
'Sruugg!'
Aaron meletakkan sebuah kantung plastik berwarna putih itu di meja Hendra.
"Untukmu. Semoga kau suka." Ucap Aaron sambil segera membalikkan badannya.
Di sisi samping ruangan ini, terlihat sebuah jam dinding digital yang telah menunjukkan angka 22.41 dengan warna merah itu.
Meski begitu, Hendra terlihat masih sibuk menghadapi tumpukan kertas dan layar komputer. Seakan pekerjaannya masih jauh dari kata selesai.
"Oh? Terimakasih. Apa ini?" Tanya Hendra sambil membuat senyuman yang cukup lebar. Meskipun lirih, suara perutnya mulai terdengar setelah mencium aroma dari bungkusan yang ada di depannya.
"Nasi goreng ayam porsi besar. Kalau begitu, aku permisi dulu." Balas Aaron yang terlihat terburu-buru untuk meninggalkan ruangan ini.
"Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan padamu!"
Hanya dengan teriakan itu, Hendra telah berhasil menarik minat dari Aaron. Ia terlihat membalikkan badannya dan segera duduk di sofa itu.
"Terimakasih."
Beberapa saat kemudian, Hendra membuatkan kopi panas untuk untuk Aaron. Termasuk juga segelas air putih serta piring dan sendok untuk memakan nasi goreng itu.
Aaron terlihat begitu menikmati aroma kopi yang begitu harum.
'Sluurrrpp....'
"Aah.... Ini benar-benar surga dunia." Ucap Aaron setelah meneguk kopi itu.
"Surga dunia? Itu? Hahaha!" Balas Hendra sambil tertawa.
Tapi sayangnya, Aaron benar-benar menganggap kopi itu adalah salah satu surga dunia di jaman modern ini. Aroma dan rasanya yang begitu nikmat mampu membuatnya sedikit melupakan keberadaan Iblis.
Meskipun.... Hanya sebentar saja.
"Jadi, apakah ini berkaitan dengan iblis?" Tanya Aaron segera setelah meletakkan cangkir kopi itu di meja.
Hendra yang terlihat masih menikmati nasi goreng yang dibungkus dengan kertas minyak itu secara perlahan mulai berhenti makan. Menelan semua yang ada di mulutnya sebelum berbicara.
"Kau tahu mengenai kontraktor Iblis kan?" Tanya Hendra untuk memastikan.
"Ah, ya. Seperti Satria itu kan?" Balas Aaron singkat.
"Itu benar. Sebenarnya, sedang terjadi suatu masalah dengan suatu organisasi. Mereka melakukan gerakan demonstrasi untuk menuntut mengenai kaum minoritas yang dikenal sebagai kontraktor iblis." Jelas Hendra sambil kembali makan.
Aaron terlihat cukup kebingungan dengan pernyataan itu. Memang benar bahwa dirinya sendiri juga merupakan kontraktor, yang mana tak ada satu orang pun yang tahu.
Tapi yang dilakukannya itu jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia di jaman ini.
Di satu sisi, Aaron melakukannya demi secuil keselamatan umat manusia. Sudah tugasnya untuk menjaga dunia ini termasuk manusia yang ada di dalamnya. Menyerahkan nyawa ataupun merendahkan harga dirinya bukanlah masalah selama itu bisa membantunya dalam menyelesaikan tugasnya.
Tapi di sisi lain, manusia di jaman ini menganggap bahwa melakukan kontrak dengan Iblis adalah hal yang wajar. Bahkan bisa dibilang sebagai jalan pintas untuk menjadi kuat.
"Lalu, apa yang terjadi berikutnya?" Tanya Aaron setelah terdiam selama beberapa saat.
"Terjadi kerusuhan yang cukup besar di sekitar wilayah Jakarta. Ratusan orang terbunuh dalam kerusuhan itu. Tapi untung saja sebagian besar Hunter terkuat berada disana, membuat kerusakan yang terjadi dapat ditekan." Jelas Hendra.
'Sreeettt!!'
Aaron nampak mempererat kepalan tangannya. Ia merasa sangat kesal dengan keadaan ini.
Pada jamannya dulu, manusia saling membantu untuk bisa bertahan hidup dari iblis. Itu karena Iblis adalah satu-satunya musuh dan ancaman terbesar umat manusia pada saat itu.
Tapi sekarang?
Memperhatikan perilaku Aaron, Hendra pun sedikit memahami mengenai sifat orang misterius ini. Dan akhirnya, Hendra pun mengambil inisiatif untuk melanjutkan pembicaraan.
"Jika kau ada disana, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hendra sambil menghabiskan sisa nasi goreng yang ada.
Aaron nampak memikirkannya dengan sangat serius. Itu karena situasi saat ini sangat bertentangan dengan prinsip yang ditanamkan oleh Katredal Suci padanya.
Sebuah suara yang cukup datar dan dalam. Tatapan yang sedikit kosong terlihat di wajah Aaron itu sendiri. Membuat Hendra sangat yakin, bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Aaron itu, adalah sebuah kebenaran.
Meski begitu....
"Kau yakin dengan itu? Bahkan jika Perserikatan Bangsa-Bangsa Dunia mengecam tindakanmu?" Tanya Hendra sambil meletakkan sendoknya. Kini makanannya telah habis tanpa adanya sisa.
"Aku tak tahu apa itu Perserikatan Bangsa-Bangsa tapi... jika mereka membiarkan orang-orang seperti itu berkeliaran, maka hanya kehancuran yang akan menanti manusia itu sendiri.
Lagipula, apa yang akan mereka lakukan padaku? Memburuku? Silakan saja, tapi aku akan tetap teguh pada prinsipku sendiri. Kalau begitu permisi. Terimakasih atas kopinya." Ucap Aaron sambil segera berdiri dari kursi itu.
Ia terlihat melangkah meninggalkan ruangan ini dengan ekspresi yang cukup terpukul.
'999 saudaraku.... Mereka semua mati hanya untuk manusia sampah seperti mereka? Yang benar saja....' Pikir Aaron dalam hatinya, kini dengan tatapan yang sedikit diselimuti kebencian.
'Jeglek!'
"Hah.... Jadi begitu ya." Ucap Hendra pada dirinya sendiri setelah melihat Aaron menutup pintu itu.
Apa yang dikatakan Aaron memang ada benarnya. Tapi itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Setidaknya, itulah yang ada di dalam pemikiran Hendra.
......***......
Keesokan Harinya....
Aaron menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Melakukan latihan fisik sambil menguras energi sihirnya di taman. Segera setelah itu, Ia akan menikmati sarapan pagi dengan memilih sesuatu di taman itu.
Segera setelah itu, Ia melakukan patroli di wilayah yang telah dibebankan padanya.
Berkat pendekatan yang dilakukan oleh Aaron dan Alice tempo hari, masyarakat menjadi jauh lebih percaya kepada Silver Guards. Membuat tugas mereka juga menjadi lebih ringan.
Seperti....
"Tolong! Jambreeeett!!!" Teriak seorang Ibu-ibu sambil memegangi lehernya yang terlihat memerah itu. Tak lupa, tangan kanannya menunjuk ke arah pengguna sepeda motor yang berkendara dengan sangat kencang.
"Mereka pelakunya, Bu?" Tanya Aaron dengan suara yang ramah.
"Siapa lagi?! Apa yang kau lakukan?! Tugasmu adalah melindungi kami kan?! Kalau begitu cepatlah lakukan sesuatu!" Teriak Ibu-ibu itu sambil meluapkan hampir seluruh emosinya.
Bahkan luka di lehernya mulai tertutupi oleh merahnya wajahnya karena sangat marah kepada Aaron.
'Yang benar saja....'
Aaron nampak sedikit mengeluh dalam hatinya. Tapi tugas adalah tugas. Ia dengan segera berlari mengejar pengendara motor itu.
Pelakunya ada dua orang. Pelaku pertama bertugas untuk mengendarai sepeda motor yang telah dimodifikasi hingga hanya terlihat kerangkanya saja itu.
Sedangkan pelaku yang satunya lagi bertugas untuk merenggut perhiasan berharga korban.
"Hahaha! Kali ini kita dapat kalung yang besar!" Teriak salah satu orang itu.
"Kau benar, kita bisa berpesta malam ini!" Teriak sang pengendara sambil mempercepat laju kendaraannya.
Meskipun di siang hari yang cukup sibuk ini, mereka mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 80km/jam sambil menghindari semua kendaraan yang lain.
Meski begitu....
"Pesta ya? Tenang saja, kalian bisa melakukannya di penjara nanti." Ucap seorang Pria berambut perak yang telah berada di samping kedua pelaku itu. Hanya dengan berlari.
"Ya-yang benar saja?!"
Aaron menarik sang pengendara ke arah bahu jalan yang sepi. membuat mereka semua terjatuh dengan mengalami luka yang tak ringan.
Tanpa basa-basi, Aaron segera mengambil kembali kalung emas itu.
"Baiklah, kalian diam disini sebentar. Aku harus mengembalikan benda ini pada Ibu-ibu pemarah itu dulu, sebelum semuanya terlambat." Ucap Aaron yang segera berlari meninggalkan mereka berdua tergeletak di tanah.