang terjebak di dalamnya. Baik itu tumbuhan, hewan, ataupun manusia.
Tak ada sedikit pun belas kasih dari api itu. Semua tanpa terkecuali, mereka yang menyentuhnya akan binasa.
"Rika.... Kau baik-baik saja?" Ucap Aaron yang berada di atas tubuh wanita itu. Sekeliling mereka berada adalah lautan api.
Tubuh mereka berdua terbakar dengan cukup parah. Dengan kondisi yang cukup kritis itu, Rika menguatkan dirinya untuk membalas.
"Tolong...." Ucap Rika dengan suara yang begitu lirih. Hampir seluruh tubuhnya telah terbakar hingga memperlihatkan tulangnya.
Bahkan kedua kakinya telah hilang entah kemana, menyisakan hanya setengah bagian atasnya saja. Hanya sebagian kecil dari pakaian mereka berdua yang masih tersisa. Tapi anehnya, Aaron terlihat tidak terlalu menderita.
Dalam pikirannya sendiri, Aaron membuat prasangka bahwa bisa jadi Rika melindunginya selama ledakan barusan.
Mendengar permintaan itu, tidak....
Bahkan tanpa mendengar permintaan itu pun, Aaron segera menggunakan sihir suci Anemos untuk mengenyahkan api yang ada di sekitarnya. Seberapa baik Ia berusaha, tapi api itu tak mampu untuk dipadamkan.
Wanita yang ada di hadapannya dalam kondisi yang sangat kritis dan membutuhkan pertolongan dengan segera.
Tapi di sisi lain, lautan api yang seakan tak berujung ini hampir mustahil untuk dilewati. Sekalipun Aaron menerobosnya secara paksa, beberapa sentuhan dengan api itu pasti akan langsung membakar tubuhnya.
Mungkin hanya beberapa langkah saja sebelum kakinya kembali hangus dan tak bisa digerakkan. Tapi jika begitu, siapa yang akan menyembuhkan Rika?
Bahkan jika Ia memang mampu menyembuhkan dirinya dan juga Rika secara bersamaan, jumlah energi sihir yang dimilikinya saat ini sangatlah rendah. Belum lagi memikirkan bahwa Rika mungkin akan semakin terluka jika bersentuhan dengan api itu.
'Melompat? Tapi jika lompatanku tak mampu melewati lautan api ini.... Apa yang akan terjadi berikutnya?' Pikir Aaron dalam hatinya. Ia kebingungan atas bagaimana harus menghadapi situasi ini.
Meninggalkan Rika untuk mati disini mungkin akan membuatnya selamat. Tapi tentu saja, itu adalah hal yang paling tidak ingin dilakukan olehnya.
Setelah memikirkannya sejenak... apa yang bisa dilakukannya hanyalah dengan membuang suhu panas di sekitar tempat mereka berdua dengan sihir anginnya.
Secara bersamaan, tangan kanannya mengarah ke tubuh Rika yang dalam kondisi sangat mengerikan itu. Sebuah lingkaran sihir berwarna hijau yang cukup besar pun terbentuk di telapak tangan Aaron.
Cahaya hijau yang lembut secara perlahan mulai menyelimuti tubuh wanita itu. Menyembuhkannya secara perlahan.
'Ini buruk.... Aku terlalu banyak menghabiskan energi sihir untuk menjaga tubuhku tetap utuh selama pertarungan barusan.... Terlebih lagi, luka ini....' Pikir Aaron sambil terus memperhatikan betapa buruknya luka yang diderita oleh Rika.
Bahkan setelah berusaha secepat mungkin meninggalkan titik utama ledakan itu, luka yang mereka terima tetaplah sangat besar.
Dengan raut wajah yang dipenuhi kemarahan dan juga rasa takut, Aaron semakin meningkatkan aliran sihirnya untuk menyembuhkan Rika. Atau setidaknya, untuk menjaga agar darah tak lagi keluar dari tubuhnya.
'Sialan.... Inikah kekuatan dari Api Aznor? Aku hanya pernah mendengar legendanya, tapi tak ku sangka akan semengerikan ini....'
Beberapa menit telah berlalu.
Aaron terus menerus menggunakan dua sihir tingkat tinggi secara bersamaan. Yaitu Anemos untuk mengenyahkan suhu panas dari api yang tak bisa dipadamkan ini, serta sihir penyembuh Heal untuk merawat luka Rika.
Tubuhnya sudah mulai sembuh. Kedua kakinya terlihat telah kembali seperti sedia kala.
Tapi Rika masih tetap memejamkan kedua matanya seakan tak mampu mengembalikan kesadaran dirinya dari semua ini.
Pandangannya mulai kabur. Sedikit demi sedikit, kegelapan mulai memenuhi pandangan dari mata Aaron. Rasa kantuk yang tak tertahankan pun mulai dirasakan olehnya.
'Apa-apaan ini.... Kehabisan energi sihir? Aku?' Pikir Aaron sambil membuat senyuman yang pahit.
Dengan kekuatan terakhirnya, Aaron pun membuat tekad yang kuat. Yaitu untuk memberitahukan lokasinya yang saat ini kepada seluruh Hunter yang mungkin masih tersisa.
"Rika.... Bertahanlah." Ucap Aaron sambil mengarahkan tangan kanannya ke udara. Sebuah bola api berwarna merah nampak melesat ke udara.
'Aah.... Gawat, aku akan kehilangan kesadaranku....' Pikir Aaron dalam hatinya.
Sihir anginnya mulai melemah.
Api yang sebelumnya terus menerus dibelokkan ke segala arah itu, kini mulai kembali berdiri tegak dan siap untuk membakar apapun yang ada di sekitarnya.
Termasuk Aaron dan juga Rika.
'Swuuusshh!'
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya sihir angin yang melemah itu pun terhenti sepenuhnya.
Api Aznor yang ada di sekitar mereka berdua kembali mengamuk. Cahaya merah yang mengerikan menutupi seluruh pandangan Aaron. Tak ada apapun yang mampu dilihatnya kecuali warna merah.
'Aah.... Mungkin... ini adalah akhir dariku. Rika, maaf kalau aku....'
Dengan pikiran terakhirnya itu, Aaron akhirnya memejamkan kedua matanya. Ia tak lagi mampu untuk menahan semua beban itu.
Di saat-saat yang kritis seperti itu, keajaiban seakan kembali terjadi.
'DUG! DUG! DUG!'
Suara helikopter terdengar begitu keras di atas kepala mereka berdua.
Tapi sayangnya, mereka berdua tak lagi sadarkan diri. Tergeletak tak berdaya di tengah lautan api yang mematikan itu.
"Kepada pusat informasi! Kami telah menemukannya! Saat ini Tuan Satria sedang turun untuk membawa mereka berdua!" Ucap salah seorang dengan seragam berwarna merah itu.
Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Guild Red Phoenix. Sedangkan pilot yang mengendalikan helikopter itu mengenakan seragam putih yang sama seperti yang dikenakan oleh Aaron.
'Swuuusshhh!'
Satria dengan segera melompat ke tanah. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh mantel api yang cukup tebal. Meski tak sepenuhnya, tapi mantel api itu mampu melindunginya dari api Aznor ini.
'Oioi.... Yang benar saja! Aaron, kau melawan Iblis yang mengeluarkan api sepanas ini?!' Pikir Satria dalam hatinya sambil mengangkat tubuh dua orang itu.
Dengan cepat, Satria kembali melompat kini ke arah helikopter itu. Mantel api yang sebelumnya bertugas untuk melindunginya dari api Iblis itu, kini berubah menjadi sayap untuk membantunya terbang walaupun hanya sesaat.
Tapi itu sudah cukup setidaknya untuk membantunya memasuki helikopter itu dengan aman.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya salah seorang wanita dengan pakaian medis yang ada di dalam helikopter itu.
"Sangat buruk. Luka bakar yang mereka derita jauh diluar batas wajar. Tolong segera rawat mereka." Balas Satria singkat.
"Tentu saja."
Dengan balasan itu, wanita yang tak lain adalah pengguna sihir penyembuh yang bekerja di suatu rumah sakit itu, kini segera menyembuhkan mereka berdua.
Cahaya hijau tipis yang lembut mulai membalut tubuh mereka berdua. Secara perlahan... merawat luka yang fatal itu.
Akhirnya, mereka semua segera meninggalkan lautan api itu. Menuju ke tempat yang jauh lebih aman.
Tanpa kebanyakan manusia sadari....
Lautan api yang memiliki radius sejauh beberapa kilometer ini adalah sebuah pertanda. Bahwa era kegelapan di dunia manusia telah dimulai.